Kisah Dewa Pedang Utara

Kisah Dewa Pedang Utara
Kinnari


__ADS_3


"Anda terlihat sangat berbeda tuan muda" pekik Mismaya terpesona.


   Anak muda itu keluar dari ruang ganti setelah Laopan pemilik toko busana memilih kain tenunan kaum Roc berwarna kelabu sesuai yang ia inginkan. Baju tersebut ternyata langsung di kerjakan di tempat oleh pekerja toko, yaitu dengan menggunakan teknik sihir dari seorang penyihir pengendali bentuk yang langsung mengubah kain demikain berwarna kelabu itu menjadi model yang sesuai dan diinginkan oleh pelanggan.


Sima Yong terlihat puas dengan hasil kerja pengendali bentuk itu. Potongan dan model yang di hasilkannya, amat rapih serta sesuai dengan model yang ia inginkan.


"Ketrampilan Pengendali Pengubah bentuk menggunakan sihir ini meski tidak berguna dalam pertempuran, namun besar manfaatnya.


Baju potongan terbaru ini jika di kerjakan tangan mungkin memakan waktu berhari-hari. Namun perempuan pengendali perubah itu membuat baju ini hanya dalam waktu beberapa saat saja" batin Sima Yong kagum.


   Sima Yong bersama Mismaya kemudian meninggalkan toko busana itu lalu berjalan-jalan di Kota Atmotide yang modern itu. Bahkan sebelum Sima Yong mengajaknya kemana-mana, Mismaya berhasil membujuk tuan mudanya untuk memasuki satu toko khusus yang merupakan perias dan penataan rambut.


   Gadi-gadis klan burung yang menjadi karyawan di toko riasan itu, terkikik-kikik ketika melayani Sima Yong. Mereka dibuat terpesona dengan keindahan dan lembutnya kulit anak muda itu.


"Kulit tuan muda terasa demikian lembut.." kata satu gadis perias Klan Roc memuji.


"Benar.. aku yakin bahkan kulit tuan muda dapat disandingkan dengan lembutnya kulit bayi yang baru lahir"jawab gadis perias yang satunya. Keduanya lantas terkikik genit sambil mencukur janggut dan kumis yang seperti rumput liar menghias wajah Sima Yong. 


   Gadis yang satunya tampak dengan telaten menyisiri rambut Sima Yong. Dia membalurkan minyak rambut yang di campurkan dengan minyak narwastu. Ada lebih dari dua jam Mismaya menunggu tuan muda nya dipermak untuk mengubah penampilannya.


   Setelah waktu yang membosankan berlalu karena malam kian mendekat, tiba-tiba pintu kamar tempat perias-perias muda dari keturunan Roc itu membuka pintu. Mismaya menolehkan kepala dan berdebar-debar kepingin tahu..


"Seperti apakah perubahan yang terjadi nanti?" tanyanya di dalam hati.

__ADS_1


   Ketika sepatu hitam itu tampak dari bawah pintu, Mismaya mendongak dan mencari melihat wajah tuan mudanya. 


"A-apakah anda adalah tuan muda saya?" tanya Mismaya tidak percaya.


   Saat ini yang dia lihat di depannya adalah satu orang tuan muda yang tampak demikian mulia dan agung, mirip seperti tuan muda dari kalangan bangsawan.


   Wajah orang ini demikian bersih tanpa noda. Kulit na kencang dan tampak berkilau dengan minyak sehingga terkesan seperti kulit bayi yang kenyal. 


"W-wajah itu..." desis Mismaya ragu.


   Jika sebelumnya dia melihat wajah tuan mudanya seperti seorang pria dewasa pada umumnya, di penuhi bulu-bulu di sepanjang wajah.. namun kini bayang yang terlihat di hadapannya adalah benar-benar seorang anak muda usia sembilan belas atau paling tua adalah usia dua puluh tahun. Mismaya tak dapat berkata-kata lagi untuk menggambarkan pemujaannya kepada sang tuan muda.


"Hentikan tatapan itu. Aku merasa seolah-olah aku ini adalah mahluk aneh dengan tatapanmu itu" kata Sima Yong membuyarkan Mismaya dari keadaan terpesona itu,


   Anak muda itu lantas membayar semua jasa yang diberikan oleh toko perias, dan tentu saja tak lupa memberikan tip beberapa Eliksir biru muda kepada dua gadi perias, yang kembali dengan kikikan tertahan, menunduk memberi hormat tatkala tuan muda tampan itu berlalu.


   Menikmati teh adalah kebiasaan orang-orang pada masa itu, dimana sambil berbincang-bincang dengan sahabat atau kerabat, mereka akan disuguhi teh khusus atau yang langka oleh penyaji teh. Jangan dikira pada masa itu menyajikan teh adalah hal sederhana seperti saat sekarang.


   Pada masa itu, menyajikan teh diperlukan keterampilan khusus agar aroma, manfaat dan khasiat teh tetap terpelihara dan pelanggan menikmati teh dengan puas. Bahkan pada masa itu, seorang penyaji teh ternama, akan dibayar oleh restoran atau hotel dengan bayaran yang tinggi.


   Sambil menikmati teh dari daun berry langka yang dibawa pemburu Klan Roc, Sima Yong dan Mismaya menikmati teh setelah santap malam mereka. Saat itu pada ruang teh di lantai 3 Villa Atmotide, mereka berbincang ringan sambil diiringi suara merdu dari seorang penyanyi perempuan dari ras Kinnara.


    Kinnara adalah makhluk surgawi yang berwujud setengah burung dan juga setengah manusia. Ras ini memang memiliki keahlian dalam bernyanyi dalam suara merdu, serta diiringi petikan kecapi yang sangat merdu. Kinnara juga amat mahir dalam bersyair serta menari.


   Kinnara perempuan di sebut Kinnari dalam wujud perempuan cantik dari kepala hingga ke pinggang, sementara bagian pinggang sampai ke kaki berwujud seperti angsa. Seperti halnya perempuan cantik yang tengah bernyanyi merdu itu. Dia dengan terampil memetik kecapi, sementara suara merdu nya mengalun di malam indah itu, menambah rileks semua pengunjung di kamar teh Villa Atmotide.

__ADS_1


   Dengan sopan dan lembut, perempuan Kinnari itu membungkuk memberi hormat lalu satu orang dari kelompoknya terlihat datang ke arah para tamu dan menyodorkan semacam kotak untuk memberikan hadiah tanda penghargaan atas penampilan gadis itu.


   Sima Yong memberikan lebih dari dua puluh Eliksir merah jambu, setelah ia mendengar kisah bagaimana hal nya hingga gadis Kinnari itu bisa berada di Realm Magical Beast Benua Silver. Konon di negeri seberang tepatnya di benua sebelah tenggara Benua Silver, Kaum Kinnara hidup sebagai makhluk surgawi yang banyak dipuja penduduk setempat.


   Namun gadis Kinnari ini mengalami nasib malang, ketika itu dia diculik pada usia  sebelas tahun, dan dijual sebagai bahan pencari nafkah bagi para kelana pencari keuntungan. Beruntung bagi Kinnari yang satu ini. Dia dibeli oleh pemilik Villa Atmotide tatkala di jual di pasar perbudakan, lalu kemudian dipekerjakan sebagai pekerja seni di Rumah Teh Villa Atmotide.


   Sima Yong melihat perubahan wajah gadis Kinnari itu, tatkala melihat sejumlah Eliksir merah jambu di kotak penghargaan para tamu. Lalu pria pengumpul hadiah itu berbisik kepada gadis Kinnari, yang lantas melirik keraha Sima Yong. Gadis itu dengan amat sopan dan terlihat terpelajar, membungkuk dan membuat gerakan tangan di dada pertanda mengucapkan terima kasih kepada Sima Yong.


******


   Malam itu di Kota Terminus, di ketinggian hingga di awan-awan, udara terasa dingin. Angin bertiup lembut namun membawa hawa dingin menusuk, terasa seperti akan menguliti tubuh dan membongkar tulang-tulang yang menggigil kedinginan.


   Saat itu tiga sosok bayangan tampak melayang di udara, lalu pelan-pelan mendarat ringan di atas bubungan Villa Atmotide. Meski tak dapat menyembunyikan penampilan mereka yang memiliki sayap, namun tiga sosok itu terlihat amat berhati-hati dengan semua gerakan yang tidak menimbulkan suara sama sekali.


   Bahkan suara kepakan sayap mereka ketika mendarat di atap Villa Atmotide, terdengar amat pelan - nyaris tak terdengar, karena berbaur dengan suara lembut angin malam.


"Di kamar mana dia nginap?" bisik salah satu sosok itu menggunakan transmisi suara.


"Di lantai dua. Kamar paling ujung" jawab yang lainnya.


"Bagus.. semua akan berlangsung cepat dan tidak mengganggu seluruh pengunjung" kata yang lainnya. 


   Tiga sosok itu lantas berjalan mengendap-endap tanpa suara, menaiki tangga ke lantai dua Villa Atmotide.  


Bersambung

__ADS_1


    Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini.  Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca. <3


__ADS_2