
...ARC. 8.2. Bangau Berkaki Satu...
Peta Suku Jinzhi
Keberadaan Suku Jinzhi apabila di jabarkan di dalam sebuah peta adalah sebagai berikut.
Sebelah Utara wilayahnya adalah daerah yang sangat kelam tempat perbatasan penyeberangan dari Negri Tanaman Obat dan sebagian besar area di penuhi batang pohon mati - hutan kering yang dinamakan Hutan Kematian.
Bagian Barat Laut adalah kawasan berbahaya yang di namakan Rawa Berkabut. Konon di Rawa Berkabut ini seringkali para kaum kelana atau masyarakat Suku Jinzhi sendiri melaporkan kalau mereka melihat penampakan Naga Air.
Kemudia membentang dari Barat sampai ke Selatan wilayah, adalah satu hutan pinus tua yang di beri nama Hutan Pinus Ribuan Tahun. Lebih ke Selatan hutan, kawasan ini di penuhi dengan berbagai hewan-hewan ajaib kegelapan yang biasa di sebut dark beast.
Bagian Timur Suku Jinzhi adalah sebagian dari Pegunungan Pembunuh yang di penuhi tanah kering, sehingga Hutan Kematian dari Utara seperti menularkan penyakit kekeringan pada disini - semua pohon menkering tanpa daun, yang juga terlihat menyeramkan tatkala malam menjelang.
Pada waktu itu di bagian utara Desa Suku Jinzhi..
Waktu menunjukkan belum lagi ketongan pertama di bunyikan. Langit mulai beranjak menghitam menggapai malam. Pada waktu itu adalah lima sosok pria berpakaian seperti ahli-ahli bela-diri atau yang biasa di sebut Kultivator, berjalan sangat cepat menyusuri lereng Pegunungan Pembunuh - kawasan Suku Jinzhi.
Kabut pelan-pelan mulai merayap, membuat lima ahli itu kian mempercepat langkah kaki mereka menuruni lereng gunung. Mereka menghindari malam yang semakin gelap, berharap ada rumah penduduk di kaki gunung, atau di Hutan Kematian, untuk sekedar beristirahat.
Jika di perhatikan baik-baik, kelima praktisi itu berjalan setengah berlari dengan langkah yang tidak menimbulkan kepulan debu atau jejak kaki, di sepanjang lereng kering bertanah itu.
Nampak jelas kalau mereka berlima adalah ahli dalam bidang bela diri yang tidak bisa di pandang rendah.
Memang mereka berlima adalah praktisi peringkat menengah atau muid-murid Pelataran Dalam dari satu Sekte yang ternama di Wilayah Selatan, Peringkat bintang delapan bernama Sekte Black Dragon - berlokasi di Kota Gajah Putih.
Ke lima ahli ini telah menghabiskan waktu selama tiga hari tiga malam untuk berjuang melintasi Pegunungan Pembunuh, menyeberang dari Kota Gajah Putih menuju tempat Suku Jinzhi berada.
Keadaan mereka tentu saja terlihat begitu letih, karena sedianya Gunung Pembunuh penuh dengan mara bahaya yang mengintip dan ada dimana-mana. Serangan ganas hewan-hewan ajaib peringkat tinggi, serta mahluk-mahluk gaib seperti jin telah menjadi makanan mereka dalam tiga hari ini, dan tentu saja itu amatlah mengganggu stamina dan kecepatan perjalanan mereka.
Beruntung sekali dengan tingkat kultivasi rata-rata mereka sebagai Kultivator Alam Tanpa Batas peringkat rendah, membuat semua kerja sama dan formasi pedang lima orang ahli pedang Sekte Black Dragon itu selalu lolos dari maut yang mengancam di sepanjang jalan mlintas Pegunungan Pembunuh itu.
Ketika tubuh mulai dilanda rasa penat dan hati menjadi seperti letih, sebuah kedai kecil yang menyiarkan aroma masakan lezat, tampak di depan mata. Itu adalah pemandangan surgawi di mata lima orang itu.
__ADS_1
Kedai yang tepat di kaki gunung, berbatasan dengan Hutan Kematian itu luasnya tidaklah terlalu besar, namun dari kejauhan cahaya lampion yang di pasang sangat banyak, seketikamemberi kesan bersih dan ramah dan menimbulkan keinginan kuat untuk mampir.
Mungkin juga karena rasa penat dan letih, bercampur dengan bau-bauan makanan yang tengah di hangat kan dari dapur kedai itu, yang aromanya tajam tersiar melalui udara di malam dingin itu, membuat mereka menjadi lengah. Lima orang ahli itu tidak merasa ada keanehan Kedai yang bernama Kedai Nyonya Hua.
Kedai Nyonya Hua ini betul-betul hanya berdiri sebatang kara, di kaki Pegunungan Pembunuh berteman-kan batang-batang pohon kering yang besar.
Kedai dengan cahaya lampion mencolok diantara tingginya pepohonan kering yang terlihat menjulang dari tanah hingga ketinggian 6 meter ke atas, menambah rasa lapar dan keinginan untuk berbaring melanda perasaan lima praktisi itu.
Di bawah cahaya bulan yang bulat kala itu, bayangan pohon terlihat seperti jari-jari panjang seorang penyihir, lima ahli itu berdiri di gerbang Kedai Nyonya Hua.
Di atas pintu gerbang untuk masuk kedalam halaman, tertulis besar-besar di papan merk yang di tergantung "Kedai Nyonya Hua, hidangan suku Jinzhi penuh bumbu rempah" membuat lima orang kultivator itu tak sadar meneteskan air liur.
Long Yun seolah tersadar, seketika dia tampa ragu untuk masuk kedalam kedai itu.
"Kakak Long Yun.. tidak bisakah kita mampir sebentar dan menikmati makanan di kedai depan sana?
Udara gunung demikian dingin, dan kita telah berhari-hari hanya menyantap roti kering dan air dingin belaka. Mungkin roti kukus panas dan arak hangat akan mengembalikan stamina kami" kata kultivator termuda yang di panggil Qin Yi.
"Benar Kakak Long Yun, bukankah ketika kita telah menuruni lereng Gunung Pembunuh ini, itu berarti semua bahaya yang mengancam perjalanan ini telah berkurang?
Apa salahnya kita mencoba menikmati hidangan yang pantas?" bujuk Xue Tian, seorang Kultivator lainnya.
"Baiklah... aku pada akhirnya memang akan kalah ketika kalian semua berdebat meminta hidanganan yang layak.
Kali ini ku turuti permintaan adik-adik ini" jawab Long Yun berpura-pura marah. Pada dia juga tergiur dengan aroma arak yang di hangatkan di dapu kedai.
"Ah.. Betapa senangnya !" teriak empat praktisi lainnya dengan gembira ketika kakak tertua mereka mengiyakan kelompok itu untuk mampir dan beristirahat di Kedai Nyonya Hua.
"Namun kalian tetap harus mengingat misi yang kita bawa. Ingat jaga bicara dan kerahasiaan misi dari Sekte Black Dragon.
Aku tahu, beberapa diantara kalian tidak dapat menjaga mulut. Apalagi ketika minuman arak telah memasuki perut kalian" kata Long Yun tegas. Dia melirik empat
"Baik kakak Long Yun ! Adik-adikmu ini akan tetap menjaga mulut agar tidak terlontar kata-kata yang membocorkan misi kita" mereka pun lantas membuka pintu gerbang halaman, berjalan masuk ke halaman kedai dan duduk di dalam kedai yang tidak terlalu besar itu.
Seorang perempuan tua bungkuk dan lemah, terlihat keluar dari dapur dan menanyakan apakah yang akan di pesan lima praktisi itu.
__ADS_1
"Tuan-tuan ingin makanan jenis apa?"
"Kami ingin makanan sayur tumis pedas, sop kaki menjangan dan daging sapi masak saos dua kati. Nasi cukup untuk lima orang. Untuk pembukaan, hidangkan dua piring roti kukus isi daging dan arak yang cukup" jawab Long Yun sambil menampar meja dengan sepuluh Energi Stone peringkat menengah.
Dia menjadilega setelah melihat penghuni kedai hanylah seorang perempuan tua.
"Baik tuan. harap di tunggu" jawab perempuan tua itu dengan mata yang menyala ketika melihat alat pembayaran energi stone peringkat tengah demikian banyak.
Tak lama kemudian dari arah dapur tersiar aroma masakan yang sedap menggugah selera, sehingga lima praktisi itu tak dapat menahan sabar menyantap hidangan panas-panas.
"Nyonya Hua ! Tidak bisakah kedai anda menyajikan roti kukus terlebih dahulu dengan beberapa kendi arak?" teriak Qin Yi sambil menggebrak meja. Dia adalah praktisi termuda, sehingga kadang-kadang dia terlihat agak kasar dan kurang sopan. Lagi rasa lapar membuatnya menjadi tambah tidak sopan.
Tak lama kemudian dari arah dapur, seorang anak muda berwajah jelek, di hiasi tompel di pipi yang dengan terburu-buru membawa dua piring besar roti kukus isi daging di nampan. Menyusul sesudahnya pelayan itu mengeluarkan lima kendi berisi arak yang baru di panaskan.
"Nah begitu dong. Layanan cepat kepada pelanggan perlu di utamakan" kata Qin Yin.
Empat kawan nya lantas menanggapi dengan suara gelak tawa, yang terdengar memecah heningnya malam di Hutan Kematian.
"Mari kita minum ! Kakak Long Yun, mari kita bersulang" teriak Qin Yin mengangkat cawan arak nya tinggi.
"Bersulang untuk apa nih" jawab Long Yun sambil menuang penuh cawan araknya sampai terisi arak yang masih mengepul hangat.
"Kita bersulang untuk kesuksesan melewati Pegunungan Pembunuh dan atas kelihaian kita semua menaklukkan Dark Beast di sepanjang jalan" jawab Xue Tin dengan air liur yang menetes.
"Toss !" teriak kelima orang itu bersamaan.
Maka air kenikmatan itu mengalir dari tenggorokan lima praktisi itu. Bapao isi daging panas-panas, merupakan pelengkap minuman santai mereka - menunggu hidangan utama di sajikan Nyonya Hua.
Waktu bergulir pelan, langit berubah sehitam tinta tatkala awan kelabu menutupi bayangan rembulan. Namun lima orang Kultivator Sekte Black Dragon semakin bersemangat menumpahkan air kenikmatan itu memasuki perut mereka.
Pada saat Nyonya Hua keluar dengan sepiring besar sayur tumis dan daging saos pedang beraroma menggoda, tiba-tiba Long Yung merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Perutnya mendadak terasa meliit, dan dia kesulitan bernafas..
"Racun !" pikirnya pada detik pertama. Tatapannya lantas beralih kearah Nyonya Hua yang tengah membawa sebaki sayuran dan daging panas itu. Entah mengapa dia merasa wajah Nyonya Hua tersungging senyuman mengejek.
"Apa yang kamu berikan di dalam arak dan roti kukus itu?" tanya Long Yun. Pedang berusaha di cabut dari sarungnya dan mencoba mengancam Nyonya Hua...
__ADS_1
Bersambung
Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini. Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca. <3