
Suara ribut diantara penonton terdengar ketika Junior Master Sekte Pedang Awan Peng Fai menyebutkan nama "Lin Hong"
Banyak orang yang merasa asing dengan nama Lin Hong tersebut. Tentu saja, para siswa di angkatan mereka umumnya telah menyelesaikan masa studi di Sekte Pedang Awan. Tersisa beberpa orang yang kini menjadi Penatua yang masih mengenal nama Lin Hong itu.
"Kakak Lin Hong? benarkah?" desis Fan Li Hua, Master Puncak Merah saat ini.
Dimasa itu, Lin Hong adalah murid utama atau murid kunci dari Puncak Merah mereka. Lin Hong adalah murid Puncak Merah dengan kultivasi tertinggi. Gadis itu bahkan mewakili Puncak Merah didalam pertarungan memperebutkan gelar jenius di Sekte Pedang Awan.
"Pantas saja dia mampu meng-eksekusi teknik tinggi "Tarian Dewi Perang". Teknik yang hanya akan di turunkan ke murid kunci di Puncak Merah" Fan Li Hua melajutkan pikirannya.
Sementara itu Yi Ping dan sembilan teman-temannya yang sejak awal menanti-nantikan Master mereka melumpuhkan sosok berjubah putih itu melongo kaget.
"Ini bukan akhir seperti yang mereka perkirakan" pikir Yi Ping lemas.
Sementara itu, di panggung arena turnament antar jenius, Master Junior Peng Fai terlihat sangat gembira, ketika dia berbincang-bincang singkat dengan gadis berjubah putih itu.
Penga Fai kemudian menyadari tatapan heran semua orang dan urid-murid Sekte Pedang Awan. Untuk menghindari kesalah pahaman, Peng Fai buru-buru memperkenal kan Lin Hong..
"Saudara-saudara semua murid Sekte Pedang Awan dan Tamu yang terhormat, ijinkan aku dengan rendah hati memperkenal tamu dari Barat. Wanita cantik ini adalah Lin Hong, saudari kami sesama murid sekte Pedang Awan ketika masih remaja. Nona Lin Hong ini berasal dari Puncak Merah sekte kami"
Begitu mendengar sebutan Puncak Merah, seketika riuh terdengar suara gegap gempita dari kelompok murid-murid Puncak Merah yang kebanyakan kaum wanita itu. Selama ini Puncak merah selalu menjadi kelompok terbawah di antara lima puncak lainnya.
Namun pertunjukan teknik pedang yang di perlihatkan Lin Hong tadi, benar-benar membuka mata semua orang. Murid-murid Puncak Merah kini bergelora didalam semangat yang membara. Semua murid kini ingin berlatih menjadi ahli seperti yang di pertunjukkan Lin Hong tadi.
******
Peng Fai baru saja mengajak Lin Hong duduk di kursi VIP, ketika sebuah suara terdengar membahana dari angkasa...
"Bagus... jadi kamu benar-benar murid dari penyihir itu"
Sekali lagi penonton dan murid-murid di Sekte Pedang Awan di buat terkejut.
"Mengapa sedemikian banyak ahli-ahli tingkat tinggi yang muncul di sekte kami?" demikian murid-murid itu saling berbicara dalam nada ribut.
Dari arah langit tampak burung raksasa yang diatas nya berdiri sepuluh praktisi yang memegang pedang di tangan mereka.
Diantara sepuluh praktisi itu, terlihat dua sosok yang berbeda jauh dibanding delapan orang lainnya. Kultivasi dua orang itu amat tinggi.
Dua sosok itu terlihat seperti seseorang ahli yang setengah tua, berusia 65 tahun. Namun kenyataan sebenarnya adalah, dua orang itu telah berusia lebih dari 400 tahun. Perjalanan hidup menuju keabadian, membuat mereka selalu terlihat muda dibanding usia sebenarnya.
__ADS_1
Lin Hong mengeluh di dalam hati,
"Celaka... dua setan tua ini juga mengejar aku hingga ke utara sini" Lin Hong menghela nafas dalam-dalam. Dia segera mengenali perempuan itu adalah Xia Chyou dari Klan Xia (ahli pedang dan ahli sihir). Sementara laki-laki tua itu adalah Qiao Qin, seorang ahli pedang dari Wilayah Selatan.
Kultivasi dua sesepuh ini yang paling tinggi diantara semua delapan praktisi lainnya, yaitu di ranah Alam Pencerahan Suci.
Jika pembaca masih ingat dengan mereka, dua tokoh sepuh ini muncul di ujung dunia wilayah barat, ketika kaum muda Klan bintang lima salin berlomba memperebutkan totem di Domain Elf abu-abu dimasa lalu.
***
Sepuluh orang itu mendarat dengan teknik yang indah diatas Panggung Arena Kompetisi antar Jenius Sekte Pedang Awan.
Jika sebelumnya semua orang di buat kagum melihat pertempuran diantara ahli-ahli Alam Raja (Lin Hong meawan Peng Fai), kini mereka semakin terkejut.
Dua orang tua itu memiliki kultivasi yang belum pernah mereka saksian sebelumnya, apalagi pernah mereka lihat. Perempuan dan laki-laki tua itu berada di ranah Alam Pencerahan Suci bintang satu dan bintang tiga, suatu peringkat yang belum pernah ada di wilayah utara.
Peng Fai melangkah mundur sambil tangannya menarik Lin Hong dengan keras,
"Siapa mereka?" desis Peng Fai.
Dengan geram Lin Hong berkata,
"Oleh karena merekalah, aku dan temanku Yu Long terlunta-lunta di Wilayah Barat, karena guru kami masih belum memunculkan diri. Mereka inin merebut sesuatu dari Master aku. Namun kamu tidak perlu takut. Ada seseorang ahli bersamaku yang akan mengatasi mereka semua"
"Bukankah kamu selama ini lolos dari pengejaran kami? Kali ini kamu bernasib sial..." dia meringkik tertawa
"Pada hal kami sebenarnya tidak berniat jahat. Kami hanya ingin memastikan, ketika gurumu itu keluar dari Domain Elf abu-abu, dia akan menyerahkan Totem itu kepada kami berdua" Suara Xia Chyou perempuan tua itu terdengar memerintah dan tak dapat di bantah.
Mendengar itu, Lin Hong dengan tiada mengenal takut langsung menjawab,
"Cih kamu perempuan tua yang sebentar lagi akan mati karena usia, bukannya kamu pergi sujud bertobat dan banyak berderma kepada orang miskin, namun lihatlah......." Lin Hong membuat wajah yang dengan tatapan jijik kearah Xia Chyou...
"Kamu masih terlihat rakus dan berangan-angan untuk menguasai Totem Elf abu-abu. Ketika nanti guruku keluar dari domain itu, aku bertanya-tanya... apakah kamu masih akan hidup mengingat kultivasimu telah terhenti dan tidak meningkat. Bukankah dengan demikian kamu sebenarnya telah di ambang batas kematian?" dia benar-benar geram. Nenek tua inilah yang memerintahkan banyak ali untuk memburu dia dan Yu Long, sampai-sampai mereka hidup demikian menderita di Wilayah Barat.
Seperti petir yang menyambar di siang hari. Cacian dan sumpah serapah Lin Hong itu seperti tangan kosong yang menampar pipi Xia Chyou dengan keras. Tangan Xia Chyou lanta terjulur kedepan dan sekumpulan energi berwarna ungu terlihat mencekik leher Lin Hong.
Lin Hong gelagapan, sementara Peng Fai menjadi marah. Master Sekte Pedang awan itu menebas energi ungu yang melilit leher Lin Hong..
"Trang..!"
__ADS_1
Bukannya energi itu menjadi buyar, malahan Peng Fai terlempar beberapa tombak. Dia memuntahkan seteguk darah. Peng Fai terbelalak dalam keterkejutan..
"Iblis perempuan ini sungguh sakti. Tidak sia-sia kultivasinya terbaca di ranah Alam Pencerahan Suci bintang 1".
Sementara itu Lin Hong yang tengah gelagapan karna tercekik, tidak jua terlihat takut dan gentar.
"Hayo ucapkan permintaan maaf. Jika tidak, perempuan tua ini akan mencabut keluar lidah mu yang tajam itu" bentak Xia Chyou sadis.
Xia Chyou tertawa terbahak-bahak. Namun Pria tua yang berdiri disamping nya bernama Qiao Qin terdengar berkata,
"Tidakkah kamu terlalu bertindak jauh? jika anak perempuan itu sampai mati... sia-sia rasanya aku melakukan perjalanan jauh hingga ke utara sini. Lepaskan dia"
Selepas mengucapkan kata-kata itu, serangkum energi pukulan terlihat keluar dari telapak Qiao Qin dari mematahkan energi ungu milik Xia Chyou.
"Duar..!" energi ungu itu buyar.
Semua orang yang ada disana bertambah lagi rasa terkejutnya. Laki-laki tua ini bahkan jauh lebih sakti dibanding perempuan tua yang bengis itu.
Lin Hong terduduk sambil memegang lehernya yang kini berwarna kebiruan akibat cekikan energi ungu tadi. Tatapan matanya sangat keji ketika melihat dua pasang mata Xia Chyou...
"Perempuan tua iblis... aku pastikan kamu kan menyesal" desis Lin Hong
Lin Hong lalu melakukan gerakan bersiul dengan keras,
"Suiiiiiiit"
Kali ini seperti tidak ada habis-habisnya semua orang di arena Puncak Biru di jejali rasa terkejut. Langit seketika berubah warna menjadi jingga, seperti warna matahari yang letih.
Sesosok tubuh manusia melompat dalam gerakan anggun dari arah kerumunan penonton. Ketika dia telah berdiri diatas panggung arena, semua melihatnya. Itu adalah seorang pria tampan berpakaian sastrawan. Tampak di punggung nya seorang pria yang menutup mata seperti tertidur.
Bukan penampilan yang yang membuat orang-orang terkejut. Namun aura yang terpancar dari sastrawan itu yang membuat mereka ingin pingsan karena tertekan...
"SAINT...!"
"Demi kaum suci... Sastrawan itu seorang SAINT"
Banyak orang yang kemudian terduduk lalu memberi hormat kepada SAINT itu...
*Bersambung*
__ADS_1
Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di-like, sekedar komen dan vote.
Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.