
Seorang anak muda remaja tampak berjalan kaki memasuki Kota Kuno dengan pembawaan yang terlihat riang gembira. Sikap dan pembawaannya sangat wajar, sehingga dia tidak terlihat mencolok.
Tindakan berjaga-jaga itu terkesan sangat hati-hati, ketika orang mencoba meneliti kultivasinya, tidaklah terbaca kalau dia seorang ahli peringkat SAGE.
Yang ada pastilah orang akan mengira dia hanya seseorang dari masyarakat umum kaum mortal biasa yang juga merupakan bagian dan penghuni dunia ini.
Penampilannya juga yang sangat biasa itu, tentu saja tidak menarik perhatian banyak orang. Rambutnya diikat rapih dan disembunyikan di balik Dou Peng (semacam topi caping yang dihiasi rumbai-rumbai kain tipis untuk memberi kesan seseorang yang berniat menyembunyikan wajah).
Meskipun penampilannya terbilang biasa-biasa untuk ukuran Kota Kuno, akan tetapi tatkala anak muda itu berhenti di sebuah penginapan, dan menunggu dalam diam, sekonyong-konyong seorang laki-laki tua datang dari dalam penginapan secara tergopoh-gopoh dan langsung berlutut di kaki anak muda itu,
"Yang Mulia...
Hamba tetap menunggu, meski setahun lamanya di penginapan ini. Akhirnya anda menampakkan diri.
Hamba akan terus menunggu dan tentu saja tidak berani untuk meninggalkan tempat ini tanpa perintah dari Yang Mulia"
Senyum ramah terlontar dari sosok di balik dou peng itu, lalu katanya
"Luo Yeye,
Anda adalah pengikut yang begitu setia menanti kedatanganku. Anda bahkan tidak mau berpikir kalau aku telah mengalami kecelakaan. Aku menyukai kesetiaan anda.
Tentu saja akan ada kompensasi yang menanti menjadi bagian anda setibanya kita di Neraka Dunia nanti" Tentu saja orang diam-diam sangat senang.
Namun meski dia merasa senang, Luo Yeye sama sekali tidak berani menatap wajah anak muda itu. Dia, anak muda itu kemudian melanjutkan dengan memberi instruksi,
"Untuk saat ini, anda dapat menunggu aku di arah jalan menuju Neraka Dunia. 200 Lie adalah jarak terbaik dan menjauh dari tempat ini.
Malam ini setelah berurusan dengan seseorang. Lalu aku akan menyusul anda di tempat yang jadi kesepakatan titik temu kita.
Akan terlalu merepotkan jika aku di kejar, sementara kereta kuda anda demikian lambatnya" kata pria muda itu ramah. Dia mengakhiri kata-katanya dengan tawa yang panjang.
Tanpa berlama-lama setelah di beri kode oleh anak muda itu, Luo Yeye lantas pergi menyiapkan barang-barangnya dan meninggalkan penginapan itu. Tentu saja, semua administrasi akan di atasi oleh Yang Mulia Semidevil Refiner Jubah Kelabu.
******
Malam di Kota Kuno yang kini langitnya telah kembali normal, setelah beberapa waktu lalu terganggu oleh fenomena aneh. Kini penampakan di langit yang normal membuat semua orang merasa nyaman dan tidak gelisah lagi.
Waktu ketika itu baru saja memasuki sut-sie ketika kentongan pertama telah berbunyi (sut-sie itu adalah waktu diantara jam 19.00 sampai 21.00).
Patriak Xu seperti biasa tengah mendalami pengetahuan dengan membaca-baca buku teknik beladiri di perpustakaan Klan Xu. Dia selalu berusaha memperkaya pengetahuan bela dirinya dengan membaca.
Ketika itu secara nyata-nyata Patriak Xu mendengar suatu bunyi gerakan di atas bubungan perpustakaan. Menyusul bunyi tersebut, lapat-lapat dia menangkap juga, terdengar gerakan jubah yang berkibar di tiup angin.
Patriak Xu bukanlah Praktisi anak kemarin sore yang tidak mengerti kode seperti itu. Apalagi pengalaman nya yang sangat luas sebagai seorang Patriak Klan Super dan ahli di ranah SAGE Level 9, seakan memberi tahu dia bahwa ini adalah sebuah tanda bahaya.
Tidak akan pernah kejadian seseorang yang mengintai, lalu secara sengaja meninggalkan bunyi gerakan tertentu yang menimbulkan kecurigaan.
Apalagi bunyi jubah yang melambai di terpa angin seperti itu. Dia sadar benar bahwa itu tanda dari seseorang yang secara terang-terangan memberi undangan terbuka kepada dia, bahwa dirinya di tantang dan di tunggu untuk pertemuan secara langsung diatas bubungan.
Sempat ragu karena merasakan kejanggalan untuk melompat ke atap bubungan dan mengejar sosok itu, namun pada akhirnya Patriak Xu mengikuti rasa percaya diri dengan melompat cepat seperti bayangan. d Niat nya adalah ingin melihat sosok siapakah yang demikian berani menantang seorang Ahli SAGE level 9, seorang Patriak Klan Super Kota Kuno.
Begitu Patriak Xu menginjakkan kaki diatas bubungan bangunan perpustakaan, tiba-tiba serangkum angin dahsyat menerjang dirinya. Refleks Patriak Klan Xu itu menghindar, dan tangannya membuat gerakan menebas kearah benda yang menyerang nya.
Duar !
Ternyata itu adalah sebuah doupeng yang dilempar.
Selepas benturan tadi, kini doupeng itu meledak terkena hawa murni yang Patriak Xu tembakkan..
"Kurang ajar. Orang itu sungguh lihai" maki Patriak Xu.
Dalam bayang-bayang malam, dia hanya melihat samar-samar tatapan mata orang itu yang bersinar seperti bintang dimalam hari menembus ke jantungnya.
Patriak Xu kontan sangat terkejut
"Mata itu demikian tajam seperti dewa-dewa kuno" pikirnya heran
Lalu dia melihat....
__ADS_1
Dengan sekali hentakan pelan, sosok bermata tajam itu melayang indah seperti kapas yang di bawa angin, menjauh dari bubungan tempat Patriak Xu berdiri.
Sosok itu kini melayang dalam gerakan berlari namun terlihat tanpa menggerakkan kaki. Bahkan dalam sekejab orang itu telah berdiri di atas bubungan bangunan sebelahnya. Tatapan mata itu kembali bersinar serupa bintang, namun menyeruak nada mengejek bahkan menantang keberadaan Patriak Xu.
"Ikut aku kalau berani" desis sosok itu dalam suara parau.
Patriak Xu seketika terbakar emosinya,
"Kamu ingin mengajak bertanding dengan seseorang di ranah SAGE level sembilan?
Baiklah, akan aku layani"
Tubuh Patriak Xu melayang cepat menyusul sosok di depannya, lalu tak lama kemudian dua orang itu telah terlibat adu kecepatan, saling kejar-mengejar diatas bubungan atap-atap perumahan Kota Kuno.
Namun, semakin lama sosok bermata cemerlang itu berlari semakin menjauh dari Kota Kuno. Patriak Xu bahkan tidak menyadari, kalau dirinya tengah digiring ke suatu tempat.
Satu jam lamanya mereka saling kejar-kejaran, dan kini arah yang dituju adalah ke sebuah tepian jurang daerah yang merupkan perbatasan antara Kota Kuno dengan Kota Keheningan.
Sekilas sebuah ingatan seketika memenuhi benak Patriak Xu ketika dia melihat sosok mata cemerlang itu berhenti di tepian jurang.
"Ini seperti de javu saja"
(de javu yaitu keadaan seseorang yang merasa pernah di satu tempat yang sama dan kejadian yang sama atau seperti kejadian yang terulang)
Akan tetapi kembali Patriak Xu menutup rasa curiga itu dengan rasa penghiburan bahwa keahliannya yang demikian tinggi, tidak akan membawanya kedalam bencana.
"Ah.. Bahkan untuk kalangan Kota Kuno saja, hanya sedikit orang yang patut aku segani.
Mengapa pula aku mesti gentar dengan mahluk pengecut yang berlari-lari menuntunku menjauh dari Kota Kuno? Apakah dia tidak tahu aku seorang SAGE level sembilan?"
Si mata cemerlang itu tampaknya dengan sengaja menunggu dia di tepian jurang itu.
Kini Patriak Xu semakin jelas melihat wajah si mata cemerlang
"Owh, kiranya kamu adalah anak remaja yang memiliki penampilan unik.
Mata yang begitu cemerlang dan rambut berkilauan seterang bintang...
"Si mata cemerlang sama sekali terlihat jauh dari sosok ahli mengerikan" Pria itu merasa tenang. Diam-diam Patriak Xu meraba pedangnya.
Wajah boleh menawan dan menarik, akan tetapi Patriak Xu kembali di kejutkan dengan suara si mata cemerlang yang terdengar dingin,
yang mana suara itu si mata cemerlang terdengar berupa suara seseorang yang telah lama berkecimpung di dunia Jiang Hu,
"Pasti kamu telah melupakan siapa aku bukan?" suara yang dingin dan tua, seperti suara suara kuno.
Anak muda itu lalu tersenyum penuh aura misterius. Matanya yang bersinar, serta rambut yang berkibar seterang bintang ditambah jubah kelabunya yang melambai-lambai, seketika membuat Patriak Xu teringat akan seseorang,
"Kamu !... Kamu belum mati?" tanyanya heran.
"Hahaha akhirnya kamu orang tua menjadi ingat siapa aku.
Diriku masih teringat, kala itu kamu orang tua mengatakan teknik secepat cahayaku tidak akan bermanfaat dalam pertempuran melawan kamu.
Hari ini aku telah kembali dari lembah kematian dibawah sana, dengan kemampuan kecepatan pedang sebesar lebih dari 30 kali.
Lalu Aku menjadi bertanya-tanya, apakah kamu masih akan berani untuk duel melawanku?"
Diam diam Patriak Xu larut didalam penyesalan. Mengapa ketika itu dia tidak berusaha mencari jenazah anak muda dihadapannya, untuk memastikan kematiannya? Bukankah dengan demikian dia terlalu teledor? Tidak membasmi rumput hingga ke akar-akarnya?.
Namun sebagai seorang ahli di rnah SAGE level 9, Patriak Xu masih begitu percaya diri untuk menghadapi anak muda ini.
"Lagipula.. Sedemikian percaya dirinya bocah ini.
Dia pikir bahwa dia adalah anggota Sekte Pedang Kuno yang memiliki tempat pelatihan semisal dungeon tersendiri,
ya dungeon yang biasa dijadikan tempat berlatih ahli kuno untuk menjadi Raja Pedang, berkecepatan 30 kali "
Dalam nada menghina Patriak Xu mengirimkan sebuah serangan telapak tangan.
__ADS_1
"Mimpimu terlalu berlebihan bocah. Kamu tengah berkhayal membayangkan bahwa kamu adalah seseorang dari Sekte Kuno. Terimalah ini..."
Wush !
Angin serangan seperti ribuan daun-daun berjarum tajam seketika menerjang, dan mengunci mati anak muda itu. Itulah serangan telapak mematikan andalan Klan Xu yang bernama Teknik Liu Ye Sanluo atau Serangan Selaksa Daun Liu Bertaburan.
Anak muda itu hanya mendengus dingin, ketika dia membuka telapak tangannya, seketika tato bintang di telapak itu berpendar ngeri, lalu sebuah kekuatan yang tak dimengerti Patriak Xu tiba-tiba membuyarkan Telapak Liu Ye Sanluo nya.
"Teknik apa yang kamu lakukan?
Mengapa ada tanda tatoo purba Klan Kaum Elf di tanganmu?" tanya Patriak Xu curiga. Lanjutnya...
"Kemana kamu selama hampir setahun ini? Kultivasi dan kemampuan bela dirimu meningkat pesat.
Hayo jelaskan padaku !" bentak Patriak Xu penasaran.
"Hahaha.. Orang tua. Tidak perlu kamu mencari tahu dari mana aku selama hampir setahun ini..
Pastikan saja apakah kamu dapat menghindar dari serangan kecepatan ku kali ini"
Trang - trang - trang !
Patriak Xu berhasil menangkis tiga serangan tak terlihat sama sekali yang sepertinya di buat oleh si anak muda. Dia melompat mundur dalam beberapa tombak dan menjaga jarak.
Dengan mata terbelalak dia berseru,
"K-kamu telah berhasil melatih kecepatan setinggi itu?
Apakah kamu menemukan sesuatu warisan di dasar jurang sana?" tanya Patriak Xu penuh selidik. Matanya berputar-putar dalam hawa nafsu keserakahan. Dia berniat juga untuk memperoleh keuntungan yang sama seperti diperoleh bocah itu.
Anak muda itu tertwa keras-keras. Katanya,
"Anda kaget? Hoho ini barulah level dua dari kecepatan cahaya.
Aku bahkan belum lagi mengeksekusi level tertinggi dari teknik ini dan anda telah terlihat ketakutan"
Patriak Xu lantas buru-buru mendahului menyerang dengan mengeksekusi Teknik Pedang mematikan. Dia menyerang dengan mengerahkan delapan puluh bagian kekuatannya,
Tsing !
Pedang Patriak Xu berkelebat menyambar leher anak muda itu. Akan tetapi kembali dia dibuat terkejut ketika tanpa terduga, sebuah kekuatan pedang yang tak terlihat telah menghadang dan memukul balik pedang di tangannya.
"Bocah iblis.. Serahkan pengetahuan yang kamu peroleh di dasar jurang" Patriak Xu kini tidak lagi bermain-main. Dia mengerahkan kekuatannya sebesar 100 bagian.
Akan tetapi anak muda itu terlihat biasa-biasa saja, tubuhnya berulang kali bergerak seolah memerintahkan sesuatu. Lalu sebilah pedang yang bergerak sedemikian cepatnya selalu mematahkan semua serangan patriak itu.
Pertempuran dua ahli pedang itu telah berlangsung dalam seratus pukulan pedang. Pertikaian diantara keduanya telah memporak-poranda kan keadaan di sekitar arena, yang kini merubah jalanan berbatu itu menjadi bentukan tebasan-tebasan panjang hawa pedang.
Ketika itu Patriak Xu melompat mundur membuat jarak. Dia telah ngos-ngosan selama pertempuran berlangsung. Hal itu disebabkan semua pertempuran menggunakan kecepatan yang sangat tinggi, sehingga Patriak Xu merasa membutuhkan kekuatan Extra untuk menghindari serangan pedang cepat si anak muda.
Diam-diam Patriak Xu melirik si anak muda,
"Kurang ajar. Dia bahkan terlihat biasa-biasa saja" Patriak Xu mulai di landa kekhawatiran..
"Anak muda ini terlalu berbahaya. Jika di biarkan hidup, kelak dia akan menjadi ahli nomor satu di seluruh negri"
Suara anak muda itu membuyarkan lamunan....
"Apakah anda telah selesai mengeksekusi semua teknik anda? Ini saatnya bagi anda untuk melihat Kecepatan Pedangku di level tiga"
Tatapan Patriak Xu seketika menjadi buram, ketika anak muda itu membuat segel di tangan, dan dunia serasa berputar. Cahaya pedang terlihat dimana-mana, tidak dapat di tebak dari arah mana sesungguhnya serangan pedang sedang di tembakkan si anak muda.
Lalu dalam jeritan pilu, Patriak Xu melolong ketika bertubi-tubi dadanya bolong dalam tusukan lima serangan pedang beruntun.
Patraik Xu meregang nyawa di jalanan sepi berbatu-batu, yang kini telah berubah menjadi taman tebasan pedang.
Malam itu juga anak muda yang adalah Sima Yong berkelabat dalam bayangan, terbang dihantar angin menuju titik temu menuju Neraka Dunia, dimana Luo Yeye telah menantinya.
*Bersambung*
__ADS_1
Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini. Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca...