
Tuan Morenyu pada akhirnya menyediakan kamar khusus di Balai Harta Baru untuk kepala sekolah berkultivasi melakukan peleburan kekuatan yang berasal dari Merpati Neraka. Dia memang menyadari, banyak sekali aura membunuh yang mencuat secara diam-diam, tatkala melihat Fang Ming Hoa memenangkan pelelangan Merpati Neraka itu.
Kepala Sekolah Akademi Ling Jian itu pada akhirnya bernafas lega, dengan berkultivasi di Balai Harta, dibawah pengawasan Tuan Morenyu langsung.
***
Dengan sendirinya, sejak saat itu Balai Harta Baru telah menggeser posisi Menara Suar yang awalnya nya merajai perdagangan sumber daya di kawasan Utara. Melihat kemajuan itu, sejak saat itu juga banyak sekali praktisi yang mendaftarkan barang berharga temuan mereka untuk di jual di Balai Harta Baru.
Tuan Morenyu bahkan mulai menghubungi praktisi yang dianggapnya berpotensi untuk menjadi anggota rahasia Istana Raja Kelelawar, dimana pemberian kompensasi berupa teknik-teknik seni pedang maupun telapak tangan kosong, tatkala anggota organsasi menyelesaikan misi itu, membuat ahli-ahli yang dia hubungi langsung tertarik berjanji setia sebagai anggota rahasia Istana Raja Kelelawar.
Tuan Morenyu juga tidak secara sembarangan merekrut anggota. Dia meminta kepada mereka semua yang berniat bergabung di Istana Raja Kelelawar harus mengambil Sumpah Surgawi, agar semua rahasia dari organisasi tersembunyi itu tetap terjaga. Dan tentu saja pembayaran yang di terima anggota Istana Raja Kelelawar juga bukanlah barang-barang yang sederhana.
Secara resmi juga, Balai Harta kini mengadakan Kompetisi setiap 6 bulanan untuk menyeleksi generasi muda di Wilayah Utara. Mereka bahkan menerbitkan Daftar Peringkat 50 Jenius muda di seluruh wilayah utara.
Dengan hadiah sumber daya yang melimpah, tentu saja setiap kompetisi jenius muda Balai Harta Baru itu sangatlah menarik perhatian. Banyak sekali bermunculan jago-jago baru dan jenius-jenius baru di Wilayah Utara.
Lambat tapi pasti, terjadi peningkatan kultivasi pada ahli-ahli bela diri di Wilayah Utara, setelah kehadiran Balai Harta Baru. Tentu saja, sepanjang seseorang memiliki Batu Energi yang cukup, maka Balai Harta Baru akan menyediakan : pil, jimat, salinan teknik kultivasi atau teknik pedang.
Bahkan senjata dan pelengkap pertempuran seperti armor dan lainnya peringkat surgawi, selalu tersedia di ruang pamer Balai Harta Baru. Benda-benda seperti itu amatlah penting dalam membantu seorang praktisi didalam pertempuran dimana nilai kritikal pertempuran seorang ahli akan semakin tajam.
"Balai Harta ini akan semakin sempurna ketika Master Yong telah mengirimkan Alkemis yang di latih itu" Morenyu tersenyum ketika dia memperhatikan ramainya para praktisi yang memenuhi ruang pamer Balai Harta Baru dan membeli barang sumber daya itu.
>>>>>>
Kapal roh itu melaju menembus udara dingin dimana salju terihat berguguran tiada henti. Beruntung sekali Kapal Roh yang Sima Yong beli dari Klan Shi itu, memang khusus di buat untuk menghadapi badai salju tatkala melintasi perbatasan antar wilayah seperti ini.
Memasuki minggu kedua dari perjalanan mereka yang penuh pemandangan monoton, warna putih dan abu-abu itu, pada akhirnya Wan Hui berteriak dengan keras dari arah anjungan kapal.
"Asap !"
"Aku melihat kepulan asap di depan sana. Pasti asap itu berasal dari perkampungan atau perkotaan di ujung sana!"
Wan Hui memekik dengan penuh kegembiraan. Bagaimana tidak? dua minggu penuh mereka hidup diantara curahan es dari langit, dan di hadapi pemandangan putih monoton.
__ADS_1
"Ahaha... Akhir nya, peradaban mahluk hidup" Jiang Fai ikutan senang ketika melihat kepulan asap di kejauhan sana.
Sima Yong sat keluar dari dalam kabin kapal, melihat kearah kepulan asap di kejauhan. Dia berkata dengan pelan.
"Kita akan mampir sebentar di kota itu, guna menanyakan arah mana yang harus kita tempuh menuju Neraka Dunia"
"Firasatku kurang sedap rasanya" Sima Yong membatin. Beberapa hari ini dia merasa seolah-olah mereka tengah di mat-matai seseorang.
***
Kota yang mereka temui setelah perjalanan sekian minggu itu bernama Kota Periferiya yang berarti Perbatasan. Kota Perifeya ini terbilang tidak terlalu ramai, di mana jalanan kota terlihat cukup lengang, dan sangat jarang sekali penduduk kota melintasi jalan.
"Mungkin karena hawa musim dingin, dimana suasana hujan salju seperti ini, membuat orang lebih betah berdiam diri di dalam rumah" kata Sima Yong, ketika Fei Ma bertanya penuh rasa curiga, melihat kota yang sepi itu.
"Mari kita pergi mencari tempat makan, sekalian mencari informasi tentang letak dimana Neraka Dunia itu berada" ajak Sima Yong kepada yang lainnya.
Mereka semua lantas bergegas menelusuri jalanan lengang itu, dan pandangan mata mereka langsung tertumbuk pada sebuah plang di bangunan kayu bertuliskan "Hidangan Musim Dingin"
Seorang pelayan pria keluar menyambut mereka berempat, dan langsung menanyakan menu yang akan mereka santap.
"Bapao kosong, mie sayuran atau hidangan daging sup tapak beruang?" tanya si pelayan.
"Apakah kamu tidak memiliki menu yang lain? Buah-buahan misalnya?" tanya Fei Ma.
"Maafkan kami tuan, restoran ini hanyalah restoran kecil di kota terpencil pula. Kami hanya dapat menyediakan hidang seperti yang hamba sebutkan tadi" tegas si pelayan menjawab, sehingga pada akhirnya mereka memesan semua hidangan yang di sebutkan pelayan tadi.
"Aku akan kembali setelah kurang lebih satu kali pembakaran hio" pelayan itu lantas berbalik ke dapur, yang terlihat mengepulkan asap tiada henti.
Fei Ma melirik memperhatikan lagi semua tamu restoran yang dia hitung, tidak lebih dari sepuluh orang itu,
"Rata-rata mereka menggunakan pakaian tebal seperti jaket dari kulit beruang atau mantel panjang bulu cerpelai. Bahkan beberapa diantaranya mengenakan pakaian penahan dingin dari bulu Rajawali" Fei Ma berbisik sambil berdecak kagum.
Sambil menenggak minuman di depannya, dengan acuh tak acuh Sima Yong berkata,
__ADS_1
"Mereka adalah orang-orang kaya. Untuk dapat mengenakan mantel bulu rajawali serta bulu beruang seperti itu, diperlukan biaya yang sangat tinggi.
Hanya orang-orang kaum bangsawan atau klan tingkat peringkat yang memiliki kemampuan keuangan untuk membeli barang-barang mewah seperti itu" Wan Hui dan Jiang Fai berdecak kagum mendengar penjelasan tadi.
Salju turun semakin deras, sehingga jalanan lantas tertutupi dengan timbunan es kecil, yang kemudian membuat pemandangan menjadi putih berkilauan. Jiang Fai dan Wan Hui mulai menggigil.
"Setelah selesai santap siang, kita akan pergi ke toko pakaian dan membeli beberapa mantel musim dingin, agar cara berbusana kita terlihat mirip dengan warga setempat" kata Sima Yong.
Semua orang lalu melirik ke arah cara berbusana mereka berempat. Baju yang mereka kenakan adalah pakaian musim panas penuh warna, yang terbuat dari kain cita (kain cita adalah kain yang di tenun dari kapas bermotif bunga atau berwarna warni). Sementara orang lain mengenakan pakain tebal-tebal.
"Warna hitam atau gelap it cocok di gunakan di tempat dingin. Gunanya untuk menyerap panas yang ada, sehingga penggunannya merasakan sedikit kehangatan" demikian jelas Fei Ma kepada dua anak muda yang bersama merea.
Sima Yong hanya tersenyum ketika mendengar tiga orang itu sibuk melihat cara berbusana mereka yang kini terlihat aneh.
Sementara itu, dari arah luar mereka memperhatikan seseorang berjalan dengan tegap menembus hujan salju. Orang itu tidak mengenakan mantel bulu binatang yang mahal seperti yang lainnya, melainkan mengenakan mantel yang terbuat dari jerami biasa.
Di kepalanya, dia mengenakan dou peng yang juga terbuat dari anyaman jerami. Dengan keras pria aneh bermantel jerami tu terdengar seperti bersenandung, dengan puisi atau kata-kata bijak yang biasa di hafalkan kaum satrawan.
Ketika pria bermantel jerami itu semakin mendekat ke restoran, Sima Yong berbisik dalam nada yang acuh tak acuh,
"Si mantel jerami itu paling tidak memiliki kultivasi di ranah Kuasi SAGE. Ah kurasa lebih dari itu...
Lihatlah jejak nya langkahnya, apakah langkah kakinya meninggalkan bekas diatas salju?"
Seketika Jiang Fai dan Wan Hui menatap bekas-bekas kaki yang ditinggalkan si jubah jerami.
"Ajaib, tidak terlihat bekas jejak sedikitpun" bisik Jiang Fai dengan kagum.
*Bersambung*
Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di-like, sekedar komen dan vote.
Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.
__ADS_1