
Belum kelar dengan rasa gusar yang melanda dirinya, dari arah langit di aula sembahyang yang terletak di outdoor itu (aula mereka dibuat berbentuk persegi, berlantaikan marmer bersih - langsung berhadapan dengan Pegunungan Himalaya), suara guntur terdengar menggelegar memenuhi langit.
Tampak dari salah arah salah satu puncak Pegunungan Himalaya, jelas terlihat uap merembes cepat seperti ular menggeliat, terlihat dalam wujud gumpalan asap hitam tebal.
Asap hitam itu dengan cepat menjalar sampai ke kaki gunung, menuju ke aula sembahyang yang penuh jemaat Kuil.
"Dewa Puncak Himalaya !"
Suara-suara penuh rasa haru bernada getar rindu terdengar dari kaum jemaat. Padri Wangchuk mengangkat tongkat nya tinggi-tinggi menggunakan tangan kanan. Suaranya tebal dan membuat bulu roma berdiri,
"Puja puji kepada Dewa Puncak Himalaya !" semua jemaat kini meraung dalam isak gembira.
Sima Yong membuka mata batinnya, menembus lapisan ke dua dan ketika dunia gaib. Ia melihat di dalam gumpalan asap itu satu sosok berpakaian jubah panjang hitam, lengkap dengan penutup kepala. Figur itu terbang melayang diatas awan hitam..
"Hanya satu magus lainnya. Bukan dewa sesungguhnya" desisnya pelan.
Ia memalingkan kepala dan menatap jemaat, dan tanpa sengaja ia melihat Padri Wangchuk.
"Hm.. jin dan foliot" ia tertawa kecil dalam hati. Sosok Padri Wangchuk yang awalnya gagah kini terlihat menjadi seorang tua lemah yang duduk diatas satu mahluk jin, sementara ada juga foliot yang bersama jin itu, berdiri tepat di samping Wangchuk sambil mengibas-kibaskan bandulan berisi kemenyan aroma kayu gaharu.
Tangan kiri Padri Wangcuk jelas-jelas telah kuntung, demikian juga dengan dua kakinya. Ia tidak lagi terlihat seperti Padri Wangchuk yang mula-mula, lengkap anggota badannya. Jadi selama ini padri itu hanya di gendong oleh jin dan foliot, yang menggantikan nya menjadi kaki penyangga dan penebar bandul penuh aroma gaharu kemenyan.
"Andai saja pengikut fanatik aliran ini dapat melihat menembus lapisan tiga dan empat, mereka akan sadar semalam ini telah tertipu"
"Mantra ilusi Wangchuk ini cukup kuat, dia dengan mahluk halus itu mampu menipu mata ribuan orang" desis Sima Yong.
Sekonyong-konyong suara Padri Wangchuk kembali terdengar memecah khidmatnya upacara.
"Terima Berkat.. angkat dua tangan kalian !" titah Wangchuk.
Semua dengan spontan mengikuti instruksi padri kepala itu. Ribuan tangan lantas teracung keatas, menengadah penuh harap seolah siap menerima berkat sang dewa.
Suasana ekstase memenuhi aula sembahyang itu, ketika gulungan asap tebal membuat semua jemaat kehilangan pandangan, walaupun dalam jarak pendek sekalipun.
Tidak terlalu lama kemudian kabut asap hitam itu pudar, demikian juga dengan dua belas putri-putri altar yang sejak awal hanya berdiri diam dan bengong di altar sembahyang.
"Dewa memberkati Negri Tanaman Obat!"
__ADS_1
"Panen gandum dan ternak akan melanda negri ini"
"Dewa menerima persembahan putri-putri altar kami"
Wajah-wajah haru terlihat di seluruh aula sembahyang. Upacara penyembahan itu pada akhirnya selesai tepat ketika matahari bersinar diatas kepala.
Satu demi satu para penyembah itu pulang ke rumah dengan hati bahagia - merasa terberkati. Imay yang masih bertahan di pintu herbang kuil, melongok kesana-kemari terlihat bingung bersama Jampa anaknya
"Apakah kamu melihat Tuan Agung, anakku?" tanya Imay. Ia bingung karena sang Tuan Agung Sima Yong ikut-ikutan lenyap bersama pudarnya asap tebal yaitu berkat dari sang Dewa.
Sekian lama mencari-cari, dua orang ayah dan anak itu pada akhirnya pulang ke Desa Surya dan melupakan hilangnya Sima Yong - mungkin Tuan Agung sedang ada urusan lain, pikir Imay.
******
Sima Yong saat tadi menghilang secepat hantu. Ketika asap hitam datang dari arah langit, ia melihat sekelompok Foliot dan Jin - jumlahnya dua belas - terbang dengan sayap-sayap berisik mereka seperti dengungan suara tawon atau capung.
Mahluk-mahluk gaib itu dengan gerakan cepat membopong dua belas gadis putri altar, lalu terbang mengangkasa kembali ke sosok Magus berpakaian kelam diatas sana.
Kelompok jin dan foliot itu lantas berbalik kembali terbang mengangkasa, dimana keberadaan Dewa Puncak Himalaya berdiri megah diatas awan hitam. Foliot dan jin itu tampak berbicara dengan Dewa Puncak Himalaya master mereka, lalu bersama-sama mereka mengangkasa lebih tinggi lagi.
Tanpa mereka sadar, seseorang dalam balutan tunik putih, bergerak seperti kabut - kini membayangi gerombolan ini.
Karena terlalu berusaha menjaga jarak penerbangan dengan rombongan Dewa Puncak Himalaya, ia pada akhirnya tiba di atas Puncak Himalaya dengan pemandangan yang sepi.
Pegunungan Himalaya ini pada dasarnya bukanlah tempat yang ramah untuk menjadi kediaman seseorang. Di puncak gunung ini, yang ia temui hanyalah angin yang bertiup sangat kencang belum termasuk butir-butir es.
Sima Yong terbang rendah diatas lapisan es, mencari-cari dengan bingung, kemana kelompok Dewa Puncak Himalaya itu pergi.
"Apakah mereka menggunakan array atau domain tersendiri? Rasa nya belum terlalu lama aku membiarkan keompok itu pergi, dan sekarang mereka lenyap seperti di telan bumi" gumamnya.
Ketika anak muda itu tengah memikirkan teknik apa yang akan ia gunakan untuk menyingkap keberadaan Dewa Puncak Himalay, tiba-tiba terdengar suara geraman yang sangat keras.
Grrr !
Secara tiba-tiba, di depan Sima Yong berdiri satu raksasa berbulu-bulu putih - mirip kera tapi juga mirip dengan beruang.
" Yeti !" batinnya.
Yeti adalah mahluk langka perpaduan Kera roh dan Beruang. Mahluk ini juga terkadang di sebut dengan julukan manusia salju yang keji.
__ADS_1
Bam !
Yeti itu melompat dan kakinya menghantam selimut salju di kaki Sima Yong. Hentakan Yeti menimbulkan suara bedebum yang amat keras. Mahluk itu berpikir kalau gerakan lompatannya dan menginjak mahluk kecil - Sima Yong - akan sangat mudah dia lakukan.
Yeti tampak menjadi amat marah ketika dia melihat, mahluk kecil yang ingin di hancurkannya kini melayang tinggi diatas kepala nya. Berulang-kali dia menggeram, memukul-mukul dada dan menantang anak muda itu agar turun dan bertempur.
Kraaak !
Bedebum !
Mahluk raksasa putih itu terjatuh dalam keadaan tak sadarkan diri, ketika anak muda yang melayang itu melambaikan tangannya. Saat ia melambaikan tangan, satu martil raksasa yang terbuat dari kristal es dengan tiba-tiba muncul dari kehampaan dan langsung menghujam perut Yeti malang itu. Suara krak adalah bunyi yang terjadi akibat rusuk nya patah kena hantaman martil raksasa.
******
Angin bertiup amat kencang, dingin menusuk sampai-sampai membuat semua benda menjadi kaku membeku. Sima Yong membersihkan bulu matanya yang ikut-ikutan membeku menjadi es, sementara di kakinya berada diatas leher satu mahluk yang dalam keadaan tak sadarkan diri, mahluk berbulu-bulu putih itulah sang Yeti.
Beberapa saat kemudian, Yeti itu bersuara dengan pelan, seperti satu anak ayam lemah yang akan sadar dan rapuh. Namun kaki anak muda kita berada diatas batang leher mahluk salju itu, yang membuat nya sesak napas dan tidak leluasa bergerak setelah siuman.
"Katakan dimana letak kediaman Dewa Himalaya itu!" Sima Yong mengerahkan sedikit tenaga, dan Yeti itu bertambah menguik lemah.
"Kamu adalah mahluk salju berusia ribuan tahun, telah diakui sebagai penguasa Gunung Himalaya ini. Katakan dimana letak istana Dewa Puncak Himalaya itu" kaki Sima Yong semakin keras menekan batang leher Yeti, dan mahluk itu gelagapan sesak napas. Ia menguik-nguik lemah.
"Hentikan kepura-puraan itu" kata Sima Yong.
"Aku tahu, kamu adalah mahluk cerdas. Kamu mengerti bahasa manusia dan paham apa maksud kata-kataku" Mata Sima Yong kini bersinar lebih dalam. Yeti itu menatap matanya. "Samsara !"
Yeti itu menjerit dalam nada kematian. Dia merasa tenggelam di dalam danau sepi yang hampa. Tangannya menggapai-gapai seperti seseorang yang akan tenggelam dan kehabisan udara. Namun anak muda itu tidak segera melepaskan kakinya dari batang leher Yeti, sambil matanya tetap menyorot dingin mengandung kekuatan Magis Samsara, membuat Yeti itu berpikir dirinya akan segera mati.
Hingga pada titik ambang atas yang dapat di tanggulangi sang Yeti, Sima Yong mengurangi tekanan kaki dari leher Yeti, dan sorot mata yang dalam itu hilang seketika.
Ketika Yeti itu pada akhir nya menghirup nafas kuat-kuat, suara anak muda itu menindas terdengar,
"Sekarang antar aku ke tempat mana Dewa Puncak Himalaya itu tinggal !"
Yeti kini terlihat menjadi jinak. Memang car menaklukkan mahuk liar dan legend seperti itu adalah dengan kekerasa. Yeti dengan hati-hati menarik tangan anak Sima Yong, bersuara seolah-olah berbicara sambil menunjuk-nunjuk ke arah depan.
"Begini lebih bagus. Aku tidak perlu mengeluarkan tindakan kasar.. mari kita pergi" kata Sima Yong yang lantas berjalan cepat diatas angin, mengikuti mahluk salju yang berjalan melompat-lompat dengan cepat.
Bersambung
__ADS_1
Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini. Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca. <3