Kisah Dewa Pedang Utara

Kisah Dewa Pedang Utara
Sepasang Mata Licik


__ADS_3


Pada waktu itu langit belum lagi berubah menjadi gelap. Kira-kira masih menunggu dua kali masa orang meminum teh untuk suasana akan menjadi total gelap. Semburat merah jingga telah terlihat di ufuk barat, namun kumpulan awan di bagian timur langit masih tampak berwarna nila.


Dua sosok bayangan terbang melintasi Sungai Hutan Mistis, yang membelah dari Utara hingga ke Selatan Dunia Magical Beast ini. Jika seseorang terlihat melintasi sungai Hutan Mistis ini, tidak lain dan tidak bukan adalah sosok itu pasti berniat untuk menyebarang menuju Padang Rumput Tengkorak. Seperti nya dua sosok itu memang memiliki niat menuju Padang kering yang berbahaya itu.


Meski agak aneh terlihat, namun dari penampakan dua sosok itu terbaca demikian. Yang satunya adalah pria gagah usia muda, bertubuh jangkung dan langsing berparas menawan, tampak gagah dalam balutan pakaian serba kelabu. Terlihat seimbang dengan rambut indah nya yang lembut tertiup angin.


Pria itu terbang cukup rendah mendekati permukaan air sungai. Sepertinya ia melakukan teknik memanipulasi energi angin yang memberi kesan seolah-olah ia tengah terbang mengendarai angin yang berwujud kabut putih di dua kakinya. Rambut emas keperak-perakan itu melambai di sapu angin, memberi kesan agung atas figurnya.


Sedangkan sosok yang satunya lagi adalah peri perempuan bertubuh mungil, terlihat tidak kalah cepat bergerak melintas diatas Sungai Hutan Mistis dengan sayap misterius yang terlihat memesona.


Dua orang itu adalah Sima Yong dan Mismaya, yang sejak siang tadi telah meninggalkan Kota Ras Beruang dengan tujuan berikutnya Padang Rumput Tengkorak.


Tidak membutuhkan waktu terlalu lama, ketika langit di atas sana telah berubah menjadi gelap sehitam tinta. Burung-burung malam mulai keluar dengan suara-suara khasnya, membuat suasana terasa hening dan membikin perasaan menjadi hampa.


Meskipun jarak mereka masih jauh dari Padang Rumput Tengkorak, namun Sima Yong tidak juga mengendorkan kewaspadaannya. Seperti kala itu. Diam-diam sejak tadi ia merasa ada sesuatu aura kental yang secara sembunyi-sembunyi mengikuti mereka.


Ia lalu membisikkan kata-kata kepada Mismaya, berharap gadis peri itu tidak akan terkejut dengan sesuatu pertempuran yang bakal terjadi nanti.


"Mari kita pura-pura beristirahat di tepi sungai. Sepertinya ada seseorang yang sembunyi-sembunyi mengikuti kami" bisik Sima Yong kepada Mismaya. Mendengar itu, Mismaya tidak lantas berubah menjadi ketakutan.


Pengalaman Mismaya dalam menonton dua kali pertempuran Tuan Muda telah menanamkan kesan bahwa master nya ini adalah sosok ahli kelas atas yang selalu mengambil sikap rendah hati dan tidak ingin menonjol, namun sangat mematikan.


Keduanya lantas mengambil air sungai jernih itu, membasuh wajah yang sejak siang terhampar debu selama penerbangan.


Sementara dua orang itu berdiri di tepian sungai, pelan-pelan angin malam berhembus dan suara air di sungai berpercik perlahan "Byur - byur - byur"


Sesuatu Aura lantas terasa berpendar seperti dari kedalaman sungai, namun sesungguhnya arah datang tidak dapat di terka dari mana tepatnya. Mismaya seketika terbawa perasaan menggigil ketakutan. Namun gadis peri itu berusaha menutup mulut nya rapat-rapat - takut membuat konsentrasi tuan muda menjadi terganggu.


Sejak dini tadi, Sima Yong memang berjaga-jaga dengan mengambil sikap serius menghadapi sosok tak kelihatan ini. Ia tahu pasti di Realm Magical Beast ini, ahli-ahli yang akan menjadi lawannya bukan hanya sekedar ahli biasa-biasa saja.


Sesuai kesimpulannya dari mendengar semua informasi, ia tahu kalau rata-rata penghuni Realm ini adalah ahli yang merangkap dua kemampuan pertempuran. Mereka rata-rata adalah praktisi sebagai ahli beladiri dan juga mahir sebagai ahli pengguna kekuatan sihir.


Angin bertiup semakin pelan, sepertinya tersedot kedalam suatu kekuatan yang menekan. Mismaya mulai merasa sesak napasnya menjadi-jadi. Ketika itu pelan-pelan dari arah Sungai Hutan Mistis yang dalam itu, sepasang mata yang amat besar, terlihat bersinar tajam menggiriskan - tengah menatap ke arah mereka berdua.


Pancaran sinar mata itu terlihat licik dan keji - menimbulkan perasaan tidak menyenangkan bagi siapapun yang melihat. Menyusul suara serak terdengar berbicara..

__ADS_1


"Wilayah Sungai ini adalah wilayah terlarang. Berani-berani nya kamu melintasi tempat ini tanpa memberikan sesuatu upeti kepada Sang Penguasa sungai..!"


Suaranya terdengar amat tua bahkan sangat tua. Terdengar serak dan sepertinya disuarakan dari satu tempat yang sangat jauh - yang terlalu kuno sampai-sampai suara mirip itu telah terlupakan oleh waktu.


Mismaya melompat mundur ke arah semak-semak tepian sungai. Suara beraura menindas itu membuat Mismaya dengan terpaksa menjauh dari aliran sungai. Akan tetapi beda hal nya dengan Sima Yong. Tangan kanannya langsung diangkat, siap untuk mengeksekusi satu teknik defense (pertahanan) menggunakan energi sihir - guna berjaga-jaga dari serangan mendadak makhluk yang terasa kuno itu.


Byur - byur - byur !


Air memercik dengan keras ketika satu sosok monster besar - teramat sangat besar, mendadak keluar penuh keagungan dari kedalaman sungai. Percikan petir terlihat seperti menari-nari, berkeliling di sekitar tubuh makhluk raksasa itu.


"Jormungandr !" desis Mismaya ketakutan


Jormungandr adalah satu makhluk keturunan dewa petir dari benua lain yang keberadaannya selalu di lautan dan mengganggu pelaut yang melewati areanya.


"Bagaimana bisa makhluk mengerikan keturunan dewa petir ini bisa berada di Benua Silver kami?" batin Sima Yong. Ia melihat percikan lidah petir itu dan juga langsung mengenal kalau ular raksasa itu adalah Jormungandr, makhluk keturunan dewa petir dari benua barat.


Ketika makhluk itu telah menampakkan setengah bagian badannya diatas air - mulutnya sengaja di buka dengan lidah yang menjulur membawa uap petir yang menyambar-nyambar, Sima Yong berkata,


"Salam damai selalu,


Saat ini juga kami akan meninggalkan kawasan sungai ini, mengikuti arah alirannya hingga tembus ke selatan" kata Sima Yong dengan sopan.


Dengusan menghina terdengar..


"Sayang teramat disayang. Diriku yang tua ini telah mengadakan perjanjian surgawi dengan seseorang - untuk membunuh siapa saja yang berniat melintasi sungai ini, apalagi ketika orang itu bertujuan menuju ke Bukit Sihl" suara monster itu terlihat seperti merendahkan.


Meski agak terkejut, namun Sima Yong tetap bersikap santai. Katanya,


"Rupa-rupanya kabar berita demikian cepat beredar di Hutan Mistis ini. Aku bertanya-tanya dan menerka. Apakah berita tentang rencana perjalananku menuju Bukit Sihl telah diketahui semua orang?.


Aku menjadi ingin mengetahui. Apakah kelompok ras beruang itu yang telah bercerita rencana kepergianku ini?"


Suara Jormungandr itu terdengar semakin meremehkan. Kata nya,


"Hai manusia. Kamu terlalu memandang rendah kesetiaan dan keteguhan ras beruang itu.


Tidak kamu tahu?, kalau-kalau di Hutan Mistis ini, kabar berita itu datang nya bukan hanya dari sosok mahluk magical beast?

__ADS_1


Di tempat seperti ini bahkan angin pun dapat berbicara kepada siapapun, lalu dalam kisah itu mereka akan membuka semua aib-aib kamu, hingga tak ada lagi yang dapat kamu sembunyikan dari dirimu di hutan ini!" ular raksasa itu semakin lama semakin mengeluarkan badan panjangnya dari dalam air sungai mencoba menakut-nakuti.


Namun dia heran didalam hati, mengapa pria itu tidak terlihat takut sedikitpun?.


"Jadi kalau begitu apa maumu?" tanya si jubah kelabu.


"Aku harus membunuhmu. Meskipun telah lama sekali aku tidak pernah mendengar kabar angin kalau-kalau seseorang berniat melintasi sungai, pergi ke Bukit yang dijaga mahluk besar dan kawanannya itu" kata Jormungandr.


Tawa kecil terdengar memecah kesunyian.. itu adalah tawa pria muda berjubah kelabu itu, Sima Yong. Makhluk keturunan Jormungandr itu menjadi sedikit tersinggung dan bertanya,


"Manusia.. mengapa kamu tertawa?"


Setelah reda dengan tawa singkatnya Sima Yong menjawab,


"Aku tertawa karena aku kuatir. Ketika nanti aku telah mencabut pedang dan di pegang tanganku, darah akan menjadi banjir dan nyawa harus nelayang.


Sesungguhnya aku merasa iba dengan kondisimu yang sudah terlalu tua untuk bertarung melawanku"


Blam !


Kata-kata hinaan biasa-biasa masih dapat di terima ular besar itu. Akan tetapi menyebut dengan nyata-nyata kalau dirinya sudah terlalu tua untuk bertarung, jelas-jelas ini adalah penghinaan. Darah monster itu seketika mendidih.


"Lancang ! Lihat serangan !" bentak ular raksasa itu dengan amarah.


Sekonyong-konyong awan hitam dengan cepat bergulung di langit, lalu saling ber-bentrokan antara awan dengan awan. Semua terjadi dengan kekuatan dahsyat yang menimbulkan suara gemuruh. Jormungandr itu lantas melibas ekornya kearah Sima Yong. Petir tercipta dari kehampaan, membelah malam dengan cahaya berkilauan menyilaukan mata.


"Maka matilah kamu manusia. Kamu akan mati di bawah petir kutukan yang ku bawa sebagai garis darah dewa petir" teriak ular raksasa


Duar !


Bum !


Mismaya merunduk di bebatuan pinggir sungai dengan air mata membanjiri pipinya. Gadis peri itu benar-benar ketakutan menyaksikan kemarahan Jormungandr putra dewa petir. Ini betul-betul pertarungan besar yang dia belum pernah lihat.


Bersambung


Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini. Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca. <3

__ADS_1


__ADS_2