
Hari baru saja pagi sekali, Matahari bahkan belum terlihat betul di langit timur, cahayanya masih redup benar. Di antara gelap yang samar-samar dan di temani angin musim gugur yang berhembus itu, terlihat satu sosok manusia berpakaian serba hitam keluar dari Losmen Dewa Arak.
Dia berjalan pelan-pelan seakah tidak memiliki tujuan, menyusuri jalanan sisi barat di Kota Tepian Barat. Langkah kaki anak muda itu bergitu ringan, bahkan sama sekali tidak terdengar suara ketika sepatu boot hitam dari kain beludru itu melangkah.
Ketika matahari mulai menampakkan sedikit cahaya di langit timur, pria muda yang berjalan seperti tanpa tujuan itu, selalu berkelok-kelok di emperan toko-toko, hingga pada akhirnya dua berhenti di sebuah bangunan besar yang tidak terlalu mencolok. Dia mendongakkan kepala, membaca tulisan besar-besar yang tertulis di papan diatas bangunan itu. "Kuil Menara Kuno" itulah namanya.
"Kuil? Apakah orang tua itu Yang Fang salah memberi informasi?.
Ku pikir dia berkata ini adalah suatu asosiasi, bukannya kuil kepercayaan tertentu"
Meskipun merasakan perbedaan sesuai penjelasan Yang Fang, Sima Yong tetap melangkahkan kaki tanpa ragu. Dia memasuki halaman Kuil Menara kuno yang masih sepi itu, sembari sesekali melihat-lihat gambar-gambar dan patung di kuil.
"Sepertinya aku adalah orang pertama berkunjung ke kuil ini" gumamnya.
Bau dupa dan wangi-wangian kemenyan langsung menyeruak, menghantam indra penciuman anak muda itu, tatkala dia pada akhirnya masuk kedalam bangunan utama, yaitu aula utama kuil.
Dia mengamati yang sangat terlihat sangat luas penuh gulungan gambar dewa-dewa kuno dan mahluk-mahluk kuno yang di sembah di Benua Penyaringan Dewa. Gulungan-gulungan itu terlihat memenuhi tembok-tembok kuil itu.
Sima Yong kemudian memperhatikan, ada terdapat lambang Yin Yang besar, terbuat dari susunan tegel marmer kuno, yang letaknya di tengah-tengah aula. Susunan itu terlihat di kerjakan secara hati-hati oleh ahli pada lantai kuil, sehingga membuat kesan agung dan hormat ketika siapapun memasuki Kuil Menara Kuno itu.
Sima Yong lalu mengambil hio lalu membakarnya dan bersembahyang khusuk di depan satu Ikon besar dewa pemujaan di Kuil itu.
Selesai dia bersembahyang, tiba-tiba Sima Yong merasakan keanehan di tangan kanannya. Rasanya agak panas dan perih. Lalu anak muda itu menggosok-gosok lembut tangan kanannya di selembar sapu tangan, yang kemudian area panas dan perih di tangan kanannya pelan-pelan membentuk satu tanda atau semacam simbol unik.
Makin lama simbol itu semakin nyata, berwarna merah dan membentuk satu senjata ...
"Pedang? Ini mirip sekali dengan simbol pedang" kata Sima Yong meneliti tangan kanannya. Ukuran simbol itu kira-kira sejengkal panjangnya, mulai dari telapak tangan sampai ketangan.
Karna simbol itu tak kunjung hilang, dia mulai mengacuhkan tanda itu. Sima Yong lantas meletakkan sejumlah manna biru sebagai tanda derma kepada paderi-paderi di Kuil Menara Kuno.
"Salam damai selalu. Kiranya anda akan selalu di berikan berkat dari Langit..."
Sekonyong-konyong seorang muncul seorang paderi dari balik sekat-sekat yang bersusun-susun itu, dan dia membungkuk dalam-dalam dan mulai memberkati anak muda itu dengan bahasa rumit.
Sima Yong merasa risih, ketika kebutan panjang seperti surai kuda, di tepuk-tepuk oleh si paderi sampai-sampai menyentuh bajunya. Akan tetapi dia memahami bahasa kuno yang di gunakan paderi itu, yang terdengar memang tengah memberkati dia, sehingga Sima Yong berusaha terlihat tidak terganggu dengan kebutan yang di tepu-tepuk karahnya.
Paderi itu terlihat mengenakan satu jubah besar berwarna putih bersih, yang saking putihnya terlihat seperti salju yang di tenun menjadi kain. Dengan penampilan seagung itu, rambut mereka tidaklah di cukur pelontos seperti paderi-paderi lain di kuil-kuil pada umumnya, melainkan di gelung keatas, membentuk gumpalan dan diikat dengan pita kecil yang juga berwarna sama.
"Salam damai paderi..." Sima Yong membungkuk balas memberi hormat.
"Aku memilik seorang kenalan yang memberikan slip giok ini..." dia mengulurkan tangannya dan memberikan token slip giok yang malam itu diberikan si Magus tua kepadanya.
"Katanya.. Aku dapat menghubungi dia setelah aku berada di Kota Tepian Barat.
Dapatkah anda memberikan token itu kepadanya?"
Paderi itu melihat sekilas kearah token, dan Sima Yong dapat melihat sinar keterkejutan di mata paderi itu. Buru-buru dia membungkuk kearah Sima Yong,
__ADS_1
"Maafkan mata hamba yang tidak jeli ini"
"Mari ikut hamba. Tuan Yang Fang telah lama menunggu anda"
Paderi itu membuka pintu besar di sudut aula, lalu dia membawa Sima Yong ke lantai dua bangunan itu. Sima Yong memperhatikan, dekorasi di kiri kanan lantai dua itu amatlah berbeda dengan lantai satu. Banyak di pasang simbol-simbol sihir, yang kesannya seperti bumi dan langit di banding lantai bawah.
Saat berjalan di lorong bangunan lantai dua ini, sensasi yang terasa bukanlah sensasi damai seperti yang di rasakan ketika dia di aula lantai satu. Sensasi yang ada di lantai dua ini mirip seperti sensasi ber aura misterius dan mistis.
Sekali lagi Sima Yong bersikap seolah-olah tidak peduli dengan perubahan sensasi itu. Dia hanya menatap lurus kedepan, mengikuti langkah-langkah panjang paderi berjubah putih itu. Mereka pada akhirnya berhenti di sebuah pintu, sepertinya satu ruang kerja, lalu paderi itu mengetuk pintu. "Masuk !" suara tegas dari balik pintu terdengar.
Di kamar kerja yang besar itu, Sima Yong melihat Magus Yang Fang, duduk dan di depannya ada satu meja kerja, dengan beberapa perkamen berisi salinan-salinan tertentu, yang di pentangkan lebar-lebar memenuhi seisi meja.
"Ah... Anak muda.
Kamu pada akhir nya datang juga ke Asosiasi kami ini" Magus itu tersenyum lebar, lalu berdiri dan mendekat ke Sima Yong.
Lalu dengan satu pelukan hangat, seolah-olah dia adalah kenalan lama sekali, atau mereka adalah kenalan baik yang tidak pernah ketemu berpuluh-puluh tahun layaknya, dia memeluk anak muda itu dengan gembira.
Keduanya kemudian duduk di deretan kursi di dalam ruangan itu, lalu Magus tua itu membuka percakapan.
"Apakah urusan anda di Kota ini telah selesai?"
"Tidak. Belum sama sekali. Masih ada dua hal penting yang harus aku kerjakan.
Namun aku berpikir kalau aku sebainya berkunjung ke Asosiasi. Aku selalu merasa penasaran dengan ucapan anda di malam itu. Tolong jelaskan padaku apa itu Perang Suci Relikui Naga sebenarnya?" tanya Sima Yong spontan.
Dan well tentu saja, anak muda itu tidak mau terlihat munafik. Dia memang mendambakan Relikui Naga itu, untuk menjadi tiket nya dan membuka jalan menuju menjadi keberadaan Immortality.
Wajah Magus Yang Fang masih tersenyum lebar. Katanya,
"Sudah kuduga.. Kamu pasti kandidat yang pantas untuk menjadi salah satu Master di perang suci ini. Jarang sekali aku berbuat salah dalam memandang aura seseorang.."
"Tolonglah... Langsung jelaskan garis besarnya. Aku tak sabar untuk mengetahui seperti apa itu perang suci" kata anak muda itu penasaran.
"Baiklah !"
Dahulu sekali, Relikui Naga muncul di wilayah barat sini dan menjadi rebutan antara para Magi. Tidak sebatas Magi dari ras manusia saja. Magi dari ras Dark Elf, Fey dan Imp juga ikut-ikutan saling bantai demi memperoleh relikui naga itu.
Lalu Penatua-penatua para Magi antar ras itu saling berdiskusi untuk menghindari kekacauan dan saling bantai berbagai ras. Mereka lantas menyepakati dan mengatur sebuah kompetisi yang di namakan Perang Suci Relikui Naga.
Tiap-tiap Magi dari empat ras itu akan mengirimkan satu kandidat mereka untuk berperang di kontes perebutan Relikui itu. Mula-mula perang itu diikuti oleh empat orang kontestan saja.
Namun berikutnya, relikui itu menjadi memiliki pikiran sendiri, lalu secara sihir menunjuk tiga Magus tambahan sebagai peserta kontestan tambahan dalam Perang Suci, karena reliki itu menyediakan tujuh Servant di dalam perang itu" hening sebentar...
"Setiap Magus yang akan menjadi Master atau Maha Guru (peserta), akan di beri tanda oleh relikui itu secara sihir. Tanda itulah disebut dengan Command Spell atau Perintah Sihir. Tanpa command spell, seorang Magus tidak akan dapat memanggil Roh Pahlawan dunia dari lain yang di sebut Servant untuk melayani Magus sang Master.
Pelanggaran atau mencoba-coba memanggil Roh Pahlawan Dunia lain, akan membahayakan seorang Magus karena roh itu akan berbalik menyerang Magus. Semakin kuat kemampuan kekuatan sihirmu, maka semakin kuat pula Roh Mitos dunia lain itu"
__ADS_1
Magus tua itu melirik tangan kanan Sima Yong lalu berkata dengan senyum,
"Tanda di pedang di tangan kananmu itu adalah tanda pemberitahuan dari Relikui Naga, yang menunjukkan bahwa kamu di tunjuk untuk menjadi seorang Master dalam perang itu. Itulah Command Spell" kata Yang Fang.
Sima Yong mengelus tandah sihir di tangannya dan menggumam,
"Jadi ini adalah comand spell? Berarti aku dianggap cocok untuk ikut di dalam peperangan relikui itu" dia amat senang.
Tentu saja baginya itu adalah kemudahan, yang tanpa memerlukan surat undangan atau apapun, relikui itu sendiri yang memilih seseorang berkekuatan sihir kuat, untuk berpartisipasi dalam perang suci itu. Dan dia terpilih keberadaannya oleh relikui, di anggap pantas berpartisipasi dalam perang suci. Gembira tentu saja...
"Baiklah ! Aku siap.
Sekarang ini, dapatkah anda mengajarkanku untuk melakukan ritual pemanggilan Roh Pahlawan dunia lain itu?"
"Sebentar..." kata Magus Yang Fang.
"Aku belum menyebutkan Roh seperti apa yang harus kamu panggil menjadi servant nanti" katanya tersenyum.
"Kalau begitu, tolong jelaskan"
"Ada tujuh tipe Roh yang dapat kamu panggil menjadi Servant, membantu kamu dalam perang.
Pertama adalah Roh seorang ahli Saber kuno. Roh type saber ini adalah seorang Pahlawan masa lalu yang ahli memainkan pedang.
Kedua Roh tipe Lancer. Type Lancer ini adalah ahli tombak kuno yang selalu menggunakan tongkat panjang sebagai senjata.
Ketiga Pahlawan Archer. Roh ini adalah pahlawan masa lalu yang menggunakan panah sebagai senjata.
Keempat adalah Roh type Rider. Type ini adalah pahlawan kuat yang berperang menggunakan kuda sebagai tuggangan.
Kelima adalah Roh type Caster. Dia adalah seorang ahli sihir di masa lalu yang pernah menjadi legenda.
Ke enam adalah Roh type Assasin. Roh type ini pada masa hidupnya ratusan ribu tahun lalu, adalah seseorang yang terkenal sebagai ahli dalam membunuh. Senjatanya selalu berbeda-beda tergantung roh assasin siapa yang kamu panggil nanti.
Ke tujuh adalah Roh type Berserker. Ini adalah roh seorang pahlawan masa lalu dari type menyerang secara brutal atau pengamuk.
Umumnya para Master yang kalah didalam perang suci, akan mati di bantai Master dan Servant lain, lalu roh master itu akan berpindah kedalam relikui, ikut memperkuat dan memberi kekuatanbagi relikui itu sendiri " Magus tua itu terengah-engah, setelah menuturkan kisah panjang lebar kepada Sima Yong.
Sima Yong sendiri jadi terpana mendengar penjelasan Magus Yang Fang. Lalu Yang Fang kini bertanya,
"Bagaimana? Apakah kamu telah menentukan dari type atau kelas mana roh pahlawan kuno yang akan kamu panggil untuk menjadi Servant mu? Semua harus sesuai keinginanmu"
Sima Yong menjawab dengan semangat,
"Aku akan memikirkan di kamarku nanti. Sekarang, dapatkah anda mengajarkan kepadaku bagaimana melakukan pemanggilan roh itu?"
*Bersambung*
__ADS_1
Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini. Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca...