Kisah Dewa Pedang Utara

Kisah Dewa Pedang Utara
Sapu Tangan Bersulam Kelelawar


__ADS_3

Dua orang itu tampak berbicara serius di sebuah bangunan yang mereka beri nama Istana Bianfu Wang. Rupa-rupanya dua orang yang berbincang itu adalah Morenyu atau Meirenyu, sementara berdiri di hadapannya pria yang memiliki julukan BaiseDhe.


Morenyu itu tampak memainkan hewan kontrak Singa Bertanduk ditangannya, yang selalu melompat terbang kian-kemari. Dengan mata yang terlihat penuh kerinduan, BaiseDhe menatap Singa Bertanduk itu. Morenyu memecah kesunyian diantara mereka berdua.


"Hewan kontrak ini setidaknya akan menambah kultivasi anda hingga 2 tingkat tatkala melakukan penyatuan energi.


Selain menambah kekuatan Kritikal alami (CRIT) pengguna, daya serang atau nilai ATK yang terkandung didalam hewan kontrak ini akan membuat serangan pengguna menjadi sangat berbahaya didalam pertempuran.


Lawan akan langsung mengalami penurunan ketahanan secara kritis tatkala Singa Bertanduk ini digunakan"


BaiseDhe bertambah gelisah ketika mendengar penjelasan Morenyu itu.


"Tolong, jangan siksa hamba dengan hewan kontrak itu. Tuan Morenyu dapat langsung mengungkapkan apa yang harus hamba kerjakan untuk menebus Singa Bertanduk itu" tegas dan dalam tekda yang muncul dari suara BaiseDhe, sehingga membuat Morenyu mata itu berbinar.


"Bagus ! Tugas Pertama anda adalah menghabisi Kong Ping, Kepala Perwakilan Menara Suar itu, sebelum Balai Harta Baru kami di resmikan" kata Morenyu.


"Tidak masalah tuan. Malam ini juga Kong Ping itu kan aku habisi" tegas suara BaiseDhe.


"Baiklah kalau demikian. Aku akan menunggu berita kematian pria itu, lalu Singa Bertanduk ini akan menjadi milik anda.


BaiseDhe tertawa ringan, lalu sosok nya menghilang dari ruang pertemuan itu. Pelindung Sekte Terang itu mulai mempersiapkan aksi misinya malam itu juga. Dia mengunjungi Yu Long meminta beberapa jimat untuk dipakai nanti.


******


Sejak kematian Wei Durui dan Hui Chunying, tidur malam Kong Ping tidak pernah nyenyak. Orang itu senantiasa di bayangi seseorang bayangan hitam yang membokong, lalu membunuhnya dengan tidak berperasaan.


Malam yang dingin itupun, Kong Ping tidak dapat lelap seperti orang-orang pada umumnya. Padahal kentongan ketiga telah lewat, dan tidak lama lagi kentongan keempat akan di bunyikan petugas malam.


Dalam kegelisahan seperti itu, Kong Ping terkadang lebih suka berlatih ilmu pedang, agar konsentrasi nya fokus di pelatihan, lalu rasa kantuk akan datang menjelang.


Ketika dia baru saja akan mengulangi latihan teknik pedang di ruang latihan Organisasi (Pada masa itu, umumnya di Sekte-sekte dan organisasi bela diri, memiliki ruang latihan beladiri khusus). Kong Ping memutuskan untuk berhenti sebentar. Dia merasa seolah-olah di awasi seseorang.

__ADS_1


Kong Ping baru saja meletakkan pedang latihan di gantungan nya, ketika saat itu nafasnya masih memburu...


Sekonyong-konyong dia dilanda rasa terkejut, ketika sesosok hitam keluar dari cermin di ruang latihan itu, sambil melempar sebuah benda yang lantas meledak dan menimbulkan asap sehingga Kong Ping buru-buru menahan nafas agar tidak menghirup asap itu.


Sayang sekali dia telah terlambat, ketika pedang di tangan sosok itu di tebas, Kong Ping merasakan tenaganya telah lenyap sebagian.


"Trang !" benturan senjata, ketika Kong Ping menyambar pedang secara acak dari dinding ruang latihan, dan akibat benturan ini justru membuat senjata di tangannya terpotong menjadi dua.


"Siapa kamu !" Kong Ping merasa terkejut. Buru-buru dia meraih sebuah tombak latihan lainnya.


"Penyergap itu bukan sembarang ahli. Kultivasinya di ranah Alam Tanpa Batas Bintang satu.


Tingkat sekelas itu amatlah jarang di temui di Utara sini".


Akan tetapi si penyergap itu tidak memberi kesempatan bagi Kong Ping untuk banyak berpikir. Pedang di tangannya menari-nari dalam teknik aneh yang belum pernah di lihat Kong Ping.


"Tsing-tsing-tsing" pedang berkelebat mengunci ke arah titik mematikan di tubuh Kong Ping.


Hingga pada suatu titik, penyergap itu berkata dingin,


"Cukup sudah aku bermain-main !"


Dari tangan penyergap berpakaian serba hitam itu kembali melejit dua benda yang Kong Ping tahu adalah jimat penyerangan.


Dalam suara yang mendesis pelan si penyergap itu berbisik,


"Ledakan petir !"


Seolah mematuhi titah penyergap berbaju hitam itu, dua jimat yang di lemparkannya meledak dan menimbulkan petir laksana badai di tengah hujan lebat. Kong Ping tak dapat banyak bersuara tatkala dia di sambar petir sebanyak tiga kali, dan di susul sebuah tebasan ke arah kepala, membuat air mancur darah keluar dari tubuh tanpa kepala itu.


Sosok penyergap berpakaian serba hitam itu berdiri diam, lantas dia melepaskan sehelai kain blacu murah keatas jasad itu, yang diatasnya bersulamkan gambar kelelawar.

__ADS_1


Sosok itu menghilang seperti angin dari ruangan latihan Menara Suar, menyisakan jasad yang kepalanya terpisah, dalam keadaan tidak keruan.


Keesokan harinya, Kota Azalea kembali di buat heboh, ketika Menara Suar mengumumkan bahwa Kepala Perwakilan mereka, Kong Ping telah tewas di bunuh organisasi rahasia, ketika tengah berlatih di ruang latihan mereka.


Tak dapat di konfirmasi siapa yang bertanggung jawab atas penyerangan itu, namun desas-sesus mengatakan bahwa di temukan sapu tangan murah bersulamkan kelelawar di tempat kejadian.


Orang-orang lantas berspekulasi bahwa Organisasi Berlogo kelelawar itulah yang bertanggung jawab atas insiden ini. Dengan cepat julukan Organisasi Kelelawar itu menjadi buah bibir orang-orang, namun tak ada satupun yang mengetahui dimana letak organisasi itu berada.


******


Kota Langit Senja di daerah paling pinggir Wilayah Tengah dengan Wilayah Utara itu bukanlah sebuah kota yang amat besar di Wilayah Tengah. Akan tetapi kemajuan dan peradaban di Kota Langit Senja amatlah maju jika di bandingkan dengan kota-kota lain di Barat apalagi Utara Benua Silver.


Kong Fai adalah Kepala Perwakilan di Organisasi Menara Suar perwakilan Kota Langit Senja. Kong Fai menerima berita dari jimat kupu-kupu berisi suara Kong Ping sepupunya yang memberi informasi bahwa perwakilan mereka di Ibukota Kekaisaran Great Ying mengalami masalah, yang mana tangan kanannya Wei Durui dan Hui Chunying tewas di bunuh orang tak dikenal.


Dalam pesan itu, suara Kong Ping terdengar meminta bantuan beberapa praktisi di Perwakilan Kota Langit Senja yang memiliki kultivasi Alam Tanpa Batas bintang sembilan bahkan jikalau bisa tenaga praktisi Kuasi Alam Pencerahan Suci, untuk menggantikan dua tangan kanannya yang telah tewas itu.


Kong Fai lantas memanggil tiga praktisi yang memiliki kultivasi paling tinggi yaitu; Ye Po Sin yang berkultivasi Kuasi Alam Pencerahan Suci, Fang Huang Fu seorang praktisi Alam Tanpa Batas bintang sembilan dan Cui Cun praktisi Alam Tanpa Batas bintang delapan.


"Pergilah kalian berjaga-jaga terlebih dahulu di Kekaisaran Great Ying sana. Menara Suar kami membutuhkan bantuan tenaga ahli seperti kalian.


Menurut berita yang di kirim sepupuku, kepala perwakilan WIlayah Utara Azalea, dua orang tangan kanan Menara Suar kami telah tewas di tangan orang tak dikenal.


Kedatangan kalian akan sangat membantu dan membuat lega Kong Ping, sepupuku itu"


Tiga orang ahli itu lantas mengendarai hewan ajaib milik organisasi, yaitu seekor Burung Bangau Raksasa yang tahan melakukan penerbangan berhari-hari tiada henti.


*Bersambung*


Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di-like, sekedar komen dan vote.


   Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.

__ADS_1


__ADS_2