
Domain darah yang telah merah itu, kini semakin pekat ketika Mata Sang Ratu Vampire berupa cairan kental darah membanjiri domain. Energi dan kutukan darah di dalamnya domain mulai melancarkan kutukan. Dunia serasa runtuh, energi dari bumi dan neraka mengalir, menyerap semua energi Dewa Puncak Himalaya - begitu kuat dan menindas.
Lolongan panjang terdengar ketika sosok Dewa Puncak Himalaya itu menyusut - terlihat reyot dan kisut.
"Ampuni aku.. " mata sosok dewa jadi-jadian itu melotot.
"Aku punya banyak rahasia yang dapat ku berikan kepadamu ! Bebaskan aku !" pilu suara sosok itu terdengar. Namun Anak muda lawannya itu tidak peduli. Energi darah dari benda Artefak Mata Sang Ratu Vampire menyesap semua energi tersisa yang dewa itu miliki, tiada ampun.
Hingga pada ******* nya, terdengar bunyi,
'Pop !' citra Dewa Puncak Himalaya lenyap. menghilang tak berbekas. Tak lama kuemudia Sima Yong menarik kekuatannya - dan domain berdarah itu ikut menghilang.
Menyusuk suara memekakkan telinga terdengar.
Klontang !
Itu adalah bunyi sebuah busur berwarna cemerlang, sangat gemerlap seperti warna kristal es, jatuh di lantai es. Menyusul kemudian sekantong anak panah - pelengkap benda relikui peninggalan Klan Kurcaci dari jaman kuno.
Ikut jatuh juga sebuah incin spasial milik Dewa Puncak Himalaya, tempat penyimpanan semua harta benda nya. Buru-buru Sima Yong meletakkan mantra diatas busur itu, menyegel busur agar roh kurcaci yang telah kembali kedalam Relikui itu tidak dapat keluar. Diam termeterai.
"Roh ini terlalu kuat. Jika tidak di segel dengan magecraft, aku takut dia masih dapat berulah" Sima Yong membacakan mantra-mantra dalam bahasa kuno, membuat Busur Panah Es berubah menjadi senjata biasa.
Ia menyimpan busur, anak panah dan cincin sang dewa
"Saat ini roh relikui itu masih terlalu ganas. Aku akan mencari kesempatan untuk menghancurkan jiwa Dewa Puncak Himalaya terlebih dahulu - dia telah mejelma menjadi mahluk setengah mahluk hidup - setelahnya baru menyerap semua kekuatan relikui Busur Panah Es ini" pikirnya mantap.
"Entah sudah berapa banyak sudah jiwa manusia yang di serapnya dalam rangka kultivasinya untuk menjadi mahluk hidup seutuhnya" batin Sima Yong. Ia juga teringat akan putri-putri altar yang di bawa jin serta foliot piaraan sang dewa.
__ADS_1
Bergegas anak muda itu berkeliling istana es, mencari-cari seseorang yang mungkin masih hidup. Ia berpikir alangkah baiknya jika dia dapat menolong gadis-gadis malang itu. Ia mulai melakukan tour di Istana Es itu.
Namun keadaan yang tampak adalah suasana hening dan sepi di seluruh ruangan istana. Ia menyebar benaknya dan menemukan tidak ada apapun di istana itu yang memiliki aura kehidupan. Istana Es menjadi satu istana mati saat ini..
Bahkan ketika anak muda itu berjalan menyusuri lebih dalam lagi, kamar demi kamar di Istana Es itu, meski banyak sekali perhiasan kerajinan tangan kaum kurcaci yang bertebaran tak jua ada kehidupan apapun.
Sima Yong memmerhatikan perpustakaan lengkap yang isinya adalah teknik-teknik penempaan dan teknik bela diri menggunakan Busur dan Panah.
"Kaum Kurcaci adalah ahli penempaan dan seni memanah: batinnya.
Niat mula-mula mencari dua belas putri-putri altar menjadi hilang seketikan. Ia hanya menemukan sosok kerangka-kerangka kering berbalut kulit keriput, semuanya masih lengkap mengenakan busana seperti yang di kenakan putri-putri altar, seperti yang ia lihat pada upacara sembahyang di kaki gunung - putih.
"Well.. ku pikir foliot dan jin-jin itu juga telah pergi ketika sang Dewa tewas tadi. Sesuai aturan pemanggilan dan perbudakan roh hlus, kontrak mereka akan selesai ketika pekerjaan teah selesai atau sang master mengalami kematian" gumamnya.
Setelah tidak menemukan hal-hal penting yang dapat di panennya, ia lantas keluar melewati jalan kecil di antara celah-celah jurang es. Ia lalu memberi tanda berupa mantra sihir, bertuga untuk menjaga dan memberi tanda sebagai pintu masuk. Lebih dari dua kali orang meminum teh, ketika Sima Yong meletakkan mantra-mantra rumit berlapiskan array.
"Bagaimanapun disini pada jaman dahulu adalah tempat tinggal Penguasa Klan Kurcaci. Ada banyak harta peninggalan kerajinan tangan kaum kurcaci, serta benda-benda sihir.
***
Sima Yong menatap puas kearah celah yang telah di mantrai dengan banyak magecraft, serta susunan array yang rumit. Jika orang dengan mata biasa melihat celah itu, tidak akan tampak satu celah pun di sana.
Yang ada malahan orang biasa akan tersihir, bingung dan berjalan terputar-putar di dalam jurang, karena terkena efek magcraft adan sihir kuat, serta array rumit yang menghalangi pikiran mereka.
Sima Yong lantas menghilang, berkelebat seperti angin. Ia akan pergi ke Kuil Penyembah Dewa Himalaya, di kaki gunung. Ada urusan yang akan ia selesaikan dengan kuil dan kelompok Magi disana.
******
__ADS_1
Malam yang dingin, hujan salju masih saja turun membasahi jalanan di Kota Guntur langit. Pada hawa sedingin itu, bahkan hewan-hewan pun enggan untuk pergi keluar sarangnya, sekedar mencari mangsa atau merindukan bulan yang suram tertutup kabut.
Diatas bubungan Kuil Penyembah Dewa Himalaya, satu sosok bergerak ringan, lebih ringan dari kapas dan butir-butir salju dari langit.
Sosok berbaju putih itu melayang di lorong-lorong kuil, berhenti di satu kamar besar yang terlihat bagus diantara bangunan kamar lainnya. Tangan sosok itu melambai pelan, dan angin Taufan dengan keras membanting pintu kamar itu.
"Siapa itu?" teriak Padri Wangchuk dari dalam.
Wangchuk merasa kesibukannya dengan melakukan eksperimen sihir kepada satu mahluk hidup - itulah manusia yang dia pakai sebagai alat uji coba, kini Wangchuk merasa terganggu. Secara hukum kaum Magi, percobaan seorang Magus atas mantra baru atau ramuan-ramuan mutakhir adalah haram jika di praktekkan dan di uji pada mahluk hidup manusia misalnya.
Akan tetapi para Magi di Kuil ini, selalu melakukan pelanggaran dengan melakukan uji coba teknik mantra baru, ataupun memberi ramuan-ramuan baru dengan menggunakan manusia sebagai alat uji coba.
Tentu saja meskipun yang di jadikan objek percobaan adalah penjahat-penjahat yang di bawa dari berbagai daerah, namun secara umum tindakan ini adalah sesat dan dianggap ilegal.
"Bunuh dia" titah Wangchuk kepada foliot dan jin berjumlah enam mahluk itu.
Enam mahluk halus itu bergerak mengikuti titah sang master, masing-masing menggenggam pedang dan melontarkan mantra-mantra penjerat ke arah sosok berbaju putih di depan pintu kamar.
Suara dengusan dingin terdengar, lalu geraman jahat enam mahluk halus itu terdiam seketika. Padri Wangchuk melihat dengan mata kepala sendiri, dari tangan yang di lambaikan sosok berbaju putih itu keluar enam helai energi pedang - energi sihir.
Enam mahluk halus itu berdiri kejang-kejang dengan mata melotot, ketika enak energi pedang sihir itu mencekik leher mereka. Hanya dalam satu kerdipan mata, enam foliot dan jin itu jatuh ke lantai, leher membiru dan lidah terjulur.
Padri Wangchuk terbelalak.. "S-siapa kamu?" tanyanya gugup. Dia menggigit satu penutup botol kecil, menenggak larutan hijau di dalamnya.. lalu mulutnya terbuka dan api berkobar besar, menelan sosok berbaju putih itu.
Sepuluh tarikan napas berlalu, dan efek sihir api yang di keluarkan dari mulutnya terhenti. Padri Wangchuk ternganga ketika melihat sosok berbaju putih itu terlihat baik-baik saja. Bahkan dia melihat sepertinya bibir orang itu menyunggingkan satu senyuman.
Padri Wangchuk tidak sempat menjerit ketika dia melihat sosok berbaju putih itu melambai. Wangchuk tidak percaya dengan penglihatannya, ketika dari dalam kendi berisi air minumannya, terbentuk satu pedang panjang besar. Pedang itu dengan gerakan tak terduga, membelah tubuh Wangchuk menjadi dua. Dia mati tanpa mengeluh sama sekali.
__ADS_1
Bersambung
Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini. Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca. <3