
Pengantar
Kemampuan mempraktekkan sihir telah ada sejak berabad-abad yang lampau. Kemampuan itu telah ada semenjak Kaum Elf di bangunkan dan menjadi anak pertama dari Dunia, di masa ketika pada masa itu hanya terdapat bintang-bintang di langit sebagai penerang dunia.
Kaum Elf ini sedemikian mahirnya mempraktekkan sihir yang mereka sebut dengan seni biasa. Lalu anak kedua Dunia pun terbangun yaitu ras manusia. Sebagai adik atau anak kedua dari dunia, berkat yang di terima ras manusia ini tidak seberuntung anak pertama.
Kemampuan memainkan seni sihir ini hanya menjadi bakat khusus yang di miliki oleh segelintir kaum yang berasal dari ras manusia.
Dengan berlalunya waktu, seni sihir ini terbagi didalam dua praktek utama, yaitu praktek sihir putih yang di gunakan untuk membantu orang seperti menyembuhkan penyakit, menemukan barang hilang dan lain sebagainya.
Sedangkan praktek sihir hitam kebanyakan di gunakan untuk menyakiti mahluk lain sehingga seperti dua sisi mata uang, seni sihir ini dibutuhkan untuk membantu hal-hal yang bersifat baik misalnya penyembuhan secara sihir (heal), namun disisi lain sihir itu pula dianggap bersalah atas kejadian seperti penyakit, kematian, badai, gempa, kekeringan, banjir dan banyak lagi.
Hal itu menyebabkan keberadaan mahluk hidup yaitu Elf atau manusia yang menguasai teknik dan seni sihir ini, sering menyembunyikan diri karena tidak ingin dianggap bersalah atas kejadian-kejadian bencana alam yang di kait-kaitkan dengan tenung dan sihir gelap.
Ketika peperangan akan terjadi, biasanya pihak Kekaisaran akan mencari penyihir-penyihir tersembunyi untuk membantu mereka ketika berperang.
Namun ketika perang itu usai, kaum penyihir ini akan di singkirkan, kembali ke tempat terisolasi, karena pihak penguasa tidak menginginkan penyihir-penyihir itu memiliki pengaruh yang lebih besar, di banding mereka kaum penguasa..
******
Kapal roh yang di tumpangi Sima Yong beserta tiga kawannya telah dua kali mondar-mandir melewati pegunungan Pelahap. Akan tetapi tidak terdapat jejak sedikitpun mengenai keberadaan pasukan Pangeran Ju Qin.
"Apakah mungkin informasi yang di kumpulkan Paman Lu Yanshan salah adanya?
Tapi itu tidak mungkin. Orang tua itu tidak mungkin mengakali diriku" batin Sima Yong.
Selama dua kali perjalanan memutar-mutar perbatasan dengan Timur itu, bahkan Sima Yong sempat bercakap-cakap dengan kelompok ras duyung yang melintas di pinggiran pantai.
Sima Yong baru saja selesai memainkan musik berkekuatan jiwa, dengan niat dan usahanya mengambil hati sekelompok duyung di lautan timur.
Dia berniat untuk meminta informasi tentang keberadaan pasukan tentara Pangeran Ju Qin yang tak kunjung ditemuinya setelah mondar-mandir di perbatasan sebanyak dua kali.
"Wahai kakak duyung yang budiman, dapatkah diriku ini meminta sedikit informasi dari kakak semua?
Baru-baru ini aku mendengar berita, kalau-kalau di sekitar perbatasan Timur sini telah berkumpul beribu-ribu tentara manusia?
Apakah cerita yang berkembang di kalangan mahluk daratan kami itu benar adanya? Aku memiliki keperluan dengan seseorang"
Saat itu Sima Yong tampak melayang diatas air laut sambil berbicara ramah kepada kelompok duyung yang bermain-main diatas karang laut.
"Mainkan kami sekali lagi satu komposisi lagu. Setelah itu aku akan menceritakan apa yang kami lihat dan kami dengar,
wahai penyihir muda" pinta gadis duyung berwajah manis, lalu dia berpandangan sambil cekikikan dengan tiga orang kawannya duyung perempuan dan laki-laki.
Ras duyung memang amat gemar mendengar musik-musik mistis yang di kendalikan menggunakan kekuatan jiwa atau sihir.
Sima Yong lantas memainkan satu komposisi lagu, yang membuat kelompok ras duyung itu sampai meneteskan air mata lantaran sedih. Meski terkejut, Sima Yong hanya diam ketika melihat air mata duyung-duyung itu lantas berubah menjadi benda kecil berkilauan atau biasa di sebut mutiara.
"Pantas saja banyak manusia serakah yang menangkap dan memelihara duyung, sera membuat mereka menangis" tatap Sima Yong dengan iba kearah duyung-duyung yang ceria itu.
Tring !
Ketika petikan akhir nada Gu Zheng di bunyikan, Sima Yong lantas kembali mengajukan pertanyaan kepada kelompok duyung,
__ADS_1
"Apakah akhir-akhir ini kakak duyung sekalian melihat sekelompok besar tentara kerajaan melintasi Laut Timur ini?
Aku tengah kebingungan mencari seorang kawan yang bernama Pangeran Ju Qin. Dia bersama dengan sekelompok besar tentara manusia, memilih menyembunyikan diri di perbatasan Timur sini" kata Sima Yong.
Meski wajahnya terlihat enggan untuk berhenti mendengar petikan Gu Zheng, gadis ras duyung itu menjawab riang,
"Aku tahu apa yang kamu cari penyihir muda. Beberapa waktu yang aku ketika aku sedang bermain-main di karang sini, sepuluh kapal roh melintasi lautan.
Mereka sepertinya orang-orang dari Negri Timur sana. Ketika mereka beristirahat di tepi pantai, sebelum melanjutkan perjalanannya.. Aku mendengar kalau mereka akan pergi bergabung dengan pasukan tentara yang menamakan diri Kaum Pembebas.
Konon mereka akan menuju Gunung Pelahap, dan bergabung dengan Kaum Pembebas untuk membantu seorang Pangeran dari dataran Tengah..."
"Gunung Pelahap ! Baiklah aku akan pergi ke gunung itu. Terima kasih kaka duyung.." kata Sima Yong, bersiap-siap untuk untuk terbang kembali ke kapal rohnya yang masih berlabuh di langit.
Gadis duyung itu melempar senyum sambil berkata,
"Baiklah penyihir muda...
Kapan-kapan anda dapat mengunjungiku dan kita bercakap-cakap sambil mendengarkan musik sihir anda.
Kemungkinan aku akan berbaik hati untuk memintal satu jubah khusus buatmu.
Konon... jubah hasil pintalan kami ras duyung, sangatlah dihargai mahal di dunia daratan sana" kata gadis duyung itu dengan suara menggoda.
Sima Yong hanya membalas dengan mengkerdipkan matanya, yang seketika membuat gadis ras duyung itu memerah wajahnya dan di iringi suara-suara menggoda dari kawan-kawannya.
******
Diatas geladak kapal, Sima Yong berkata kepada kawanannya,
Kapal roh itu lantas melaju menuju ke Gunung Pelahap. Telah berulang kali mereka melewati Gunung Pelahap, namun mereka hanya melewati pinggiran gunung, alih-alih mencoba memeriksa di puncak gunung.
Ketika Kapal Roh mereka menukik dan melandai, sekonyong-konyong terdengar aba-aba
"Mata-mata !
Tembakkan panah sihir"
Wush - wush - wus
Ratusan bahkan ribuan anak panah melayang terbang cepat, dengan api menyala-nyala, siap menghanguskan kapal roh yang di tumpangi Sima Yong.
Aneh nya nyala api bukannya berwarna seperti umumnya nyala merah, kuning atau biru, melainkan nyala api yang di tembakkan dari bawah itu berwarna sangat muram seperti awan kelabu.
"Sihir !
Mereka menggunakan panah sihir yang digunakan pengendali api" teriak Ye Big Qing panik.
Sebagai seorang gadis jingling yang mahir dengan sihir, Ye Bing Qing sadar. Panah yang mengandung sihir api terkutuk seperti itu, tak dapat dipadamkan ketika panah telah meledak pada sasarannya. Hanya Sang Pengendali Api sendirilah yang dapat memadamkan api terkutuk yang di tembakan itu.
Menurut teori, selain pengendali api itu sendiri yang dapat memadamkan kobaran api sihir terkutuk seperti itu, penyihir-penyihir berkekuatan jiwa Peringkat DAO saja yang dapat mengintervensi sihir pengendali api itu. Ye Bing Qing amat tidak percaya diri dalam hal ini. Dia memiliki kekuatan Jiwa sebatas Master Surgawi Puncak saja.
Ketika Ye Bing Qing tengah panik melihat ribuan anak panah mengandung api terkutuk berwarna muram itu, sesosok tubuh berkelebat dari geladak kapal roh, melayang di udara sambil mulutnya komat-kamit dengan suara samar seperti suara nyanyian kematian, disusul bentakan keras,
__ADS_1
"jaatya !" suara itu berbicara dalam bahasa kuno
Seketika ribuan anak panah yang sedianya akan membakar habis kapal roh itu terhenti di udara ketika dari tangan yang melambai itu keluar secarik cahaya menghentikan semua anak panah.
Ribuan anak panah itu lalu membeku dalam bentuk es dan kembali berhamburan jatuh ke tanah. Ye Bing Qing, Wei Park dan Xong Jui Yong ternganga dengan mulut terbuka dari geladak kapal.
Mereka di buat terpukau dengan tindakan anak muda itu yang dengan satu kata kuno, mampu menghentikan tembakan panah mengandung sihir para pengendali api.
Lalu dari arah bawah di puncak Gunung Pelahap terdengar teriakan keras-keras..
"Penyihir.. Ada satu penyihir diatas kapal roh musuh itu.
SAGE Atid mana? Minta SAGE itu menghalangi penyihir di kapal sana !" teriakan panik terdengar dari arah bawah.
Dalam lima tarikan nafas, dari arah Puncak Gunung Pelahap, tersiar aura membunuh seorang SAGE yang kental menindas kemana-mana.
Wush !
Dari arah bawah tampak melesat cepat dua sosok yang bergabung menjadi satu.
"Demi dewa... SAGE itu mahluk terkutuk apakah yang di kendarai SAGE itu. Belum pernah aku melihat mahluk sedemikian besar" pekik Ye Bing Qing dan dua lainnya.
Ye Bing Qing, Wei Park dan Xong Hui Yong melihat ngeri ketika seorang anak muda bertubuh jangkung terlihat berdiri diatas satu mahluk raksasa yang di sebut gajah dan dengan tangan terbentang melebar memegang dua Pedang bermata satu, siap-siap menebas kapal roh mereka.
Sementara itu, telinga mahluk gajah itu sedemikan lebar, membentang laksana sayap mahluk mitos Roc.
(Ye Bing Qing, Wei Park dan Xong Hui Yong belum pernah melihat gajah sebelumnya),
Suiiiittt !
Sesosok bayangan kelabu terbang menghadang SAGE yang mengendarai Gajah Raksasa, tangannya membentuk pukulan telapak yang di arahkan ke SAGE dan Mahluk Gajah raksasa.
Duaar !
Suara benturan keras terdengar, ketika tebasan pedang kembar SAGE itu berbenturan dengan telapak tangan sosok kelabu itu dan meledak di udara dengan kekuatan eksplosif yang menyilaukan mata dengan suara yang memekakkan telinga.
SAGE itu terpental kebelakang bersama mahluk gajahnya, yang kemudian dengan sigap langsung melakukan jumpalitan indah untuk memperbaiki posisinya. Dia terlihat marah karena tidak menyangka menemui lawan yang luar biasa kali ini. Mata nya menjadi kemerahan dan mencorong.
"Kuasi Alam Melintas Immortal...
Siapa kamu? Dan apa maksudmu melintas mancari-cari sesuatu di markas Kaum Pembebas kami?" suara SAGE itu terdengar waspada. Dia menyelidiki dalam-dalam si jubah kelabu.
Jubah Kelabu itu membungkuk dan memperkenalkan diri,
"Namaku Sima Yong. Ku dengar dari kabar berita, Pangeran Ju Qin yang aku cari berdiam di Puncak gunung Pelahap sini.
Aku sendiri adalah kawan lama dari Pangeran Ju Qin. Tentu saja aku mencari dia dengan maksud untuk membantunya didalam peperangan yang akan terjadi"
"Sima Yong?" kata sang SAGE mengkerutkan keningnya.
"Aku pernah mendengar cerita Pangeran Ju Qin tentang Sima Yong itu. Namun ranah kultivasinya tidaklah setinggi yang anda perlihatkan.
Bolehkan anda menunjukkan sesuatu yang membuatku percaya bahwa anda adalah Sima Yong yang merupakan kawan Pangeran Ju Qin?" tanya SAGE itu...
__ADS_1
*Bersambung*
Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini. Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca...