
Setelah malam pertarungan uji coba kekuatan diantara Sima Yong dengan Aqildi Ayel berlalu, Patriak Xie terlihat erharap banyak akan kemampuan Sima Yong untuk menyatukan dua artefak yang rusak itu.
"Anak muda, apakah anda yakin memiliki ketrampilan dan kemampuan seperti seorang refiner? ...." Patriak Xie kceplosan berbicara, namun buru-buru dia melakukan koreksi.
"Maksudku, aku tidak ingin dua artefak itu akan menjadi lebih rusak dan tidak dapat di renovasi sama sekali" Wajah Patriak Xie terlihat agak cemas.
Dengan nada sabar Sima Yong bersuara,
"Anda tidak perlu meragukan kemampuanku" jawaban Sima Yong seperti itu dia harapkan akan menenangkan Patriak Xie.
"Aku sendiri biar bagaimanapun adalah ras manusia campuran jingling. Tentu saja dengan setengah darahku seperti jingling ini, membuat aku paham dengan beberapa teknik-teknik penempaan menggunakan kekuatan jiwa seperti layaknya seorang refiner. Aku telah mempelajari teknik itu beberapa waktu yang lalu"
Menedengar ha itu, Patriak Xie langsung merasa lega. Lalu dengan suara yang lantang dia menegur dan memerintahkan pemain musik untuk melanjutkan permainan musik mereka,
"Mengapa kalian menjadi sunyi seperti pemain musik di acara pemakaman? segera mainkan lagu tergembira dan kira melanjutkan acara pesta ini" suara nya menyentak para pemusik.
"Mainkan musik gembira !"
Serta merta setelah memperoleh aba-aba dari Patriak Xie, musik gembira langsung di mainkan. Orang-orang yang tadinya diam terpaku karena terkejut dengan kemunculan Aqildi Ayel, langsung berlarian mengeliling api unggun, menari dan menyanyi.
Suara gesekan biola serta tabuhan gendang membuat mereka teringat kegembiraan sebelumnya, mereka hadir untuk memeriahkan resepsi pernikahan keluarga bangsawan. Jadi semua orang seharusnya bergembira. Wajah dua pengantin yang tdainya murung itu, kini kembali bercahaya dengan warna merah muda, pertanda kegembiraan telah datang menghampiri lagi.
>>>>>>
Ini adalah hari pertama sejak pesta api unggun pernikahan Koldigir kakak Orhideya, Sima Yong pergi menuju tenda dimana merupakan tempat tinggal Patriak Xie.
Sesuai janjinya, Patriak Xie meminta Sima Yong datang ke tenda patriak, dan mereka akan bersama-sama menuju Domain Qilin, yaitu gudang tempat penyimpanan artefak Klan Qilin.
Mereka berdua lalu terbang menuju satu-satunya tanah berbukit di lapangan rumput luas itu.
Sima Yong melihat, tidak terdapat sesuatu yang istimewa, yang menunjukkan bahwa di bukit berumput itu terdapat sebuah bangunan atau tempat istimewa yang menjadi gudang penyimpanan harta Klan Qilin.
Namun Sima Yong hanya diam, dia enggan bertanya. Dia tidak ingin sampai terkesan sebagai seorang yang terihat mengincar harta Klan Qilin itu (Padahal dia memang mencari Relikui Qilin sesuai dugaannya"
"Di tengah-tengah bukit inilah terdapat sebuah ruang spasial yang kami sebut Domain Qilin. Domain Qilin itu adalah gudang tempat paling aman bagi Klan kami menyimpan semua barang-barang peninggalan leluhur kami ras Qilin"
Sima Yong mengangguk kepala, mengikuti saja ketika Patriak Xie membacakan mantra untuk membuka Domain Qilin itu.
"Wush..."
__ADS_1
Sebuah lingkaran terbentuk di depan mereka berdua, yang mana lingkaran itu terjadi setelah mantra di bacakan. Patriak Xie lantas memalingkan muka ke arah Sima Yong dn menjelaskan,
"Ini adalah satu-satunya pintu masuk kedalam Domain Qilin. Di sekte ini hanya Patriak dan Shaman Suku Wu Yi saja yang dapat membuka akses masuk ke domain"
"Mari kita masuk" katanya, yang mana dia langsung melangkah melewati lingkaran itu dan diikuti Sima Yong.
Keadaan di dalam Domain Qilin itu kurang lebih seperti sebuah isi gua yang luasnya kira-kira 100 Lie (1 lie adalah 500 meter).
Di dalam gudang itu terdapat banyak sekali patung-patung kecil berwujud Qilin, disamping senjata-senjata berbagai peringkat. Akan tetapi itu tidaklah aneh. Klan Qilin yang meng-kalim diri sebagai keturunan ras Qilin, serta melakukan pemujaan ke mahluk Qilin memang selalu mengumpulkan mahluk mitos itu dalam berbagai bentuk.
Di sudut lain domain Qilin itu, terdapat rak-rak buku yang berisi salinan teknik ela diri, kultivasi maupun sejarah yang menjadi Klan Qilin dalam berlatih.
"Di tengah-tengah sana adalah tempat untuk bermeditasi yang juga cocok menempa sebuah senjata" Patriak Xie menunjuk sebuah spot yang terang penuh cahaya, tepat di tengah-tengah ruangan domain itu.
"Aku yakin disana kita akan menemukan fragment artefak yang gagal di satukan oleh Aqildi Ayel" keduanya bergegas menuju bagian tengah di ruang domain qilin.
Benar saja, sesuai dugaan mereka. Di spot yang terlihat cocok sebagai tempat berkultivasi itu. keduanya melihat dua potong fragmen yang telah berubah bentuk menjadi seperti cairan, dan dua benda itu melayang-layang di udara, sekitar satu kaki jaraknya dari tanah.
"Itu adalah dua fragment yang gagal di satukan Aqildi Ayel" teriak Patriak Xie.
Sekali lagi dengan suara yang terdengar cemas, Patriak Xie memohon...
"Tuan muda Yong, anda dapat memperbaiki lalu menyatukan kedua fragmen itu bukan?" Wajahnya terlihat penuh harap.
"Apakah anda akan percaya jika aku mengatakan bahwa ketua Sekte Hui Tianshi, yaitu Master Huang Chi sendiri yang melatihku dalam bidang penyulingan senjata atau menjadi seorang refiner?"
Sima Yong pada akhir nya mengungkapkan bahwa dia mendapat bimbingan khusus dari Huang Chi untuk menjadi seorang refiner.
Patriak Xie ternganga. Mulut nya terbuka dalam keterkejutan besar.
"Si Tua Huang Chi itu sendiri yang melatih anda menjadi seorang refiner?" dia ternganga kira-kira setengah bakaran hio.
Kini wajahnya tidak cemberut lagi.
"Jikalau demikian adanya, kini hatiku menjadi lega. Seluruh perbaikan artefak ini ku percayakan kepada anda. Ahli-ahli dari Sekte Hui Tianshi tidak pernah gagal dalam menyuling" Patriak Xie kini terlihat bersemangat lagi.
Setelah memberikan sebuah token kepada Sima Yong, Patraik Xie langsung berpamitan meninggalkan Sima Yong seorang diri. Kini hatinya lega, karena seseorang yang memiliki kemampuan.
Karena akses memasuki domain itu hanya dapat dilakukan oleh Patriak Xie sendiri atau Shaman Suku Wu Yi, Aqildi Ayel maka patriak memberika satu token kepada Sima Yong. Kelk ketika dia menyelesaikan menyuling dua artefak tersebut, Sima Yong tinggal menghancurkan token di tangannya. Niscaya Patriak Xie akan datang dan membuka pintu Domain.
__ADS_1
Sepeninggalnya Patriak Xie, Sima Yong memperhatikan dua fragment yang mencair itu. Tangannya terjulur kedepan dan menyentuh dua fragmen itu.
"Beruntung sekali energi didalam dua benda ini belum pudar. Aku masih dapat menyelamatkan mereka"
...****************...
"Cukup..!"
Sebuah suara terdengar menggelegar di arena kompetisi antara jenius muda Sekte Pedang Awan.
Suara itu mengandung hawa Qi yang amat kuat. Orang-orang bahkan merasakan tubuh mereka seperti lumpuh setelah mendengar suara yang mengandung tekanan itu.
Chang Bingjie, jenius dari Puncak Hijau itu sampai-sampai pedang di tangannya terlepas, kerena terkena tekanan kuat dari suara yang menggelegar itu. Pedang yang tadinya telah terarah di nadi Wan Juqing telah jatuh, dan dia terbelalak memandang kearah angkasa.
"Wush..."
Seorang pria muda berwajah yang mengenakan pakaian seperti seorang Imam Agama Tao melayang dengan ringan, turun dari angkasa.
Wajah orang itu begitu bercahaya, pertanda dia memiliki kekuatan Qi yang amat dalam. Baju longgarnya meliuk ditiup angin, dengan gelungan rambut di kepala yang diikat rapih dengan kain satin menambah kesan berwibawa bagi siapapun yang memandangnya.
"Junior Master Sekte !" semua orang berseru terkejut ketika melihat pria muda itu turun dari angkasa.
Chang Bingjie buru-buru membungkuk memberi hormat kepada Junior Master Sekte,
"Junior Master Sekte. Terimalah hormat Chang Bingjie.
Junior Master Sekte itu tersenyum bijak dan berkata,
"Aku tidak mengijinkan terjadi pertumpahan darah di kompetisi antar jenius sekte. Ajang ini hanyalah untuk menlihat siapa kandidat terkuat Sekte, yang kedepannya akan menjadi murid inti yang menjadi perhatian Sekte"
Junior Master Sekte itu lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh arena di Puncak Biru itu,
"Aku harap semua murid Sekte Pedang Awan tidak menganggap ajang ini sebagai ajang saling memusuhi dan bantai membantai diantara lima puncak sekte. Jika saja aku mengetahui ada yang berniat memecah belah diantara lima puncak sekte, maka aku tidak akan segan-segan mengambil tindakan tegas"
Kembali tatapan nya beredar memperhatikan ke arah ribuan penonton dengan penuh wibawa. Junior MAster Sekte itu tidak menyadari. Diantara penonton kompetisi itu, seorang perempuan terlihat sangat terkejut dan berseru pelan,
"Peng Fai? dia adalah Junior Master Sekte Pedang Awan?"
*Bersambung*
__ADS_1
Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di-like, sekedar komen dan vote.
Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.