
"Bangun !"
"ayo Anak muda... Bangun !"
Sebuah suara terdengar di benak anak muda kita, Sima Yong. Dia lalu mencoba menggerakkan tubuhnya untuk bangun..
Rasanya berat sekali. Semua tulang-tulangnya serasa akan rontok. Matapun demikian berat, memaksanya untuk kembali tidur. Namun suara Hei Jian tetap mendesak dia untuk bangun, dari ketidak sadaran itu.
"Bangun !
Ada yang harus aku tunjukkan kepadamu !" sekali lagi suara Hei Jian mendesaknya.
Sima Yong lantas berusaha lebih keras untuk mencoba bangun, dengan keadaan yang limbung itu. Akhirnya dengan pandangan yang masih berkunang-kunang dia berhasil membuka matanya.
Saat itu dia melihat anak itu Hei Jian tengah berdiri dan berkacak pinggang di hadapannya. Dirinya sendiri terlihat sementara terbaring di pantai kecil pada sebuah telaga. "Telaga? Bagaimana bisa aku berada di sini..."
"Ada apa senior membangunkanku?" Sima Yong lantas mengecek dan melihat disekelilingnya...
"Ini adalah dasar jurang tempat aku jatuh?" seketika Sima Yong teringat kejadian sebelumnya, ketika dia di hadang Patriak Klan Xu.
"Rupa-rupanya ketika terjatuh kedalam jurang dalam keadaan pingsan, telaga kecil ini yang pada akhirnya menjadi penyelamatku" Batin Sima Yong.
"Ayo ikut aku !" titah Hei Jian.
"Senior..
Seluruh badanku masih terasa sakit. Tulang-tulangku mungkin akan rontok jika anda memaksaku bergerak sekarang.
Biarkan aku bermeditasi sebentar, biar seluruh meridianku menjadi stabil" Kata Sima Yong.
Hei Jian memperlihatkan wajah merengut. Akan tetapi dia membiarkan Sima Yong bermeditasi, untuk mengembalikan kesadaran dan stamina tubuhnya.
Beberapa saat kemudian,
"Ayo kita pergi" kata Sima Yong.
Hei Jian lantas memimpin jalan, menyusuri jalanan berbatu-batu itu. Tidak lama kemudian,
"Lihatlah disana... Itu dia penemuan terbesarku!"
Sima Yong menganga lebar ketika melihat penampakan didepannya. Itu adalah sebuah reruntuhan istana kuno. Megah, kuno dan berhawa berbahaya, namun menimbulkan perasaa segan ketika menatapnya.
Hei Jian lantas berkata,
"Inilah dia, sebuah reruntuhan Klan Kuno yang masih memiliki aliran hawa murni peringkat tinggi"
Sima Yong mengamat-amati bangunan runtuh itu. Dia masih tidak percaya dengan kata-kata Bagunan bekas Sekte Kuno.
"Senior Hei Jian jangan bermain-main.
Tidak sembarangan reruntuhan bangunan kuno seperti ini, lalu dapat dikatakan sebagai bekas Sekte Kuno" kata Sima Yong.
"Anak bodoh !
Aku telah hidup berpuluh tahun didalam Sekte Kuno kami Sekte Raja Pedang Terbang. Jadi tentu saja aku mengenali aura yang melekat di bangunan ini.
__ADS_1
Auranya terasa begitu dahsyat seperti Sekte Raja Pedang Terbang kami"
"Hanya ada satu jalan untuk menemukan jawabannya" kata Sima Yong.
"Mari kita masuk dan mengeksplorasi bangunan ini"
Keduanya lantas memasuki reruntuhan bangunan megah itu. Tampak Sima Yong dibuat terkagum-kagum,
"Aliran Hawa Murni disini masih saja terasa kuat hingga 10 kali lipat dibanding hawa murni diluaran.
Aku tak dapat membayangkan, bagaimana derasnya hawa murni di klan ini, ketika mereka masih bergabung di domain sekte kuno?"
Hei Jian tertawa katanya
"Tentu saja hawa murni didalam bangunan tatkala masih berada di domain Sekte kuno, adalah jauh lebih deras dari saat sekarang.
Tak heran kalau kemudian kelompok sekte kuno itu selalu menghasilkan ahli-ahli peringkat atas.
Bahkan tanpa menggunakan sumber daya berlebihan saja, seseorang telah dapat berkultivasi memanfaatkan aliran energi yang tebal ini"
Keduanya lantas mengobrak-abrik bagian dalam bangunan, mencari-cari sesuatu yang dapat di jadikan petunjuk.
Pada akhirnya setelah mengumpulkan banyak catatan yang kemudian dicoba satukan, Sima Yong menyimpulkan,
"Benar sesuai kata-kata anda senior Hei Jian.
Ini adalah reruntuhan sekte Kuno yang dahulunya di huni oleh kaum Elf yang pada masanya di kenal dengan nama Sekte Raja Pedang Ras Elf.
Sekte ini sesuai penjelasan yang aku dapat dari relikui Phoenix, adalah salah satu Sekte Puncak yang pada akhirnya seorang ahli papan atas mereka berubah menjadi immortal dan meninggalkan satu relikui yang saat ini menjadi rebutan para ahli, yang bermimpi untuk menerobos kultivasi tertinggi, Immortality" Sima Yong menjadi makin bersemangat.
Siapa tahu masih ada tersisa petunjuk yang menjelaskan dimana letak relikui peninggalan Raja Pedang Elf ini"
Keduanya lantas membongkar-bongkar, mencari-cari petunjuk yang ada. Akan tetapi hingga malam menjelang, tak ada juga petunjuk apapun yang menyebutkan dimana keberadaa relikui Raja Pedang Elf.
"Tidak perlu terlalu terburu-buru. Masih ada esok hari untuk mencarinya" kata Hei Jian.
Hei Jian lantas menarik tangan Sima Yong. Katanya,
"Mari kita pergi lihat. Seperti apa dungeon yang dimiliki Sekte Raja Pedang Elf ini.
Jika cocok dengan kultivasi kamu, sebaiknya kamu berlatih di tempat itu"
Dua orang itu Sima Yong dan Hei Jian berjalan, makin kedalam bangunan yang makin hari makin mengulir mengarah kebagian bawah tanah.
"Sebuah Makam Pedang !" seru Hei Jian takjub.
"Dungeon mereka sangat mirip dengan dungeon Sekte Raja Pedang Terbang kami.
Memang untuk ahli-ahli pedang, paling cocok adalah berlatih di makam pedang seperti ini" kata Hei Jian.
Sima Yong hanya terbengong-bengong. Katanya...
"Senior Hei Jian,
Tolong diberi penjelasan. Apakah yang di maksud dengan makam pedang itu?"
__ADS_1
Hei Jian menatap Sima Yong, katanya.
"Oh iya. Aku lupa sekali kalau kamu belum pernah berada di sekt kuno seperti ini.
Makam pedang ini adalah semacam dungeon tempat ahli-ahli di Klan Kuno berlatih. Tentu saja karena Sekte Elf ini adalah spesialis dalam senjata pedang maka mereka membuat dungeon mereka menjadi mirip makam pedang.
Di dalam makam pedang seperti ini, terdapat ribuan hingga jutaan pedang yang dapat menyerang kamu ketika kamu memasuki level demi level pada makam pedang ini.
Tentu saja kesulitan dan kecepatannya berbeda-beda dan dibagi dalam beberapa level.
Kamu dapat mencoba mulai dari level terendah, yaitu level satu. Ketika selesai dengan level satu, kamu dapat berpindah ke level dua dan seterusnya.
Dahulu itu, di Sekte Raja Pedang terbang, makam pedang Raja Pedang kami hingga 30 level.
Hal itu sesuai dengan tingkat kecepatan pedang Raja Pedang. Ketika dia telah berada di level 30, maka praktis tingkat kecepatan pedang cahayanya adalah setara dengan level tiga kecepatan cahaya (kecepatan pedang 30 kali kecepatan normal)"
Sima Yong mendengar penjelasan itu dengan saksama. Dia betul-betul tertarik untuk meningkatkan teknik kecepatan cahayanya.
"Jika aku berhasil menembus level tiga yaitu 30 kali kecepatan biasa, aku akan mencari Patriak Xu itu dan menantangnya dalam duel" batin Sima Yong.
Hei Jian memecah lamunan Sima Yong. Katanya,
"Kamu beruntung. Reruntuhan sekte kuno ini memiliki dasar senjata yang sama dengan kamu, Pedang!.
Jika itu adalah sekte kuno lain yang tidak menggunakan pedang, akan sia-sia penemuan kita ini...
Ayo langsung masuk ke makam pedang. Ingat jika kamu tidak sanggup dengan serangan pedang, kamu dapat kembali berdiri di tempat yang dinamakan area bebas untuk istirahat.
Setelah kamu rasakan kekuatanmu cukup, kamu dapat melanjutkan mengalahkan level demi level di makam pedang.
Tidak perlu menunggu berlama-lama setelah Hei Jian mendesaknya, Sima Yong lantas memasuki Dungeon Makam Pedang itu.
Cahaya lampu langsung menyala ketika Sima Yong memasuki Makam Pedang. Lalu sebuah suara dengan keras berbunyi otomatis
"Anda memasuki Level satu Makam Pedang.
Pada level ini 100 pedang berkecepatan normal akan menguji anda"
Begitu suara itu menghilang, sekonyong-konyong Sima Yong melihat sinaran pedang yang berkelabat menyerang dirinya. Beruntung dia memiliki pembawan kelincahan Evasion yang memumpuni, sehingga dengan mudah dia dapat menghindari terjangan pedang.
Tidak berapa lama, anak muda itu telah sibuk mengadakan serangan balasan untuk mematahkan semua serangan 100 pedang yang bergantian menyerang dia, seolah tiada berkesudahan.
Sima Yong membutuhkan waktu 10 menit untuk menyelesaikan level satu itu. Kemudian dia pindah ke level dua dengan kecepatan serangan dua kali lipat dari kecepatan biasanya.
Level dua diselesaikan juga dalam waktu 10 menit. Berturut-turu, dia lolos dari level tiga dan empat dengan durasi waktu 15 dan 20 menit.
Ketika berlatih di level lima, anak muda tu berulang kali harus bersembunyi di area aman, agar tidak terkena tebasan pedang. Lebih dari dua hari hingga dia dapat lolos dari level lima Makam Pedang.
*Bersambung*
Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di-like, sekedar komen dan vote.
Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.
__ADS_1