
Sosok bertudung itu ketika dia melepaskan penutup kepalanya, orang akan mengenali dia sebagai Wakil Pemimpin Sekte Kuil Teratai Putih Mao Xuezhe. Wajah Mao Xuezhe terlihat dingin Ketika dia memberikan nada ancaman untuk menyelidiki siapa sosok Alkemis dibalik terbukanya simpul energi di dantian pangeran ke tiga.
Pangeran ke tujuh Ju Kai menatap Mao Xuezhe dan sekali lagi berkata,
“Aku harapkan anda beserta beberapa pengikut dari Kuil Teratai Putih anda dapat membereskan masalah ini. Upayakan negosiasi terlebih dahulu dengan alkemis tersebut. Minta dia agar bergabung di pihak ku. Biar bagaimanapun jika ketahuan kita telah melenyapkan seorang alkemis, aku takut hal ini akan menimbulkan gejolak di kalangan “Asosiasi Alkemis dunia Tengah””
“Well anda tahu bukan???… orang-orang aneh dan jingling sihir yang tergolong dalam kelompok alkemis itu adalah mahluk pendendam. Jika mereka melakukan mogok dan tidak lagi mensuplai pil-pil penambah tenaga maupun pil pengobatan, di takutkan pasukan tentara akan memberontak. Tidak akan ada yang seorangpun yang berani pergi ke medan perang tanpa membawa perlengkapan obat dan pil-pil penguat dari alkemis” Kembali Ju Kai berkata sebelum terlihat merenung.
Lalu dengan nada yang terdengar pelan namun tegas dia berkata….
“Akan tetapi jika alkemis kepercayaan Pangeran ke tujuh itu membangkang dan tidak mau bekerja sama dengan kami… habisi dia..!” tatapan mata Ju Kai terlihat mengerikan. Dalam hatinya tidak sedikitpun dia akan memberi ruang atau celah kepada pangeran ketujuh untuk menjadi Putra Mahkota nanti.
>>>>>>
Malam hari yang terasa cukup dingin, dimana angin gunung berhembus kencang sehingga efeknya terasa hingga Kotaraja Rajawali Agung. Tampak empat sosok tubuh yang melayang ringan dari satu bubungan ke arah bubungan rumah penduduk lainnya. Pakaian keempat sosok itu mengenakan pakaian ringkas berwarna gelap guna menyamarkan diri di kegelapan malam.
Rupa-rupanya arah perjalanan empat figure tersebut adalah Istana Kekaisaran Ju Ying. Keempat sosok itu berhenti sebentar, lalu salah seorang yang kelihatannya merupakan pemimpin dari empat kelompok itu melakukan Gerakan komat-kamit. Dia terlihat seperti sedang merapalkan mantra.
Dari tangan pria itu dia mengeluarkan botol kecil lalu menaburkan bubuk berwarna hitam di sekeliling mereka berempat. Dengan sebuah desisan pelan…. “Bleep” asap hitam tebal terbentuk dari bubuk yang ditaburkan pemimpin kelompok itu.
Asap hitam itu lalu terbang pelan menuju ke istana kekaisaran tanpa menimbulkan bunyi sedikitpun. Keempat sosok itu bersembunyi di balik asap hitam, dan tidak terlihat sama sekali. Keberadaan mereka sama sekali terdeteksi kehadirannya. Tatkala mereka dalam bayangan kabut hitam melewati tembok tinggi yang dijaga oleh ratusan pasukan tentara kekaisaran Ju Ying… tidak ada yang menampakkan ekspresi menyadari kehadiran empat sosok itu. Semua kegiatan di istana terlihat normal dan baik baik saja seperti tidak terjadi sesuatu.
“Di arah mana adanya Perpustakaan kerajaan yang dimaksud Pangeran Ju Kai???” tanya pemimpin kelompok itu.
“Mohon bersabar sebentar Wakil Pemimpin… akan aku buka peta petunjuk yang diberikan Pangeran Jukai” lalu salah satu anak buah kelompok itu membuka slip giok yang kemudian memancarkan sebuah gambar peta dan petunjuk arah secara detil di istana kekaisaran.
“Kita kearah Barat” Kata Wakil Pemimpin itu.
Asap hitam pun bergerak seperti layaknya sebuah awan hitam tipis yang tertiup angin. Melayang tidak terlalu cepat dan tidak terlalu pelan. Semua terlihat wajar seperti layaknya kabut hiutam tipis di malam hari.
Keempat figure itu kini terlihat telah menjejak kan kaki diatas atap perpustakaan. Masih didalam diam dan saling memberi tanda dan kode, mereka saling berbisik sambil menggunakan transmisi suara…
“Informasi mengatakan di lantai tiga itu empat lah alkemis itu menginap. Langsung ringkus dan bawa pergi alkemis tersebut” tanya wakil pemimpin.
“Wushh…”sekonyong-konyong angin dingin bertiup tipis menerpa wajah empat sosok itu.
“Entah mengapa bulu tengkuk ku terasa merinding…” desis Wakil Pemimpin Mao Xuezhe didalam hati.
Mao Xuezhe tidak sempat untuk memikirkan perasaan merinding yang melanda tengkuknya. Dia secara tiba-tiba terfocuskan memandang kebelakang, ketika itu salah satu diantara mereka menatap melotot kebelakang dengan jeritan tertahan….
“Hantu….” Desis salah satu diantara mereka dengan wajah terlihat ketakutan.
Refleks Mao Xuezhe memalingkan wajah kebelakang. Seorang pria muda berwajah putih bercahaya dengan rambut berwarna kelabu putih tampak melayang dengan wajah yang amat dekat ditempat mana mereka berempat berdiri.
Mao Xuezhe memperkirakan wajah pria muda itu hanya berjarak satu meter dari keberadaan mereka. Namun hingga saat ini dia sama sekali tidak mendengar atau mengetahui kapan kedatangan mahluk itu bahkan di jarak sedekat itu. Hatinya amatlah terkejut..
“Seorang ahli tingkat tinggi” keluh Mao Xuezhe mulai gemetar.
Pria muda itu terlihat berdiri miring dan melayang diatas angin dengan kemiringan 30 derajat, namun anehnya gaya gravitasi bumi tidak membuat dia terjatuh ketanah meskipun dirinya berdiri dengan kemiringan seperti itu.
__ADS_1
Pakaian pria muda tersebut yang serba kedodoran berwarna kelabu melambai di terpa angin dengan rambut yang ikut meliuk bergoyang di terpa angin. Tubuh itu bagaikan kapas terombang ambing angin. Anehnya… tidak terdengar bunyi sedikitpun. Seperti nya angin menyembunyikan semua suara yang pria muda itu timbulkan.
Melihat situasi yang berbahaya itu, Mao Xuezhe segera berkata merendah…
“Tuan Yang Sakti… maafkan Mao Xuezhe yang tidak melihat tingginya Gunung Tay Shan di depan mata. Kami dari Kuli Teratai Putih telah salah menilai kehadiran ahli yang berada di Perpustakaan Kekaisaran ini. Mao Xuezhe mohon diampuni dan kiranya tuan berbelas kasihan melepaskan kami berempat”… Tidak ada jalan keluar lain menurut Mao Xuezhe. Jelas-jelas pria itu pasti ahli yang mereka cari dimana dia merupakan ahli yang memiliki kepandaian jauh diatas mereka berempat.
Tiga sosok lainnya yang merupakan Tiga Pelindung Kuil Teratai Putih (terdapat 8 pelindung, dan 3 telah tewas di tangan Fei Ma) terlihat menggigil orang muda yang berdiri di jarak dekat mereka itu jika dia mau membunuh mereka sejak dini, pasti mereka berempat telah mati.
Dalam kegugupannya karena takut diserang terlebih dahulu, salah satu pelindung Kuil Teratai putih itu secara refkleks melepaskan sebuah tikaman pedang kearah pria muda yang tetap menatap dingin itu….
“Wushh..” hawa membunuh pedang terlepas dari tangan salah satu pelindung Kuil Teratai Putih, diiringi jeritan keras Mao Xuezhe…
“Jangan.. hentikan…” akan tetap sayang sekali. Serangan pedang secara gugup itu telah dilepaskan dan pedang telah berada dekat di titik kening pria muda itu.
“Krakk..!!” pedang milik pelindung Kuil Teratai Putih itu patah sebelum menyentuh kening pria muda yang terlihat diam itu.
Lalu terdengar desingan ratusan pedang yang melesat dari arah tanah…. Mao Xuezhe dan dua kawanannya yang tersisa seketika terbelalak dan terkejut ketakutan….
Sekitar seratusan pedang yang terbuat dari air terlihat melayang pesat dari kolam air di taman samping perpustakaan.
“Tsingg… tsing…”
Ratusan pedang air itu kini melesat dengan pesat mengunci tiga ahli dari Kuil Teratai Putih itu. Tanpa menimbulkan suara sedikitpun, tiga ahli dari Kuil Teratai Putih itu meregang nyawa tatkala ratusan pedang terbang dan menghujam menembus dada, bahkan mengiris leher mereka bertiga.
Pria muda yang ternyata Sima Yong itu menatap empat jenasah yang terkapar diatas atap perpustakaan. Sebuah angin yang terlihat membentuk pusaran kemudian terbang dan menjemput empat jenasah itu lalu melemparkannya ke bawah.
“Kebumikan keempat tokoh itu, dan jangan ceritakan kepada siapapun apa yang kalian lihat tadi” kata Sima Yong.
“Baik Tuan Yong” kata komandan dari dua belas pasukan kerjaan itu. Mereka membawa jenasah empat tokoh Kuil Teratai Putih itu dalam diam. Akan tetapi satu hal yang ingat di dalam hati kedua belas orang itu. Betapa mengerikannya kepandaian Tuan Yong yang menjadi tamu Pangeran Ketujuh itu.
>>>>>>
Di istana Pangeran ke tiga… tampak sang pangeran mondar mandir dengan wajah yang gelisah.
“Guru…. Apakah telah terjadi sesuatu hal yang menimpa wakil pimpinan Kuil Teratai Putih dengan tiga pelindungnya. Hari telah beranjak pagi namun bayangan empat tokoh itu belum juga kelihatan???” tanya Pangeran Ju Kai dengan kalut.
“Pangeran…. Sebaik nya anda mulai sekarang harus lebih berhati-hati. Sepertinya terdapat seseorang berkepandaian tinggi yang menjadi pelindung Pangeran Ke tujuh itu…” kata Kasim Xia Feng.
Wajah Pangeran Ju Kai terlihat gusar…
“Apakah Alkemis itu adalah ahli berkemampuan tinggi yang anda maksud?” desak Pangeran Ju Kai.
“Hamba tidak tahu pangeran. Akan tetapi menurut naluriku… anda juga sebaiknya berhati-hati dengan sosok yang kami kira alkemis itu. Bisa jadi dia adalah seorang berkemampuan tinggi yang memiliki profesi lain sebagai alkemis??” sekali lagi dengan nada mendesak Pangeran Ju Kai bertanya ke gurunya.
“Bisa jadi demikian adanya pangeran. Terkadang di Dunia Sungai Telaga ini, seseorang menyembunyikan keahliannya di balik profesi-profesi yang terbilang sangat biasa dimata orang lain. Akan tetapi kenyataan di balik itu mereka adalah Ahli-ahli mengerikan yang dapat mengguncang dunia” pungkas Kasim Xia Feng.
“Aku ingin seseorang yang menguasai Alkemis mau bekerja denganku. Bisakah anda mencari seseorang yang memiliki kualifikasi seperti itu??” tanya Pangeran Ju Kai…
“Di Wilayah Tengah ini selain Para Alkemis yang tergabung didalam Aliansi Alkemis Benua Penyaringan Dewa, hanya dua sekte yang memiliki kemampuan dalam bidang Alkimia”.
__ADS_1
“Pertama adalah Sekte Malaikat Kelabu Hui Tianshi yang keturunan jingling. Akan tetapi kumpulan sekte ini amatlah ekslusive dan terlalu menutup diri”
“Kedua adalah Sekte Agama Terang. Akan tetapi hingga saat ini setelah kembalinya tiga Utusan Terang mereka selepas menghadiri undangan anda… belum terdengar kabar dari mereka yang menyatakan mendukung anda.
Wajah Pangeran Ju Kai terlihat berubah lebih gusar lagi…
“Lalu.. ada siapa lagi? Di dunia yang begini luas… tidak adakah orang lain yang memiliki kemampuan alkemis yang bersedia mendukung aku Pangeran Ketiga ini?” wajahnya memerah dalam luapan emosi.
Kasim Xia Feng buru-buru menenangkan Pangeran Ju Kai. Lalu dalam nada yang terdengar misterius dia berkata..
“Sudahkah anda mendengar sebuah Sekte tertutup yang Bernama Sekte Du Hua (Sekte Bunga beracun)??”
“Sekte Du Hua ini sebenarnya di kategorikan sebagai Sekte Suci Bintang 9. Akan tetapi karena keahlian mereka adalah dalam bidang racun yang merupakan Teknik terlarang… Sekte ini kemudian menyembunyikan diri dan mengurung diri di lembah Bunga Beracun. Sebenarnya orang tidak tahu bahwa Sekte Bunga Beracun ini sangat ahli didalam mengolah dan menciptakan array beracun yang bersifat mematikan. Itu karena tidak seorangpun yang berani mengunjungi Lembah Bunga Beracun, kecuali mendapat ijin khusus dari Master Sekte itu….”
>>>>>>
Sima Yong berjalan memasuki perpustakaan setelah dia membantai 4 ahli dari Kuil Teratai Putih secara mudah. Ketika dia kembali membuka lembaran Salinan buku di seksi Terlarang yang menjelaskan Teknik-teknik terlarang menggunakan racun jahat… suara Paman Yang-yang terdengar memenuhi telinga nya…
“Anak muda… kemampuan dan Teknik bertempur anda terlihat semakin maju”
Sima Yong mengangkat kepala dari bacaan didepannya lalu membalas suara utu menggunakan transmisi….
“Paman Yang-yang terlalu memuji ku… jika dibandingkan dengan keahlian anda, apalah arti Sima Yong yang muda ini. Jika dibandingkan kemampuan anda, aku ini ibarat ibarat seekor semut dihadapan anda” Sima Yong tertawa malu karenanya….
“Tidak perlu kamu terlalu merendah anak muda. Jika semakin banyak Teknik yang dapat kamu serap intisai nya dari ratusan ribu buku ini, aku percaya dalam waktu tidak terlalu lama… kamu mampu menaklukkan ku didalam pertempuran”… jawab Paman Yang-yang serius.
>>>>>>
Di sebuah bagian dari kompleks istana kekaisaran…
“Ibu… anakmu ini sungguh merasa sangat terintimidasi dengan Pangeran Ke tujuh itu. Dia bahkan telah menerobos kultivasi nya dan sekarang telah layak di calonkan sebagai pangeran mahkota. Anakmu ini niscaya tidak akan memiliki kesempatan untuk menjadi pewaris kekaisaran ini”
Pangeran Ju Kai terlihat sedang meratap dalam tangis di kaki seorang Wanita setengah baya namun terlihat amat cantik dan anggun itu. Sedemikian putus harapannya tangisan pangeran itu, sampai-sampai perempuan itu juga tidak tega melihat kesedihan anak tersayangnya itu.
Perempuan cantik itu adalah permaisuri Kekaisaran Ju Ying atau Rajawali Agung. Permaisuri itu adalah permaisuri kedua setelah permaisuri pertama (ibu Pangeran Ju Qin) dinyatakan meninggal dunia setelah melahirkan Ju Qin.
“Anak ku jangan bersedih. Biarkan ibu yang akan membantu menyingkirkan Pangeran ke tujuh itu” bisik permaisuri.
“Ku dengar Kaisar akan mengirim utusan menuju Timur untuk melakukan aliansi dengan Negri Embun Timur. Bukankah perjalanan menuju Negri Embun Timur itu amatlah jauh dan beresiko tinggi?? Bisa saja pangeran itu terbunuh di jalan bukan???” Permaisuri mengedipkan mata kepada Ju Kai yang terlihat terbelalak.
Lalu dengan wajah yang berubah Kembali cerah Ju Kai mencium kening Wanita permaisuri itu.
“Ibu… anda adalah seseorang yang amat luar biasa…..”
*Bersambung*
Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di like, sekedar komen dan vote.
Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.
__ADS_1