
Saat itu itu delapan pengendali angin telah berdiri dengan posisi siap untuk menerbangkan tentara berperang. Berdiri diatas geladak sambil di tiup angin-baju militer hitam Panjang yang dibelakang serupa jubah-meliuk seirama hembusan angin, delapan orang Pengendali Angin itu terlihat begitu Agung, seperti dewa angin saja rasanya.
“Pengendali angin bersiapp….!!” Aba-aba terdengar.
Mereka lantas mengaitkan tali roh di punggung enam belas tentara elit Kekaisaran Rajawali Agung.
“Kami siap bertempur...!” salah satu anggota tentara elit itu bersuara. Sepertinya dia adalah pemimpin kelompok itu. Tombak berkepala dua-berkepala pedang pedang bermata dua berkilauan tatkala delapan belas tentara itu membuat gerakan memutar memamerkan ketajaman kepala tombak.
“Arahkan Kapal mendekati Hiu monster hingga mendekati satu Lie” titah Laio Quon. Dalam pendapatnya satu Lie adalah jarak terbaik bagi delapan belas tentara elit itu menyerang musuh. Lalu dua pengendali angin yang tetap bertugas mengarahkan kapal, melambaikan tangan.
“Wushh...!!!”
Angin bertiup kencang dan membawa kapal roh lebih dekat kearah monster itu. Bau amis khas laut-bau ikan, seketika merebak tercium ketika monster hiu itu menguakkan mulutnya yang mempertontonkan isi kawah mulutnya yang banyak menyisakan potongan-potongan mangsa lautannya. Meskipun kepingin muntah tatkala mencium aroma busuk itu, semua tentara berusaha mempertahankan diri agar tidak terlihat lemah.
Semakin dekat hingga mendekati jarak satu lie, tampak gigi-gigi tajam itu berkilauan menyerupai pisau yang terlihat berkerlap-kerlip memantulkan cahaya matahari tatkala monster itu meraung memamerkan gigi-giginya.
Liao Quon menaksir, kira-kira dua bahkan mungkin lima tubuh manusia akan langsung terbelah jika terperosok masuk kedalam mulut monster itu. Selain perasaan mual karena amis bau mulut hiu raksasa, perasaan bergidik juga timbul di hati semua yang melihat hiu raksasa itu.
***
Kembali ke geladak kapal…
Seolah sadar bahwa mereka di tatap oleh kelompok Pangeran Ju Qin dan Tuan Yong, delapan pengendali angin itu membuat gerakan lambaian dalam bentuk formasi. “Wushh....” enam belas tentara itu terlempar cepat kearah langit. Itu adalah peragaan ketrampilan penguasaan angin tingkat tinggi.
Lalu ketika para pengendali angin itu berbisik dengan rapalan mantra untuk membentuk formasi, secara ajaib delapan belas tentara elit itu menukik pesat dan tombak mengunci rapat mengancam Monster Hiu. Tali yang menghubungkan mereka dengan pengendali angin kini tidak terlihat. Kemungkinan itu adalah bagian dan pengaruh teknik formasi delapan pengendali itu.
Sayup-sayup terdengar bentakan berulang kali...
“Hiyaaattt.... matii...!!!”
Enam belas tikaman tombak meluncur cepat dan terarah dari ketinggian mengunci seluruh bagian penting di badan monster Hiu. Sesaat Monster itu terlihat seperti kebingungan, dia akan mulai menyerang dari bagian mana diantara enam belas musuh itu.
Ketika kepala enam belas tombak makin mendekat dan seperti akan membelah tubuh hiu itu, sekonyong-konyong ekornya berputar lalu sebuah angin serangan berkekuatan dahsyat menghantam lima tentara yang dekat di ekor itu.
“Braakkk....” lima tentara yang terkena sambaran ekor Hiu itu melayang terpelanting kebelakang. Akan tetapi mereka terlihat baik-baik saja. Pengendali angin yang memegang tali mereka secara cekatan menghembuskan angin untuk menghindarkan kelima tentara dari sambaran maut.
Sementara tentera yang tersisa masih dalam gerakan menusuk, mencoba melukai Hiu itu. Hiu menggoyang tubuh dalam amarah. Beberapa mata tombak gagal menghujam tubuhnya. Akan tetapi dua mata tombak dengan ganas memasuki tubuh ikan raksasa itu dan mulai mengoyak bagian dalam.
Dalam lenguh kesakitan ketika tubuhnya terluka, Hiu raksasa itu mengeluarkan sebuah gerakan putus asa. Tubuhnya bersinar lalu dengan energi yang dia serap dari bumi dan langit, menguak keluar kekuatan mengancam dari sinar itu.
Tanpa berbelas kasih sedikitpun, sayap Monster Hiu itu membentang dan dengan kibasan yang amat kuat, dimana dua tentara elit yang tidak sempat mundur, terlempar jauh sambil berulangkali menumpahkan tegukan darah-ketika sayap bergerigi tajam itu membentur tubuh mereka dan mengkoyak pakaian besi yang mereka kenakan.
Empat belas tentara yang luput dari irisan sayap itu terlihat pucat. Betapa kuat tenaga dan betapa tajamnya sayap mahluk monster itu, pikir mereka. Akan tetapi kembali terbenam dalam luapan keberanian yang tidak takut mati, empat belas tentara itu melesat cepat dalam formasi khusus yang seperti nya diciptakan untuk menghadapi lawan secara bersamaan.
Seiring dengan lambaian tangan para pengendali angin, enam belas sosok itu seperti menyatukan tombak mereka. Lalu sebuah tombak raksasa mewujudkan diri sebagai perpaduan formasi enam belas tombak mereka.
“Matii...!!!” teriak mereka bersamaan.
Tombak raksasa itu menghujam dengan kekuatan gabungan, sampai-sampai menimbulkan suara gemuruh di Lautan Embun Timur itu. Hiu Raksasa mengeluarkan sinar Energi dari moncongnya yang berupaya mencegat kekuatan gabungan enam belas Tentara Elit. Dua cahaya energi dahsyat berbenturan.
“Duaar...!!” bentrokan dua kekuatan besar menggoncang langit. Enam belas tentara elit terlempar seperti layangan putus. Beruntung sekali delapan pengendali angin yang mengendalikan gerakan mereka, dengan sigap menyentak sehingga angin berhembus membawa mereka agar tidak terhempas di karang-karang dan tebing tepi laut.
__ADS_1
Kondisi Hiu raksasa itu tak kalah malangnya dibanding empat belas tentara. Seperti balon yang mendadak di kempiskan... Hiu raksasa itu terlempar hampa ke arah belakang, begitu jauh lontarannya lalu dia tercebur didalam lautan. Dia jatuh kedalam air dalam kondisi badan tersayat-sayat tombak formasi empat belas tentara elit.
Tidak berapa lama setelah badan hiu itu tercebur di lautan, orang-orang manyaksikan gelembung-gelembung air muncul dari kedalaman lautan.
Lautan di sekitar Hiu itu tenggelam, berubah menjadi warna merah. Terlihat jelas beberapa monster lainnya di dalam lautan mencabik-cabik Hiu terluka itu, dan dalam beberapa saat saja tersisa tulang belulang Hiu monster tadi.
Dengan tatapan bergidik semua menyaksikan kebrutalan mahluk-mahluk langka di Lautan Embun Timur yang terkenal amat purba itu.
Enam belas tentara elit di tambah dua yang terluka parah di gotong masuk kedalam ruang pemulihan. Anak Muda-Alkemis muda itu dengan cekatan melakukan tindakan membalut dan pemindahan energi jiwa untuk menutup luka-luka para tentara.
Khusus pengobatan dua tentara yang terluka parah, Sima Yong dengan ringan tangan membantu memberikan pil, membalur ramuan, serta menyalurkan energi jiwa untuk mengobati luka-luka dalam yang tak terlihat mata biasa.
“Keadaanmu kini telah terlihat lebih baik. Dalam beberapa minggu, semua sayatan pertempuran ini akan memudar menyisakan garis tipis berwarna merah muda” Sima Yong menepuk punggung prajurit terakhir yang dia jahit luka nya secara sihir setelah membubuhkan ramuan perekat.
Sambil mengerang menahan sisa-sisa rasa sakit, tentara itu menatap Sima Yong, dia tak dapat berkata-kata. Badannya dian rasa terlalu tidak bertenaga. Namun sorot mata itu jelas mengatakan dua kata “Terima Kasih”
Anak muda itu-sang alkemis muda Jiang Fai, mem- perhatikan lekat-lekat semua tindakan dan mantra yang di lakukan dan di rapalkan Sima Yong. Dalam hatinya dia berjanji tidak akan mengecewakan Sang Master yang baginya merupakan anugerah menjadikannya murid.
“Apakah ada sesuatu yang belum kamu pahami??? Baik itu Mantra, pelepasan energi jiwa dan bahan herbal untuk membuat luka itu menutup cepat??” tanya Sima Yong.
“Aku telah memahaminya Master. Rapalan mantra sudah aku hafal” jawab Jiang Fai.
“Bagus, jikalau demikian kamu dapat merapalkan mantra dan melaburi herbal untuk menutupi luka tentara berikut ini” kata Sima Yong menantang.
“Akan tetapi master…. Aku....” Ragu-ragu Jiang Fai menjawab tantangan masternya. Jika itu hanya luka sayatan biasa, dia teramat mahir. Akan tetapi luka tentara ini selain luka luar yang dalam, dia juga terluka bagian dalam akibat sabetan ekor Monster Hiu barusan. Dan itu luka serangan monster peringkat tinggi.
“Kamu harus mencoba dari sekarang” kata Sima Yong tegas.
Berusaha membuang rasa ragu, Jiang Fai bersuara dengan keras...
“Baiklah Master. Akan ku coba” Jiang Fai lantas melaburkan ramuan herbal yang di keluarkan masternya. Tangannya membentuk segel lalu bibirnya bergerak merapal mantra yang dia pelajari tadi.
Energi hangat keluar dari tangannya ketika mengerahkan kekuatan jiwa bersatu dengan obat-obatan. 2 kali santapan teh… Jiang Fai menghapus keringat yang mengucur deras di keningnya.
“Kamu terlihat menguasai Teknik Penyembuh dengan cepat, kedepannya jika sering berlatih, kamu tidak akan membutuhkan waktu yang lama untuk menyatukan luka sobekan seperti itu” kata Sima Yong. Dia puas dengan hasil kerja Alkemis muda Bernama Jiang Fai itu. Luka itu terlihat cukup rapih ketika saling merapat.
“Kamu dapat berjaga disini hingga beberapa saat. Sebaiknya memberi laporan kepadaku kalau-kalau terjadi pendarahan dari luka dua tentara itu” Sima Yong kemudian meninggalkan Jia Fang di balai pengobatan kapal.
>>>>>>
Sima Yong keluar dari Balai Pengobatan lalu menemui Pangeran Ju Qin dan yang lainnya.
“Terima kasih bantuan Tuan Yong. Jika saja anda tidak bersama kami, aku tidak tahu lagi apa yang akan terjadi dengan anggota pasukan elit ku” kata Laio Quon yang berulang kali mengucapkan terima kasih.
Sebagai Kapten dari Pasukan Elit itu, dia memang amat loyal dengan semua anggota pasukannya. Oleh sebab itu, mereka pun sebagai anggota pasukan yang memiliki rasa loyal lebih tinggi kepada Laio Quon itu.
"Duk duk duk" suara sepatu menghantam geladak kapal. Seseorang datang dalam keadaan terburu-buru.....
“Bukankah kita terlalu tegang dalam beberapa hari belakangan ini?? Mengapa kita tidak bersenang-senang sejenak sebelum kita menghadapi ujian monster berikutnya???” Pangeran Ju Qin datang ke geladak sambil membawa satu guci minuman arak.
Berjalan dibelakangnya dua dayang-dayang perempuan yang diatas tanga masing-masing mereka, nampan berisi dua guci arak.
__ADS_1
“Ini adalah arak khusus yang di suling menggunakan campuran bunga Plum yang didatangkan khusus dari Negri jauh di seberang lautan”
“Kalian boleh mencicipi masing-masing satu tegukan… hahaha tentu saja karena kalian akan bertugas menjaga kestabilan penerbangan kapal ini, maka tidak ku ijinkan terlalu banyak minum”
Lalu Pangeran ju Qin meluncurkan cairan arak itu ke lehernya, mengalir nikmat. Dia membagi ke tentara-tentara masig-masing satu tegukan, “guna meringankan pikiraan selepas pertempuran tiada berkesudahan ini” katanya.
Tentu saja penawaran itu tidak di sia-siakan oleh para tentara yang sebenarnya juga mengalami tekanan pertempuran dalam beberapa hari ini. Mungkin seteguk, … ah mungkin dua atu tiga teguk akan meringankan pikiran dan membuat terasa mengendurkan otot. Tanpa malu-malu cairan itu mengalir melalui leher masing-masing tentara itu. Mereka lalu larut dalam gelak tawa.
Liao Quon berusaha menjaga wajahnya agar tidak berubah. Dia sangat tidak setuju melihat pasukan itu menyantap cairan arak selama mereka masih bertugas. Dengan berat hati dia meng-iyakan Ketika Pangeran Ju Qin mengatakan “ini hanya sekedar dua teguk menghilangkan rasa tekanan akibat pertempuran tak henti, dalam beberapa hari ini”
Sima Yong, Pangeran Ju Qin, Ju Lianyi dan dua ketua sekte bintang delapan itu duduk di bangku kecil mengelilingi meja yang diatas nya terletak empat guci arak. Harum daging panggang menyeruak dari bagian dalam Kapal atau tepatnya dapur. Dua pelayan perempuan yang tadi membawa arak, kini terlihat tergopoh-gopoh membawa nampan berisi daging bakar-mengepul panas pertanda baru saja diangkat dari pembakaran, yang dimasak dengan resep khusus.
Sementara lima pelayan laki-laki membawa bernampan-nampan daging yang dimasak istimewa itu dan di edarkan kepada para tentara dan pengendali angin. Tentu saja perlakuan baik dan istimewa dari pengeran itu, demikian membekas di hati orang-orang itu. diam-diam mereka membatin akan mendukung Pangeran Ju Qin untuk menjadi Putra Mahkota, calon pengganti Kaisar Rajawali Agung berikutnya.
Hingga senja menjelang, belum terlihat kejadian aneh yang akan menyerang kapal roh itu. Sima Yong berulang kali menolak secara halus, tawaran pangeran maupun yang lainnya atas masakan daging yang menggugah minat makan itu.
Dia hanya meraih buah dan beberapa roti atau biscuit ringan ketika diajak menyantap daging. Pada akhirnya ketika dia di desak berulang-kali, dia menjelaskan…
“Kaum Jingling tidak menyantap hidangan mengandung mahluk hidup. Itu akan berpengaruh bagi kekuatan sihir kami….”
“Lagi pula… hidangan yang mengandung darah akan membuat kami lemah dalam melacak kehadiran musuh yang memiliki unsur darah di tubuhnya. Manusia atau hewan roh yang berdarah misalnya….” Kata Sima Yong mengakhiri penjelasannya.
Ketika dia melihat tatapan bernada asing keluar dari orang-orang itu ketika mendengar “jingling”, dia hanya menyibakkan sedikit anak rambut yang selalu menutupi kuping nya dan berkata,
“Aku nanren setengah Jingling…” kuping nya meskipun tidak seruncing kaum jingling, namun terlihat lebih meruncing jika di bandingkan manusia umumnya.
Lalu dalam nada kompak semua orang membentuk huruf “O” di mulut mereka. Terjawab sudah mengapa pemuda itu terlihat muda seperti remaja usia belasan tahun, serta wajah rupawan dihiasi kulit begitu muda bagaikan kulit seorang bayi itu.
Untuk membunuh suasana canggung setelah dia mengungkapkan sedikit jati dirinya… Sima Yong diri menawarkan untuk bermain musik.
“Apakah kalian pernah mendengar suatu aliran Teknik Jiwa yang dinamakan Irama Kematian atau Musisi Jiwa?”
Semua orang keheranan mendengar nama yang Sima Yong ucapkan,
“Baiklah.. aku akan memainkan sebuah lagu menggunakan Teknik Irama Kematian atau tepatnya teknik Musisi Jiwa. Kali ini tekniknya bukanlah bagian yang akan menyerang lawan, ini adalah akan tetapi kebalikannya".
"Musik ini akan membantu memulihkan jiwa kalian seandainya adalah yang mengalami luka jiwa. Namun jika kondisi jiwa kalian baik-baik saja, niscaya dengan mendengarkan alunan nada ini, jiwa kalian akan mengalami penguatan.
Lalu diiringi tatapan heran semua orang, Sima Yong memetik Kecapi (Guzheng) dan memainkan music pengobat jiwa. Semua orang terhipnotis. Bahkan kaum tentara baik yang berjaga, ataupun sedang dirawat dan dalam masa penyembuhan itu terdiam terpukau mendengar alunan musik pengantar jiwa itu.
“Tringg… “ petikan terakhir pertanda nada terakhir telah selesai dimainkan dan Sima Yong tersenyum menatap semua yang terdiam membisu. Beberapa orang bahkan meneteskan air mata.
“Saudara Yong.. er…” ragu-ragu Pangeran Ju Qin menanyakan sesuatu.
“Apakah itu pangeran? Anda dapat bertanya apa saja kepadaku”
“Apakah anda tidak keberatan jika memainkan satu lagu lagi? Rasanya aku akan menerobos Ketika mendengar musik pengantar jiwa itu” jawab pangeran malu-malu……
*Bersambung*
Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di like, sekedar komen dan vote.
__ADS_1
Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.