Kisah Dewa Pedang Utara

Kisah Dewa Pedang Utara
Seorang Tamu Lain nya


__ADS_3

Pria berambut keemasan itu tanpa di minta langsung mengambil satu bangku di kedai bertenda blacu itu. Dia berkata dengan suara yang cukup keras. Dan suara yang keluar dari mulutnya terdengar terlalu merdu, menyerupi suara seruling yang di tiup - jernih dan memikat pendengar... "Ciri khas Elf" batin anak muda berbaju kelabu.


"Paman.. Tolong berikan aku satu piring roti kukus anda. Ku dengar, roti kukus anda adalah yang terbaik di sekitar sini" sesudah berkata demikian, dia memalingkan tatapannya pelan-pelan dengan menebar senyuman yang terasa aneh dan seperti di paksakan.


Heng Yeye pemilik kedai tenda itu lantas bergegas menyiapkan tambahan roti kukus, setelah sebelumnya menyajikan pesanan perempuan tua itu. Walaupun terlihat tekun dengan pekerjaannya, dengan jeli orang akan melihat tangan orang tua itu gemetar. Jels dia telah mencium gelagat tidak beres yang akan terjadi.


Sementara itu, si perempuan tua itu sambil menguyah pelan bapao, terdengar mendengus dingin, bahkan kata seperti


"Cih !" jelas terdengar, ketika dia melihat pria berambut emas menyapu pandangannya.


Suara erempuan tua itu sangat jelas untuk ditangkap pendengaran siapapun di malam yang sepi ini. Heng Yeye semakin gemetar memikirkan kedainya jika pericuhan terjadi - kini suasana di kedai itu semakin tegang dalam kebisuan.


Walaupun demikian, si anak muda berpakaian kelabu sepertinya tidak merasa terganggu sama sekali dengan sikap dingin dari dua tamu yang datang belakangan. Dia malahan membuka bungkusan bapao yang sedianya dia minta Heng Yeye untuk mengemasnya. Lalu mulutnya mulai mengunyah lagi.


Perempuan tua itu saati ini kelihatan telah menggenggam kuat-kuat tongkat yang di sebelumnya dipakai nya untuk berjlan melayang diatas genangan air hujan - kentara benar kalau dia telah siap sedia untuk satu pertempuran. Adapun demikian, pria berambut keemasan itu, juga dengan sembunyi-sembunyi mulai meraba pegangan busur berwarna keemasan di tangannya.


Baru saja hawa peperangan akan meluap, sekonyong-konyong terdengar satu suara memecah ketegangan itu. Arahnya dari jalan penuh genangan air bekas hujan tadi.


"Paman roti kukus ... Apakah anda adalah penjual roti kukus yang terkenal itu? Ah.. Moga-moga aku tidak kehabisan bapao anda yang demikian terkenal sampai ke pelosok kota"


Mendadak aura pertempuran yang mulai mencuat di area kedai tenda blacu ditarik da menyurut dengan cepat. Masih dengan tatapan penuh kewaspadaan, semua orang didalam tenda menatap dari arah mana suara itu terdengar.


Dia adalah satu orang pria bertubuh tidak tinggi, tapi juga tidak pendek. Sedang-sedang saja. Bajunya bukan dalam potongan yang mutakhir seperti baju yang di kenakan si pria berambut keemasan. Meskipun demikian, mata-mata yang jeli akan mampu menilai kalau bahan pakaian yang di kenakan adalah satu bahan kain langka yang mahal harga nya - terlihat seperti jubah bulu panjang yang terbuat dari bulu binatang asli.


Pria ini sepertinya berusia 30 tahun atau lebih, namun dia merawat penampilannya sehingga terlihat tetap muda. Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai tanpa diikat atau mengenakan kopiah Hanfu - untuk menahan dan menjaga rambut tetap rapi. Keseluruhan penampilannya memberi kesan memesona namun membawa hawa yang membuat orang bergidik ngeri yang tidak dia sembunyikan.

__ADS_1


Kondisi kedai tenda itu terlalu seadanya dengan memiliki tiga meja kecil yang telah di isi tiga orang pelanggan pertama. Meskipun demikian, tanpa sungkan-sungkan pria serba hitam itu langsung mengambil satu bangku dan duduk di meja tempat anak muda berpakaian kelabu duduk.


"Apakah anda merasa nyaman ketika seseorang duduk di meja bersama dengan mu?" tanyanya.


Sambil melirik sekilas, si anak muda menjawab,


"Semua yang ada di tenda ini adalah milik Heng Yeye. Aku hanya pembeli, demikian juga anda. Silahkan duduk dimanapun sepanjang anda merasa nyaman" selesai berkata demikian, si anak muda lantas meneguk secawan arak yang dia beli dari juragan pemilik kedai tenda.


"Ah kalau demikian akupun tidak akan sungkan-sungkan lagi" kata si rambut hitam. Sejak awal datang hingga sekarang, senyuman tidak lepas dari wajahnya, yang meskipun memasang wajah ramah, walaupun demikian hawa tidak menyenangkan selalu tersiar dari tubuhnya.


"Tolong bawakan aku satu piring roti kukus, sama seperti pesanan tuan yang duduk di depanku ini" kata si rambut hitam.


"Itu adalah roti kukus tanpa isi sama sekali tuan" jawab Heng Yeye bersikap sopan.


"Tak perlu kuatir, aku juga dari golongan yang tidak memakan hidangan yang mengandung darah dan benda bernyawa" jawabnya. Heng Yeye lantas menyiapkan anglo untuk memanaskan bapao pesanan si rambut hitam.


"Huh.. Sejak dari tadi aku melihat sekelompok mahluk-mahluk aneh yang berasal dari tempat yang terlarang, lalu dengan tanpa malu-malu memasuki kota yang kebanyakan di tinggali kaum fana ini. Mereka sengaja melanggar perbatasan demi rasa keserakahan atas nama kelompok.


Ya tentu saja ! Apalagi yang mereka cari di kota fana ini selain dan bukan adalah untuk memiliki niat tidak baik untuk menjadi penyamun atas satu orang Magus yang baru saja memenangkan perang suci" perempuan tua itu meludah ke tanah.


Perempuan Magus itu sesungguhnya kesal dengan dua orang yang baru muncul. Dia dengan diam-diam mencium jejak si anak muda, namun pada kenyataannya dia tidak sendirian ketika mendapati keberadaan anak mud tersebut.


Jelas dark Elf itu merasa sangat tersinggung dengan kata-kata Magus perempuan. Dia tahu sindiran itu di tujukan kepadanya dan pria berambut hitam di hadapan anak ua itu. Tiba-tiba satu aura berupa cahaya dingin berkelebat..


Tsing !

__ADS_1


Busur di tangan Dark Elf itu muncul di tangan secepat hantu, lalu dengan sisi-sisi yang sengaja di buat tajam menggantikan pedang, busur itu menyabet mengandung aura pedang untuk membelah dada magus perempuan itu. Busur meliuk bergerak ganas seperti ular berbahaya !


Magus perempuan itu mundur sedikit dan sambaran busur tajam gagal mengiris dada nya, saat itu bangku tempat dia duduk telah terjatuh, namun dengan tangkas ia memutar tubuh dan setengah melayang di udara. Tongkat di tangannya terjulur kedepan dalam gerakan sangat cepat mengunci tenggorokan DarK Elf.


Heng Yeye berseru ngeri dengan mulut terbuka lebar ketika melihat tongkat di tangan Magus perempuan tua itu mengeluarkan api biru - berbunyi berdesis pertanda amat panas - warna api sihir yang siap membakar Dark Elf itu menjadi abu.


"Huh pembawa api !"


Detik berbahaya ketika api sihir berwarna biru telah dekat di leher Dark Elf, ketika semua orang merasa Dark Elf itu akan mati, mendadak udara berubah dalam kebekuan. Secara ajaib dan tak terlihat, di tangan Dark Elf itu telah di genggam dengan kuat satu anak panah.


Frozen !


Heng Yeye pemilik kedai itu semakin melongo. Dia melihat bagian udara yang langsung membeku dalam kebisuan, bahkan api berwarna biru tadi berubah menjadi kristal-krital es yang membatu.


Tidak berhenti sampai di sana, dengan cepat Dark Elf itu menjulurkan tangan kirinya kedepan - membentuk serangan telapak yang membawa hawa dingin mematikan. Wush !


Mati !


Tapak tangan itu lantas mengeluarkan kristal es yang panjang setara tongkat Magus perempuan itu, namun kristal es di tangan Dark Elf tadi meruncing menyerupai sebilah pedang yang berkilauan di timpa cahaya lentera.


Brrrt !


Bagian lengan jubah Magus perempuan itu sobek terkena irisan pedang kristal sang Dark Elf. Sementara itu Magus perempuan itu dengan tangkas melompat mundur, bergulung berputar-putar ke angkasa lalu dengan gerakan indah melayang udara. Satu tarikan nafas berikut nya ia telah berhasil mengausai diri dan melayang di udara menatap kearah kedai - tatapan nya mengunci si Dark Elf dengan hawa membunuh.


*Bersambung*

__ADS_1


   Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini.  Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca...


__ADS_2