Kisah Dewa Pedang Utara

Kisah Dewa Pedang Utara
Suku Jinzi


__ADS_3


Setelah tewasnya Padri Wangchuk, sosok berbaju putih itu lantas ikut lenyap dari Kuil Penyembah Dewa Himalaya. Keadaan kuil kemudian menjadi lengang dan hening. Tak ada seorang pun yang menyadari, baru saja terjadi pembantaian terhadap Ketua Kuil Dewa Himalaya. Semua kejadian pembantaian berlangsung terlalu cepat, dan tidak menimbulkan suara sama sekali.


Malam bergerak pelan, tidak terasa kentongan ke empat Thio - Sie di bunyikan. Pada saat itu lidah api tampak menyala, menjalar dan membakar Kuil Penyembah Dewa Himalaya. Menyusul kemudian, suara kentongan tanda bahaya di bunyikan keras-keras.


"Kebakaran - kebakaran - kebakaran !"


"Kuil Penyembah Dewa Himalaya mengalami kebakaran"


Mendadak orang-orang yang tadi tengah terlelap menikmati dinginnya malam, dikejutkan dengan suara berisik serta kentongan tanda bahaya tiada henti. Penduduk kota pun berduyun-duyun datang ke lokasi kebakaran dan menatap ngeri.


"Tidak bisa di tolong lagi..!"


"Aku ragu, api ini terlalu besar - melalap habis bangunan-bangunan kuil, meskipun salju baru saja turun"


Api yang terlihat membabat bangunan kuil itu bukanlah api sebagaimana yang biasanya mereka lihat.


Nyala api ini berwarna biru, suatu nyala yang biasanya hanya dapat di temui pada kawah-kawah gunung berapi yang memiliki kekuatan mistis.


Belum lagi ketika itu angin bertiup dengan kencang, seolah bekerja sama dengan api biru itu, makin meraja-lela menelan Kuil Penyembah Dea Himalaya, yang pada akhirnya membuat Kuil kepercayaan Rakyat Negri Tanaman Obat itu menjadi rata dengan tanah - saat pagi menjelang.


Pada akhirnya, semua padri-padri muda pengikut kuil itu hanya terlihat diam termangu menatap puing-puing bangunan yang menyisakan kepulan asap serta bara api. Ketua kuil Padri Wangchuk tidak terlihat sama sekali. Meskipun semua padri-padri pengikuti kuil itu mencari-cari, bahkan jasadnya pun tidak terlihat sama sekali.


"Mungkin Ketua Kuil telah tewas di lalap api" kata padri-padri itu dengan lemas.


Berhari-hari kemudian, satu demi satu padri pengikut kuil membubarkan diri, setelah Ketua Kuil Penyembah Dewa Himalaya benar-benra tidak menampakkan batang hidungnya yang menjadi dasar teori tewasnya ketua kuil menjadi kenyataan.


Padri-padri muda itu pulang, kembali ke rumah masing-masing dan kembali menjalani kehidupan seperti dahulu sebelum kuil itu pernah ada.

__ADS_1


Waktu pun berlalu, dan tak lama kemudian, di Kota Guntur Langit muncul aliran kepercayaan baru dan mulai mencari-cari pengikut. Pelan-pelan masyarakat Negri Tanaman Obat yang pada dasarnya membutuhkan sesuatu aliran kepercayaan untuk dan obyek untuk di sembah, mulai mengikuti ajaran agama yang baru itu.


Konon ajaran kepercayaan baru itu datang dari negri yang jauh, tepatnya dari sebuah negri di benua di sebelah Benua Silver ini (Hal ini mungkin akan di bahas pada novel yang lain).


******


Di Tepian Barat Daya Negri Tanaman Obat, tepatnya di atas Hutan Pinus yang bernama 'Hutan Abadi' - kala itu langit jernih tempak setitik siluet yang terbang cepat melintas Hutan itu.


Sosok itu adalah Sima Yong, yang mana ketika ia telah selesai memercikkan api sihir guna membakar Kuil Pemuja Dewa Himalaya, tubuhnya langsung mengangkasa - terbang menuju Dataran rendah Selatan Benua Silver.


Bermodalkan peta yang ia beli di pasar kaum magus, anak muda itu tidak menemui kendala ketika terbang memotong jalan diatas Danau Penyembah Dewa, dan kini terbang diatas Hutan Abadi guna mencapai Tepian Barat Negri.


Ketika anak-anak gembala menengadah dan melihat ke arah langit, mereka berteriak-teriak senang karena menyangka kalau bayang putih diatas sana adalah Elang besar berwarna putih yang langka.


"Baru sekarang aku melihat elang berwarna putih dan sebesar itu" kata satu anak gembala.


Kawannya yang lain meski di penuhi rasa kagum, namun tak dapat menyembunyika rasa takut ketika berprasangka kalau-kalau elang putih raksasa itu akan menerkam dan merampok hewan ternak mereka.


******


Tak lama kemudian Sima Yong telah mencapai dataran tinggi yang di sebut Tepian Barat Daya, tempat dimana pos dan tempat persinggahan yang di jadikan terminal Airship yang datang dari Wilayah Barat maupun Dataran Rendah Selatan Benua Silver.


Ia melihat kebawah, ketika gerombolan orang banyak bersorak-sorak kearahnya diatas udara.


"Pasti beberapa diantara mereka adalah Kultivator yang memiliki mata terang. Meskipun aku terbang cukup tinggi, namun mereka mampu mengenali ku sebagai sosok manusia, bukannya seekor burung seperti sangkaan anak gembala tadi".


Sima Yong balas melambaikan tangan kearah kelompok orang-orang yang berkumpul ramai, berteriak sambil bersorak memuji-muji kemampuan terbang nya.


Tak lama kemudian ia memasuki ruang badai, yang merupakan batas pemisah antara Negri Tanaman Obat dengan ruang celah penuh badai dengan jurang curam di bagian bawah.

__ADS_1


Dengan ranah Kultivasi setinggi saat sekarang, Sima Yong tidak lagi di hantui dengan ketakutan ketika melintasi perbatasan antar wilayah yang biasanya berupa ruang kosong penuh badai dan jurang terjal di bawah sana.


"Perjalanan dari Negri Tanaman obat menuju Negri Menghua akan memakan waktu dua hari penerbangan.


Aku dapat mempersingkat waktu perjalanan menjadi satu hari perjalanan saja" batin nya.


Segera ketika ia memerintah melalui benaknya, satu tiupan dahsyat Angin Taufan lantas membawa dirinya terbang lebih cepat lagi.


"Perjalanan melintas wilayah ini akan membuat diriku muncul di paling utara Negri Menghua, tepatnya di Hutan Angker Purba.


Selanjutnya aku harus menyusuri Sungai Ular melewati Kota Gajah Putih dan Kota Angin, kemudian aku akan tiba di Kota Menhua Selatan, ibukota Negri Menghua ini"


Perasaan antusias memenuhi perasaan nya. Sima Yong sadar, bahwa petualangan yang membuatnya bertemu dengan orang-orang baru, hal-hal baru dan berbagai macam teknik pertempuran baru - itulah yang membuat pengalaman tempurnya menjadi meningkat dengan pesat.


Oleh karena itu ia berharap di Selatan nanti, dirinya akan bertemua dengan orang-orang baru atau hal-hal baru, yang nantinya akan membuat kultivasinya semakin matang dan peningkatan ranah kultivasi sendiri menjadi kokoh - karena dasar kultivasinya telah kuat dengan berbagai pengalaman tempur.


Satu hari kemudian, pada akhirnya ia menerobos dari kabut perbatasan Barat Daya dan Selatan benua. Ia berhenti sejenak diatas Hutan Angker Purba sambil menimbang-nimbang..


"Apakah aku harus menyusuri Sungai Ular ini hingga mencapai Kota Menhua Selatan, ataukah mencoba melihat-lihat hal baru melewati Pegunungan Pembunuh, kemudian melintasi wilayah kediaman Suku Jinzi?" pikirnya galau.


"Jika aku mengambil jalan menyusuri Sungai Ular ini, paling-paling aku hanya akan melewati Kota Gajah Putih dan menemui beberapa monster air yang berkeliaran di sepanjang Sungai Ular" batinnya


"Namun jika aku mengambil jalan kearah kanan, melintasi Pegunungan Pembunuh, maka aku akan melewati daerah kekuasaan Suku Jinzi


Konon, Suku Jinzi ini menyimpan hal-hal misterius dan tidak terduga. Siapa mau menyangka, kalau saja aku menemukan sesuatu yang menarik yang dapat memberi manfaat bagiku..." senyum terkembang di bibirnya.


Tanpa memikirkan berulang kali, Sima Yong lantas berubah terbang ke arah Pegunungan Pembunuh, mencoba melihat-lihat di tempat Sukuk Jinzi itu berada..


Bersambung

__ADS_1


Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini.  Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca. <3


__ADS_2