
Matahari kini semakin terang. Langit terlihat biru dengan sedikit awan putih tampak melayang cepat tertiup angin, sehingga udara di Gurun Tak Bertepi tidak terlalu panas. Hal inilah yang membuat penonton Perang Suci di Gurun Tak Bertepi semakin betah untuk menyaksikan Relikui Naga mempersembahkan dirinya kepada Magus pemenang perang suci musim kali ini.
Di panggung arena labirin..
Nevertary tampak mulai sedikit memudar.. Katanya.
"Kontrak kita telah selesai. Ijinkan roh heroik ini untuk mohon diri
Roh ku semakin lemah jika berlaa-lama di dunia anda master" senyum yang tidak pernah menghias wajahnya, kali ini terlihat jelas pada bibirnya yang tampak melengkung tipis, terpajang di wajah mungil itu
Sima Yong merasa hati nya sedikit masygul. Dia sudah saatnya harus mengakhiri kontraknya dengan Roh heroik assasin itu. Perang telah usai.
"Aku tidak dapat memberikan apa-apa padamu. Akan tetapi sebagai ungkapan rasa terima kasih ku, maukah kamu menerima benda ini?" tanya Sima Yong.
Dia memberikan dua sarung tangan sihir - item pelengkap bagi para petarung namun benda ini adalah khusus digunakan untuk kekuatan sihir.
"Sarung tangan sihir itu aku buat sendiri, meskipun tidak terlalu bagus karena aku tidak mempelajari secara khusus tentang cara menyuling item sihi dari penggalan/ fragment lima kepingan benda sihir ketika masih di Selatan dulu.
Meski ini tidak se-legend entitas Noble Phantasm yang terkenal, ku harap benda itu akan membantumu, ketika kelak kamu di pangggil seorang penyihir untuk berperang lagi..."
Sima Yong menyerahkan dua sarung tangan sihir ke arah sosok Nevertary yang mulai buram. Assasin itu mengulurkan tangan pucatnya dan mengambil dua benda sihir itu. Wajahnya terlihat makin berseri. Senyum jarang nya semakin jelas. Dia senang di hargai masternya.
"Kelak ketika aku menggunakan benda ini. Ku yakin saat itu aku akan mengingat sosok penyihir kuat yaitu anda.
Anda adalah Magus yang kemampuan sihir nya menyamai Roh heroik yang di panggil para master menjadi servant" suara Nevertary terdengar tertawa sangat keras.
Namun suaranya kian samar terdengar. Sama dengan penampakannya yang makin luntur dari dunia fana ini.
Ketika angin sepoi-sepoi membawa beberapa butiran debu diatas gurun itu, di saat itu juga sosok Nevertary sang Assasin menghilang.
Berbarengan dengan perginya Nevertary, kini di atas panggung arena pertempuran - Perang Suci Relikui Naga tersisa Sima Yong seorang.
Sepi, tiada seorangpun selain dirinya sendiri. Jika dia renung-renungkan lagi, rasanya baru beberapa saat yang lalu, para Magi dan penyihir-penyihir papan atas bertanding dengan nya memperebutkan Relikui naga.
Sima Yong lalu mengulurkan tangan nya ke udara dan secara ajaib, tiba-tiba satu benda sebesar lengan orang dewasa dan panjangnya kira-kira dua jengkal telah berada di tangannya.
"Relikui Naga !" suara penonton terdengar seperti gemuruh.
Bertepatan ketika dia memegang Relikui Naga itu, arena labirin juga memudar. Adapun sosok fisik Sima Yong sendiripun pada kenyataannya ikut-ikutan meredup - pudar dan hilang. Angin berdesir sepi membawa butiran debu di Gurun Tak Bertepi.
Sima Yong tahu-tahu telah tersadar ketika dirinya tengah berdiri di tepi danau penyeberangan seorang diri - teleportasi.
Tidak ada seorang pun di sekitar danau penyeberangan ketika itu, bahkan para penyihir pemilik sampan dan perahu yang selalu menyeberangkan orang ke tanah gurun itu, tidak terlihat satu orang pun.
"Barangkali semua masih terpaku di arena pertunjukan Gurun Tak Bertepi" gumamnya
Dan dalam satu tarikan nafas pertama, walaupun tidak diberi aba-aba, Sima Yong tahu pasti satu hal yang harus dia lakukan .. "Lari !"
__ADS_1
Lari adalah jalan terbaik setelah memenangkan benda surgawi anugerah para dewa seperti Relikui naga ini. Terlebih lagi, di tangannya terdapat dua Noble Phantasm, Tongkat sihir teleportasi dan Mata Ratu vampire.
"Banyak orang yang rela mati untuk mendapat kan benda-benda ini" batin Sima Yong.
Sima Yong telah berpengalaman dengan memenangkan relikui serpua di Kota Kuno Negri utara pada waktu itu. Terang saja dengan posisi persediaan di cincinnya yang menyerupai gudang harta berjalan ini, akan membangkitkan niat jahat banyak orang dan pemburu Noble Phatasm. Menyingkir adalah jalan terbaik yang paling aman untuk saat ini.
Tubuhnya langsung di kelilingi angin tornado, yang lantas membawa dia menghilang dalam satu kedipan mata. Sungguh kemampuan anak muda itu semakin mengerikan.
Dia terlihat seperti mahluk surgawi yang tengah melangkah bersama angin - manusia suci pengendali angin layaknya, dan menimbulkan pemikiran kalau dia adalah dewa-dewa tatkala orang mendongakkan kepala melihat ke arah langit.
******
Sementara itu, ketika bayangan Sima Yong menghilang bersamaan mengikuti pupusnya arena Labirin di Gurun Tak Bertepi, suasana menjadi geger.
"Bagaimana dia bisa menghilang seperti itu?"
"Ah.. Bukankah dia mengantongi Tongkat sihir Teleportasi? Itu adalah sebuah Noble Phantasm langka yang dapat membuatnya berteleportasi dalam sekejab mata"
Ribut terdengar diskusi diantara penonton ketika melihat anak muda pemenang Perang Suci menghilang dari arena. Mereka menyayangkan sosok Magus yang pergi tanpa pamit itu, sementara banyak sekali yang kepingin untuk bercakap-cakap, sekedar memberi ucapan atau menawarkan kerja sama atau bergabung di Organisasi Suci mereka.
Di tengah-tengah riuh suara penonton para ahli sihir yang bubar seketika dan kembali ke negri mereka -Utara, Selatan, Barat dan Timur,
Saat itu secara diam-diam banyak sekali sosok-sosok penyihir dan pemburu benda berharga Artefak maupun Relikui ikut menghilang. Modus yang dapat di tebak adalah mereka berniat memburu anak muda pemenang perang suci dengan ancang-ancang mengantongi benda-benda suci di cincin penyimpanan anak muda itu.
******
Kota Tepian Barat yang gemerlap dan modern, mulai beranjak menjadi lengang pada saat memasuki waktu-waktu tengah malam. Ketika itu suasana masih dalam hawa musim gugur dimana angin sejuk dari utara berhembus dingin.
Malam telah larut sekali ketika orang banyak telah berada di ranjang, menikmati intim nya selimut dan ranjang yang hangat. Meskipun demikian, pada satu lorong hening - yang semakin terasa sepi karena waktu telah tengah malam, masih nampak adanya kegiatan manusia.
Adalah terdapat satu penjual bapao yang membuka warung kecil nya berdindingkan kain blacu sederhana dengan peralatan beberapa bangku serta meja seadanya. Namanya adalah Heng yeye, demikian pemilik tenda bapao itu biasa dipanggil.
Lampu lentera di warung sederhana itu demikian redup sinarnya, disertai kepulan asap hitam kecil nya yang sedikit berbau, seolah memberi tanda pada para pejuang malam untuk mampir d tenda sederhana itu, sekedar membeli dagangan bapao untuk menghangatkan perut - menghindari rasa lapar tengah malam.
Anak muda tampan itu yang mengenakan pakaian serba kelabu, mulai dari pita ikat rambut, tunik panjang yang dililit sabuk satin - yang kembali di tutupi jubah kelabu dan sepatu kelabu - semua berwarna senada, terlihat menghampiri juragan penjual roti kukus itu.
"Berikan aku lima roti kukus tanpa isi. Yang satu akan ku makan disini, yang empat harap di bungkus" kata anak muda itu. Dia menggeser satu bangku dan duduk disitu, menunggu pesanannya di sajikan penjual itu.
Baru saja hidangan bapao kukus di hidangkan di meja si anak muda, sekonyong-konyong dari lorong utara - arah gelap nya malam yang di selimuti kabut kelam dingin, muncul satu orang perempuan setengah tua.
Perempuan itu berpenampilan unik dengan rambut setengah putih, di konde tinggi keatas, di sertai hiasan tusuk konde mencolok berwarna keemasan tergantung berayun-ayun.
Pakaian yang perempuan itu kenakan adalah jubah besar dari bahan terbaik, yang membentuk potongan baju seperti seorang ahli agama dari pemuka organisasi ordo tertentu.
Perempuan itu berjalan tidak cepat dan tidak juga pelan, namun satu hal yang membuat orang tertarik melihatnya adalah, langkah kaki nya seperti tidak menyentuh tanah. Anak muda itu tidak memalingkan muka, namun telinga nya terlihat berkedut kecil.
"Magus" gumam nya pelan.
__ADS_1
Adapun tongkat di tangan oeremluan tua itu di ketuk-ketuk di jalanan dengan irama yang selaras langkah-langkah nya. "tuk - tuk - tuk" terdengar aneh dan mistis.
Dengan acuh tak acuh, perempuan itu berkata kepada..
"Penjual bapao... Tolong hidangkan sepiring bapao anda. Aku mau bapao panas-panas, yang isi nya abon daging. Tak perlu dibunhkus, aku akan memakan semuanya di sini" dia pun menyeret satu bangku kosong lainnya, lalu duduk dengan gaya tidak peduli.
Ketika penjual roti kukus itu tengah sibuk dengan anglo dan api untuk memanaskan bapao yang ada, perempuan tua itu lantas bersuara..
"Malam yang dingin bukan? Menyantap roti kukus malam-malam di cuaca dingin seperti itu memang amat cocok bagi pejuang malam..
Apakah anda baru saja datang dari Tanah Selubung?" tanya perempuan tua itu.
Meskipun dia mengajukan pertanyaan seperti itu, namun perempuan tua itu tidak memandang kepada siapapun - mata nya tertutup seperti orang tengah bersemadi saja.
Sontak saja anak muda berpakaian kelabu itu menoleh ke kiri dan ke kanan. Tidak ada seorang pun selain dia dan perempuan itu yang menjadi pelanggan di juragan roti kukus.
"Apakah anda bertanya kepadaku?" balik bertanya si anak muda itu. Mulutnya terus mengunyah roti kukus besar yang masih panas mengepulkan asap.
Masih dengan mata tertutup, perempuan itu berkata..
"Hanya kita berdua yang ada di tenda bapao ini. Itu berarti pertanyaan itu untuk anda"
Dengan menunjukkan mimik serupa orang terkejut, anak muda itu berkata..
"Oh.. Akan tetapi aku tidak mengerti maksud pertanyaan anda' jawab nya singkat.
Meskipun mata perempuan itu tertutup, namun dahi nya menunjukkan gerakan kecil, mengerut pertanda dia seorang merasa tidak puas dengan jawaban anak muda itu.
"Sihir...! Akan tetapi aku mencium aroma sihir di tubuh anda" hening sejenak.. Perempuan itu memasukkan mantra sihir dalam suaranya, mencoba menerobos benak si anak muda. Gagal ! Dia cukup kuat ! Pikir perempuan tua.
"Apakah anda membawa suatu benda berharga yang di cari-cari kaum Magi? Noble PHantasm misalnya..." kini perempuan itu membuka mata nya. Dia menatap anak muda itu tajam.
Hening lagi, bahkan kini mencekam !. Udara dingin tiba-tiba berubah seperti akan membeku. Hawa pertempuran dengan cepat meluap, membuat udara menjadi bertambah membeku. Si penjual roti kukus melihat gelagat yang kurang baik. Tangannya menjadi gemetar mengipas bara api di tungku tempat pemanas roti kukus.
Anak muda yang tengah mengunyah roti kukus itu berhenti dengan kegiatan mengunyahnya. Mata nya berubah menjadi mencorong - berbinar-binar seperti kerlip bintang yang tidak terduga.
Tiga kerdipan mata berlalu.. mendadak sebuah suara memecah keheningan yang membeku itu,
"Ah.. Rupa-rupanya disini lah para pejuang malam berkumpul"
Dari sudut lorong lainnya, satu bayangan muncul dengan penampilan yang terlihat agung. Itu adalah seorang pria yang sulit di terka usianya. Wajahnya terlihat muda, akan tetapi pembawaannya seperti seseorang yang telah mengalami pahit getirnya kehidupan dunia ini. "Dia pasti setidak nya berusia 100 tahun" batin anak muda itu.
Rambut emas pria itu terlihat disisir rapih kebelakang, dengan hiasan perak menyerupai mahkota kecil di dua sisi rambutnya. Pakaiannya adalah kain tenunan terbaik yang pernah ada, berwarna hijau lumut dengan potongan rumit pertanda pakaian yang di buat khusus untuk kaum bangsawan.
Di punggung pria agung itu terlihat satu kotak panjang untuk tembaga khusus menyimpan senjata panjang, yang dengan mudah dapat di terka kalau itu adalah anak panah.
"Dark Elf" desis perempuan tua itu pelan..
__ADS_1
*Bersambung*
Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini. Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca...