Kisah Dewa Pedang Utara

Kisah Dewa Pedang Utara
Sebuah Dunia Merah ii


__ADS_3

Angin bertiup pelan, beberapa kelopak mawar merah terbang, melayang layaknya kupu-kupu dalam balutan kirmizi terbang gemulai memamerkan semburat merah merang. Dua sosok berdiri dalam diam, di dalam bentala absurd itu.


"Dari mana tuan tahu, kalau aku mengenakan artefak rompi Raja Pedang Elf ?" ia lantas melirik ke pedang immortal di tangannya, dan melanjutkan pertanyaan..


"Dan mengenai pedang hitam ini, bagaimana anda dapat menebak kalau benda suci ini adalah warisan Raja Pedang Terbang? Sepengamatanku, aku menduga usia anda tidak terlalu tua untuk mengenali tokoh-tokoh kuno, yang aku sebutkan tadi" tanyanya bimbang.


Masih dengan pertanyaan, Sima Yong memberondongi pria tua itu.


"Keberadaan dua raja pedang itu amat terlalu lama - ribuan bahkan mungkin belasan ribu tahun yang lalu adalah masa hidup mereka di dunia ini. Apakah anda mengenali mereka secara langsung?" Sima Yong bertanya skeptis.


Pria tua itu hanya tertawa kecil. Mulut nya tidak melengkung seperti mimik orang yang tertawa pada umumnya. Terlihat datar namun suara kekehan jelas terdengar dari mulutnya.


"Kamu tidak perlu kuatir dengan ku. Apapah aku mengenali langsung dua Raja Pedang itu.


Pertanyaanku, bukankah kamu tiba-tiba merasa kurang nyaman ketika aku yang tua ini menyebutkan nama dua raja pedang? Apakah kamu menjadi khawatir kalau-kalau aku berminat dan akan memendam hasrat untuk menjarah dua artefak kamu itu?"


Mata pria itu terlihat seperti menyorot begitu dalam hingga ke lubuk hati Sima Yong. Tentu saja anak muda itu tergagap karena merasa pemikiran nya seperti terbaca oleh orang tua itu.


"A-aku tidak bermaksud demikian. Maksudku dengan usia sekitar tujuh puluhan tahun ini, anda tidak mungkin mengenal sosok yang telah lama pergi sejak belasan ribu tahun bukan?" jawab anak muda itu.


Dengan satu dengusan dingin, pria tua itu berkata.


"Kamu tidak perlu menjadi bimbang denganku. Aku sama sekali tidak berminat dengan dua artefak peninggalan dua raja pedang. Jika aku mau, disini benda-benda seperti artefak ini ada sangat banyak.." lanjutnya..


"Dan siapa bilang aku berusia tujuh puluh tahun?" Apakah ... jikalau aku mengatakan usiaku adalah dua puluh ribu tahun, kamu akan percaya?" suara itu bergema di benak Sima Yong.


Dengan wajah yang kentara menampakkan rasa ketidak percayaan, Sima Yong menjawab.


"I-ini.. well tidak mungkin bukan? Anda tidak mungkin setua itu kan?" tangannya semakin erat menggenggam Pedang Immortal Hitam.


Pria tua itu menjawab datar,


"Sesungguhnya aku memang telah berusia lebih dari dua puluh ribu tahun" Meskipun Sima Yong menampakka ekpresi kaget, dia tidak memerdulikan perubahan di wajah anak muda itu. Kata-kata telah berusia dua puluh ribu tahun pada kenyataan memang membuat Sima Yong terpukul.


Dia melanjutkan,


"Tempat ini di namakan 'Perbatasan'. Seharusnya aku membunuh kamu ketika menjumpai kamu berada di tempat terlarang ini.


Namun karena kamu adalah ahli waris dua raja pedang itu dan mempertimbangkan persahabatanku dengan dua orang itu di masa lalu, maka aku memutuskan tidak akan mengambil nyawamu. Kamu dapat hidup disini menemani ku dengan ribuan peti mati sana" ia menunjuk jejeran peti mati dengan mata.


"Apakah tidak ada jalan keluar dari sini?" tanya Sima Yong panik.


"Tidak ! Tidak ada jalan keluar dari sini. Kamu akan berada di sini selamanya. Bahkan mungkin aku akan mempertimbangkan kamu menjadi penerusku, sebagai 'Penjaga' ! Penjaga adalah namaku.


Kecuali kamu dapat ..." suara pria tua itu terdengar mengejek. Dia tidak melanjutkan kata-katanya dengan niat membuat anak muda itu penasaran.


"Penjaga? Apa maksud tuan dengan kata-kata penjaga? Aku tidak mengerti dan tolong jelaskan padaku apa maksud anda dengan kata-kata 'kecuali' tadi.


Tolong lah...Aku butuh penjelasan anda tuan. Aku harus keluar dari tempat ini" jawab anak muda itu terlihat curiga namun juga bernada permohonan.


Suara mentertawakan jelas terdengar dari si Penjaga, dia senang melihat ketakutan di mata anak muda itu.

__ADS_1


"Menjadi penjaga berarti kamu akan menjadi penjaga dari dari ribuan mayat di peti sana !" sekali lagi dia menunjuk dengan mata ke arah jejeran peti itu.


"Apa !" Sima Yong terhuyung mundur. Tidak ada jalan keluar dan menjadi penjaga ribuan peti mati? Oh tidak ! Ia masih memiliki banyak sekali kepentingan di luar sana. Ia harus mendirikan satu sekte, lalu mencari Atid dan Phoenix api yang menjadi mahluk roh kesayangannya saat ini, terlebih mengunjungi negri utara - well meskipun ia merasa tidak ada yang menanti kedatangannya di utara, namun ia memiliki rasa rindu dengan negri tempat kelahirannya itu. Ada banyak sekali yang harus ia kerjakan.


"Mari aku tunjukkan sesuatu" pria tua itu melayang pelan ke arah jejeran peti-peti mati. Sima Yong mengikuti pria itu.


Pria itu mengangkat tangannya. Dan sebuah kunci emas, berkilauan terlihat melayang dari telapak tangannya dan jatuh di atas peti mati terdekat.


Wush !


Sreeet !


Angin berhembus pelan, penutup peti mati bergeser dan anak muda itu merasa bulu kuduknya meremang. Cahaya keemasan menyala keluar dari dalam peti mati ketika penutupnya terkuak.


"Lebih dekat kemari anak muda. Tidak perlu takut !" kata pria tua itu.


Sima Yong mendekat dan lebih dekat lagi. Saat itu ia melihat di dalam peti, sesosok pria berumur 60 tahun atau lebih, terlihat seperti orang tidur dengan posisi memegang pedang di tangannya. Ada banyak sekali benda-benda dan tulisan tangan kuno seperti salinan-salinan huruf.


Meskipun telah mati, tubuh itu tidak rusak sama sekali. Demikian juga dengan semua pakaian dan barang-barangnya. Jenasah itu tampak agung, meskipun telah tidak bernyawa.


"Ini adalah ?" tanya Sima Yong dengan melotot.


Tidak tercium aroma tidak sedap sedikitpun, melainkan harum-harum rempah tua yang menyeruak keluar dari peti. Sima Yong tahu, itu semua pekerjaan sihir.


Pelan terdengar suara si Penjaga, dia berkata dengan nada hormat.


"Ini adalah Fang Ren Zhi. Dimasa hidupnya ribuan tahun yang lalu, dia adalah seorang yang di sebut Raja Pedang. TIngkat kultivasi Fang Ren Zhi adalah Kuasi Immortal atau setengah langkah menuju Immortal"


"Itu adalah ranah kultivasi yang amat tinggi. Tinggal selangkah lagi dia akan disebut Immortal'


Sambungnya..


"Apa yang menyebabkan Leluhur Fang Ren Zhi ini tewas?"


Dengan menghela nafas si Penjaga berkata,


"Ia mati ketika melakukan perpindahan kultivasi dari kuasi immortal, untuk meningkat menjadi praktisi yang di sebut Immortal. Sayang sekali ia gagal... Ia tidak akan pernah menginjakkan kaki di suatu tempat yang di sebut Negri Ajaib.


Lagipula, untuk menjadi Immortal, hal itu bukanlah semudah seorang praktisi menerobos ranah kultivasi biasa. Ada nyawa yang di pertaruhkan di situ, ada banyak katalis yang di perlukan seperti Relikui berharga, atau artefak berharga.


Kamu lihat sendiri bukan? Kultivasi ku hanya sebatas Kuasi Immortal. Aku tidak pernah berusaha menerobos menjadi seseorang yang di sebut Immortal. Aku takut gagal dan kematian menjemputku.


Ras manusia hanya dapat mencapai Negri Ajaib jika ia menerobos menjadi pratisi immortal.


Beda dengan Elf yang hanya perlu mati, lalu berlayar menuju negri itu. Akan tetapi perlu kamu ketahu, Elf ketika mencapai Negri Ajaib, dia tidak akan memiliki kultivasi seperti ketika dia mati. Semua akan mulai dari nol. Tubuh baru, pikiran baru dan memulai kultivasi baru... " Sima Yong mencatat baik-baik penjelasan ini. Baru sekarang di mengerti benar apa yang di sebut immortal dan manfaat nya.


"Itulah sebabnya aku menerima pekerjaan sebagai seorang penjaga, hidup di dunia yang waktu seperti terhenti ini" jelas sang penjaga.


"Kemudian, para Hakim-hakim dan Malaikat dari Negri Ajaib wonderland yang merasa iba dengan kondisi ku, bukan immortal namun juga bukan apa-apa...


Mereka lntas menawarkan ku pekerjaan menjadi Penjaga di dunia Perbatasan ini, menjaga ribuan jenasah praktisi yang tewas ketika gagal menerobos menjadi seorang Immortal"

__ADS_1


"Disini, usia ku seperti terhenti karena pengaruh waktu yang seperti terhenti - tindakan ajaib kaum Malaikat dan Hakim-hakim dari Negri Ajaib. Usiaku tergerogoti ketika ku harus pergi ke dunia, menjemput praktisi-praktisi yang gagal menjadi immortal, menyemayamkan mereka disini.


Disini waktu berjalan sangat lambat di banding dunia luar.


Semua itu, dunia perbatasan inlah yang membuat aku dapat hidup hingga puluhan ribu tahun, dan tentu saja di bantu dengan berbagai pil dan ramuan roh pemberian Hakim-hakim dan Malaikat dari Negri Ajaib" jelas sang Penjaga.


Sima Yong terhenyak. Dia saat ini jadi lebih percaya kalau sang Penjaga itu tidak berbohong. Pria tua itu telah berusia puluhan ribu tahun. Dan jika memang dirinya telah demikian tua, maka pernyataannya bahwa dia mengenal Raja Pedang Terbang dan Raja Pedang Elf secara pribadi - bukanlah kata-kata meracau belaka.


"Jadi.. anda benar-benar telah berusia demikian tua? Dan selama ini, anda hidup dengan kumpulan jenasah praktisi dunia yang tewas ketika mencoba melangkah menjadi immortal?" tanya anak muda itu kagum. Ia lantas melirik kembali satu demi satu peti-peti jenasah yang jumlahnya ribuan itu.


"Harus ada seseorang yang menjaga tempat ini bukan? Dapatkah kamu membayangkan?


Satu peti saja yang lolos di belahan dunia yang terdiri banyak dan berbagai rupa benua itu, maka bencana besar dan pertempuran besar akan terjadi. Semua demi memperebutkan benda-benda artefak di dalam peti jenasah ini.


Ada terdapat banyak sekali salinan teknik pedang, salinan teknik berkultivasi, Artefak Pedang, Armor, Sarung tangan, cincin, kalung, dan semua-semua itu adalah benda berharga yang dapat meningkatkan kekuatan seorang kultivator !" pungkas si penjaga.


Anak muda itu terdiam. Ia menjadi mngerti, pantasan saja sejak awal-awal, si Penjaga mengatakan tidak tertarik dengan Pedang Immortal dan Artefak Rompi miliknya. Di sini, di tanah perbatasan ini, benda-benda artefak seperti itu melimpah seperti barang yang tidak di berguna saja.


Ia lalu bertanya kepada si Penjaga,


"Tuan Penjaga. Dapatkah anda memberi tahukan kepadaku, bagaimana caranya keluar dari tempat ini?"


Si penjaga tanpa memalingkan wajah menjawab.


"Kembali mengingat persahabatan ku dengan dua raja pedang, aku akan memberi penjelasan.


Kamu harus menerobos dan memiliki kultivasi minimal di ranah Alam Melintasi Abadi level rendah. Di ranah itu kamu dapat membuat lorong ruang dan waktu sendiri untuk dapat kamu gunakan, lalu terhubung dengan jalan lorong portal dimana kamu terlempar sebelumnya" jawab sang penjaga.


"Aku dengan menyesal harus berkata, tidak dapat membantu kamu membuat jalan dan mengantar anda menuju lorong portal.


Tubuhku semakin lemah. Sudah terlalu lama aku menolak kematian. Tulang-tulangku telah menangis karena lelah di dunia ini.


Sementara aku harus tetap menjaga sisa-sisa energi ku untuk berjaga-jaga dan menjemput ahli-ahli Kuasi Immortal yang tewas ketika mereka mencoba menerobos menjadi immortal, di ratusan benua yang ada di dunia ini"


"Aku akam membiarkanmu hidup, dan kamu harus mencoba menerobos menjadi ahli di Alam Melintas Immortal, kemudian membuat jalan keluar lorong ruang dan waktu untuk kamu sendiri...


Aku akan membiarkan mu hidup menikmati semua fasilitas disini disini, memanfaatkan waktu yang terpotong di alam ini, dan menerobos ke ranah yang pantas untuk membuat jalan ruang dan waktu sendiri.


Namun pesanku hanya satu, jadilah kuat dan tidak menjadi mati ketika saatnya kamu akan melakukan perpindahan diri menjadi seorang immortal !"


******


Sejak saat itu, Sima Yong berdiam di tempat yang di sebut perbatasan itu. Ia mulai melakukan kultivasi - menyerap relikui yang ia miliki dari perang suci.


Ia belum memanfaatkan relikuit Raja Pedang iblis, karena relikui itu terasa mengandung kesesatan.


"Aku hanya akan menyerap relikui Raja Pedang iblis ini ketika mencoba menerobos menjadi Immortal !


Di saat itu tubuh dan jiwaku telah kuat menghadapi hawa sesat relikui terkutuk itu"


*Bersambung*

__ADS_1


   Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini.  Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca...


__ADS_2