
Pria tua yang baru saja datang di Hutan Kematian adalah Patriak Suku Jinzhi yang terkenal di kalangan Praktisi Dataran Rendah Selatan. Namanya adalah Patriak Ye Gun Cheng. Ranah Kultivasi Ye Gun Cheng adalah SAINT peringkat bawah (awal) namun dengan kemampuannya, Ye Gun Cheng telah membuat nama Suku Jinzhi cukup di perhitungkan diantara Sekte-sekte Bintang Sembilan di dataran Selatan sini.
Sebagai Patriak Suku Jinzhi, Ye Gun Cheng menyimpan kristal jiwa semua ahli papan atas suku mereka. Pagi ketika terjadi pertempuran diantara Nyonya Hua dan Vanug , Ye Gun Cheng telah melihat kristal jiwa dua orang ahli andalah suku mereka menyala berkerlap-kerlip.
"Dua orang ini dalam bahaya !" desis Ye Gun Cheng ketika melihat Kristal jiwa Vanug dan Nyonya Hua di gudang jiwa suku.
Terlebih ketika pada akhirnya dia melihat nyala kristal jiwa dua orang itu menjadi padam, Ye Gun Cheng menjadi panik. Nyonya Hua dan Vanug meskipun kerap kali berselisih paham, akan tetapi mereka adalah tangan kanannya yang bertugas sebagai Penatua Suku Jinzhi.
Perasaan Ye Gun Cheng semakin galau, ketika di Hutan Kematian yang dia temukan hanyalah enam jasad praktisi dan jenius Suku Jinzhi mereka. Tentu saja patriak itu menjadi kalut dan berapi-api mencari tahu siapa yang telah mengambil keuntungan dari pertempuran dua serikat utama suku mereka.
Masih melayang di langit Hutan Kematian, Ye Gun Cheng melihat sekelebat cahaya buran berwarna putih kelabu, melesat cepat keluar dari hutan penuh pohon mati itu.
"Aku berani bertaruh, sosok kelabu itulah yang telah menguras habis isi cincin dua ahli suku kami.
Semua pengetahuan dan informasi rahasia suku tidak boleh bocor ke tangan orang luar" batin Ye Gun Cheng berapi-api.
Energi Qi segera melonjak dari dantian nya, meluap memenuhi seluruh meridian lalu terkumpul di ujung pedang nya yang berbentuk seperti uliran usus. Pedang Usus Ikan adalah senjata andalan Patriak Ye Gun Cheng.
"Mati !"
Tubuh Ye Gun Cheng meluncur deras kearah bayangan yang baru saja melayang beberapa tombak dari atas tanah.
Dalam bayangan Ye Gun Cheng, seseorang yang mampu menyembunyikan diri ketika dia datang ke Hutan Kematian tadi, dan dengan sangat lihai mampu menyembunyikan diri - bahkan semua auranya tertutupi dan tak terdeteksi, itu pertanda di sosok kelabu ini adalah ahli yang bukan sederhana. Oleh karena nya Ye Gun Cheng langsung melepaskan energi hawa murninya sebesa delapan puluh bagian dari semua kekuatannya.
Suara deru angin tajam terdengar ketika Pedang Usus Ikan ini bergerak cepat, mengunci punggung jubah kelabu yang terlihat tetap melayang - seolah-olah tidak sadar dan tidak mendengar deru hawa pedang mengancing punggungnya.
__ADS_1
Ye Gun Cheng telah bersorak senang dalam hati. Si jubah kelabu sama sekali tidak menyadari bahaya yang mengancam membelah punggungnya.
Akan tetapi alangkah terkejutnya patriak itu, mendadak pria berjubah kelabu itu memutar badanya dengan cepat dan tak terlihat. Tangan kanan pria itu menjulur kedepan menyambut serangan Pedang Usus Ikan dengan santai. "Sombong ! Kamu pikir pedang ini hanya sebuah pisau dapur belaka?" batin Ye Gun Cheng, masih merasa tercengang dengan keberanian di jubah kelabu.
"Putus !" bentak Ye Gun Cheng, sambil menambah aliran hawa murni ke ujung pedang. Dia berharap tangan si baju kelabu itu akan hancur menjadi bubur ketika bersentuhan dengan Pedang Usus Ikan.
Trang !
Jantung Ye Gun Cheng mendadak mencelus, dan dia merasa kehormatannya menjadi runtuh. Dua jari si jubah kelabu tahu-tahu dengan enteng telah menjepit Pedang Usus Ikan - Pedang ini adalah salah satu artefak peninggalan patriak-patriak terdahulu, di gunakan turun temurun sejak lima ratus tahun yang lalu dan suara dengusan dingin terdengar dari jubah kelabu.
"Mustahil !.. ini hanya mimpi bukan?" desis Patriak Ye. Dia telah mengerahkan sembilan puluh bagian hawa murninya ke pedang itu, namun semua tekniknya seketika terlihat menjadi sebuah lelucon ketika berbenturan dengan jubah kelabu itu.
Patriak Ye berusaha menarik pedangnya, namun dia lebih lagi menjadi terkejut. Pedang nya seperti telah menyatu dengan dua jari si jubah kelabu, tidak bergerak sama sekali. Patriak Ye tidak langsung menjadi gugup. Sebagai seorang ahli SAINT yang memiliki pengalaman tempur, dengan indah tubuhnya melakukan putaran dan salto.
Lalu kaki kanannya membentuk teknik tendangan yang didalamnya terkandung hawa murni sembilan puluh bagian. Sasaran tendangan Patriak Ye adalah kepala di jubah kelabu..
"Menghancurkan !"
"Hancurkan !"
Tendangan Gunung Besi Patriak Ye telah dekat dengan kepala target. Namun kembali dirinya di buat terkejut ketika si jubah kelabu mengulurkan tangan kiri nya, lalu mencengkeram kaki Patriak Ye. Seketika dia merasa kaki nya membaal, tidak lagi memiliki rasa apa-apa.
Dengan sangat terpaksa Patriak Ye melepaskan Pedang Usus Ikan, dan dia lebih mengkhawatirkan kaki kananny yang kini telah kehilangan rasa. Tangan kiri Patriak Ye segera membuat teknik pukulan dan menyodok dada jubah kelabu.
"Manusia Bodoh.. sejak tahu aku telah berbelas kasihan kepadamu. Jika aku mau, sejak awal-awal kepala mu telah buntung" suara si jubah kelabu terdengar sangat dingin.
Patriak Ye semakin terkejut dengan mata terbuka lebar, dan mulut menganga. Dari kehampaan di juah kelabu mengangkat tangan kanannya, membuang Pedang Usus Ikan ke dalam Hutan Kematian, lalu sebuah pedang terbentuk dari tangan kanannya.
__ADS_1
Si jubah jubah kelabu menyodok pedang kristal itu dengan lambaian tangan. Patriak Ye langsung melolong seperti serigala hutan, ketika pedang kristal itu menusuk dalam di dada, sedikit diatas paru-paru yang membuat nyawa patriak itu selamat.
Patriak Ye jatuh seperti karung basah yang di lempar ketanah, menimbulkan suara bedebum keras di Hutan Kematian. Pria itu merasakan seluruh tulang-tulangnya seperti akan terlepas dari tubuh ketika membentur tanah. Belum lagi rasa nyeri yang di sebabkan tusukan pedang kristal, yang kini dilihatnya telah meleleh menjadi cairan..
"Pedang itu adalah air? Aku telah bertindak sembrono di hadapan satu ahli kelas tinggi" suara lemah Patriak Ye terdengar ngeri.
Menyusul kemudian, ketika Patriak Ye mendongak ke udara, sosok berjubah kelabu itu bersuara..
"Aku tidak mengenal engkau. Dan aku tidak merasa memiliki dendam dengan mu. Namun kamu begitu ngotot untuk mencelakakanku.
Ke depannya jika bertemu lagi dan kamu mendesakku seperti tadi, aku tidak segan-segan mengarahkan tikaman pedang itu langsung ke jantung kamu... " suara nya semakin dingin namun terasa aga acuh tak acuh.
Patriak Ye hanya tergugu-gugu menatap bayangan si jubah kelabu lenyap di balik awan. Diam-diam dia menyesal karena bertindak sembarangan seperti tadi. Lama dia terdiam, lalu bersemedi untuk memulihkan kekuatannya.
Setelah luka di dada nya berhenti mengalirkan darah, Patriak Ye teringat sesuatu..
"Ada yang aneh..
Mengapa ranah kultivasi orang itu tidak terbaca sama sekali?" dia langsung ketakutan. Orang-orang dahul selalu berkata.
"Berhati-hatilah dengan seseorang yang tingkat kultivasinya tidak terbaca. Sesungguhnya dia adalah sosok mengerikan dengan kemampuan tak terbatas"
Patriak Ye bersyukur didalam hati. Si jubah kelabu tidak berniat membunuhnya. Dan satu lagi hal mengganjal di hati Ye Guan Cheng.
"Sejak awal bertukar pukulan, wajah orang itu sama sekali tidak terlihat. Dia seperti memiliku aura khusus yang melapisi tubuhnya sehingga orang kesulitan untuk mengingat wajahnya..." Patriak Ye sakin jatuh di dalam penyesalan..
Sementara itu, si jubah kelabu terlihatmenukik di satu tempat sepi, di pinggir Hutan Kematian. Di tempat sepi itu, ia berjalan kaki seperti orang biasa, kaum fana dan memasuki Desa Suku Jinzhi. Aura mantra yang melapisi tubuhnya memudah, dan ia adalah Sima Yong.
__ADS_1
Bersambung
Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini. Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca. <3