
Dari cerita magus tua itu, akhirnya Sima Yong mengetahui kalau Kuil Penyembah Dewa Himalaya adalah ordo kaum Magi yang paling kuat di Negeri Tanaman Obat ini. Pemimpin agama mereka Padri Wangchuk mendalami pemahaman, bahwa kultivasi tertinggi hanya akan terjadi ketika mereka memutilasi anggota tubuh.
Menurut teknik kultivasi Ordo Dewa Himalaya, semakin banyak anggota badan yang di mutilasi, nirwana akan lebih mudah di gapai dimana kekuatan dan kemuliaan menanti di depan mata.
Sebagai pemimpin ordo yang paling banyak melakukan mutilasi anggota badan, Padri Wangchuk adalah Magus dengan kultivasi tertinggi.
Tentang keberadaan Dewa Puncak Himalaya dan hubungannya dengan Kuil pemujaan itu, Tua Lin sendiri tidak tahu menahu akan hal itu. Akan tetapi dari sumber-sumber yang terpercaya, di issu-kan bahwa dahulu seribu tahun yang lalu, di Puncak Himalaya itu terdapat sekelompok magus dari Klan Kaum Kurcaci. Merekalah penguasa di Negri Tanaman Obat ini.
Namun seiring perkembangn jaman, kaum kurcaci mlai menghilang, entah telah punah atau menghilang dengan alasan tertentu dari Bumi Benua Silver ini. Sampai sekarang tidak pernah seorang pun yang melihat kaum kurcaci dan keberadaan ras itu hanya menjadi dongeng belaka.
"Apakah ini suatu kebetulan belaka?" batin Sima Yong. Ia gembira mendengar riwayat ras kurcaci. Ingatannya langsung berputar kebelakang, teringat dengan pesan-pesan roh phoenix ketika ia memperoleh relikui abadi pertama kali.
"Relikui Abadi guna menembus Ranah Immortal adalah, Relikui Klan Phoenix, Klan Naga, Klan Macan Putih dan Klan Kura-kura hitam dari 4 klan mahluk mitos. (termasuk Klan Bangau berkaki satu dan Klan Qilin)
Juga aku disaankan menemukan Relikui 4 ras yaitu Klan Raja Pedang Terbang, Raja Pedang Elf, Klan Pedang iblis dan Klan Kaum Kurcaci" mata nya makin berbinar-binar setelah mendengar informasi Klan Kurcaci ini.
"Bahkan di Benua Penyaringan Dewa saja, aku tidak pernah mendengar informasi tentang Klan kaum Kurcaci ini.
Justru di sini, di negri terpencil ini tiba-tiba aku mendengar satu informasi tentang Klan yang punah itu?" Bibirnya melengkung lebar dalam senyuman bahagia.
Ia pun meninggalkan Lembah Guntur Naga dengan gembira. Rencana selanjutnya adalah menyelidiki tentang keberadaan Klan Kurcaci yang di sebut-sebut Tua Lin tadi.
"Pertama-tama aku harus memata-matai Kuil Dewa Himalaya itu"
"Ketika nanti informasi keberadaan Kaum Kurcaci aku dapati, tinggal menunggu waktu saja sampai Relikui Abadi Klan Kurcaci itu pada akhirnya akan aku kuasai"
******
Senja merangkak menjadi malam. Hawa dingin merayap membuat semua orang enggan untuk keluar rumah. Jalan-jalan telah sangat lengang, walaupun itu baru kentongan pertama di Kota Guntur Langit. Saat ini kota itu telah demikian sepi layaknya tengah malam di bagian lain benua ini.
(Kentongan pertama atau Sut Sie adalah waktu antara pukul 19.00 - 21.00).
Sima Yong mendengar suara sayap berdenging seperti suara capung yang terbang dengan kepakan sayap-sayap cepatnya.
"Jin atau Foliot" bisik nya di dalam hati.
Ia bergegas keluar dari kamarnya di Penginapan Abadi Kota Guntur Langit. Ia mendongak dan menatap jauh di awan.. Diatas awan ia melihat satu sosok manusia yang duduk diatas joli dan terbang.
Anehnya joli itu sama sekali tidak di panggul atau di bopong oleh siapapun, sendirian terbang dengan seorang pria setengah tua yang lengan baju kirinya melambai-lambai.
"Magus Kuil Dewa Himalaya" desis Sima Yong.
__ADS_1
Magus yang dilihatnya adalah Padri Kuil Dewa Himalaya, yang pagi tadi berjalan mengelilingi kots menggunakan joli - di panggul 4 padri lainnya membagi berkat. Hanya saja saat ini, Padri yang bernama Padri Wangdak yang merupakan wakil pemimpin agama itu, tidak di kawal empat padri muda seperti pagi tadi.
Sima Yong menajamkan mata batin nya, mengucapkan satu mantra
'Katso !' dalam bahasa Elf kuno. Seketika mata batin nya terbuka - menyibak dan membuka selubung empat lapisan pemandangan, menembus lapisan dunia mahluk halus.
"Itu adalah empat Foliot" katanya tersenyum.
Ketika mantra pembuka mata batin bekerja, praktis Sima Yong melihat menembus lapisan dua, tiga dan empat dimana mahluk halus menyembunyikan diri. Kini mata nya dengan melihat jelas ada empat Foliot (mahluk halus yang kekuatannya di bawah jin) terlihat terbang memikul Joli (tandu) yang diatasnya duduk Padri Wangdak.
Suara seperti capung yang ditangkap telinganya adalah kepakan sayap di punggung empat folito yang terbentuk seperti sayap tipis capung masing-masing dua pasang.
Tubuh anak muda itu seketika lenyap dengan suara lembut "pop", tahu-tahu tubuhnya telah mengangkasa, mengikuti diam-diam kemana Padri Wangdak pergi.
"Soujella !" Sima Yong berbisik.
Satu kabut tipis langsung membungkusnya, membuang jauh-jauh semua aura, suara dan semua aroma tubuhnya ke tepi hutan di perbatasan dengan wilayah Barat - ini adalah teknik mantra yang hanya dapat di gunakan Grand Magus atau Magus yang Agung.
Padri Wangdak bersama Joli yang dia tumpangi, semakin menjauh dari Kota Guntur Langit, dan bergerak menuju Danau Penyembah Dewa - Sma Yong telah membaca peta yang di beli nya dari Tua Lin, sehingga ia dapat menebak kemana padri itu akan pergi.
Hampir dua jam berlalu, kini joli yang di tumpangi Padri Wangdak terlihat menukik.
Wush !
Bep !
Joli itu mendarat pelan di pasir danau. Sekelompok pria dalam balutan busana seperti padri angota Kuil Dewa Himalaya muncul dari dalam hutan dan kini berganti memanggul joli yang di naiki Padri Wandak.
"Yang Mulia !" mereka membungkuk terlebih dahulu, kemudian dang tangkas memikul joli itu.
"Apakah gadis-gadis itu sesuai dengan ketentuan yang di syaratkan?" tanya Padri Wangdak dingin.
"Ampun yang mulia.. menurut laporan agen kita dari Selatan, lima gadis yang mereka bawa kali ini adalah gadis-gadis dari kalangan bangsawan. Konon mereka gadis pilhan.
Tentu saja sesuai garis keturunan mereka, itu akan membawa manfaat bagi dewa nanti - terlebih lagi semuanya adalah gadis yang perawan !"
"Bagus !.Antar aku menemui agen kita dan gadis-gadis bangsawan itu. Aku akan melakukan uji ke-gadisan mereka berlima" jawab Padri.
Buk - buk - buk ! suara derap kaki ketika memikul joli memasuki hutan Danau Penyembahan Dewa.
Tidak berapa lama kemudian, rombongan joli itu tiba di tengah-tengah hutan. Di sana telah menunggu, tiga orang yang mengenakan baju ringkas berwarna hitam. Sepetinya ketiganya adalah agen yang di sebutkan Padri Wangdak tadi. Tiga agen itu langsung membungkuk memberi hormat..
"Salam untuk Yang Mulia Magus Wangdak !"
__ADS_1
Padri Wangdak hanya mendengus dingin dan berkata.
"Keluarkan gadis-gadis itu. Aku ingin memberikan bubuk uji keperawanan kepada mereka - guna memastikan kelimanya memang masih menjaga ke-gadisan mereka" tanpa basa-basi dia langsung merogoh sebuah botol obat, yang didalamnya berisi bubuk tabur.
Bedebum !
Lima karung di banting ke tanah, lalu salah satu agen membuka tali pengikat di karung itu. Satu demi satu perempuan muda yang cantik keluar dari masing-masing karung. Mereka terlihat lemas seperti seseorang yang mabuk tanaman yang mengandung opium.
Padri Wangdak tersenyum seperti iblis katanya,
"Anak-anak manis tidurlah nyenyak, bubuk ini tidak akan menyakitimu. Bubuk ini hanyalah satu ramuan sihir untuk memastikan keperawanan seseorang" tangan kanan Padri Wangdak bergerak cepat, bubuk berwarna putih terlepas ke udara dan jatuh seperti awan melingkupi lima gadis yang mabuk itu.
Tidak perlu menunggu terlalu lama, ketika terdengar lolongan pedih. Lima gadis itu menyala dan terbakar tatkala efek mantra dari bubuk seperti awan itu bekerja. Mata Padri Wangdak menyala penuh amarah, sementara tiga agen pembawa gadis-gadis itu menggigil ketakutan.
"Pelacur !. Kalian bukannya membawa gadis suci untuk dipersembahkan kepada dewa besok, melainkan kamu datang membawa pelacur untuk persembahan dewa !.
Beruntung aku datang terlebih dahulu dan menguji kegadisan lima perempuan ini" mata Padri Wangdak seperti akan terlepas dari tempat nya. Lanjutnya...
"Tiada kata ampun bagi kaum pembuat kesalahan..."
"Tapaa !" kutuk nya.
Dengan mata yang menyala ketakutan, tiga agen Kuil Dewa Himalaya itu melihat tiga tangan raksasa muncul dari dalam tanah dan menarik mereka tenggelam kedalam tanah - lenyap dan tidak ada suara lagi. Hening...
Malam seketika menjadi lengang.. bahkan suara hewan malam pun terhenti bersuara tatkala mereka merasakan aura sihir kutukan dari Padri Wangdak yang sangat mengintimidasi.
Masih dengan mata yang menyala-nyala dalam amarah, Padri Wangdak berkata..
"Aku tidak mau tahu.
Besok ketika upacara penghormata kepada Dewa Puncak Himalaya, kalian sudah harus menyediakan lima gadis yang perawan.
Malam ini juga culik gadis-gadis di kota tanpa seorang pun tahu.
Dengar kataku, meskipun usia target masih dibawah umur, namun sepanjang dia telah memasuki masa seorang gadis, culik dan bawa ke kuil !" napasnya terdengar ngos-ngosan menahan amarah. Ia melempar berbotol-botol kecil ramuan penidur dan pelemas.
"Aku akan menunggu malam hingga pagi, di Kuil di kaki Gunung Himalaya" pasukan padri muda yang ada disana, hanya mengangguk-angguk dengan ketakutan.
Padri Wangdak mengibaskan lengan baju kanannya, Joli itu kembali mengangkasa, tanpa suara dan tanpa seorangpun yang memikul nya. Padri-padri muda itu segera bubar dan mulai berkelana malam ini, untuk menculi gadis-gadis yang masih perawan.
Bersambung
Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini. Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca. <3
__ADS_1