
Pada suatu pagi yang indah di Dataran Tengah Benua Silver, ketika itu bunga-bunga mulai menunjukkan diri akan bermekaran. Salju di jalanan dan tempat-tempat yang biasanya tertutup hamparan putih itu, kini mulai mencair pertanda Musim Bunga atau Musim Semi telah menjelang.
Orang-orang di Kota Agung Yongheng di pagi cerah itu dibuat terkejut dengan suatu kejadian menghebohkan.
Tampak sebuah kapal roh besar terlihat oleng kekiri dan kekanan di langit Akademi Beladiri Middle Great. Seolah-olah kapal roh itu tidak di nakhodai dengan benar dan akan runtuh menimpa akademi itu.
Yang Xiansheng sebagai salah satu jenius muda Dataran Tengah, yang juga merupakan tenaga pengajar di Akademi Middle Great ini terlihat melayang ke udara, dan telah menjejakkan kakinya diatas kapal.
Kenyataan mengejutkan adalah terdapat lebih dari seratus mayat yang semuanya bertumpuk di geladak kapal. Mayat-mayat itu telah membusuk, pertanda kematian orang-orang di dalam kapal itu telah terjadi sekian lama.
Setelah Yang Xiansheng mengidentifikasi berdasarkan jejak aura dan barang-barang yang tersisa di tubuh jenasah itu, dia menyimpulkan bahwa kumpulan jenasah itu adalah orang-orang dari Negri di Timur.
Apalagi Yang Xiansheng berhasil mengidentifkasi salah satu jenasah adalah seseorang yang menjadi teman baiknya semasa mereka menjadi siswa di akademi yaitu Pangeran Zhao Sagung.
Setelah membuat upacara dan meletakkan semua mayat kedalam peti yang pantas, Yang Xiansheng mengantarkan sendiri jenasah itu ke Negri Haiyang Timur menggunakan kapal roh yang ternyata masih berfungsi itu.
Dihadapan tangisan dari Kaisar Zhao Chi Ming, Yang Xiansheng menceritakan kronologi bagaimana kapal roh itu muncul di dataran tengah dengan kondisi semua awak telah mati.
Dan sebagai jenius dari dataran tengah, Yang Xiansheng memberi pendapat bahwa kesemua tentara serta alm. Zhao Sagung tewas setelah jiwa mereka hancur tercabik-cabik.
"Teknik yang dapat menyerang jiwa serta menghancurkannya seperti kondisi semua jenasah,
Menurut pengetahuanku hanya sekelompok kecil ahli-ahli dari Negri di Utara sana yang masih mampu memainkan teknik yang kuno ini.
Bahkan pada beberapa waktu yang lalu, ada tiga pemuda dari utara yang membuka jasa terapi jiwa menggunakan musik di Datarang Tengah kami...." Jeda sejenak, lalu Yang Xiansheng melanjutkan.
"Terapi pengobatan menggunakan alat musik itu ibaratnya pedang bermata dua. Satu sisi dapat mengobati, dan satu sisi dapat membunuh orang lain dengan merusak jiwa" pungkas Yang xiansheng sambil bergidik ngeri.
Teknik membunuh dengan cara merusak jiwa seseorang, dengan cara menggunakan kekuatan Jiwa adalah tindakan keji menurut Yang Xiansheng.
"Perbuatan itu seperti kekejian yang sering di lakukan oeh penyihir-penyihir jahat di jaman kuno" batin Yang Xiansheng. Dia tidak menceritakan pendapatnya kepada Kaisar Zhao Chi Ming, karena tidak ingin menambah duka kaisar tersebut.
__ADS_1
Setelah selesai semua urusannya di Kota Teluk Mentari Negri Haiyang Timur, Yang Xiansheng kemudian kembali pulang ke dataran tengah setelah pemakaman Alm Pangeran Zhao Sagung.
Ketika upacara pemakaman secara kerajaan, seluruh Negri Haiyang Timur amat berduka. Di balik duka yang mendalam itu, Yang Xiansheng mencium aroma kebencian yang mendalam dari orang-orang di Negri Haiyang Timur terhadap orang-orang di Negri Utara.
Diam-diam Yang Xiansheng sang jenius utama Dataran Tengah itu berjanji dalam hatinya. Dia akan menyelidiki tuntas hal ini dan bertekad akan menuntut keadilan dari praktisi-praktisi Negri Utara, terutama para ahli Pemusik Setan.
******
Musim bunga berlalu dengan cepat, dan kini matahari telah bersinar dengan terangnya, dan angin yang berhembus membawa hawa panas. Itulah saatnya musim panas di Wilayah Utara Benua Penyaringan Dewa.
Tanpa terasa telah enam kali Bulan Purnama berlalu semenjak anak muda Semidevil Pemenang Turnament antar jenius di Kota Tua Utara menghilang di pinggir jalanan berjurang itu. Kala itu sang Semidevil menghilang di tepian jurang antara Kota Kuno dan Kota Keheningan.
Sungguhpun cuaca di awal musim panas itu terbilang cerah, namun mendung kelabu terlihat membayangi wajah Tujuh orang yang terlihat melayang-layang menyerupai orang tengah berpatroli.
Tujuh orang itu bukanlah sembarang ahli yang biasa-biasa saja. Dua orang yang terlihat telah berusia senior itu adalah Penatua Senior Klan Super Zhao dan yang satunya adalah Penatua Senior Klan Super Wux. Kultivasi keduanya jelas terbaca berada di ranah Kuasi Alam Melintas Immortal.
Sementara lima orang yang lain adalah penatua junior di dua klan itu. Kultivasi lima orang ahli itu berada di Ranah SAINT level lima hingga level tujuh. Dengan jumlah ahli-ahli SAINt dan Kuasi Melintas Immortal, pertanda sesuatu yang dinantikan oleh mereka, adalah juga merupakan hal yang sangat luar biasa.
"Bukankah telah enam bulan lamanya kami dari Lima Klan super ini telah berganti-ganti berpatroli di jalan ini..
Namun Semidevil itu tidak juga terlihat batang hidungnya.
Apakah tidak sebaiknya kita melupakan anak muda berambut perak itu? Kupikir dia mungkin telah mati atau apapun itu.
Lihatlah sendiri.. Bukankah tidak terdapat jejak aura yang tersisa dari dirinya? Jelas sudah dia memang tidak ada lagi di sekitar sini" Kata Penatua Senior Klan Zhao dengan kesal. Tambahnya..
"Enam bulan bkanlah waktu yang pendek bagi kami, menunggu kejelasan seperti ini" kata Penatua Senior Klan Zhao itu dengan kesal.
Dia merasa kesal karena dua bulan giliran mereka dari Klan Zhao yang berjaga-jaga menantikan Semidevil bernama Sima Yong itu, namun tidak juga memberikan hasil walaupun secui informasi tentang keberadaan Semidevil itu. Namun Dewan Aliansi Lima Klan Super berkeras untuk melakukan patroli mencari-cari jejak yang tersisa dari sang Semidevil.
Saat itu, temannya sesama penatua senior dari Klan Wux lantas berkata,
__ADS_1
"Kupikir jika musim panas ini berlalu lagi, mungkin ada baiknya Dewan Aliansi Lima Klan Super kami mengadakan pembicaraan ulang.
Apakah kita masih akan berjaga-jaga menantikan kemunculan Semidevil itu, ataukah menyudahi perburuan keberadaannya" jawab Penatua Klan Wux itu.
Sementara itu, saat dua Penantua Senior bercakap-cakap dengan seru, mereka tidak menyadari sesosok bayangan yang melayang pelan-pelan, keluar dari kedalaman jurang.
"Ehem - ehem ..." suara batuk batuk kecil terdengar dari sosok yang baru datang itu.
"Siapa itu !" bentak Penatua Klan Zhao sambil membalikkan badan. Tangannya spontan membentuk cengkeraman, yang kemudian di kibaskan cengkeraman itu kearah suara batuk yang mengejutkan dirinya.
Bam ! Sosok yang baru muncul itu menghilang menyisakan kabut berwarna hitam.
Wajah Penatua Senior Klan Zhao itu menjadi berubah serius. Praktisi yang dapat muncul tanpa dia dan Penatua Klan Wux itu ketahui kehadirannya, menunjukkan bahwa kepandaian sosok itu diatas mereka berdua, setidaknya kemampuan menghindarnya amatlah tinggi.
Keributan kecil itu segera mengundang kehadiran Lima ahli SAINT yang tadinya tengah berpatroli di bagian lain tempat itu..
"Apa yang terjadi Penatua Senior?" tanya salah satu SAINT dengan penasaran.
Penatua Klan Zhao itu tidak mampu berkata-kata banyak. Dia merasa malu, karena serangan cengkeraman yang dia kerahkan tadi, sama sekali tidak menyentuh bahkan bayangan dari sosok yang batuk-batuk tadi. Ketujuh orang itu kelihatan kebingungan dan mencari-cari kesana kemari, jejak dari sosok yang katanya tiba-tiba muncul itu.
Kira-kira sepuluh tarikan nafas kemudian, terdengar suara batuk kecil sekali lagi..
"ehem..." kali ini suara itu berasal dari arah atas. Ketujuh orang itu lantas mendongak kearah langit.
Terlihat di ketinggian 25 tombak diudara seorang anak muda berwajah cerah, dengan rambut bercahaya seterang bintang. Disamping anak muda itu berdiri tiga orang, masing-masing seorang perempuan muda, dan dua laki-laki. Laki-laki yang satunya kelihatan aneh, dia terlihat menyerupai wajah wanita yang cantik dengan riasan tebal.
"Semidevil Sima Yong" seru mereka bersamaan.
*Bersambung*
Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini. Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca...
__ADS_1