Kisah Dewa Pedang Utara

Kisah Dewa Pedang Utara
Pemuda Desa Pengangkut Kayu Bakar


__ADS_3

Ini adalah minggu pertama setelah Sima Yong sadar dari pingsan akibat ledakan badai ruang angkasa. Kultivasinya perlahan mulai mengalami peningkatan sesuai dengan kesembuhan dari anggota tubuh maupun organ dalam nya.


“Alam Spirit Agung bintang 4….” Sima Yong membuka mata.


Semalaman dia berkultivasi sambil mengkonsumsi bahan-bahan herbal dan pil yang tersedia di cincin spasialnya. Tanpa terasa hari telah menjelang pagi berkultivasi menyembuhkan organ dalamnya berlalu dengan cepat. Matahari mulai menunjukkan wajahnya dan membuat suasana di belakang Gunung Tiankong Zhiguang terasa hangat.


Melihat cuaca dan sinar matahari pagi itu, Sima Yong teringat sesuatu….


“Di waktu seperti sekarang ini di utara Benua Silver sana, udara pasti telah mulai terasa dingin. Dan mungkin beberapa waktu lagi salju akan turun” Sima Yong tiba-tiba merasa melankolis. Dia terkenang semua hal dimasa lalu yang membuatnya rindu.


“Fenying. Dimanapun kamu berada… semoga dalam keadaan sehat-sehat adanya” bisik Sima Yong dalam hati.


Tiba-tiba Sebuah suara yang rapuh terdengar membuyarkan semua khayalannya pagi itu…


“Yong jie….paman akan pergi ke Kota Fanrong untuk membeli banyak keperluan bumbu dan perlengkapan lain yang dibutuhkan sekte. Maukah anda menemani Paman Liu ini?”


“Tulang-tulang tua ku rasanya tidak akan mampu membawa sendiri semua bahan-bahan keperluan nanti. Paman memerlukan orang muda yang kuat dan sehat seperti anda untuk mengangkut barang ke kereta. Lagi pula, jika ditemani seseorang tidak akan membuat perjalanan ini membosankan”


Sima Yong memandang kearah suara itu,..


“Paman Liu… tentu saja Yong Jie bersedia membantu anda. Bukankah aku telah berjanji untuk membantu selama aku masih berada di rumah ini?” jawabnya berusaha terlihat ceria.


Tak lama kemudian keduanya terlihat telah menaiki sebuah kereta kuda sederhana dan berangkat menuju Kota Fanrong.


Kota Fanrong hanyalah sebuah kota kecil terpencil yang terletak berdekatan dengan Sekte Cahaya Langit. Letak kota dan Sekte Cahaya Terang tidak terlalu jauh dari ibukota Wilayah Tengah yaitu Kota Zongjhian Sijhie. Jaraknya kira-kira hanya satu hari satu malam perjalanan.


Meskipun Kota Fanrong itu hanyalah sebuah kota kecil, akan tetapi terdapat banyak sekali pedagang yang berjualan di kota itu. Tingkat kemakmuran pun terbilang bagus.


Keberadaan Sekte Cahaya Langit dengan pengikut yang berjumlah ribuan itu, turut mendongkrak perekonomian kota sehingga arus perdagangan secara rutin terjadi dan membantu keseluruhan kehidupan kota.


Setelah mereka selesai membeli banyak sekali bumbu-bumbu kering serta keperluan dapur lainnya, Sima Yong meminta ijin agar dapat berjalan-jalan sebentar menikmati pasar yang saat itu ramai. Paman Liu sendiri tampak nya juga memiliki keperluan khusus lalu dia berjalan-jalan mencari keperluan pribadinya itu.


Keduanya berpisah setelah terlebih dahulu menitip kereta kuda dan bahan-bahan yang telah dibeli ke pemilik toko yang sudah menjadi langganan  Paman Liu.


>>>>>>


“Sebuah jimat teleportasi yang amat langka..!!” teriak seseorang yang sepertinya tengah mempromosikan barang dagangannya di tengah pasar.


“Barang langka… Bayangkan jika anda memiliki benda seperti ini, dan tengah terdesak didalam sebuah pertempuran…..barang langka ini akan mampu memindahkan anda sejauh 100 km” sambung penjual itu.


Banyak sekali penonton di pasar yang merupakan praktisi-praktisi bela diri, menjadi tertarik dengan promosi jimat yang kedengaran langka seperti itu. Tidak menanti waktu lama, spot penjual jimat itu dikerumuni penonton yang penasaran.


“Hanya 15.000 blue diamon dan anda akan memiliki benda langka yang amat sulit di temui di Benua Penyaringan Dewa ini. Jimat ini kami peroleh dari seseorang pedagang yang berkelana hingga ke benua lain yang jauhnya tidak dapat anda bayangkan”.


Sima Yong juga merasa tertarik dengan promosi yang di teriakkan penjual benda jimat itu. Dirinya pun ikut bergerombol dan menonton. Ketika mata tajamnya melihat benda di tangan si penjual, dia tertegun.


Akan tetapi Sima Yong menjadi amat terkejut ketika memperhatikan dengan saksama dan mengerahkan benaknya untuk menyentuh jimat itu.


“Itukah Jimat yang menurut penjual adalah sebuah benda langka???…”


“Itu hanyalah benda rongsokan… sebuah jimat kelas bumi yang dibuat  dengan Teknik kasar oleh Master Jiwa peringkat bumi secara tergesa-gesa” katanya didalam hati. Dia memaki penjual itu didalam hati.


Meskipun Teknik pembuatan jimat di Benua Penyaringan Dewa ini adalah langka, akan tetapi menjual sebuah jimat peringkat rendah seperti itu dengan harga 15.000 blue diamon adalah Tindakan penipuan menurut Sima Yong.


Sima Yong langsung menjadi kesal dengan dua penjual jimat yang adalah ras judade dan nanren itu. Dia memandang dengan cemberut lalu memalingkan wajahnya.

__ADS_1


Ketika dia baru saja akan meninggalkan kerumunan penonton di area penjualan jimat … tiba-tiba dia melihat Paman Liu. Tampaknya Paman Liu amat tertarik untuk membeli jimat tersebut. Itu nampak jelas Ketika Sima Yong mendengar Paman Liu mencoba menawar jimat tersebut.


Bahkan Paman Liu telah terlihat berbincang dengan kedua penjual jimat itu…..


“Baiklah karena Paman Liu adalah seseorang dari bagian dapur Sekte Terang, maka kami anggap keluarga, maka harga benda ini kami diskon 2.500 sehingga paman cukup membayar 12.500 saja” kata judade penjual itu. Sengaja dia membuat suara keras agar di dengar penonton bahwa jimatnya laku tinggi.


Sima Yong Ketika melihat Paman Liu terkena tipu seperti itu, menjadi bertambah geram. Dia maraha Ketika melihat kedua penipu itu bahkan tega untuk menipu Paman Liu yang jelas-jelas adalah seseorang dari bagian dapur sekte.


Seharusnya mereka tidak perlu menipu seseorang dari Sekte, jika memang benar kedua penjual itu berasal dari Sekte Terang. Penilaian SIma Yong, benda rongsokan itu paling-paling hanya seharga 750 Energi Stone di Benua Silver.


“Paman Liu… apa yang anda lakukan? Bukankah kita telah berjanji akan langsung balik ke Sekte?” Kata Sima Yong sambil menarik tangan Paman Liu yang kini terlihat terkejut dengan kehadirannya.


“Tahan dulu…” judade itu menghalangi Sima Yong.


“Paman ini telah sepakat untuk membeli jimat kami seharga 12.500 blue manna” kata ras nanren kawan si judade.


Nanren itu terlihat marah. Seolah-olah dengan Gerakan tanpa sengaja, dia membuat Gerakan agar logo Sekte Cahaya Terang semakin  berkilauan di dadanya dan terlihat mencolok oleh Sima Yong. Tujuannya agar Sima Yong menjadi takut dan menghilang dan tidak akan berurusan dengan mereka.


Merasa Sima Yong tidak mempan denganpengaruh besar tanda Logo Sekte Cahaya Terang…. Ras nanren itu semakin kesal.


“Berani-beraninya kamu bocah ingusan menghalangi kami dalam perdagangan ini. Tidak tahukah kamu, siapa kami berdua ini?” Kata nanren itu mencoba menggertak Sima Yong.


“Memangnya siapa kamu?” tanya Sima Yong.


“Kami adalah murid-murid pelataran luar Sekte Cahaya Terang. Pergi dari sini dan jangan mengacau seperti kerbau gila …  sekali lagi pergi !!!”


“Ataukah kamu sengaja menunggu agar aku untuk menurunkan tangan jahat kepada kamu” jawab nanren itu dengan bengis. Tangan nya diangkat seolah-olah akan menampar Sima Yong. Kawannya judade itu ikut-ikutan membentak Sima Yong. Kedua nya kini terlihat dari seorang penjual ramah berubah menjadi si pemarah preman dari pasar.


“Cih… sungguh tidak tahu malu”


Kedua penjual itu seketika menjadi pucat. Mereka amat terkejut Ketika seseorang yang terlihat sederhana seperti Sima Yong mengetahui dan membongkar rahasia kecurangan penjualan itu. Jelas-jelas bocah kampung didepan mereka berniat mencemari reputasi mereka…


Ras judade bernama Anuhara itu seketika menjadi marah. Dia mendorong Sima Yong dengan keras, sampai-sampai Sima Yong terdorong beberapa tombak kebelakang.


“Berani-beraninya kamu seekor semut lemah menuduh kami murid-murid sekte terhormat ini berbuat curang”


“Ayo kakak … hajar saja manusia tidak mampu melihat tingginya gunung dan dalamnya lautan di hadapannya” ras nanren bernama Lou Haiyang sengaja melempar minya ke bara api, tujuannya adalah Anuhara si judade itu menggebuk Sima Yong.


“Buk..!!” sebuah tendangan mendarat di perut Sima Yong. Pria kurus itu jatuh terduduk.


Paman Liu seketika menjadi panik. Dia berlari kearah Sima Yong dan memapah Sima Yong agar duduk dan memberi sebuah pil kecil. Wajahnya terlihat kuatir.


“Minum pil ini Yong jie. Meskipun ini hanya pil penyembuhan yang umum, namun setidaknya ini akan dapat membantu kamu mengurangi rasa sakit akibat tendangan itu” Paman Liu amat kuatir melihat Sima Yong. Dia tahu ponakan Yong jie baru saja masuki kondisi pemulihan. Sedikit benturan saja dapat berakibat fatal.


Tendangan itu dia takutkan akan akan membuat luka-luka dalam Sima Yong yang mulai mengering itu kembali akan mengalami pendarahan.


Namun setelah dia memeriksa dan melihat kondisi Sima Yong, ternyata tidak mengalami cidera yang berat, hatinya menjadi lega. Buru-buru dia pergi dan membungkuk, memohon maaf kepada dua murid Sekte Cahaya Terang. Judade dan nanren penjual jimat itu.


“Kiranya dua tuan muda ini memberi muka kepadaku untuk memberi kelonggaran kepada ponakanku ini. Dia hanyalah seseorang yang berasal dari desa kami, sehingga tidak dapat melihat tingginya gunung. Aku orang tua Liu memohon maaf” Paman Liu kemudian membungkuk dan memberi hormat. Kembali Paman Liu membungkuk memberi hormat.


“Kompensasi. Berikan kompensasi maka aku akan memberi muka kepada mu” Kata Anuhara.


“Benar… kata-katanya telah menimbulkan salah sangka dari calon pembeli terhadap kami. Lihat saja sendiri… semua penonton telah bubar.” kata Lou Haiyang yang menunjuk kerumunan penonton yang kini menjadi amat berkurang dibanding sebelumnya.


Merasa tidak ingin ribut dan ingin cepat-cepat selesai dengan masalah itu, Paman Liu memberikan sejumlah blue manna kepada Anuhara. Judade itu melirik kedalam kantong uang, setelah tahu terdapat sejumlah besar blue manna didalam kantongan itu, Anuhara menampakkan wajah puas. Dia memberi kode kepada Paman Liu agar pergi membawa ponakannya dari tempat itu.

__ADS_1


Judade dan nanren itu menutup sesi perdebatan dengan tawa keras penuh kemenangan, Ketika Paman Liu membawa Sima Yong pergi.


>>>>>>


Sepanjang jalan diatas kereta kuda itu Sima Yong meminta maaf kepada Paman Liu, karena dirinya telah menimbulkan kekacauan sampai-sampai uang Paman Liu ikut terkuras banyak karena masalah sepele tadi.


“Akan tetapi yang menjadi pertanyaanku adalah, mengapa paman ingin membeli jimat teleportasi seperti itu? Bukankah anda bukan seseorang praktisi ahli beladiri? Jimat dan peralatan seperti itu hanya berguna bagi mereka para Praktisi yang  digunakan untuk melarikan diri…” tanya Sima Yong penasaran.


Dia merasa aneh seseorang pria yang hanya berprofesi sebagai juru masak, menjadi tertarik dengan benda-benda seperti jimat yang lebih sering digunakan praktisi itu.


“Aku memiliki hobi untuk mengkoleksi barang-barang unik yang kemudian akan aku jual jika seseorang menawar dengan harga tinggi” demikian penjelasan Paman Liu.


>>>>>>


“Yong jie… sepertinya persediaan kayu bakar mulai menipis. Jika kamu memiliki waktu luang, pergilah ke hutan terdekat di kaki gunung. Kumpulkan lagu kayu bakar secukupnya agar persediaan kayu selalu tercukupi ketika sekte tiba-tiba meminta kami menyediakan masakan ekstra yang harus kepada tamu” kata Paman Liu kepada Sima Yong.


Persediaan kayu untuk memasak di Gudang memang terlihat hanya mencukupi untuk beberapa kali hari pemakaian kedepan. Kebiasaan di dapur adalah selalu menyediakan stok yang cukup agar ketika terjadi ekstra pesanan guna melayani tamu-tamu sekte, maka ketersediaan kayu senantiasa ada.


Selama masa penyembuhan dan tinggal di rumah Paman Liu, Sima Yong selalu membantu mengumpulkan kayu bakar. Dia sendiri tidak merasa keberatan dengan tugas itu. Meskipun kondisi tubuh dan kultivasinya belum 100% pulih, namun dia merasa harus selalu berlatih seperti mengangkat kayu atau sekedar berjalan-jalan di hutan agar badannya tidak menjadi kaku.


>>>>>>


Ini adalah kali ketiga Sima Yong menuruni Gunung Tiankong Zhiguang dan berjalan di pinggiran hutan Zainan. Sima Yong memotong batang pohon yang telah kering lalu menumpuknya di dalam kereta dorong yang dia gunakan untuk mempermudah pengangkutan kayu. Tubuhnya mulai berkeringat karena kegiatan itu terasa seperti berlatih suatu Teknik tertentu.


“Plok plok plok…!!!” suara tepukan tangan memecah kesunyian di tepi hutan itu. Dua sosok tubuh muncul dari balik batang pohon dipinggiran hutan.


Dua sosok itu adalah Anuhara dan Lou Haiyang. Ditangan Anuhara terlihat pedang tajam berkilat-kilat yang terhunus dan mengancam. Lou Haiyang tidak kalah menyeramkan nya. Dia memegang dua bilah pedang pendek ditangan kanan dan kiri. Kedua benda itu berkilauan.


“Bocah kampung… inilah saat nya Ketika kamu dalam sendirian”


“Sepertinya dewa sangat berpihak kepadaku, memberi kesempatan penebusan dosa kamu” kata Anuhara dengan bengis. Dia menebas pedang itu di batu yang langsung terbelah setelah memercik kan api.


Mata nya berkilat menyala. Dua mahluk ini sepertinya tidak menganggap kejadin di Kota Fanrong telah selesai. Pada hal keduanya telah mengambil kompensasi yang tidak sedikit dari Paman Liu, namun tetap terlihat memendam dendam kepada Sima Yong.


“Lihat kesebelah sini bocah kampung..” bentak Lou Haiyang. Darah nya menjadi mendidih Ketika melihat bocah yang mereka ancam itu seperti tidak peduli dengan keberadaan mereka.


“Dengan ranah kultivasiku di Kuasi Alam Raja dan kakak Anuhara di ALam Raja bintang 1, mengapa bocah kampung ini seperti tidak takut dan menyepelekan keberadaan kami berdua?” Lou Haiyang meski dibakar api amarah yang membara, dia masih sempat berpikir.


“Lihat kesini bocah laknat..!!!” maki Lou Haiyang kepada Sima Yong. Suaranya mengandung hawa Qi yang amat tinggi. Jika itu adalah orang biasa, niscaya orang tersebut akan terjengkang kebelakang. Bahkan bisa-bisa akan mengalami cidera pendengaran.


Akan tetapi Lou Haiyang dan Anuhara melihat bocah kampung itu tetap mengabaikan mereka dan suara keras yang mengandung Qi tadi. Tidak terjadi sesuatu Ketika bentakan Qi tadi menerpa pria itu. Pria itu melanjutkan kegiatannya dengan acuh tak acuh…


Setelah selesai mengangkut semua kayu dari tanah ke gerobak dorong yang akan dia pakai, pria kampung itu berdiri dalam diam dan menatap mereka berdua dengan dingin.


Tatapan mata itu seperti menyiratkan sesuatu pesan yang berbahaya. Anuhara dan Lou Haiyang merasa bergidik melihat tatapan pria yang mereka panggil anak desa itu. Tanpa terasa, mereka melangkah mundur satu Langkah karena perasaan aneh itu….


“Sebaiknya kalian berdua pergi. Kalian sama sekali bukan lawan ku…” kata pria desa itu (Sima Yong)….


Suaranya yang mengandung kekuatan magis itu terasa seperti membetot jiwa mereka berdua. Lou Haiyang sudah kepingin lari setelah diliputi perasaan aneh dan seram karena ulah pria desa itu.


“Jangan takut… dia hanya mencoba trik murah agar kita merasa seram lalu membiarkannya pergi. Ayo kita bunuh dia…”


*Bersambung*


   Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di like, sekedar komen dan vote.

__ADS_1


   Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.


__ADS_2