Kisah Dewa Pedang Utara

Kisah Dewa Pedang Utara
Kedai Tuan Abror ii


__ADS_3


"Mari aku berikan satu bocoran kepada anda tuan muda" kata Tuan Abror bersikap misterius.


"Tiga bangsawan dari Kota Gajah Putih itu berniat membeli resep masakan kuno ini senilai 5000 energi stone peringkat rendah" bisik rubah tua itu dengan senyum kemenangan.


"Anda tahu? Hanya demi satu resep masakan sederhana ini, di tambah embel-embel benda kuno maka kaum bangsawan bodoh itu langsung rela berniat mengeluarkan uang sejumlah uang bernilai ribuan energi stone" mata Tuan Abror berkilat penuh kelicikan. Diam-diam Sima Yong merasa tidak suka dengan orang tua.


Dia melanjutkan...


"Namun ketika beberapa waktu berlalu, tamu lainnya yang menguping percakapanku dengan bangsawan itu,


Dia lalu mengambil waktu dan bernegosiasi yang lebih menarik. Tamu yang kabarnya adalah kultivator dari Sekte Bukit Angin Tengkorak, menawari untuk membeli salinan resep masakan itu senilai 7.000 energi stone menengah"


Tuan Abror terlihat amat bangga. Dadanya kembang kempis. Dia penuh percaya diri setelah tahu benda sederhana yang dia miliki itu ternyata menjadi incaran para pelancong dari kota-kota terdekat. Lanjutnya sambil bercerita...


"Kini aku malahan menjadi tidak ingin menjual salinan resep masakan itu.


Menurut pendapatku, jika ahli-ahli dari Sekte terkenal itu berminat dengan resep masakan ini, aku bertanya-tanya.Jangan-jangan ada sesuatu yang penuh misteri di dalam salinan ini..." Napas orang tua itu terdengar memburu karena membayangkan nilai uang yang jauh lebih besar dari dua penawaran tadi. Dia berusaha mengatur pernapasannya agar tidak terlihat serakah.


"Lalu aku menimbang-nimbang. Jangan-jangan di dalam salinan resep ini tersembunyi satu informasi tentang teknik rahasia atau penjelasan tentang keberadaan satu senjata sakti tiada tara, kini aku berniat akan menaikkan harga salinan ini lebih pantas lagi...


Menurutku, harga jual 100.000 energi stone peringkat menengah adalah nilai yang pantas. Bagaimana pendapatmu anak muda?" Tuan Abror lalu tersenyum dan menatap dalam-dalam kearah Sima Yong.


BAtuk-batuk kecil...


"Tuan muda..


Seperti yang telah kulihat, anda adalah satu sosok yang demikian mudah menghamburkan uang. Anda pasti seorang tuan muda sekte atau klan besar.


Dalam pendapatku jumlah uang sebesar 100.000 Energi Stone peringkat Tengah ini, sepertinya tidak akan berarti bagi anda bukan?.."


Sima Yong lantas berpira-pura terkejut. Padahal jelas-jelas ia dapat membaca kearah mana maksud orang tua ini,

__ADS_1


"Sebentar..


Jangan katakan kalau anda berniat untuk menjual salinan resep masak itu kepadaku?" tanyanya


Mata Tuan Abror berbinar. Dia mengangguk-angguk kepala. Katanya..


"Jika anda benar-benar berniat untuk membeli salinan itu, malam nanti aku akan mengambil benda itu dari gudang penyimpanan di rumah kepala suku kami, Patriak Ye" dia berbisik tapi juga suaranya agak keras.


Sima Yong memperhatikan bahwa Tuan Abror ini termasuk sosok pedagang yang licik. Dia sengaja berbicara bisik-bisik dengan nya, ketika melihat tamu-tamu yang nginap di penginapan Kedai Tuan Abror telah turun dari lantai dua, kini duduk di resto penginapan, siap santap siang sambil menguping semua pembicaraan mereka berdua.


Dengan demikian, orang tua ini sengaja memberi kesan kalau salinan resep masakan ituseolah-olah akan di beli Sima Yong dengan harga 100.000 energi stone. Bahkan tua bangka ini dengan cerdik menunda mengambil salinan dari gudang, dan sengaja berkata keras-keras bahwa akan memberikan padanya malam nanti.


"Bukankah jarak antara jam saat ini terlalu jauh jaraknya dengan malam nanti? jelas-jelas rubah tua ini mau memanfaatkan jeda waktu antara itu untuk menerima penawaran lainnya dari orang yang berniat menekan harga"


Sima Yong melirik kearah kumpulan tamu-tamu yang tampak mulai berpura-pura memesan makanan. Rata-rata yang menginap di penginapan Kedai Abror ini adalah ahli di ranah Alam Tanpa Batas peringkat menengah dan atas.


Semua seperti bersikap acuh tak acuh, namun ia melihat rata-rata ahli-ahli itu sesekali melirik kearah dia dan Tuan Abror yang mulai berbicara keras memamerkan harga barang temuannya itu.


Malam ini di Desa Jinzhi adalah malam yang terlihat dramatis, dengan Bulan Purnama besar terlihat gemerlap memancarkan cahaya lembut seperti warna gandum. Awan tipis yang tersisa di langit, berlalu dengan cepat di tiup angin sehingga langit tampak seperti telanjang dengan warna biru agak hitam mengilap.


Seseorang telihat keluar dari kegelapan malam melintasi lapangan rumput di alun-alun, berjalan tenang sambil diterangi sinar rembulan. Orang tua itu Tuan Abror, yang sesuai janji nya kepada Sima Yong, dia akan mengambil salinan resep kuno dari gudang penyimpanan di kediaman Patriak Ye.


Semakin jauh dia melangkah, semakin sepi dia rasakan, memudar dari kerlap kerlip cahaya lampu dari rumah-rumah penduduk desa hanya sesekali berkedip, layaknya kunang-kunang tua yang akan menjelang ajal.


Masih tersisa setengah lie dari Kedai Abror, tiba-tiba tiga bayangan hitam melompat dan menghadang langkah Tuan Abror.


"Serahkan benda yang baru saja kamu ambil dari gudang penyimpanan !"


Aku mengingini kamu dengan patuh menyerahkan salinan itu, ku hitung mulai dalam tiga tarikan napas. Semua tanpa perlu bertukar pukulan dengan kami" Ancam pria berpakaian hitam yang wajahnya hanya tertutup selembar kain - hanya menyisakan dua lubang kecil untuk sepasang mata nya.


Sementara itu Tuan Abror tidak terlihat menjadi panik sama sekali. Sepertinya rubah tua ini menyimpan beberapa kejutan dalam lengan bajunya. Katanya dengan lembut,


"Datang sendiri kesini dan ambil sendiri" lalu dia merogoh sesuatu dari dalam cincinnya. Itu adalah satu lembar salinan huruf-huruf kuno yang terlihat tua.

__ADS_1


"Benda ini yang kalian inginkan bukan?" dia meletakkan salinan tua itu di kakinya, lalu mundur beberapa langkah kebelakang.


Tiga sosok bertopeng itu saling melirik. Meski wajah mereka tak terlihat, namun mata itu terlihat serakah, Lalu salah satu yang terlihat merupakan pemimpin kelompok bertopeng itu memberi kode kepada kawannya untuk mengambil benda yang di letakkan Tuan Abror.


"Anda sangat patu. Jika demikian maka aku tidak akan sungkan-sungkan lagi" sosok pria bertopeng itu dengan cepat berubah menjadi bayangan - berkelebat dengan tangan terjulur meraih salinan resep di tanah.


Wush ! ketika tangan pria bertopeng itu telah dekat 5 cun dari salinan itu, tubuh Tuan Abror ikut lenyap menjadi cahaya. Jari di tangan kanannya membentuk tusukan seperti belati pendek, dan tahu-tahu telah mengancam tangan pria bertopeng.


"Huff" pria bertopeng itu menarik tangannya dengan cepat, lalu dia bersalto mundur kebelakang. Pemimpin kelompok bertopeng yang sejak awal-awal telah meloloskan pedang, kini membuat gerakan menusuk kearah bayangan Tuan Abrior.


Shou - shou !


"Mati !" ujung pedang pemimpin bertopeng mengunci nadi di leher Tuang Abror. Kawan si topeng yang satunya lagi dengan gerakan tidak kalah cepat melompat dan berniat mencengkeram salinan di tanah itu.


"Lancang !" tangan kanan Tuan Abror terbuka lebar. Bubuk putih di tebarkan dan dalam sekejab mata telah membungkus salinan kuno di tanah.


Sementara itu tangan kiri Tuan Abror dengan cepat mengeluarkan rantai perak kecil sepanjang dua depa. Rantai perak itu demikian berkilauan di timpa cahaya rembulan, namun ujungnya adalah mata tombak pendek yang terlihat muram gelap, yang dengan mudah di tebak kalau ujung senjata itu di laburi racun mematikan.


Dalam gerakan mundur itu, Tuan Abror memutar rantai perak, dengan sangat cepat seperti ular kini lagsung melilit pedang pemimpin kelompok bertopeng.


Tsing - tsing !


Pedang pemimpin bertopeng kini terhenti dalam gerakan menusuk, ketika pedang itu dililit rantai perak Tuan Abror. Dua tenaga dahsyat yang di salurkan dalam senjata itu, kini saling beradu, untuk menentukan siapa yang paling kuat.


"Bantu aku.. transfer hawa murni kalian !" teriak pemimpin kelompok bertopeng. Dia tiba-tiba merasakan semua energinya tersedot dengan cepat, melalui rantai perak milik pria tua itu.


Wush - plak !


Dua ahli bertopeng itu segera menempelkan tangan mereka di punggung pemimpin mereka. Lalu wajah sang pemimpin bertopeng yang awal nya pucat, kini mulai membaik dalam warna merah jambu. Selanjutnya gabungan tiga tenaga hawa murni pria bertopeng mulai mengalir ke ujung pedang, berbalik untuk menindas Tuan Abror.


Bersambung


Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini.  Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca. <3

__ADS_1


__ADS_2