
"Pemanah !"
"Tembak !"
Aba-aba dari Liao Quon itu seketika langsung di eksekusi. Tiga ratus tentara itu melepaskan anak panah yang dengan bertubi-tubi tiada henti, terbang menerobos benteng pertahanan Tuan Bumi.
"Tsing - tsing - tsing"
Sementara itu, Tuan Bumi tertawa semakin keras. Dia tertawa sambil memainkan pedang dalam sikap siap mati.
Saking kerasnya, suara nya terdengar hingga beberapa Lie jauhnya. Wei Park yang telah terbang menjauh itu, merasa hatinya teriris mendengar suara tawa yang didalamnya terkandung kepedihan seperti putus asa.
"Berbalik !"
Wei Park terkejut ketika mendengar suara Ju Lianyi dari punggungnya.
"Anda telah sadar tuan? Akan tetapi sesuai instruksi, kita harus bergegas menuju Gunung Da Hua, lalu menunggu instruksi selanjutnya dari Raja Kelelawar" kata Wei Park.
Sambil terbatuk-batuk, suara Ju Lianyi dari punggung Wei Park sekali lagi berbicara.
"Anda pikir kapal roh elit yang di gunakan oleh tentara kekaisaran itu adalah sebuah barang yang sederhana?
Kapal itu bahkan mampu terbang lebih cepat dari kemampuan terbang seorang SAINT. Cepat atau lambat, kita akan pasti akan tertangkap.
Apalagi anda membawa diriku sebagai beban. Mari kita berbalik dan menolong pria tua itu, mungkin pasukan tentara itu masih mau memberi muka kepadaku dan mengampuni kami kali ini".
Tidak berpikir terlalu lama sehingga Wei Park kembali terbang kearah dari mana dia datang tadi.
******
Tuan Bumi semakin ganas memutarkan pedang, dimana di tubuhnya telah tertancap tidak kurang dari tiga anak panah. Itu belum terhitung luka goresan sambaran anak panah.
"Berhenti !" suara menggelegar membuat pertempuran itu terhenti sejenak
Sesosok bayangan yang mengenakan pakaian sederhana, berlapis topeng terbang dan melayang di samping Tuan Bumi. Di punggung orang itu terlihat seorang pria, menatap kearah kapal roh dengan tajam.
Rupanya pria yang terlihat lemah dalam gendongan itulah yang memerintahkan mereka berhenti tadi.
__ADS_1
"Panglima Ju Lianyi !" suara orang-orang yang mengenali pria itu adalah Ju Lianyi, guru pangeran ke tujuh.
"Kapten Liao Quon, jika anda ingin membunuh pria itu.. Maka anda juga harus mengarahkan panah-panah itu kearahku" Ju Lianyi menatap mata Liao Quon yang kini tertunduk. Ju Lianyi itu tadinya adalah atasan dia. Namun sekarang mereka bertemu didalam situasi yang berbeda.
Liao Quon terdiam sejenak, lalu berkata.
"Panglima Ju Lianyi. Tuan dapat melanjutkan perjalanan seorang diri, pergi dari sini menjauh. Aku tidak akan menghalangi.
Namun... Dua orang itu harus aku tahan. Mereka adalah pemberontak yang membobol istana kami" Liao Quon kini berubah menjadi tidak segarang tadi.
"Kapten Laio Quon, apakah yang anda maksud adalah semua orang yang berniat membantu membebaskan Pangeran Ketujuh kami dari tahanan, setelah di tuduh pemberontak.
Apakah anda sangat percaya dengan berita finah yang menjadikan Pangeran Ju Qin kini menjadi seseorang yang di buru di Kekaisaran ini?
Sayang sekali... Awalnya kukira anda adalah seseorang calon pemimpin besar yang tau membedakan. Mana yang benar dan mana yang salah" Ju Lianyi menarik nafas dalam-dalam. Dia melanjutkan...
"Ku kira ternyata penilaianku salah. Anda tidak dapat serta merta memanggil semua orang sebagai pemberontak, tatkala memiliki rasa simpati dengan Pangeran ke Tujuh kami"
Keadaan menjadi hening...
"Aku bekerja kepada negara, dan aku mengikuti perintah atas. Itu saja yang aku ketahui" jawab Liao Quon lantang.
Dan itu berarti aku pemberontak. Silahkan bunuh aku"
Ju Lianyi membuka dua tangannya lebar-lebar, membusungkan dada bersiap menerima serangan anak panah.
"kamu.." Liao Quon mengeluarkan suara tertahan. Dia di landa kebimbangan yang sangat besar.
Panglima Ju Lianyi memiliki budi yang tidak sedikit didalam karir militernya. Bahkan Liao Quon telah menganggap panglima itu sebagai keluarga.
Liao Quon menggigit bibirnya keras-keras. Lalu dengan lantang dia berkata,
"Biarkan mereka pergi !"
Semua tentara itu menjadi terkejut. Bahkan dengan keras seorang pemanah berkata,
"Tapi kapten, mereka adalah pemberontak yang di cari di Kekaisaran ini. Apakah tindakan ini tidak gegabah?"
__ADS_1
"Diam ! Ikuti semua kata-kata ku. Aku yang bertanggung jawab nanti" bentak Liao Quon.
Semua tentara menjadi ketakutan melihat kemarahan kapten mereka. Tombak dan gendewa itu di turunkan, aura kebencian dan peperangan mereda.
"Anda di persilahkan meninggalkan lokasi ini, Tuan Ju Lianyi" teriak salah satu anggota pasukan bertombak (sengaja dia menyebut tuan, bukan panglima, karena Ju Lianyi telah di anggap pemberontak dan tidak berhak menyandang panggilan itu"
Wei Park tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Sambil menarik tangan Tuan Bumi dan menggendong Ju Lianyi, dia bergerak dengan cepat menghilang dari pandangan kapal roh itu.
Ketika itu, secara jelas mereka semua mendengar suara Liao Quon,
"Kelak, jika kita bertemu lagi.. Aku tidak akan bersikap sungkan lagi. Sejak hari ini hubungan persahabatan kita telah tidak ada lagi" Senyuman tersungging di bibir Ju Lianyi. Dua orang itu kini telah mengambil jalan yang berseberangan.
Ju Lianyi tidak menyahut sama sekali. Dia merasa tubuhnya kembali menjadi lemah. Tadi ketika berdiskusi dengan Liao Quon, dia telah menggunakan energi Qi tersisa. Agar terlihat baik-baik saja.
"Sebaiknya kita mencari tempat yang aman terlebih dahulu" bisik Ju Lianyi. Kita memberi pertolong tercepat untuk Tuan Bumi.
******
Gunung Du Hua yang tadinya sangat sepi, dalam beberapa hari ini kedatangan tamu yang tak di kenal. Mereka adalah ahli-ahli Kelompok Sima Yong yang berhasil meloloskan diri dari Lapangan Pohon Dedalu itu.
Sesuai dengan pentunjuk Sima Yong, mereka dengan mudah melewati array beracun dan masuk ke dalam perkampungan terpencil itu, lalu berkumpul di aula Sekte itu.
Sesuai instruksi yang sudah di beri-tahukan Sima Yong, Du Manchu, master sekte memberi mereka keleluasaan berkumpul dan menyusun rencana di dalam aula Sekte.
"Wei Park, Tuan Bumi, Ju Lianyi, Tuan Bianfu Wang dan Pangeran Ju Qin yang belum tiba.
Semoga tidak terjadi apa-apa yang menimpa mereka" dengan cemas Yu Mian berbicara.
Sejak Sima Yong membuka topengnya di lapangan berpohon Dedalu itu, mereka telah tahu bahwa Raja Kelelawar adalah Sima Yong. Namun karena kebiasaannya memanggil Bianfu Wang, maka perempuan itu tetap menyebut Sima Yong dengan nama Bianfu Wang.
Sampai sore menjelang, pada akhirnya Sima tiba bersama Pangeran Ju Qin. Semua orang bersuka cita karenanya. Namun Wei Park hingga malam tiba, belum juga menampakkan bayangannya.
"Apakah Sastrawan busuk itu telah gagal kali ini?" Yu Mian berbisik ke Xong Hui Yong. Biar bagaimanapun, mereka sering terlibat didalam misi bersama-sama, sehingga ketidak hadiran Wei Park cukup membuat mereka kuatir.
Keesokan harinya, ketika hari matahari bersinar dengan garangnya, Wei Park pada akhirnya tiba bersama Ju Lianyi dan Tuan Bumi. Keadaan Tuan Bumi saat itu terlihat cukup mengenaskan.
*Bersambung*
__ADS_1
Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di-like, sekedar komen dan vote.
Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.