
...ARC 8. Perebutan Gelar Maha Tinggi...
Sima Yong terbangun dari mimpinya. Dia terbangun di atas tanah kering berbatuan dan berbukit cadas. Sepanjang mata memandang, semua hanya tampak hamparan tanah kering bercadas berwarna kemerahan - membawa aura mengerikan. Dunia ini adalah dunia yang absurd. Sepi, remang-remang dan tiada satupun mahluk hidup yang ia jumpai.
Satu-satu yang menjadi alat penerang alam di dunia aneh itu, adalah cahaya rembulan yang terlihat penuh seperti bulan purnama, dan juga kerlap-kerlip bintang-bintang di kejauhan sana. Ia mendongakkan kepala dan menatap langit jernih - tiada awan yang bergerak-gerak layaknya di dunia para manusia. Sementara udara? Tentu saja dengan keadaan seperti itu apa-apa terasa dingin disana. Mungkin hal itu disebabkan pengaruh energi rembulan.
(Belakangan ia akhirnya akan mendapati kenyataan bahwa di dunia sekarang ini - dunia merah ini tidak pernah mengalami yang namanya siang hari)
"Apakah aku telah mati?" pikirnya.
Namun ketika ia memeriksa seluruh kondisi tubuhnya, mulai dari mencoba mengalirkan energi dari dantiannya lalu ke seluruh meridiannya,
"Semua baik-baik saja. Kecelakaan waktu itu tidak membawa masalah dengan tubuhku. Yang abnormal adalah tempat ini" batinnya.
Ia lalu berdiri dan berjalan-jalan di tanah kering berwarna kemerahan. Baru sekali melangkah saja ia di kejutkan dengan satu kenyataan.
"Melayang? aku melayang? mengapa demikian?" pikir anak muda itu bingung.
Penasaran dengan keajaiban tadi, kali ini ia mencoba mengerahkan kekuatan lebih besar ke kakinya. Wush..! Dengan seketika tubuhnya melesat ke angkasa, terbang berputar-putar tanpa menggunakan hawa murni, dan kemudian jatuh ketanah dalam gerakan slow motion.
"Ini adalah dunia yang ganjil. Aku akan berjalan mencari ujung alam merah ini, dan akan keluar dari tempat ini" ia lalu berjalan ke suatu arah yaitu bagian Timur negri asing itu.
"Orang-orang berkata bahwa jika kamu ingin menjumpai ujung suatu Bentala (dunia), maka pergilah ke timur. Mari kita kesana" pikirnya penuh semangat.
Akan tetapi kenyataan berkata lain. Berhari-hari ia berjalan di tanah berbatu cadas itu, tak jua dirinya bertemu dengan sesuatu atau hal apapun yang memberi harapan akan adanya kehidupan.
Haripun berlalu, lalu minggu pun berganti. Tak terasa Ia telah berjalan menuju Timur Bentala tanpa adanya titik kejelasan.
Memasuki bulan pertama perjalanannya mencari ujung dunia itu, anak muda itu mulai di landa rasa putus asa. Penampilan menawannya kini telah berganti menjadi awut-awutan, dengan rambut yang tidak tersisir rapih dengan wajah kosong penuh jenggot dan kumis, tidak terawat.
"Apakah aku benar-benar telah mati? Dan tempat ini yang disebut dengan neraka? tidak ada kehidupan apapun selain diriku sendiri !". Beruntung semenjak memasuki tahap kultivasi yang di sebutu SemiDevil tau DemiGods seperti sekarang, makanan jasmani sudah bukan menjadi prioritas utama dirinya.
Ditengah-tengah rasa putus asa mendalam itu, tiba-tiba ia melihat penampakan jejeran kotak-kotak panjang di kejauhan padang merah itu. Ia mengenali benda itu seperti peti mati.
"Peti mati?" di tajamkan matanya...
"Benar.. itu peti jenasah dalam jumlah banyak !" teriaknya antusias - tidak merasa ngeri sama sekali.
Lari.. ia berlari dengan kencang, sehingga tubuhnya melesat dan terlempar-lempar ke depan mirip gerakan teleportasi, di Alam Merah yang minim gravitasi ini.
Wush.. tubuhnya melayang tanpa perlu menggunakan banyak kekuatan.
__ADS_1
"Ratusan bahkan mungkin ini ada ribuan peti mati !" pekiknya kaget ketika kaki nya mendarat di tanah dekat kumpulan benda-benda berjejeran itu. Ia lalu memegang satu demi satu penutup peti-peti mati itu. "Peti yang dibaut dari kayu langka dan pasti mahal harganya"
"Mengapa jumlah amat banyak? Dan mengapa tidak terdapat kehidupan di sini, namun terdapat sekian banyak peti mati? Apakah ini nyata?"
Dengan rasa penasaran yang dalam, ia mendorong penutup peti mati, berniat melihat isi dalamnya.
"Terkunci? !"
Ia lantas mendorong penutup peti mati itu lebih kuat lagi kini dengan mengerahkan energi Qi. Wush !.
"Tetap tidak bergerak ! ajaib.."
Rasa penasarannya kini hilang setelah tahu bahwa benda itu terkunci dan tidak dapat dibuka dengan kekuatan dan energi Qi sekalipun. Ia lantas mendongakkan kepala dan melihat-lihat sekeliling.
Ternyata kumpulan peti mati itu berada di halaman satu bangunan seperti kastil yang terlihat teramat tua. Halaman kastil itu dipenuhi bunga mawar merah - warnanyalebih merah dari tanah di dunia yang aneh itu.
"Dunia asing tanpa pernah mengalami siang hari, dan dengan tanah kering kemerahan beraura ngeri. Namun yang lebih ganjil lagi, terdapat satu bangunan kastil mewah di alam ini. Sungguh teramat aneh !"
Ia lalu berjalan pelan-pelan memasuki kebun mawar di bagian paling belakang jejeran peti mati, lalu mengetuk pintu kastil itu dengan besi bulat yang menggantung di pintu kayu tua - namun herannya warna kayu pintu kastil itu tidak pudar meski dapat di terka telah tua, melainkan warna kayunya semakin matang dan mengilap.
Tok - tok - tok !
"Namaku Sima Yong - seorang kelana dari dunia yang disebut Benua Penyaringan Dewa, aku memohon audiensi dengan tuan pemilik kastil !" suara anak muda itu halus terdengar. Dia tidak menggunakan energi Qi.
Ia baru saja berniat untuk mengetuk ulang kedua kali - kali ini lebih keras lagi, dengan satu pemikiran ...
"Mungkin tuan rumah tidak mendengar suara ketokan di pintu kastil ini.
Atau mungkin dia berada di kamarnya yang nyaman di lantai tertinggi di kastil kuno ini"
Belum lagi tangan anak muda itu mengetokkan besi tebal berbentuk lingkaran yang telah di genggamnya, mendadak pintu kastil yang besar itu terbuka dari dalam. Suara derit pintu terdengar amat keras terdengar.. Sreeet !
"Engsel pintu kastil ini demikian aus, mungkin terlalu lama sekali benda itu tidak di balur dengan gajih dan lemak hewan guna meredam suara mengerikan ini.
Suaranya demikian mengerikan seperti pekikan hantu malam saja" Ia menatap jijik ke arah pintu tua itu.
Mengikuti suara deritan yang memecah kesunyian dunia merah itu, sesosok tubuh berdiri di depan pintu. Sosok itu lali-laki tinggi langsing, mungkin hampir 6 kaki lebih tingginya. Pria ini mungkin berusia tujuh puluh tahun, namun Ia menduga usianya mungkin lebih dari lima ratus tahun. Mungkin !
Wajah pria itu terbilang tidak tampan namun tidak bisa di katakan jelek. Rambut putihnya dibiarkan tergerai, dengan hiasan sedikit kumis dan brewok berwarna putih menggambari wajah datarnya.
Pakaian yang di kenakannya adalah berbahan kain satin mahal yang dibuat berlapis-lapis berwarna serba putih, hampir senada dengan kulit dan wajah pucat nya yang sepucat rembulan. Wajah itu demikian dingin tanpa ekspresi.
__ADS_1
Meskipun telah mengalami banyak sekali perjumpaan dengan berbagai manusia dan ras lainnya selama ini, namun penampilan dingin di hadapannya, membuat anak muda itu terkejut. Tanpa Ia sadari, kaki nya refleks membuat gerakan mundur .
"Siapa kamu? Dan apa yang membuatmu bisa sampai di Kastil Mawar ini?" suara bergema di benak Sima Yong, namun Ia tidak melihat orang di depannya itu membuka mulut ketika berbicara.
"A-aku.. maafkan aku. Namaku Sima Yong. Aku adalah seorang pengelana, pelintas dimensi antar dunia.
Didalam perjalananku kembali ke tempat mana aku berasal yang di sebut Benua Silver, aku mengalami kecelakaan di lorong ruang & waktu.
Ketika aku tersadar, diriku telah berada di alam yang berwarna merah ini..
Dapatkah anda, eh maksudku Tuan menjelaskan kepadaku.. tempat apakah ini?"
Ia melihat pria tua itu mengernyitkan kening. Kemudian tanpa diminta, sekonyong-konyong Ia merasakan hembusan angin yang berkekuatan dahsyat berasal dari pria itu. Satu kelebat cengkeraman yang berkilauan menyerang dan terkunci ke dadanya.
Wush !
Sima Yong merasakan dadanya sesak seketika. Dia memompa energi Qi dari dantian, dan tangan nya tiba-tiba telah menggenggam Pedang Immortal Hitam.
Pedang hitam itu seketika seperti mengalami keadaan trance dan berubah menjadi gulungan asap berbentuk naga yang menerkam dan mengancam cengkeraman pria yang meluncur cepat ke dada anak muda itu.
Trang !
Roh pedang berbeturan dengan cengkeraman pria itu, berbunyi keras seperti berbenturan dengan satu benda logam saja layaknya. Tangan anak muda itu bergetar, kesemutan dan hampir saja ia melepaskan pedang di tangannya.
Dengan posisi dada yang terbuka tanpa pertahanan, cengkeraman pria itu mendarat di dada SimaYong.
Duk !
Mulut anak muda itu langsung terasa amis. rupa-rupanya segumpal darah telah keluar dan memenuhi mulutnya. Dia terlempar mundur beberapa tombak ke belakang, lalu berdiri dan menghapus darah di bibir nya.
Beruntung dia telah mengenakan Rompi peringkat Immortal - hadiah di domain Wilayah Utara waktu itu, setelah mengganti rompi sihir ketika perang suci.
Wajah pria itu terlihat berubah. Katanya..
"Apa hubungan mu dengan Raja Pedang Elf ? Aku melihat kamu menggunakan Pedang dan Armor yang menjadi senjata andalannya pada waktu lalu" Pria itu bertanya dengan mimik wajah yang melunak.
Sima Yong melongo. Keinginan nya untuk marah dan menggempur habis-habisan pria ini, berubah seketika teredam. "Dari mana orang aneh ini tahu kalau pedang dan armor yang aku kenakan adalah kepunyaan Raja Pedang Elf?
Bukankah keberadaan Raja Pedang Elf itu masanya telah lama sekali? ribuan tahun lama nya dan jejaknya telah terlupakan"
*Bersambung*
__ADS_1
Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini. Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca...