
Setelah mereka menyelesaikan santap siangnya, keempat praktisi itu; Meirenyu, Lin Hong, BaiseDhe dan SuzheDhe bergegas meninggalkan Kota Bintang Pagi. Meirenyu tentu saja dengan tetap membopong Yu Long, yang kemudian menimbulkan rasa penasaran siapa saja yang berpapasan dengan mereka. Namun Meirenyu tetap menampakkan wajah dingin dan tidak peduli.
Oleh karena tingkat kultivasi mereka yang tinggi, maka dalam waktu singkat keempat praktisi itu telah berada di kaki Pegunungan Puncak Lima Warna.
Sebuah rasa rindu membuncah di hati Lin Hong. Rasa rindu akan masa lalu itu sempat menyeruak diantara perasaan dingin setelah sekian lama berkelana di Sungai Telaga yang kejam ini. Buru-buru Lin Hong membuang rasa melankolis itu, dan wajahnya kembali berubah menjadi wajah gadis Jiang Hu yang keras.
"Berhenti..!"
Sepuluh anak muda usia 18 hingga 23 tahun menghalangi mereka, tatkala keempat ahli itu akan memasuki gerbang, menuju perkampungan kecil Sekte Pedang Awan. Pedang yang terhunus itu seolah-olah berkata "Anda tidak diijinkan masuk".
Penampilan sepuluh murid Sekte Pedang Awan itu terlihat amat lugu di mata Lin Hong. Dalam balutan busana berlogo pedang dan awan, rambut mereka di gelung tinggi menyerupai pendeta agama Tao, membuat Lin Hong teringat masa-masa lalu. "Berarti penampilanku dahulu itu seculun mereka ini" dia tertawa geli didalam hati.
Lin Hong sambil tersenyum dua tangannya disatukan dalam gerakan memberi hormat,
"Salam... murid-murid Sekte Pedang Awan sekalian. Kami adalah sekelompok praktisi pengelana yang kebetulan berkunjung di Kota Bintang Pagi. Kami mendengar terjadi keramaian di Sekte Pedang Awan ini, lalu bertanya-tanya. Apakah kami diijinkan untuk menonton keramaian ini?"
Sebagai salah seorang yang pernah belajar dan menimba ilmu di Sekte ini, tentu saja Lin Hong merasa perlu menyebut mereka dengan akrab seperti itu.
Akan tetapi alangkah terkejutnya Lin Hong, sebuah jawaban pedas membuat dia merasa seolah-olah kepalanya di guyur dengan sebaskom air dingin,
"Kalian empat praktisi dengan pakaian aneh berciri orang-orang dari wilayah barat sana, tidak kami ijinkan sebelum mendapat persetujuan dari Penatua Sekte yang menangani urusan diplomasi seperti ini" kata salah seorang murid yang terlihat paling senior.
Murid laki-laki itu bernama Yi Ping berusia 21 tahun. Dia telah berlatih di Sekte Pedang Awan sejak usia 11 tahun. Saat ini kultivasinya berada di ranah Alam Kondensasi Roh Bintang delapan.
Yi Ping ini telah memperhitungkan, sebelum berusia 25 tahun nanti dia akan berada di Alam Roh Tercerahkan. Sebenanrny kultivasinya terbilang tinggi. Namun usianya telah melewati batas sehingga dia tidak dapat mengikuti seleksi jenius Sekte Pedang Awan.
Dengan mengernyitkan kening, Lin Hong berkata,
__ADS_1
"Dibutuhkan verivikasi dari seorang penatua yang bertugas dalam hal diplomasi? Mengapa Sekte Pedang Awan ini menjadi seruwet ini?" Lin Hong lantas tertawa terbahak-bahak. Dia membandingkan dengan masa-masa mereka dahulu, rasanya tidak terlalu rumit untuk berkunjung ke Sekte Pedang Awan.
Yi Ping ini, seketika menjadi tersinggung. Kawan-kawannya pun terlihat menampakkan wajah kurang sedap...
"Nona.. tidak tahukah anda jikalau Sekte Pedang Awan kami memiliki pengalaman kurang sedap di masa lalu dengan praktisi Wilayah Barat? Praktisi Klan iblis itu telah membunuh banyak murid bahkan Ketua Sekte di masa itu" Sepuluh orang itu mulai mencabut pedang dari sarung nya. Tangan mereka gemetar karna merasa marah dengan ucapan Lin Hong.
Sambil membalikkan badannya dan berbicara acuh tak acuh, Lin Hong menjawab secara bercanda. Dia berniat mempermainkan sepuluh murid itu...
"Aku tahu tentang permasalahan Sekte ini dengan ras iblis dari Barat sana. Lantas dengan melihat cara berpakaian kami seperti orang wilayah barat, maka kamu semena-mena menuduh kami adalah ras iblis? apakah kamu ada melihat tanduk di kepalaku?" Lin Hong membuka anak rambut di keningnya lalu mempertontonkan kening yang putih bersih itu.
Kesepuluh murid itu menyebut kata-kata suci, lantas mereka membuang muka dengan wajah merah karena jengah.
Di masa itu, melihat secara terang-terangan wajah seorang gadis, apalagi mempertontonkan kening yang putih seperti itu adalah tabu. Namun Lin Hong adalah gadis kaum Sungai Telaga yang mana umumnya gadis-gadis pengelana itu tidak menaruh perhatian terhadap tata krama seperti itu.
"Anda sangat liar nona... tindakan anda mempertontonkan kening anda amatlah tidak sesuai dengan tata krama di Sekte Pedang Awan" kata Yi Ping. Tangannya semakin erat memegang pedang yang siap meluncur setiap saat.
Ketika mendapat kode bahwa mereka dapat langsung menerobos masuk, sekonyong-konyong dalam gerakan yang tak dapat diikuti sepluh anak muda itu, Lin Hong menghilang dari pandangan mereka. Saat itu ke sepuluh anak muda itu telah jatuh pingsan, tanpa mengetahui penyebabnya.
"Mari kita masuk dan melihat-lihat. Aku yakin kita akan bertemu Peng Fai, orang yang diinginkan Master untuk menjadi penghubung" kata Lin Hong.
Ke empat praktisi itu lantas menghilang dalam gerakan terbang diatas rumput.
Setelah tiba di Puncak Biru dimana Master Sekte berada, juga dimana terdapat alun-alun tempat kegiatan seleksi Jenius Sekte Pedang Awan. Di tempat itu sangatlah ramai dengan penonton yang terdiri dari murid-murid sekte sendiri, juga penonton dari kaum wisatawan dan praktisi yang memang sengaja datang untuk menonton pertunjukan itu.
Di tribun VIP tampak duduk beberapa orang penting sekte dan juga Gubernur Kota Bintang Pagi. Lin Hong sibuk mencari-cari dimana duduknya Peng Fai. Dia menaksir kalau Peng Fai pasti duduk di kursi bagian Penatua atau di bagian murid-murid Senior Pelataran Dalam.
Sementara itu, keempat praktisi itu telah duduk di tribun dan membaur bersama ribuan penonton. Suara berisik teriakan terdengar, serasa memecah gendang telinga ketika melihat ke arah panggung dimana dua pria muda usia belasan tahun tengah bertarung menggunakan pedang.
__ADS_1
Pria muda berpakaian warna biru itu terlihat berusaha menindas lawannya yang mengenakan pakaian serba hijau.
"Pemuda berpakaian biru itu bernama Wan Junqing. Pakaian berwarna biru itu pertanda dia mewakili puncak biru dimana Master sekte berdiam. Sedangkan anak muda berpakaian hijau bernama Chang Bingjie. Warna hijau itu pertanda dia mewakili puncak hijau. Meskipun dia agak kalah dalam teknik pedang, namun Chang Bingjie itu adalah seorang Ahli Simbol. Puncak Hijau sekte ini selalu identik dengan kemampuan sebagai ahli kekuatan jiwa" Jelas seorang penonton kepada Lin Hong ketika gadis itu bertanya meminta penjelasan mengenai keadaan di panggung turnament.
Pedang di tangan Wan Junqing terlihat meliuk dalam gerakan mematikan, tatkala anak muda itu melompat dan mengunci Chang Bingjie dalam gulungan pedang. Itu adalah teknik yang berbahaya, dimana mengunci lawan sehingga lawan tidak akan mampu keluar dari gulungan pedang, jikalau tidak mau tubuhnya termutilasi menjadi beberapa potongan.
"Chang Bingjie ini seharusnya langsung mengaku kalah agar dia tidak binasa dalam gulungan teknik pedang berbahaya itu. Teknik itu adalah teknik pedang yang di ajarkan langsung oleh master sekte kepada Wan Junqing. Mana mungkin Chang Bingjie dapat lolos dari benteng pedang itu" ulas pria yang mana Lin Hong bertanya tadi.
Lin Hong tidak menjawab, karena dia tahu... seorang ahli simbol atau ahli kekuatan jiwa selalu menyimpan banyak hal-hal tak terduga di lengan baju mereka. Dia paham hal itu, karena dia sendiri setelah menjadi seorang ahli kekuatan jiwa (mengikuti jejak Master Yong) persepsi nya dalam bertempur menjadi berbeda.
"Well kita lihat saja nanti" kata Lin Hong pelan.
Benar saja sesuai perkiraan Lin Hong. Ketika semua orang berteriak meng-elu-elu kan Wan Junqing dan mengejek Chang Bingjie, sekonyong-konyong Chang Bingjie itu terlihat membentuk segel di tangan dan dia melepaskan sebuah benda.
"Duaarr...!" suara ledakan yang amat keras terdengar dari arah arena kompetisi.
Sebuah petir meledakkan gulungan pendang yang membentuk benteng, mengunci ketat Chang Bingjie, sehingga benteng pedang yang mengeliling dia seketika berantakan. Pedang di tangan Wan Junqing terlepas dari tangannya, dengan bentuk yang rompal terkena kekuatan petir.
Wan Junqing sendiri terlempar beberapa tombak kebelakang, dengan kondisi pakaian compang-camping tersambar petir. Meski tidak dalam kondisi parah, dia terlihat tidak karuan bentuknya. Sementara itu, dengan memanfaatkan moment itu Chang Bingjie melompat dengan cepat, dan pedang di tangannya dengan kejam mengunci batang leher Wan Junqing.
Wan Junqing dalam ancaman pedang, diam dengan tatapan melotot karea terkejut. Semua penonton terdiam. Tidak ada yang bersuara sama sekali. Ejekan dan hinaan yang awalnya di tujukan ke Chang Bingjie, langsung pudar. Mereka seolah di tampar dengan kata-kata sendiri setelah sebelumnya merendahkan pemuda berpakaian hijau itu.
*Bersambung*
Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di-like, sekedar komen dan vote.
Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.
__ADS_1