
Matahari belum lagi bersinar dengan lengkap. Bahkan cahaya lembutnya belum juga lengket di kulit para pengejar vitamin pagi. Namun Hutan Kematian telah bergemuruh di dalam suara dahsyatnya pertempuran antara dua kelompok serikat para Praktisi Suku Jinzhi.
Suku Jinzhi ini meskipun jumlah penduduk mereka tidak sangat banyak, namun kebanggaan dan minat rata-rata penduduk suku itu adalah melatih diri didalam seni beladiri dan mengejar keabadian.
Ada dua kelompok besar ahli bela diri yang berpengaruh di suku Jinzhi. Kelompok pertama bernama Serikat Musafir Bayangan dan kelompok kedua bernama Serikat Penguasa Pedang. Dua kelompok ini seringkali gontok-gontokan untuk mencari-cari kesempatan, siapa yang akan berkuasa di Suku itu.
Patriak Suku Jinzbi saat ini Ye Gun Cheng asalnya dari Serikat Musafir Bayangan. Selama ini diantara Serikat Penguasa Pedang, belum pernah di dengar seseorang yang menonjol dan jenius, yang dapat di gadang-gadangkan menjadi kandidat untuk bersaing menjadi Patriak Ye nanti.
Sementara itu di kawasan ini beredar cerita kuno, bahwa dahulu sekali - mungkin ribuan bahkan puluhan ribu tahun yang lalu, pernah ada satu kelompok praktisi yang menamakan diri mereka Klan ras Bangau Putih berkaki satu.
Ras Bangau Putih berkaki satu ini meskipun bukan termasuk mahluk mitos yang dikenal orang banyak, akan tetapi mereka tetap adalah satu kelompok ras mulia yang setara dengan ras-ras mitologi lainnya seperti ras Naga, Feniks dan lain-lain.
Bangau Putih di ceritakan di teks-teks kuno adalah merupakan hewan yang di jadikan alat transportasi ketika orang-orang suci akan pergi mengunjungi Nirwana ke tempat dewa-dewa. Bangau Putih juga melambangkan usia yang panjang, hidup abadi yang di sejajarkan dengan pohon-pohon pinus tua dan memiliki usia tua dan lama bertahan hidup.
Tentu saja ketika Kelompok Serikat Penguasa Pedang ini ingin menonjolkan seorang anak muda menjadi jenius yang kelak dapat menggantikan Patriak Ye - lalu mereka menyusun rencana untuk memperoleh Relikui benda kuno peninggalan ras Bangau Putih sebagau jalan keluar satu-satu nya.
Suara pedang Nyonya Hua terdengar mencicit ketika dia menebas membelah udara, mengunci dada Vanug si kepala botak itu. Kapak berkepala dua di tangan Vanug diayunkan dengan kekuatan penuh, menantang tebasan pedang Nyonya Hua.
Trang ! Bunga api pecah dalam bentuk percikan jutaan kembang api mini tatkala dua senjata tajam bertemu.
Nyonya Hua merasa tangan yang memegang pedang menjadi membaal kaku. Dia sadar kalau tenaganya kalah jauh di banding Vanug yang adalah seorang pria, dengan usia di bawah dirinya.
"Huh !" Nyonya Hua mendengus penuh hinaan.
Pada saat dia menarik tangannya yang terasa membaal itu, perempuan itu mengambil langkah teknik bersalto mundur dan membuat gerakan putaran yang indah di udara.
__ADS_1
"Rupa-rupanya tulang-tulang tua mu itu masih belum keras dan kaku !" ejek Vanug. Pria kepala botak itu dengan sengaja memprovokasi. Dirinya berharap, semakin jauh Nyonya Hua menjadi kalap, maka semakin cepat pula tubuh reyot topi tua itu menjadi lemah. Maka kemenangan Vanug telah di depan mata, sisa di petik.
Sibotak tersenyum tanpa sadar, ketika dia bermimpi meraih kemenangan dan petunjuk Bangau Putih Berkaki satu itu dia kangkangi nanti. Vanug menjadi menurun kewaspadaan nya tatkala menghayal seperti tadi.
"Mampus kau botak !" cerca Nyonya Hua tatkala salto putaran di udara nya kini menjauh, namun masih dalam jangkauan serangan jarak jauh.
Tangan Nyonya Hua terbuka lebar, lalu bubuk putih itu terbang melayang membungkus Vanug, seperti kabut tipis yang turun di kala pagi.
"Hati-hati.. racun !" serunya memberi peringatan kepada dua gadis pengikutnya. Vanug memutar kapak bermata dua itu sehingga dirinya terbungkus kilatan perak dan bubuk itu sepertinya tidak dapat menembus dan meracuni Vanug.
Sayang sekali dua perempuan muda itu terlalu di sibukkan dengan pertempuran melawan Bai Er dan Chen Yi, sehingga mereka tidak sempat menahan napas, mencegah bubuk itu terhirup memasuki paru-paru mereka.
Tidak menunggu terlalu lama, ketika dua gadis itu mulai terlihat terhuyung-huyung karena pengaruh racun Raja Kalajengking mulai bekerja. Bai Er tertawa kencang ketika melihat lawannya mulai mabok karena pengaruh racun. Kata nya..
Jika saja awal-awal kamu tidak bertindak segalak ini, mungkin kita berdua dapat menikmati indahnya pagi di atas ranjang empuk, membunuh rasa dingin" Bai Er tertawa mesum. Dia semakin yakin akan kemenangannya.
Bai Er masih tertawa lebar dalam keadaan mulut terbuka lebar ketika dia melihat gadis yang terduduk itu mengangkat tangannya dan berkata dengan suara terputus-putus.
"J-jika a-ku mati. K-kamu pun harus m-mati"
Bai Er tidak dapat melakukan apa-apa ketika seberkas sinar melesat dari dalam lengan baju gadis itu..
Tsing !
Itu adalah satu ular kecil sepanjang jari tengah, berwarna hitam kuning yang terbang cepat seperti meteor dan menembus - memasuki mulut Bai Er. Tewas seketika akibat racun ular kecil kuning hitam tadi. Menyusul gadis lawannya juga terbanting dengan mulut berbusa - dan nyawanya telah pergi menemui raja neraka.
__ADS_1
"Ular Terkutuk Hitam Kuning" desis Chen Yi ketika menyaksikan kematian Bai Er. Ular itu adalah salah satu mahluk paling beracun yang sering di gunakan Suku Jinzhi sebagai senjata.
Chen Yi menjadi waspada dengan serangan gelap menggunaan mahluk beracun, dan kini dia semakin gencar menyerang lawannya gadis Serikat Musafir Bayangan - terlihat terbungkus kilatan pedang yang di eksekusinya.
"Kau akan mati menyusul kawannya. Pedang Bangau Terbang ke Langit ini adalah teknik pedang terbaru yang di latih khusus oleh semua jenius Serikat Penguasa Pedang kami" Chen Yi menggertak gigi - bertekad menghabisi gadis itu dengan cepat.
Kenyataan sebelumnya Chen Yi masih berharap kalau-kalau gadis itu akan takluk di dalam sepuluh pertukaran pedang saja. Namun dia mendapati, rupanya gadis ini adalah salah satu jenius dari Serikat MUsafir Bayangan dan semua tebasan pedangnya menjadi sia-sia di hadapan gadis itu.
Tangan gadis yang mengenakan sepasang sarung tangan hitam itu, terasa seperti di buat logam khusus yang dengan berani di pakai gadis itu menangkis semua serangan pedangnya. Belum lagi sebentar-sebentar asap hitam tebal penuh racun yang di semprotkan gadis itu, membuat Chen Yi keteteran di awal-awal pertempuran.
Namun kin setelah pria itu menggunakan Teknik Pedang Bangau Terbang ke Langit, gadis lawannya mulai terlihat kerepotan. Bayangan pedang selalu mengejar gadis itu, mengunci cepat ke dadanya seperti tikaman belati yang akan menembus jantung nya.
Chen Yi lantas membentak keras, ketika energi Qi nya di tumpahkan ke ujung pedang dan tepat menikam dada gadis lawannya. Gadis Musafir Bayangan itu terjatuh,namun belum juga menghembuskan napas terakhir.
"Haha.. pada akhirnya kekuatan pedang kami dari Serikat Penguasa Pedang lah yang akan menjadi terunggul di Suku Jinzhi ini" kata Chen Yi sombong
Chen Yi tidak melihat, dengan diam-diam perempuan itu merogoh cincinnya dan mengeluarkan satu alat tiu seperti sempritan yang terbuat dari bambu. Dengan sisa tenaga yang ada, perempuan itu meniup sempritan bambu di mulutnya. Suara aneh muncul, yang membuat bulu kuruk menjadi merinding.
"K-kamu..!" Chen Yi melotot lalu nyawa nya terbang ketika dari dalam pepohonan kering itu, satu bayangan kuning hitam terbang dengan cepat - menembusi dadanya. Perempuan Musafir Bayangan itu membunuh Chen Yi dengan senjata rahasi, Ular Kuning Hitam Terkutuk. Setelah Chen Yi mati, gadis itu pun menghembuskan afas terakhirnya.
Hutan Kematian menjadi berkurang keributannya, tersisa Nyonya Hua yang masih bertempur melawan Vanug. Sima Yong berdiri dalam diam, membiarkan angin pagi meniup jubah dan rambutnya sehingga terlihat amat misterius.
Bersambung
Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini. Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca. <3
__ADS_1