
Diatas sebuah kapal roh yang membelah langit perbatasan Wilayah Tengah Benua Penyaringan Dewa, dengan Wilayah Utara, terlihat tiga bentuk tubuh manusia yang tengah duduk di geladak kapal, sambil minum-minum dari cawan anggur diatas meja.
Petikan kecapi yang dimainkan pria muda berpakaian serba kelabu itu, terdengar merdu, tapi irama itu terasa aneh di telinga siapapun yang mendengarnya. Mengapa aneh? Karena setiap petikan kecapi selalu membuat perasaan serasa gembira tak jelas, dan jiwa pendengar serasa berontak
Syair-syair kacau terucap dari bibir dua orang lainnya, berusaha keras mengiringi alunan musik aneh itu. Dua orang peserta pesta anggur itu seperti orang mabuk.
"Kalian mulai kesurupan" kata pria berjubah kelabu.
Dia berusaha menahan senyum ketika melihat dua orang yang lain mulai menari-nari, seolah-olah terpikat suasana dan iringan petikan kecapi itu.
Bukannnya menghentikan petikan kecapi ditangannya ketika melihat orang kesurupan, yang ada malahan pria muda berjubah kelabu itu semakin gencar memetik kecapi ditangannya.
"Keuntungan lain dari mendengar musik ini adalah memperbaiki jiwa kalian" batin jubah kelabu.
Suara kecapi itu bahkan terdengar menembus jarak ratusan lie jauhnya. Hewan-hewan malam ikut mengeluarkan suara gembira, saling sahut menyahut, ketika jiwa mereka serasa terbetot mendengar petikan kecapi.
Saat itu sebuah kapal roh lainnya dari arah belakang menerobos kegelapan malam, berusaha mengejar kapal roh yang di tumpangi si jubah kelabu.
"Musik Pemikat Jiwa !" seru seorang pria setengah tua yang berdiri di anjungan kapal roh lainnya berkata dengan nada terkejut.
"Tutup kuping kalian, jika tidak ingin jiwa kalian terpecah-pecah" buru-buru pria setengah tua yang bernama Shi Zhizhou. Dia adalah seorang penatua senior dari Klan paling di takuti di Kota Cerpelai Biru.
Shi Zhizhou buru-buru menyempal telinganya dengan gulungan kapas, berkonsentrasi menyalurkan hawa murni Qi yang lantas menutup panca indra pendengarannya.
Lima tarikan nafas kemudian barulah dia membuka matanya.
"Siapa gerangan ahli yang memainkan teknik Irama Setan pemikat jiwa itu?
Dengan kemunculan ahli musisi kematian seperti ini, apakah masih penting diriku untuk mengejar alkemis didepan sana?"
Shi Zhizhou kini dilanda keraguan. Di satu pihak dia ingin alkemis yang telah lancang menggalkan rencananya, di pihak lain dia menjadi gentar ketika mendengar alunan petikan Irama setan Pemikat Jiwa itu.
Namun kemarahan akan gagalnya rencana dia untuk menjadi Patriak baru Klan Shi, yang nantinya akan memerintah seluruh Kota Cerpelai Biru itu membuat darah Shi Zhizou kembali mendidih.
"Aku akan mempercepat mesin kapal roh, dan mengejar alkemis sialan itu. Alkemis itu harus menebus kesalahannya" lalu dengan sebuah kode dari tangannya, dia memerintahkan awak kapal roh mempercepat penerbangan dan menyusul kapal roh di depan.
Ketika kapal roh mereka mulai melaju lebih kencang lagi, sekonyonh-konyong salah satu awak kapal berteriak dengan ketakutan,
"Sesuatu benda raksasa akan bertabrakan dengan kapal ini !"
__ADS_1
Awak kapal roh itu menunjuk-nunjuk ke arah depan dengan panik, setengah lie jaraknya tampak suatu mahluk hidup terlihat bergerak cepat, sambil membentangkan sayapnya.
"Putar haluan, putar haluan segera !"
Shi Zhizou berlari dengan cepat ke arah anjungan, tempat awak kapal tadi berteriak memberi informasi.
"demi dewa... Itu adalah seekor burung Roc raksasa !" tangan Shi Zhizou membentuk segel, pedang dihunus dan dia melompat dengan cepat menerjang mahluk bersayap itu.
"Wush !" mahluk bersayap itu mengibaskan sayapnya, menimbulkan angin taufan yang lantas membuat kemampuan terbang Shi Zhizou menjadi lambat.
"Trang !"
"Buk !"
Mahluk raksasa bersayap itu memutar kakinya dan menendang kearah pedang ditangan Penatua Shi. Pedang itu terlempar belasan tombak jauhnya. Kaki mahluk ganas itu kembali berputar lalu dengan jitu angin sepakan kaki itu mengenai dada Shi Zhizou.
"Buk ! Hoeks"
Pria Penatua Klan Shi itu memuntahkan seteguk darah, buru-buru dia berbalik ke kapal roh guna meluruskan nafasnya.
Baru saja merasa kelegaan di dadanya setelah serangan tadi, pandangan Shi Zhizou menjadi nanar tatkala dia melihat mahluk raksasa bersayap itu mengibaskan sayap yang menimbulkan angin kencang, menyerang kapal roh mereka.
"Aku akan menjadi ahli yang di takuti, jika saja aku memperbudak dan meneken kontrak dengan mahluk legendaris itu"
"Lepaskan tali, jerat mahluk itu" teriak Shi Zhizou memerintah. Secara buru-buru semua awak kapal mengeluarkan sebuah benda besar dari gudang. Itu adalah sebuah jaring raksasa.
Sementara itu angin serangan sayap kuda terbang tepat membentur lambung kapal.
"Wush-wush-wush" kapal roh mereka menjadi oleng ketika kuda bersayap itu mengibaskan sayap raksasanya.
Ketika kapal tengah oleng karna terjangan angin taufan, Shi Zhizou dan kawanannya masih sempat melemparkan jaring guna menjerat mahluk bersayap itu.
"Rasakan jala mestika ini !"
Suara ringkikkan kuda seketika terdengar membahana. Demikian kerasnya ringkikan itu ketika semua menyaksikan, jala mustika yang besar itu membungkus kuda terbang.
Shi Zhizou tertawa terbahak-bahak ketika dia melihat kuda terbang itu terperangkap didalam jala mustika mereka. Semua awak kapal berteriak gembira, gegap gempita memecah malam diperbatasan yang dingin.
Akan tetapi suara sorak-sorai penuh kebahagiaan itu lenyap seketika mereka menyaksikan jala mestika Klan Shi itu tercabik-cabik.
__ADS_1
"Menghancurkan !"
"Duar !"
Kala itu kuda terbang itu telah bertransformasi menjadi sosok laki-laki berpakaian mewah layaknya seorang hartawan, dengan pedang berkilauan keemasan di tangannya, mengoyak jala mestika itu seperti pisau dapur mengiris sayuran.
"Lancang ! Berani benar kamu menjerat tuan ini dengan jala-jala rongsokan.
Tuan ini tidak akan berbelas kasihan lagi !" itu adalah makian si hartawan.
Pedang di tangan pria hartawan di ayunkan yang lantas menimbulkan aura pedang dahsyat yang melesat, berniat membelah kapal roh itu.
"Duar !" ledakan terjadi, tatkala kapal terbelah dua.
Tidak berhenti sampai disitu, pria hartawan itu menyelinap mendekati kapal ambruk itu, dan pedangnya mengunci kepala Shi Zhizou,
"Suiit !" bunyi tebasan pedang, yang dalam sekejab mata, membuat kepala Shi Zhizou jatuh menggelinding terpisah dari badan tua itu.
Di lain pihak terdengar awak kapal melolong ketika kapal roh yang terbelah itu meluncur deras, jatuh ke bawah diatas stepa padang rumput yang berembunkan es. Ketika orang-orang malang itu jatuh mencapai dasar tanah perbatasan, diam-diam muncul mahluk-mahluk ajaib yang lantas melahap semua manusia malang itu.
Pria hartawan itu kembali memasang wajah datar, lalu tanpa berbasa-basi dia kembali terbang menuju satu kapal roh yang tadinya di kejar orang-orang Klan Shi. Keadaan menjadi sepi lagi, hanya sinar kerlap-kerlip bintang yang menerangi pada stepa tak bertepi itu.
Ketika hartawan itu sampai di kapal roh, dia menjejakkan kaminya di geladak dan bergegas menuju meja tempat tiga orang yang tengah berpesat minuman anggur.
"Lama benar kamu menghadapi orang-orang itu" si jubah kelabu melirik ke arah hartawan.
Lalu tanpa basa-basi dia, si jubah kelabu menyodorkan cawan berisi minuman anggur. Katanya..
"Beruntung aku menyisakan Fion ini. Persediaan fionku hampir habis. Mungkin aku harus menyanyikan nyanyian sihir untuk membuat Fion baru untuk persediaan"
Sambil tertawa si hartawan itu menenggak Fion yang diberikan jubah kelabu, dan dia turu larut didalam pesta Fion sambil mendengarkan lagu-lagu pemikat jiwa dari petikan kecapi pria berjubah kelabu.
Kapal Roh itu terus melaju, membelah langit di perbatasan wilayah. Semakin lama, salju mulai turun dalam bentuk butiran es. Tiga sosok yang menemani di jubah kelabu tampak terkapar di geladak kapal.
"Ah... Salju seperti ini mengingatkanku akan Wialayah Utara di Benua Silver" Si jubah kelabu terjatuh dalam lamunan ketika waktu menunjukkan in-sie, ketika kentongan kelima dibunyikan...
*Bersambung*
Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di-like, sekedar komen dan vote.
__ADS_1
Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.