
Setelah pertempuran besar tadi, Padang Tengkorak itu berubah menjadi lengang ketika Tuan Dermawan roboh ke tanah. Bunyi tubuhnya menghantam tanah demikian keras membuat gagak hitam yang sejak awal-awal selalu mengganggu jalannya pertempuran dengan suara berisik.
Koak - koak ! pekik ngeri sang gagak yang lantas dengan cepat meluncur ke ketinggian di awan-awan. Gagak itu langsung melarikan diri selepas Tuan Dermawan tewas. Arah penerbangan nya adalah ke Kota Perdamaian.
"Jangan harap kamu lolos" suara dingin Sima Yong terdengar, menyusul tubuhnya berkelebat lebih cepat dari si gagak, menghadang di depannya. Jari anak muda itu teracung lurus kedepan, jari tengah dan telunjuknya membentuk serangan pedang, menusuk tepat di leher si gagak hitam.
Sreet ! suara seperti pisau menggorok terdengar tipis.
Energi pedang dari dua jari itu tanpa ampun memenggal kepala sang gagak. Ketika gagak hitam itu jatuh terhempas ke tanah, Sima Yong melayang lembut ketanah. Ketika dia berdiri di samping jasad gagak hitam itu, suara dingin penuh hinaan terdengar.
"Jadi kamu rupanya yang selalu menjadi mata-mata keberadaan diriku selama ini.
Ku sangka kamu semacam hewan hutan biasa. Ternyata kamu juga sebangsa siluman berperingkat tinggi" Tangannya lantas di arahkan ke jasad gagak seukuran ayam betina itu.
Wush.. wush
Deru angin dahsyat keluar dari tangan Sima Yong ketika chakra angin dikeluarkan. Tak menunggu sampai tiga tarikan nafas saja, jenazah siluman gagak itu telah berubah menjadi abu, di mutilasi chakra angin taufan berkekuatan besar.
******
Mismaya terbangun dari pingsannya ketika dia melihat Sima Yong tengah membeset Berang-berang berekor enam, yang tadinya berwujud Tuan Dermawan.
"Apakah kamu telah baik-baik lagi?" tanya Sima Yong. Tangannya dengan terampil mengelupas isi dalam Berang-berang berekor enam, agar tidak merusak bulu-bulu di ekor mahluk itu.
"A-aku baik-baik saja tuan muda. Er.. dimanakah pria berjubah putih tadi?" tanya Mismaya.
Sambil tertawa dan tidak mengeluarkan kata-kata penjelasan, Sima Yong hanya menunjukkan bulu berang-berang yang telah ia kuliti secara sempurna.
__ADS_1
"Pria tadi hanyalah mahluk jadi-jadian. Dengan kemampuan sihirnya, dia merubah sosok kecilnya menjadi wujud manusia seperti yang kamu lihat tadi" kata Sima Yong.
Mismaya hampir muntah ketika melihat sosok tulang-belulang yang masih berdarah, yang dikatakan adalah sosok Tuan Dermawan tadi. Biar bagaimana pun dia ngeri melihat onggokan daging dan tulang belalang sambil membayangkan Tuan Dermawan
Sima Yong menunjukkan bulu surai Berang-berang itu kepada Mismaya. Katanya,
"Bulu ekor yang mengandung kekuatan listrik berbahaya tadi, akan aku gabungkan dengan kulit ekor Jormungand, untuk menjadi satu benda sihir Noble Phantasm atau Artefak yang membuatku mampu mengendalikan chakra petir dan sihir petir" kata Sima Yong bersemangat.
"Ketika matahari terbit nanti, kita akan mampir di Kota Klan Roc.
Aku membutuhkan banyak bahan yang akan ku gunakan nanti guna menyuling benda-benda ini dan membentuknya menjadi artefak sihir.
Sepertinya aku juga harus menekuni dan mempelajari cara membuat benda sihir sesuai instruksi di slip giok yang diberikan Alkemis Hellthorn" kata Sima Yong.
Beberapa saat kemudian .
Seperti biasa Sima Yong tak lupa menggeledah semua isi gubuk yang ditempati oleh Tuan Dermawan sebelumnya. Tidak terlalu sulit untuk ia menemukan sebuah tas sihir berkapasitas besar yang di dalamnya berisi banyak sekali harta berupa sumber daya langka serta jutaan Eliksir berwarna merah jambu. Benda-benda berharga dibiarkan berserakan tanpa ada yang berani mencurinya. Lagipula siapa yang berani mengusik keberadaan Tuan Dermawan ke enam?
Isi gubuk itu ternyata amat banyak penuh dengan segala macam barang berharga, upeti dari kaum kelana pelintas padang. Akan tetapi ia hanya mengambil barang-barang penting seperti sumber daya herbal rih dan sihir atau benda-benda yang berhubungan dengan magic - yang dapat dijadikan katalisator untuk membuat satu Artefak atau Noble Phantasm.
"Mari kita pergi menuju Kota Roc" kata Sima Yong.
Saat itu matahari telah bersinar dengan hangat, cahayanya menyirami Padang Tengkoran yang tadi suram itu. Kini setelah tewasnya sang penguasa padang, aura sihir yang menyelimuti seluruh pada dengan cepat sirna tatkala bersentuhan dengan lembutnya matahari pagi.
"Aku gembira ketika melihat dunia seperti berubah menjadi normal lagi" kata Mismaya.
"Aura jahat Tuan Dermawan itu begitu kental. Sampai-sampai seluruh Padang Tengkorak ikut-ikutan bernuansa kusam.
Aku tidak yakin jika beberapa waktu kedepan, tatkala padang rumput tumbuh hijau di sana, apakah masih pantas untuk di sebut Padang Tengkorak?" tanya Mismaya kepada Sima Yong. Saat ini keduanya telah terbang menuju tepi sungai untuk memasuki Kota Klan Roc.
Sima Yong menjawab pertanyaan Mismaya dengan canda.
__ADS_1
"Menurutku kelak padang itu lebih pantas di namakan Padang Peri yang pingsan. Karena disana pernah kejadian seorang peri wanita, terjatuh pingsan ketika merasakan aura petir satu Berang-berang siluman"
Konta wajah Mismaya menjad cemberut. "Tolong tuan muda. Jangan ingatkan aku hal memalukan tadi"
"Haha" lalu keduanya tertawa-tawa sambil menceritakan kekonyolan gadis peri yang jatuh pingsan di malam pertempuran tadi.
Meskipun itu hanya candaan, tidak seorangpun diantara keduanya yang menduga. Kelak Padang Tengkorak memang berubah nama menjadi Padang Peri Pingsan.
******
Kota Klan Roc adalah satu kota yang dimiliki oleh Klan keturunan Roc. Roc adalah sebangsa Rajawali, burung yang amat sangat kuat dan merupakan salah satu makhluk legenda. Kota Klan Roc sendiri adalah satu kota yang didirikan diatas batu-batuan cadas yang tinggi, dan bentuk kota yang di ketinggian itu diukir oleh tenaga-tenaga ahli yang didatangkan dari berbagai ras di Realm ini.
Kota Klan Rock ini sendiri, amatlah modern dan terlihat seperti bangunan kota yang asing, karena tempatnya tinggi diatas awan-awan. Umumnya hanya ahli-ahli berkepandaian tinggi saja yang mampu untuk memasuki kota diatas awan itu, selain beberapa kelompok dari keturunan ras burung-burung.
Siang itu dua sosok terlihat terbang mendaki tebing tinggi, dimana Kota Klan Roc itu berada. Itulah Sima Yong bersama dengan Mismaya sang gadis ras peri. Dengan keahlian yang hampir sempurna. tempat tinggi seperti Kota Klan Roc ini hanyalah lelucon semata bagi Sima Yong untuk mendakinya. Beruntung Mismaya memiliki sayap terbaru yang mampu untuk membawanya terbang tinggi menembus awan.
"Biaya masuk sebesar 10 Eliksir merah jambu per orang"
"Karena anda berdua, maka total biaya adalah 20 Eliksir Merah Jambu" jawab salah satu penjaga yang menghalangi dengan tombak atas langkah kaki Mismaya yang akan memasuki gerbang kota.
Penjaga gerbang kota terdiri dari sepuluh pria berwajah garang yang mengenakan zirah perang. Belum lagi sepasang sayap yang di tekuk berwarna coklat gelap itu, menambah angker penampilan mereka bersepuluh.
Mendengar nilai sebesar 20 Eliksir Merah Jambu, Mismaya mencoba bertanya sopan,
"Tuan.. apakah aku tidak salah dengar? Bukankah dua puluh Eliksir Merah Jambu terlalu berlebihan untuk biaya masuk kami berdua?
Sepengetahuanku, biaya masuk ke satu kota telah ditetapkan oleh Dewan Realm ini, yaitu senilai dua puluh Eliksir warna Biru? Mengapa kami dibebankan dengan nilai yang amat tinggi?" tanya Mismaya berkeras.
Bersambung
Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini. Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca. <3
__ADS_1