
Angin jelang musim dingin menampar pipi Padri Wangdak, namun tak jua membuat amarahnya meredam, dan emosi yang membakar di hatinya.
"Aku telah mengeluarkan biaya 50 Energi Stone per orang, namun manusia-manusia tidak kompeten itu berani-berani nya mendatangkan perempuan sampah untuk menjadi persembahan Dewa Puncak Himalaya..." maki nya dalam hati.
Dia terlalu dalam dengan amarah itu, sampai-sampai dirinya tidak menyadari kalau udara tiba-tiba terasa hampa, tiada angin atau awan barang satupun di ketinggian terbangnya.
Padri itu bahkan langsung memberikan sengatan petir ketika empat foliot yang memikul terbang joli itu menampakkan diri.
Duar !
Aduh !
"Untuk apa kamu berempat memunculkan diri sekarang? Kita bahkan masih jauh dari Kota Guntur Langit. Menghilang segera ! Aku tak mau keberadaan kalian membuat citra Kuil Dewa Himalaya menjadi buruk di mata rakyat" teriak Wangdak sengit.
"T-tapi master.. seseorang dengan kekuatan magis sepertinya menghalangi langkah kita" jawab satu foliot takut-takut. Yang lainnya menambahkan..
"Sejak keluar dari Danau Penyembah Dewa tadi, gerakan penerbangan kami hanya terputar-putar di tempat saja.
Lihatlah... bahkan sekarang kita sedang berada di satu tempat asing.. sepertinya kita terjebak di dalam ruang dan waktu tertentu, ku pikir terjebak di dalam satu domain khusus" jawab foliot lainnya dengan gemetar.
"Lancang !" teriak Wangdak.
Padri itu lantas menggumamkan kata-kata kuno dalam bahasa asing,
"Katastrefo !" dia melemparkan mantra dan bubuk Kayu Ash.
Kayu Ash dipercaya sangat manjur untuk mematahkan sihir dan tenung mahluk-mahluk kuat seperti Elf dan ahli sihir.
Duar ! ledakan terjadi.
Wangdak menatap nanar ke udara yang menyisakan bunga api, namun keadaan tetap seperti semula. Tidak terjadi apa-apa. Mengharapkan ruang domain menjadi retak-retak? Tidak terjadi sama sekali !.
Padri itu lantas menguyah sesuatu yang dia ambil dari cincinnya, meludah dan mengucapkan mantra yang terlempar dalam rupa magecraft sihir.
"Fotia !"
Api biru setinggi gunung meluap dan mencoba menghanguskan domain yang mengurung padri bersama empat foliot. Setelah ledakan dan asap yang di timbulkan menjadi reda, Wandak semakin terkejut.
"Kekuatan yang dahsyat yang mampu membuat ruang dan waktu sekokoh ini" padri itu mulai takut.
__ADS_1
Sementara itu, empat foliot yang tetap setia memikul joli itu terlihat ikut-ikutan merasa ketakutan..
"Kita akan mati.."
"Diam kau. Master Wangdak bukanlah sosok magus kelas rendah. Dia akan menyelesaikan masalah ini dan kita akan selamat"
Foliot lainnya yang terlalu takut malahan berkata.
"Orang yang menyerang ini bukanlah dari kelas magus biasa. Lihat saja, bahkan mantra api biru - salah satu serangan terkuat yang pernah ada, bahkan tidak mampu menghancurkan raung domain ini.. kita akan mati"
Sementara itu, dengan sikap yang kini terlihat hormat, Padri Wangdak bersuara dengan keras.
"Mohon tuan yang menghalangi jalan kami memunculkan diri. Aku Padri Wangdak dari Kuil Dewa Himalaya akan memohon maaf, sekiranya telah membuat tindakan yang membuat anda tidak nyaman..
Dengan ini aku mengundang tuan untuk datang ke joli ini, duduk bersama mengecap anggur khas kuil kami, sembari aku akan memberikan kompensasi kepada anda" Padri Wangdak berdebar menanti si penghalang yang menjerat mereka kedalam perangkap domain ini memunculkan diri.
Menyusul setelah dia berkata-kata seperti itu, tiba-tiba di hadapan joli itu, kira-kira 10 tombak jaraknya, muncul seseorang yang terlihat serupa petapa atau orang suci saja.
"K-kamu.. kamu yang tadi pagi di jalanan ketika aku berkeliling memberi berkat bukan?" kata Padri Wangdak ketika melihat Sima Yong muncul.
"Dan k-kamu seorang Magus? Bagaimana caranya kamu dapat terbang seperti itu?" Padri Wangdak memberondong anak muda itu dengan banyak pertanyaan. Dia penasaran ketika melihat petapa itu dapat melayang terbang - bahkan ketika dia menajamkan matanya untuk melihat di lapisan dua, tiga dan empat, tidak terdapat bayangan jin bahkan afrit yang membuat orang itu terbang.
Rasa serakah lantas muncu di hatinya. Mantra sihir yang membuat seorang magus dapat terbang seperti itu, hanya dilakukan oleh Dewa Puncak Himalaya. Jika saja dia berhasil membunuh orang di hadapannya ini, keahliannya akan bertambah setingkat, dan jabatan Ketua Kuil Pemujaan Dewa Himalaya akan berpindah ke tangannya.
"Aku ingin tahu. Apa maksud kalian dari Kuil Penyembahan Dewa Himalaya, selalu mencari gadis-gadis yang masih suci, kemudian menyerahkannya kepada junjungan kalian?
Bukankah praktek penggunaan manusia sebagai pengorbanan semacam itu telah menjadi praktek terlarang di dunia Magi?" tanya anak muda kita.
Wajah Padri Wangdak segera berubah menjadi tidak sedap..
"Jadi.. kamu sejak tadi telah membuntuti aku sejak dari kota sampai ke Danau Penyembah Dewa?..
Well, apa sajakah yang telah kamu dengar dari tindakan mata-mata kamu itu?" Padri itu pelan-pelan meraba benda yang menjadi anting-anting yang dia kenakan.
Anting-anting itu meskipun tidak dapat dikatakan sebagai Noble Phantasm, akan tetapi benda itu adalah semacam artefak sihir. Ketika dia akan memulai serangan dan menggunakan kekuatan artefak anting-anting itu, gerakan lawan akan menjadi lemah dan menurun sebanyak sepuluh persen. Padri Wangdak tersenyum lebar.
Ketika tangan kanannya memegang anting-anting di telinga, mulutnya mengeluarkan kutukan..
"Flagomeni psychi !"
__ADS_1
Dari mulut padri itu keluar api biru sebesar gunung. Dia yakin pria agung di hadapannya akan mati dalam sekali tiupan api biru. (Api biru selalu di konotasikan dengan api sihir yang kuat).
"Mati kamu !" batin Padri Wangdak setelah gulungan pi warna biru meledak-ledak menyelimuti pria yang terlihat agung itu.
Satu tarikan napas - dua tarikan napas ... sepuluh tarikan napas..
Selama kurun waktu hingga sepuluh tarikan napas itu, Padri Wangda tertawa terbahak-bahak. Dia telah yakin kalau pria yang terbang di hadapannya akan mati..
"Lalu aku akan menjarah semua harta bendanya.
Aku yakin, dia dapat melakukan penerbangan seperti itu di sebabkan kekuatan satu Artefak ajaib. Bahkan mungkin dia mengantongi Noble Phantasm"
Semakin Padri Wangdak mengkhayal semakin gembira hatinya. Tawa nya semakin keras, bahkan kini nyaris terlihat seperti orang gila.
"Apakah kamu telah selesai?" suara itu datang dari dalam api biru yang masih menyala, meskipun sekarang tidak sekencang pada awalnya.
Padri Wangdak menjadi kaget bukan alang kepalang. Ketika melempar mantra api terakhir, dia telah menghabiskan energi sihirnya sebesar 50 bagian guna memperoleh kemenangan dalam satu serangan. Namun pria agung itu terlihat baik-baik saja setelah sepuluh tarikan napas..
Pria itu bahkan hanya terlihat sedikit sibuk dengan menghempaskan jubahnya, seakan-akan pakaiannya penuh debu api biru.
"K-kamu siapa? tidak pernah ada yang dapat lolos dari api biru ku" suara Wangdak bergetar dalam rasa takut. Dia telah salah mengambil lawan. Sosok di depannya itu mungkin seorang Grand Magus..
"Ampuni aku.. " tangis Padri Wangdak. Dia berubah dratis dari seorang yang garang menjadi seorang yang penuh rasa takut. Dia berharap Grand Magus itu berbelas kasihan kepadanya setelah permohonan ampun ini.
"Tidak adil bukan? Jika hanya kamu yang mengirimkan kutukan kepadaku" dingin suara pria agung itu. Lanjutnya,
"Begini saja, jika kamu dapat lolos dari kutukan ku ini, maka aku akan membiarkan kamu pergi" kata Sima Yong lembut.
Ia secara pelan mengangkat tangannya, lalu melambai ke arah joli dimana Padri Wangdak duduk, dengan empat foliot yang gemetar ketakutan.
Agnin lembut bergerak, yang kemudian dalam kecepatan yang belum pernah terlihat, angin itu berubah menjadi Taufan badai yang lantas mencabik-cabik joli dengan Padri Wangdak - komplit dengan empat foliot, mencoba melolong namun suara mereka teredam suara Taufan.
Hanya diperlukan dua kerdipan mata, setelah Badai itu menyisakan uap merah, sisa-sisa darah yang mengembun. Sima Yong berbisik pelan,
"Ah... andai saja kamu sedikit lebih sopan, mungkin aku masih ada niat berbelas kasihan dengan memotong buntung satu tangan tersiasa itu.
Sayang kamu terlalu serakah dan berniat membunuh ku.. Ah... sebenarnya aku tidak berniat membunuhmu"
Domain itu kini retak-retak, memperlihatkan malam kelam hanya berteman sinar bulan dan bintang-bintang. Sosok anak muda itu lantas berpindah sejauh dua lie seperti hantu. Langit diatas Danau Penyembah Dewa kembali sepi, burung-burung malam berkaok-kaok membuat malam terasa makin dingin..
__ADS_1
Bersambung
Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini. Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca. <3