Kisah Dewa Pedang Utara

Kisah Dewa Pedang Utara
Arena Kota Selatan II


__ADS_3

   Sima Yong telah berdiri agak mendekati tengah arena, sementara beberapa petugas terlihat mendorong sebuah benda yang di tutupi kain putih yang Panjang. Mereka meletakan benda itu di sudut berlawanan di arena kira-kira 100 meter jauhnya dari sudut tempat Sima Yong berdiri.


   Sepertinya benda yang ditutupi oleh kain Panjang itulah boneka wayang petarung di arena, yang akan menjadi lawan Sima Yong. Benda dengan tinggi mencapai 2 meter tertutup kain putih. Semua penonton menjadi ribut dan seperti biasa melakukan bisik-bisik untuk berdiskusi yang lebiha banyak disebabkan rasa penasaran.


“aku pikir wayang petarung ini adalah dari ras judade. Lihatlah… tingginya hampir mencapai 2 meter…” seorang gadis petarung dari ras jingling berbisik kepada temannya.


 “Anda salah besar… judade umumnya memiliki tinggi badan lebih dari 2 meter. Aku menerka-nerka kalau saja wayang ini adalah bentukan dari seseorang ras campuran…”


   Ketika semua orang tengah bertanya-tanya, seperti apakah wujud dari wayang sihir (puppet) yang masih tertutup kain itu, seorang petugas di Arena menarik kain penutup wayang. Ternyata …. sosok wayang itu adalah sosok yang menyerupai ras jingling. Dengan posisi mata tertutup, rambut wayang itu terlihat berwarna abu-abu pucat. Rambut nya yang panjang dan diikat sehingga tampak rapih. Meski wajah itu tertutup cadar, semua dapat menerka, wayang itu semasa hidupnya adalah seorang jingling yang cantik.


   Wajah tertutup cadar itu mengenakan baju hitam ketat bagaikan ninja hitam. Penampilan dramatis dan misterius membuat semua berdecak kagum. Nampak di pinggangnya tersampir dua pedang pendek. Semua orang dengan cepat mengambil kesimpulan bahwa wayang ini dahulu semasa hidupnya adalah seseorang assassin (pembunuh bayaran).


“Itu ternyata adalah wayang assassin perempuan yang sangat ganas…” seseorang mendesis diantara penonton.


“Benar sekali. Konon assassin ini semasa hidupnya bahkan memiliki  ketrampilan Domain dewi Es” seseorang menambahkan.


“Domain Dewi Es??? Bukankah itu berarti semasa hidupnya, assassin ini adalah seorang praktisi yang amat Tangguh. Dia bahkan memperoleh keberuntungan di tepian jurang neraka untuk pemahaman domain dewi es..” Praktisi lainnya menambahkan sehingga keadaan semakin ribut.


“Aku pernah mendengar, rata-rata wayang petarung dilengkapi dengan senjata bawaan mereka semasa hidup. Well.. mari kita lihat. Senjata kelas apakah yang akan dipakai assassin ini nanti.


   Sementara penonton semakin heboh memperbincangkan wayang assassin itu, Sima Yong menatap kearah wayang assassin dan mulai menilai,


“Dewan arena Kota Selatan benar-benar memperoleh praktisi Alam Raja Bintang Sembilan yang dijadikan wayang seperti ini? Diperlukan kekuatan sihir gelap yang kuat serta teknik array mistis agar mampu mengubah praktisi kelas atas menjadi wayang seperti ini”


   Pertarungan belum diumumkan untuk mulai, Ketika seorang petugas arena meletakkan 100 Blue manna peringkat venti di hadapan wayang itu. Petugas itu secara terburu-buru lari meninggalkan area arena setelah blue manna diletakkan. Sesudahnya diiringi kilatan cahaya, Array sihir terlihat menutupi seluruh arena. Memang pada dasarnya diperlukan penggunaan array untuk menghindari jika terjadi ledakan akibat bentrokan dua kekuatan. Tindakan ini untuk mencegah ledakan meluap dan menyebar kearah penonton.


   100 blue manna itu terlihat menguap seperti disedot oleh wayang assassin. Tidak terlalu lama terlihat wayang itu membuka matanya. Wajah tanpa ekspresi itu menampilkan mata yang menatap kosong dari balik dua bola mata berwarna abu-abu terang. Tepat pada saat 100 blue manna venti berubah menjadi bubuk, assassin itu mencabut dua bilah pedang pendek.


   Pedang pendek ditangan assassin itu terlihat berkobar-kobar dalam nyala api yang berwarna merah menyala. Itu adalah dua bilah pedang pendek dari peringkat artifact pedang roh.


“Dua pedang itu bahkan lebih berharga dari senjata peringkat Saint. Dua pedang itu adalah artifact roh yang hanya akan ditemukan di alam dewa saja” semua penonton semakin ribut melihat kesombongan yang ditampakkan wayang.


   Assasin itu berlari dengan cepat menuju tempat Sima Yong berada… dilain pihak Sima Yong juga terlihat mempersiapkan diri dengan merapal mantra..


“Wusshhh…. Tssiinggg…”


   Sebilah pedang pendek meluncur penuhbahaya dengan Gerakan yang amat cepat. Dalam satu kedipan mata saja, tahu-tahu pedang pendek itu telah berada 15 cm  jaraknya dari batang leher Sima Yong.


“Woooww….”


   Sima selalu saja merasa takjub dengan Teknik Gerakan dan kecepatan yang dimiliki oleh rata-rata praktisi job assassin. Dengan menghembuskan nafas, tubuh Sima Yong menghilang dari hadapan assassin tersebut. Dia telah mengaktifkan Konsep “ruang waktu Pembagi Surga” menggunakan benak.

__ADS_1


  Setelah semakin memahami konsep kedua Pembagi Surga itu, Sima Yong tidak perlu repot-repot lagi untuk merobek ruang dan berpindah. Melalui benaknya saja ketika dia menginginkan perpindahan, otomatis tubuhnya langsung berteleportasi sejauh 100 meter.


   Assassin wayang itu terlihat seperti kebingungan ketika lawannya yang hampir dia tebas batang lehernya itu, tiba-tiba menghilang berteleportasi dan muncul 100 meter jauhnya.


   Sadar bahwa lawan telah berpindah melalui konsep ruang dan waktu, assassin itu menjadi semakin ganas. Dalam suatu lompatan yang indah dia menikam Sima Yong dengan Teknik khas assassin. Tidak terdengar suara apapun Ketika assassin itu bertindak. Semua dalam diam dan dalam keganasan semata. Nampak tubuh assassin terpecah menjadi tiga rupa dimana dua dari penampakan itu adalah ilusi.


   Sima Yong mendengus dingin melihat Teknik ilusi kelas bawah seperti itu. Dengan mengebaskan lengan baju nya, muncul dua bayangan naga es Ti Lung sihir yang menelan dua potong ilusi assasin tersebut. Ilusi assassin lenyap tidak berbekas.


“Domain Dewi Es…!!” Assasin wayang itu berseru dalam suara yang parau dan tidak enak didengar.


   Seketika Sima Yong merasa dirinya terkurung didalam sebuah domain tersendiri dimana retakan-retakan es raksasa bermunculan dari dalam tanah dan mencoba untuk melukai dan mengiris tubuhnya. Selain hawa dingin menusuk yang mencoba melukai dirinya, domain Dewi Es itu juga membuat tubuh Sima Yong serasa menjadi freeze, kaku dan sukar bergerak.


   Assassin itu semakin dekat dalam Gerakan bayangan yang amat cepat. Pedang pendeknya terlihat menyala-nyala berwarna merah dan siap untuk menusuk jantung Sima Yong.


“Kuakui Domain Dewi Es anda sangat berbahaya, akan tetapi anda tidak tahu berhadapan dengan siapa. Kekuatan Es yang mengandung sihir seperti ini adalah bahan permainan anak-anak elf di utara sana. Jadi sayang sekali domain ini tidak bermanfaat untuk ku” dengan menghentakkan esensi es dari dalam dantiannya, kekuatan esensi es dari tubuhnya menghancurkan semua kristal yang membekukan dan mengikat tubuh Sima Yong meledak dalam kekuatan yang amat besar. Domain Es itu menghilang, kalah dari kekuatan esensi Teratai es milik Sima Yong.


   Dengan menggoyang tangan dan menciptakan konsep “penyimpangan ruang” Sima Yong membuat tusukan dua pedang pendek yang menyala-nyala itu meleset, dan terlempar jauh dari tubuhnya. Ruangan di arena itu terlihat seperti menjadi jungkir balik. Kacau. Assasin itu pada akhirnya menjadi kebingungan melihat tikaman senyap kedua pedang pendeknya tidak mengenai sasaran.


   Dalam sedetik dia kebingungan, sebuah tangan tiba-tiba muncul dari kehampaan didepannya dan dalam Gerakan siap untuk menebas. Assasin meskipun hanya wayang, terlihat seperti orang yang terkejut,….


   Tangan yang memegang Pedang Hati Rembulan itu dengan ringan menebas kepala Assasin semudah merobek kertas. Semua penonton di arena menjadi tercengang, ketika tubuh wayang assassin peringkat Alam Raja Bintang Sembilan itu terlempar bagaikan karung kempis yang tercampakkan. Sementara kepala assasin itu menggelinding jauh bagaikan bola rusak yang ditendang,kearah yang berlawanan.


   Hakim arena itu amat tercengang melihat penampilan Sima Yong yang amat cepat menghabisi lawannya. Terlebih lagi lawannya adalah salah satu wayang yang amat ditakuti dikalangan petarung Arena Kota Selatan. Setelah terdiam beberapa saat, tiba-tiba dia mendengar petarung nomor 20.569 itu berkata,


“Tuan… dapatkah anda mengumumkan kemenanganku???”


   Hakim arena tersentak dari kondisi terkejutnya. Dia masih tidak percaya, akan penampilan praktisi nomor 20.569 itu. Wayang assassin itu memiliki kultivasi Alam Raja Bintang Sembilan, dan 20.569 hanyalah praktisi ranah yang sama tetapi hanya bintang enam. Namun dia dengan mudah mengalahkan wayang assassin.


   Beberapa petugas arena terlihat buru-buru masuk ke arena untuk mengambil potongan tubuh wayang assassin untuk diperbaiki lagi.


   Hakim itu dengan enggan berteriak “20.569 menang…”


“Dipersilahkan calon penantang untuk memencet tombol token tantangan anda….” Hakim arena mengedarkan pandangan kearah semua penonton, namun dia melihat rata-rata calon penantang itu agak takut untuk menantang Sima Yong. Kemampuan yang baru saja Sima Yong tampilkan telah membuat banyak yang menjadi gentar.


   Sementara itu, Sima Yong melirik tato didadanya. Awalnya dadanya masih kosong tanpa sebuah lukisan apapun. Saat ini terlihat muncul tato bergambar sayap dalam warna tembaga di dadanya.


“Itu tato sayap tembaga bergaris sepuluh??? Ah sepertinya peringkat tempur wayang assassin tadi tinggi sehingga  tato didadaku langsung menjadi tato tembaga garis sepuluh” Sima Yong menjadi senang.


******


   Ketika banyak calon penantang enggan untuk memencet token tantangan, tiba-tiba sebuah suara berseru,

__ADS_1


“Biarkan aku yang menantang petarung nomor 20.569…” semua mata terarah ke suara yang berbicara itu. Itu adalah Phalama Bhalu yang dengan percaya diri mengajukan tantangan. Rupanya judade ini tidak merasa senang melihat penampilan Sima Yong.


   Dia merasa bahwa Sima Yong telah  mencuri perhatian kejayaannya yang awalnya adalah miliknya setelah dia menaklukkan petarung nanren pemanah dan mogui.


   Dalam hatinya Phalama Bhalu membatin, “Nanren campuran jingling ini hanya kebetulan saja memenangkan pertempuran melawan wayang tadi. Sama sekali tidak kurasakan kekuatan Qi yang terlepas dari tubuhnya. Biar kan aku membunuhnya dalam sekali Gerakan. Semua penonton pasti akan terkejut ketika aku menghabisi dia dengan sekali gebrakan saja. Perhatian orang akan diarahkan kepada  ku”


   Phalama Bhalu tersenyum senang. Dia membayangkan puji-pujian yang akan diterima nya nanti setelah dia membunuh petarung nomor 20.569 dalam sekali pukulan. Dengan ringan raksasa judade itu melayang ke arena dan langsung mengambil tempat di sudut yang berlawanan dengan Sim Yong.


“Karena anda yang meminta maka semua resiko akan menjadi tanggung jawab anda”.


“Baiklah… duel antara petarung 20.569 melawan juara arena hari ini petarung 11.005….dan duel dimulai…!!!” teriak hakim arena dengan keras.


   Phalama Bhalu memutar cepat kapak di tangannya hingga menimbulkan suara angin menderu-deru. Dia melompat dengan ganas kearah Sima Yong.


“Duaarr…” bunyi ledakan Ketika kapak itu mengenai lantai tempat Sima Yong berdiri tadi. Rupanya 20.569 telah berteleportasi.


   Dengan memalingkan wajah dan dalam bunyi geraman yang kuat, Phalama Bhalu sekali lagi memutar tubuhnya dan menerjang ganas kearah Sima Yong ditempat yang mana dia berada sekarang.


“Duaarrr….” Kembali ledakan lantai arena Ketika kapak raksasa itu membelah lantai menjadi kepingan hamparan debu. Dalam semangat yang makin menjadi-jadi karena dua kali serangannya mengenai tempat kosong, Phalama Bhalu berubah menjadi emosi. Dia menganggap Sima Yong hanya bermain-main dan meremehkannya dengan cara menghindar.


“Hentikansemua gerakan menghindar seperti itu… kamu hanyalah manusia rendah pengecut, Gerakan menghindar kamu tidak beralasan. Kamu bahkan tidak memiliki kekuatan untuk bertempur melawanku… sejak melawan wayang tadi, kamu bahkan tidak memiliki kekuatan layak seorang petarung” dengan marah Phalama Bhalu memaki Sima Yong. Dia berharap Sima Yong akan terprovokasi untuk bertarung secara adu kekuatan melawannya.


   Sementara itu di bagian kursi penonton, semua penonton bersorak mendukung Phalama Bhalu. Menurut mereka, Phalama Bhalu adalah petarung asli dan Sima Yong hanya memanfaatkan Gerakan menghindar untuk memperoleh kemenangan.


   Sima Yong tertawa kecil lalu berkata,


"Baiklah karena kamu menginginkan adu kekuatan. Maka mari kita saling berbenturan senjata…”


   Phalama Bhalu tertawa senang. Provokasinya berhasil..”Lihatlah kekuatanku mahluk kecil. Aku akan mencincang tubuhmu menjadi butiran tersebar di lantai arena ini”dengan teriakan ganas Judade itu kembali menyerang Sima Yong dengan kekuatan maksimum. 300.000 jin di tambah 50.000 jin setelah dia membakar energi didalam tubuhnya.


“Matiii…!!!” Kapak ditangan Phalam Bhalu telah berada di depan Sima Yong dan bersiap membelah tubuh kecil itu.


“Baaammm…”


   Bunyi benturan yang amat keras terjadi Ketika kekuatan 350.000 jin itu bertemu Pedang Hati Rembulan yang diisi hanya tenaga ATK sebesar 550.000 jin. Bagi Sima Yong itu hanyalah kurang lebih kekuatan yang dia miliki. Akibat benturan itu, sebuah bayangan tubuh terlihat terlempar dengan keras bagaikan layang-layang putus.


   Phalama Bhalu memuntahkan beberapa teguk darah, sebelum dirinya kemudian jatuh pingsan. Raksasa itu cidera parah. Beberapa waktu kemudian, terdengar kabar bahwa judade itu harus beristirahat di pembaringan hingga 6 bulan dan tidak dapat melakukan kegiatan apapun. Tulang lengannya remuk dan dadanya mengalami goncangan mengakibatkan organ dalamnya mengalami luka parah….


   Sima Yong melirik tato bersayap didadanya.. “Ah.. tato sayap perak bergaris satu”.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2