
Pagi itu Sima Yong mencoba mengenakan pakaian perang peringkat Immortal yang Hadiah dari Master Huang Chi berwarna merah menyala. Penampilannya seketika berubah menjadi angker dan keren.
"Saudara Yong, anda terlihat seperti seorang Dewa Pembantaian saja" kata Ye Bing Qing. Tentu saja pujian itu bukan hanya berasal dari Ye Bing Qing seorang. Wei Park dan Xong Hui Yong juga membenarkan penampilan anak muda itu dalam balutan pakaian perang.
"Kalian sudah memperoleh pembagian pakaian besi bukan? Pertempuran kali ini bukanlah pertempuran biasa satu melawan satu seperti kebiasaan seniman bela diri.
Kali ini yang kita hadapi adalah pertempuran besar melawan ribuan manusia. Arus manusia akan mengalir tak putus-putusnya menyerang kita. Baju perang besi sangat mutlak di butuhkan untuk menghindari terjangan ribuan anak panah, tombak dan pedang tak terlihat" pungkas Sima Yong.
Setelah meninggalkan sejumlah jimat pertempuran yang cukup, Sima Yong bergegas menuju kemah Pangeran Ju Qin.
"Biarkan aku memasang mantra-mantra sihir pelindung dan aray di seluruh tubuh anda" kata Sima Yong tatkala pangeran itu menanyakan maksud kedatangannya di kemah itu.
Sima Yong menghabiskan hampir setengah hari untuk memasang mantra pelindung di seluruh badan Pangeran Ju Qin. Dia juga tak lupa memberi banyak jimat pertempuran untuk sang Pangeran bertahan di peperangan nanti.
"Sihir dan array pelindung ini bukannya tak dapat di rusak oleh musuh. Ketika berulang kali di hantam senjata perang, sihir pelindung dan array akan rusak juga.
Namun setidaknya aku menjadi tenang setelah berpikir kalau di pertarungan awal-awal, anda akan lebih terlindungi dari sayatan pedang atau tembakan anak panah" jelas Sima Yong.
Pangeran Ju Qin mengucapkan terima kasih lalu mengajak Sima Yong untuk melakukan inspeksi ke kemah-kemah para tentara. Bersama dengan Atid Ananada dan Panglima Ju Lianyi. Mereka memeriksa dan menanyakan kesiapan prajurit-prajurit perang Kaum Pembebas.
Sekonyong-konyong terdengar suara teriakan dari tentara pengawas dari ketinggian menara di garis depan kemah-kemah itu.
"Seseorang dari arah Barat, tempat perkemahan Pasukan Rajawali Agung, bergerak menuju kemah kita !"
Pangeran Ju Qin langsung bergerak maju kegaris depan perkemahan Kaum Pembebas, yang di kelilingi deretan pagar dan tiang runcing yang membatasi perkemahan dengan area lapangan luas sebagai arena perang nanti.
Mengikuti kearah pangeran bergerak, ada pasukan tentara-tentara perang sebanyak dua ratus orang yang selalu berjalan dibelakangnya, juga Sima Yong, Atid dan Ju Lianyi yang ikut maju bersama-sama dengan Panglima Ju Lianyi.
Tentara pasukan Rajawali Agung itu menghentikan kudanya, ditengah Tanah Lapang Padang Impian Bidadari. Dia sepertinya sengaja menjaga jaraknya sekitar setengah Li dari perkemahan Kaum Pembebas.
Pembawa berita itu lantas membuka satu gulungan besar perkamen, dan membacanya keras-keras,
"Kaum Pembebas yang di pimpin Ju Qin Pangeran Pemberontak. Dengan ini pihak Kekaisaran Rajawali Agung, yaitu Kaisar Muda Ju Kai bermurah hati untuk memberi kamu sedikit kesempatan.
Menyerahlah kalian dan kembali ke kampung halaman kalian masing-masing. Ingat akan keluarga di kampung, dan menyerahlah. Meskipun sikap kalian telah melukai hati Kaisar Agung Ju Kai, akan tetapi dengan kemurahan hati yang besar dan memandang betapa Yang Mulia demikian mencintai rakyatnya Dataran Tengah ini, maka kesalahan dan penghianatan kalian akan di maafkan.
Akan tetapi untuk Ju Qin, pangeran pemberontak itu, Kaisar Agung Ju Kai tidak akan berbelas kasih sama sekali. Ju Qin pangeran pemberontak itu harus menyerahkan kepalanya serta semua kaki tangannya yang sejak awal-awal telah membentur kewenangan Kekaisaran Rajawali Agung.
Kaki tangan Ju Qin pengeran pemberotak yang harus menyerahkan kepalanya adalah ; Mahluk sihir Sima Yong, Ju Lianyi, Zhang Junda, tiga orang pembunuh bayaran Yu Mian, Wei Park dan Xong Hui Yong.
Jika dalam waktu 1 x 24 jam tidak bersedia bertekuk lutut menyerahkan kepala pemberontak-pemberontak itu, maka seluruh Kaum Pembebas akan menerima tanggungan dengan cap Pemberontakan.
Semua kalian mati di bawah pedang dan panah Pasukan Tentara Rajawali Agung dan Kaisar Agung Ju Kai tidak akan berbelas kasihan lagi"
__ADS_1
Tentara Pasukan Rajawali Agung, pembawa berita itu menggulung kembali gulungan perkamen, lalu kudanya berbalik cepat-cepat berlari menuju tempat Pasukan Rajawali Agung di tepian Barat.
Semua pasukan Kaum Pembebas menjadi gusar mendengar Pembawa Berita (Messenger) yang membaca surat perang yang isinya penuh keangkuhan itu. Beberapa tentara dari Kaum Pembebas bahkan telah mengeplak kuda nya, berniat mengejar Pembawa Berita yang kurang ajar itu.
"Biadap. Bahkan sekedar pembawa berita memiliki keangkuhan yang demikian besar" maki Ju Lianyi.
Namun Pangeran Ju Qin menghentikan perbuatan mereka,
"Biarkan saja. Dia hanya seorang pembawa berita perang. Biarlah kita menghormati pembawa berita seperti dia meskipun sikapnya terlihat terlalu kurang ajar" wajah Pangeran terlihat muram.
"Anda ingin aku membunuhnya? Aku dapat membuat putus kepalanya, meski dia telah berjarak dua Lie jauhnya dari perkemahan ini. Bahkan dengan menutup mata sekalipun aku masih dapat memenggal kepala orang itu" tanya Sima Yong ke Pangeran Ju Qin.
"Benarkah? Apakah ada kemampuan seperti itu? Akan tetapi aku berpendapat lebih baik kita membiarkan dia pergi. Dia hanya pembawa berita semata" jawab Pangeran Ju Qin.
Sementara itu diatas langit Padang Rumput Impian Bidadari, telah terlihat banyak sekali Burung Nasar yaitu para burung pemakan bangkai terbang berputar-putar seperti mencari-cari mangsa.
"Entah mengapa aku merasa burung-burung nasar memiliki insting kematian yang tinggi. Mereka seolah menerka dan mencium aroma-aroma pembantaian besar-besaran yang akan terjadi di Padang Impian Bidadari ini" kata Sima Yong muram.
"Mahluk buas itu telah terlebih dahulu membaui daging segar korban pembantaian besok"
Sementara itu Pangeran Ju Qin lantas memberi instruksi kepada semua Panglima perang termasuk Sima Yong.
"Tolong beritahu semua anggota pasukan anda, tentara ahli sihir, Kaum Elf, Ahli Racun dan penjinak binatang untuk bersiap-siap. Firasatku mengatakan Tentara Kekaisaran Rajawali Agung akan menyerang besok pagi-pagi benar.
Kita harus membuat gerakan serangan mendadak, sebelum mereka pihak Kekaisaran mengambil tindakan terlebih dahulu" kata Ju Qi.
******
Malam yang sangat muram itu berlangsung tatkala kabut tipis membanjiri seluruh dataran padang rumput itu. Pemandangan kabut itu seolah salah satu bumbu pahit yang menambah suasana bertambah muram. Sedemikian muramnya sampai-sampai hewan-hewan malam pun seperti enggan untuk bersuara mengganggu sepi yang mencekam itu.
Tidak terdengar suara apa-apa, selain bunyi pedang yang tengah di gosok dibatu asah tajam-tajam serta bunyi perisai yang di gosok keras-keras oleh prajurit-prajurit perang. Semua ingin pedang mereka menjadi yang tertajam, serta perisai yang mereka punya adalah yang paling mengkilap diantara sesama tentara.
Tidak seorangpun berniat untuk tidur malam itu. Penyerangan akan dimulai ketika kentongan kelima di bunyikan, jauh di jadwalkan sebelum pihak kekaisaran menyerang duluan.
Sima Yong berdiri muram di pagar perbatasan perkemahan bersama dengan beberapa orang. Patriak Huang Chi dan Patriak Mok. Bersama mereka ada juga Atid Ananada serta Master Zhang Junda dan Master Hua Shen.
"Bukankah suasana malam seperti tengah bersedih bukan? Bahkan hewan-hewan malam turut berduka atas pembantaian besar-besaran esok hari" gumam Sima Yong
Tidak ada yang menjawab gumaman itu, kecuali mengangguk kepala dengan pelan. Ketidak pastian apakah besok mereka masih akan bernafas atau tidak.
Tidak seorangpun yang merasa berbahagia ketika dia akan membunuh puluhan bahkan ratusan dan ribuan mahluk hidup lain yang tidak saling kenal. Sosok lawan yang hanya sekedar berperang mengikuti perintah atasannya.
Tidak ada perang yang membuat orang rasa bahagia di hati, kecuali membuat puas pemimpin yang saling berebut akan kekuasaan.
__ADS_1
Membunuh seseorang yang tidak di kenal dalam peperangan, yaitu seseorang yang mungkin saja memiliki kisah tersendiri, yang mungkin dia adalah seorang anak dari ibu yang sebatang kara, atau dia adalah seorang ayah yang memiliki isteri dan anak yang mendoakan keselamatan mereka, membuat perasaan mereka semua tidak nyaman.
Namun di tengah-tengah rasa diam mereka, samar-samar terlihat sesosok bayangan berlari cepat meninggalkan wilayah Barat tempat pasukan kekaisaran, dengan cepat dia melintasi Lapangan Impian Bidadari menuju perkemahan Kaum Pembebas.
"Master Du Manchu? Dari mana anda? Dan apa yang anda lakukan?" tanya Sima Yong ketika dia mengenali bahwa sosok itu adalah Master Sekte Racun, Du Manchu.
Sambil tersenyum kecil, Du Manchu menjawab,
"Ada sedikit pekerjaan kecil yang aku lakukan di Pasukan Kekaisaran. Aku membubuhkan racun di makanan-makanan mereka, membubuhi racun di minuman dan sumber air mereka..
Tidak lama lagi kalian akan menyaksikan. Beberapa mungkin akan mati, dan beberapa tidak langsung mati melainkan menderita dan menjadi lemah ketika berperang. Saat itu pasukan kita dengan mudah memetik panen manusia" jawab Du Manchu santai.
Master Huang Chi dan Patriak Mok kelihatan terkejut dengan cerita Du Manchu. Bahkan Patriak Mok terang-terangan mengecam tindakan Master Du Manchu, sang ahli racun itu.
"Bukankah ini seperti tindakan kekejian dan curang? Membuat lawan lemah lalu mengajaknya berperang, tidak akan membuat kita menjadi pahlawan. Jika saja kita menang, aku merasa kemenangan ini bukan suatu kejayaan" kata Patriak Mok jijik.
Dengan sinis Patriak Du Manchu menjawab,
"Aku tahu apa yang telah aku lakukan. Lagi pula, aku tidak mempunyai racun yang sedemikian banyak yang mampu menghabisi 100.000 tentara kekaisaran sekali jalan.
Paling-paling racunku hanya menyerang sekitar 1000 orang saja. Ya hanya sekitar 1000 orang yang akan kesakitan nanti.
Sisanya masih ada 99.000 tentara. Pada 99.000 tentara itulah anda dapat berperang dan merebut apa yang di sebut kejayaan" jawab Du Manchu sengit.
Semua orang terdiam mendengar jawaban Du Manchu. Di mata mereka, tindakan-tindakan sesat itu tidak di benarkan. Patriak Mok dan Master Huan Chi hanya menggelengkan kepala. Sementara Sima Yong, Wei Park dan Xong Hui Yong hanya tersenyum dalam hati.
Mereka diam-diam mendukung Du Manchu dengan tindakan awal-awal itu. Menurut mereka perbuatan yang kejam lebih keji dari sekedar racun seperti itu, pernah mereka lakukan. Tiga orang itu saling bertatap dalam diam menggunakan bahasa tubuh.
******
Menjelang waktu memasuki kentongan kelima di bunyikan, maka di mulailah satu konser kepedihan. Kala itu terdengar lapat-lapat suara-suara melolong kesakitan dari kejauhan. Arah suara itu dari sisi Barat tempat perkemahan Pasukan Rajawali Agung.
Lolongan kesakitan dan pekik penuh penderitaan itu semakin lama semakin keras. Sepertinya makin kesini makin bertambah orang yang merasa sakit. Jeritan pedih itu seolah menambah muramnya Padang Rumput Impian Bidadari yang pada hari hari biasanya terlihat serupa padang impian yang cerah ceria.
Du Manchu terkekeh puas ketika mendengar lolongan kepedihan Prajurit Kekaisaran Rajawali Agung yang tembus hingga ke sisi perkemahan mereka. Dengan wajah licik dia berkata,
"Sudah dimulai. Penderitaan itu telah dimulai"
Dengan jijik Patriak Mok dan Master Huang Chi bergerak bersama anggota merekan untuk berpindah ke arah Timur Laut. Dari sanalah pasukan Penjinak Binatang dan Kaum Elf akan menyerang Kekaisaran.
Sementara itu semua tentara Kaum Pembebas mulai berbaris rapih, bergerak tanpa menimbulkan suara mencoba melintasi Padang impian Bidadari ketika cuaca remang-remang.
Ketika tambur dan genderang perang belum bisa di bunyikan, maka musik pengantar pasukan Kaum Pembebas dikeremangan subuh itu adalah pekikan burung-burung nasar kelaparan penuh insting gembira, serta lolongan kesakitan ribuan tentara Kekaisaran yang dalam waktu dekat akan putus nyawa itu.
__ADS_1
*Bersambung*
Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini. Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca...