Kisah Dewa Pedang Utara

Kisah Dewa Pedang Utara
Klan Shi


__ADS_3

Kembali di sebuah restoran di penghujung Wilayah Tengah dimana Sima Yong bersama pengikutnya sedang istirahat makan..


Dua orang didalam restoran itu berbicara dengan keras-keras.


"Dua sekte dari Barat itu konon katanya memiliki ahli Kuasi Melintas Mortal" kata si baju ungu, sementara kawannya terbelalak.


"Ahli Kuas Melintas Mortal adalah ranah yang demikian tinggi" mulut kawannya terbuka pertanda takjub.


Makin bangga dan sesumbarlah si baju ungu. Dia menjelaskan dengan berapi-api,


"Jika saja ahli-ahli kuasi Melintas Mortal itu sudah ikut terjun memburu pemberontak Sima Yong itu,


meskipun dia bersembunyi di ujung dunia sekalipun. Itu tinggal menunggu waktu saja untuk anak muda itu di bekuk pihak Kekaisaran" si baju ungu menyudahi ceramahnya.


Sementara itu, ketika mereka bercakap-cakap tampak jelas kawan si baju ungu mulai terlihat sedikit gelisah. Pria itu seperti tidak terlalu berkonsentrasi mendengar cerita yang di tuturkan si baju ungu. Berulang-kali matanya melirik ke arah Fei Ma.


Dia memberi kode kepada si baju ungu, yang tetap berkoar-koar merendahkan Sima Yong yang nanti akan di bekuk oleh pihak SAGE dari Barat.


Keduanya lalu saling berbisik ketika si baju ungu menyadari kode yang diberikan kawannya. Tidak berapa lama kemudian, mereka menyudahi santap mereka dan menghilang dari resotran tersebut. Sementara Sima Yong dan kawan-kawannya bersikap seolah-olah tidak menyadari jika kelompok merekalah yang menjadi topik percakapan dua orang tersebut.


Ketika selesai makan, dan menuntaskan pembayaran di bagian kasir,


"Mari kita pergi melihat-lihat lalu beristirahat di penginapan. Kita akan melanjutkan perjalanan di malam hari. Yang kudengar, Badai Es di perbatasan tidaklah seganas ketika siang hari" Kata Sima Yong.


Informasi ini diperoleh ketika melakukan pembayaran jasa makanan mereka tadi, dia mengorek beberapa informasi penting dari pelayan dan pemilik restoran itu, untuk rencana selanjutnya.


Ketika itu semua Fei Ma dan dua orang pengikut Sima Yong selesai berjalan-jalan dan kini mengambil waktu untuk beristirahat di sebuah penginapan, anak muda kini pergi menuju ke sebuah bangunan yang kepunyaan Klan Shi yang menguasai Kota Cerpelai Biru


"Klan Shi adalah klan pengusaha yang menguasai roda perekonomian di Kota Cerpelai Biru. Meskipun terdapat beberapa klan lainnya yang menjadi saingan bisnis, namun Klan Shi lah yang terbesar diantar semua.


Klan Shi ini adalah pedagang besar yang melakukan transaksi dagang antar dua wilayah, Tengah dan Utara" begitu penjelasan majikan restoran ketika Sima Yong melakukan pembayaran tadi.


"Jika Tuan muda ingin membeli kapal roh, kemungkinan Klan Shi itu dapat menjualnya dengan harga tinggi. Diantara semua Klan Kota Cerpelai Biru, Klan Shi lah yang memiliki banyak armada kapal roh.


Akan tetapi kebenaran itu tak dapat hamba pastikan. Tuan muda dapat mengunjungi Klan Shi dan berbincang dengan Patriak Shi Yongsheng.


Namun yang hamba dengar, Patriak Shi Yongsheng kabarnya sedang dalam keadaan kurang sehat dan tidak dapat ditemui. Namun anda dapat mencoba untuk meminta audiensi berbicara dengan nya" Pemilik restoran itu membungkuk dan mengundurkan diri. Sepertinya pemilik restoran itu berbicara dengan hati-hati.


Klan Shi itu meskipun bukan termasuk didalam Kelompok Sekte Bintang Sembilan Wilayah Tengah, namun ranah kultivasi Patriak mereka Shi Yongsheng, setara dengan Para Master Sekte dan Patriak Sekte Bintang Sembilan di wilayah tengah, yaitu Alam Melintas SAGE level dua.


Klan Shi tidak dikenal di wilayah tengah sana, salah satu alasan adalah keberadaan Klan Shi yang terlalu jauh dari ibukota, dan letak Kota Cerpelai Biru yang berada di perbatasan lah yang membuat Klan Shi tidak terkenal.

__ADS_1


***


Sima Yong baru saja berjalan menuju Klan Shi, di sebuah jalan yang sepi dia di hadang oleh dua orang pria yang mengenakan penutup wajah. Akan tetapi dari pakaian yang mereka kenakan, dia dapat menduga bahwa dua orang ini adalah dua tamu di rumah makan tadi yang berbicara keras-keras itu.


"Berhenti !"


Dengan sekali melirik Sima Yong dapat menduga dua orang ini memiliki kultivasi paling tinggi di Alam Tanpa Batas Bintang rendah...


"Serahkan dirimu. Dan kami tidak akan mengambil tindakan keji kepada kamu" Si Baju ungu mengacungkan golok di tangannya, yang berkilauan di tangannya.


Dia si baju ungu, terlihat celingak-celinguk melihat kiri-kanan, penuh rasa curiga kalau-kalau kawan-kawan anak muda itu datang lalu menyeroyok mereka berdua.


Sementara kawan si baju ungu itu terlihat dengan sigap memasang kuda-kuda dengan senjata toya ditangannya (Toya adalah senjata tongkat kayu panjang). Tangan kirinya terarah kedepan membentuk posisi telapak tangan lurus kearah langit.


"Dua ahli bela diri yang memiliki kultivasi cukup tinggi" batin Sima Yong.


Dia berdehem lalu berkata,


"Tuan berdua.. Ada hal apakah yang membuat anda berdiri dijalan lalu menghalangi urusanku ini? Mohon anda berdua menyingkir dan memberi jalan" Sima Yong berusaha bersikap ramah.


"Mana kawanmu pria yang terlihat seperti seorang ahli alkemis itu? Bukankah kalian semua datang dari wilayah tengah untuk mengobati Orang tua Patriak Klan Shi bukan?


Jelas-jelas Sima Yong semakin dilanda rasa bingung. Namun dia menduga orang berdua ini menyangka Fei Ma adalah seorang alkemis. Walaupun demikian, meskipun dia tidak mengerti apa pembicaraan dua orang dihadapannya, dia tetap mencoba bersikap ramah..


"Tuan berdua, aku yang muda ini sungguh tidak mengerti dengan arah pembicaraan anda.


Memang ku akui aku akan menuju Klan Shi. Namun maksud dan tujuanku bukanlah seperti yang anda berdua ucapkan.


Aku memiliki urusan dagang dengan Klan Shi" Sekali lagi Sima Yong menahan sabar, mencoba untuk tetap terpancing emosi.


"Bohong !" teriak si pemegang toya.


"Kakak, lebih baik kita langsung membungkam anak muda ini. Lalu kemudian kita mencari kawannya orang tua alkemis itu!"


"Saebaiknya aku bertindak tegas mengambil nyawamu dari sekarang. Sebelum kamu dan kawananmu pergi menyembuhkan si tua Shi Yongsheng itu" si baju ungu memutar golok di tangannya, lantas melompat menerjang. Dia mengayunkan golok ditangannya, mengancam batang leher Sima Yong.


Tak mau kalah dengan serangan kawannya berbaju ungu, pria bertoya itu melompat keudara. Lalu dengan gerakan jumpalitan yang indah dia mengayunkan toya ditangannya dalam gerakan Seribu Tongkat Menghalau Angin. "Wush" angin menderu seiring terjangan toya.


"Suuiiitt" suara mencicit golok memotong udara, serta gesekan angin dari gerakan seribu tongkat menghalau angin itu.


Kedua ahli itu telah yakin, tenaga yang dikeluarkan teknik golok itu akan mampu membelah batu besar sekalipun, dan gebukan tongkat angin itu dengan kuat menindas terkandung kekuatan ribuan jin yang akan memporak-porandakan bukit kecil. "Serangan kami berdua ini sudah pasti akan membuat anak muda itu menjadi bubur dalam seketika" Si baju ungu tersenyum licik.

__ADS_1


Namun mereka berdua di kejutkan ketika secara tiba-tiba semua kekuatan mereka seperti menghilang, tertahan sebuah kekuatan yang sangat kuat luar biasa, tidak terlihat.


Dua orang itu seketika dilanda rasa panik berusaha lepas dari cengkeraman kekuatan tak terlihat. Keringat menetes di pelipis ketika keduanya terdiam seperti patung.


"Wush"


Dalam gerakan yang tidak terlihat, keduanya tahu-tahu telah melihat anak muda itu mencengkeram leher mereka menggunakan tangan kanan dan kiri. Senjata kedua orang itu telah jatuh, menggelinding meninggalkan tangan.


Senyuman dingin terlihat di wajah anak muda yang akan mereka bunuh tadi...


"Sedari tadi aku telah bersikap mengalah dan memberi kamu berdua muka.


Namun patut disayangkan... Dua manusia ini betul-betul tidak tahu diri" Cengkeraman itu semakin ketat dan mulai membuat keduanya kesulitan bernafas. Keringat semakin deras mengucur di pelipis dua orang itu.


"Ceritakan apa yang terjadi, dan aku akan bermurah hari. Cepat !" Sima Yong membanting dua orang itu ke tanah, menimbulkan suara bedebum yang amat keras.


"Bruaak !"


Kini dalam keadaan lemas karena telah kehilangan tenaga, dua orang yang sekarang telah dicopot penutup wajahnya, terlihat ketakutan. Si baju ungu mulai menuturkan sebuah kisah yang membuat Sima Yong tercerahkan.


Ternyata di dalam Klan Shi itu, terjadi perang dingin antara Patriak Shi Yong Seng dengan seorang Penatua senior bernama Shi Zhizhou yang ingin menggantikan Patriak Klan Shi. Di dalam suatu perjalanan menuju Utara di Kota Kuno, Patriak Klan Shi ini mengalami luka akibat pertempuran melawan seseorang dari Sekte Super.


Ketika pulang ke Kota Cerpelai Biru, ternyata tidak seorangpun tabib atau alkemis di Kota itu yang mampu menyembuhkan luka dalam Patriak Shi. Patriak Shi lantas mengirim undangan kepada beberapa alkemis dari Wilayah Tengah untuk meramu obat yang sekiranya dapat membantu dia menjadi sembuh dengan imbalan yang besar.


Shi Zhizhou si penatua itu melihat bahwa ini adalah kesempatan untuk dia menaikkan dirinya menjadi Patriak, jiklau Shi Yong Sheng tidak berhasil selamat.


Shi Zhizhou ini lalu mengadakan aksi diam-diam, untuk menghalangi setiap Alkemis yang kiranya mampu meramu obat untuk kesembuhan Patriak Shi Yong Seng.


Fei Ma yang tadinya di kira adalah seorang alkemis, lantas menjadi target penyerangan dua orang ini. Namun sayang sekali didalam penyergapan itu, mereka malahan bertemu dengan Sima Yong.


***


Sima Yong mendengar kisah dari dua orang itu dan memahami permasalahan.


"Ini adalah peluang bagus bagi diriku, untuk mengambil hati Patriak Shi itu, kemudian membeli sebuah Kapal Roh yang memadai" Sima Yong kini tersenyum lebar.


*Bersambung*


   Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di-like, sekedar komen dan vote.


   Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.

__ADS_1


__ADS_2