
"Menurut cerita-cerita orang-orang tua dan salinan kuno yang aku baca di perpustakaan klan peri ...
Alkemis di dunia luar sana, di Benua Silver misalnya... Mereka adalah sosok yang meramu obat-obatan, pil atau elixir roh yang nantinya di gunakan untuk kepentingan peningkatan kemampuan artis bela diri mereka.
Sedangkan alkemis di Realm Mistis ini adalah seorang penatua senior yang mampu menggunakan kekuatan sihir mereka untuk membuat peralatan-peralatan aneh, bahkan senjata-senjata sihir yang akan membantu kami dalam kegiatan hari-hari. Di kaln-klan lain umumnya alkemis membuat senjata perang" jelas Mismaya. Dia lalu menunjukkan satu tongkat pendek ke Sima Yong.
"Tongkat sihir Peri ini misalnya. Meskipun kami kaum peri mampu mengolah energi sihir di dalam tubuh, akan tetapi dengan bantuan tongkat sihir yang di buat Alkemis kami ini, gelombang dan kekuatan sihir tersembunyi, akan lebih di keluarkan masksimal untuk memperkuat satu mantra atau magical spell"
"Akan tetapi tentunya ada harga ada barang. Makin mahal dan langka satu tongkat sihir, kemampuan untuk memperkuat gelombang sihir semakin bagus" pungkas Mismaya.
Sima Yong mengangguk kepala karena setuju. Batinnya,
"Ini adalah pekerjaan seorang Black Smith atau Refiner jika di luar sana" ia lalu bertanya lagi.
"Lalu tentang bahan obat-obatan atau apapun itu untuk memperkuat kekuatan seseorang? atau guna mengobati satu penyakit, adakah profesi yang membuat barang yang aku maksud?"
Masih tetap ceria Mismaya menjawab,
"Hal itu adalah pekerjaan seorang Dukun atau Syaman di klan kami. Beliau adalah seorang peramu atau di sebut Potioner"
"Nah.. itu lah yang di sebut Alkemis di dunia luar sana. Sepertinya segala sesuatu di realm mistis ini serba terbalik pemahamannya dari dunia luar" batin Sima Yong.
Lama berbincang-bincang, tak terasa mereka telah melangkah cepat dan sangat jauh menggunakan angin - lebih dari satu jam. Berkat chakra angin yang di gunakan Sima Yong sebagai alat transportasi, jarak yang mereka tempuh seratus lie elebih itu tidak terasa lama dan tidak melelahkan. Kini mereka memasuki satu kawasan rawa-rawa yang penuh dengan air. Pemandangan pun berubah.
"Tak lama lagi kita akan sampai di Kota Klan Peri kami tinggal" kata Mismaya gembira.
******
Yang di sebut dengan Klan Peri oleh Mismaya adalah sebuah pematang air berbentuk sebih empat, jumlahnya kurang lebih lima pematang air. Masing-masing pematang itu luasnya lebih dari satu satu lie (500 meter) yang diatas genangan air tersebut ada terdapat banyak sekali tanaman Teratai dengan daun-daun yang amat besar dan bunga yang lebar-lebar.
__ADS_1
Tanaman Teratai ini ukuran jauh lebih lebar dari Teratai yang umum di jumpai di Benua Silver. Dan diatas daun-daun teratai lebar itu, berdiri bangunan-bangunan kecil yang terbuat dari kayu dan jerami. Bangunan rumah itu cukup mampu untuk menampung dua sampai tiga peri dan tinggal sama-sama di dalamnya.
Kelompok Teratai yang demikian banyak itu, kira-kira lebih dari setengahnya jumlahnya telah didirikan rumah-rumah kayu berhiasakan bunga-bungaan alami - yang menjadi rumah tempat tinggal serta kota mini kaum Mismaya ini.
Dengan bangga peri kecil itu bersuara keras dari pundak Sima Yong..
"Lihatlah tuan muda, disinilah Mismaya tinggal bersama kawan-kawan ku - Mismaya bediri sambil berkacak pinggang penuh kebanggan -
Baiklah sekarang kita langsung pergi ke rumah sang Alkemis" ajak Mismaya.
Sima Yong membawa Mismaya melayang diatas air, lalu mereka berhenti di satu rumah kayu berlantai dua, letaknya agak di belakang perkampungan peri itu. Dari luaran, rumah itu terlihat tidak mencolok dengan banyak sekali tanaman-tanaman yang menghiasi dinding-dinding kayu. Sima Yong terkagum-kagum melihatnya.
Memang Kota mini ini membuatnya jadi terkagum-kagum. Contohnya ketika dalam perjalanan menuju rumah sang Alkemis tadi, keduanya sering berpapasan dengan peri lain yang terbang dengan bermacam-macam sayap. Ada yang biasa saja, ada yang indah namun ada juga yang aneh dan futuristik.
Diam-diam ia memperhatikan. Ada peri yang sayap nya berbentuk seperti kupu-kupu pernuh warna nan indah, ada pula yang putih bersih menyerupai sayap burung merpati, bahkan ada yang bentuk sayapnya sangat aneh. Di dalam pandangan Sima Yong, sayap aneh itu terlihat seperti dua bulatan lonjong, dan mengeluarkan api. (Bentuk nya mungkin agak mirip dengan jet pesawat yang di gunakan di jaman kini - namun ini hanyalah satu bentuk sederhana dari mesin jet yang di jaman sekarang"
Ngeeng ! Wush ! ... Sima Yong berkelit sambil bersalto ketika satu peri laki-laki yang masih muda, menyambar dia. Ia mengingat jelas bentuk sayap lonjong aneh itu.
"Apa itu tadi?" tanya Sima Yong.
Dia masih terkejut melihat sayap unik yang di gunakan oleh peri muda yang angkuh tadi. Sementara itu Mismaya berulang kali mengucapkan kata-kata maaf.
"Tidak biasanya kaum peri kami bertingkah dalam sikap kesombongan seperti itu" katanya.
"Dia bernama Varrith. Putra tunggal dari Patriak di Klan Peri kami. Anak itu memang sangat di manja oleh ayahnya sampai-sampai terkadang di bersikap berlebihan dan agak kurang sopan" jawab Mismaya.
"Sayap yang dia pakai tadi adalah sayap kreasi Alkemis Thelthorn yang di jua seharga Dua puluh lima ribu Eliksir warna biru. Itu adalah harga yang amat mahal sekali, nilai yang hanya segelintir orang saja mampu membayar sesuatu bernama Sayap Komet Petir"
"Sayap Komet Petir?" Sima Yong menyimpan baik-baik penjelasan ini di dalam hatinya. Ia bertanya tentang metode pembayaran di realm ini.
__ADS_1
"Ku dengar tadi kamu mengatakan bahwa pembayaran disini adalah dengan menggunakan eliksir. Dapatkah kamu menjelaskannya kepadaku tentang eliksir ini?"
(Eliksir menurut KBBI adalah semacam ramuan untuk menyiakan obat-obatan farmasi. Namun eliksir di sini adalah bahan obat-obatan penambah kekuatan, yang sudah di padatkan dalam bentuk keristal-kristal sebesar jempol orang)
Mismaya menjelaskan,
"Eliksir di sini terbagi dalam tiga jenis. Paling rendah berwarna hijau pucat. Peringkat tengah berwarna biru terang. Dan eliksir tertinggi adalah yang berwarna merah jambu.
Satu eliksir merah jambu adalah setara 100 eliksir biru. Sedangkan satu eliksir biru sama nilainya dengan 100 eliksir hijau pucat.
Eliksir merah jambu tidak beredar di pinggiran realm ini. Mungkin benda itu hanya ada di kota-kota besar di realm ini...
Ah... mari kita masuk tuan muda. Aku harus bertemu dengan Alkemis Thelthorn untuk pemesanan sayap penggantiku" kata Mismaya.
Ketika keduanya masuk kedalam rumah sang alkemis, kenyataannya kondisi dalam ruangan cukup lapang, karena di manipulasi dengan semacam teknik array. Namun karena pelanggan Alkemis Thelthorn adalah kaum peri, tinggi ruangan itu tidak di lakukan manipulasi araay sehingga Sima Yong terpaksa harus duduk bersila di lantai.
Seorang peri laki-laki usia tua keluar dari workshopnya dan berkata..
"Well Mismaya.. jangan katakan kalau kamu datang untuk satu pasang sayap lagi" kata pria itu. Dia langsung berjalan ke peri kecil itu dan pandangannya seperti tersedot ke arah sosok berjubah kelabu.
Dia menatap Sima Yong dalam-dalam. Tour pendeteksian itu di mulai dari pengamatan rambut berwarna cemerlang itu, kulit wajah putih Sima Yong yang bagus terlihat, juga postu badan yang terlihat tinggi langsung, meskipun jago kita terlihat duduk dalam posisi bersila, semua tak luput dari pengamatan nya. Kemudian pria yang di panggil sebagai Alkemis Thelthorn itu menggumam,
"Apakah dia ini Elf? rasanya lama sekali aku tidak melihat Elf sejak perang antar jago seni beladiri di dunia luar ribuan tahun lalu.."
Lalu dia bertanya pada Sima Yong dengan pelan,
"Maafkan aku jika telah kasar bertanya, namun aku begitu penasaran...
Sejak tadi aku bertanya-tanya di dlam hati. Apakah tuan ini seorang Elf?" pertanyaan polos ala peri terluncur dari mulutnya.
__ADS_1
Bersambung
Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini. Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca. <3