Kisah Dewa Pedang Utara

Kisah Dewa Pedang Utara
Perang dan Sihir V


__ADS_3

Pada kenyataannya hutan di Gunung Pelahap adalah hutan yang di dominasi pohon-pohon hutan subtropis seperti Pohon-pohon Ek atau Pohon-pohon Pinus.


Di bagian paling tepi dari Lapangan Hutan Pelahap, tempat para tentara itu berlatih perang sehari-hari, ada terdapat satu pohon Ek yang terlihat cukup tua. Menurut taksiran para tentara, usia pohon itu sekitar 200 tahun dengan dahan-dahan yang mengembang kesana kemari sehingga dari jauh, dia terlihat seperti sayap Malaikat.


***


Kaum Elf sejak siang-siang telah mulai menghias tempat upacara mereka tepat di kaki pohon Ek. Mereka menggantung ratusan bahkan mungkin ribuan lentera, di mulai dari bagian paling atas pohon sampai ke bagian bawah. Pohon itu sampai terlihat seperti gantungan lentera saja.


Bahkan mereka membentuk semacam panggung kecil serta mengatur semacam jalan setapak di hiasi bunga-bunga hutan dan membentuk gapura dari tanaman menjulur, yang membentuk lorong indah untuk menuju ke panggung di kaki Pohon Ek. Demikian ramai suara suara kegiatan kaum Elf laki-laki dan perempuan, sampai-sampai menarik perhatian banyak kaum tentara di sekitar lapangan.


"Ada apakah gerangan? Mengapa kaum Elf itu menghias tepi lapangan yang berbatasan dengan hutan gelap?"


"Mereka Kaum Elf akan mengadakan ritual dan memanggil Mahluk Sihir.. Minggir !. Tak seorangpun diijinkan untuk mendekati tepi lapangan itu" seorang tentara mengusir kawan-kawannya yang terlihat penasaran dan mencoba mendekat tempat Kaum Elf itu sementara menghias.


Tentara yang berbicara itu dalah satu diantara seratus pasukan khusus yang di perintahkan, mengusir siapa saja yang mencoba mendekati area khusus itu upacara Kaum Elf


,


"Minimal jarak terdekat adalah seperempat Lie dari Pohon Ek itu" titah Tuan Yong kepada seratus tentara pasukan khusus.


"Kalian juga harus menjaga jarak, dari Pohon Ek itu jika tidak kepingin kehilangan kewarasan selamanya.


Aku bersama Elf-elf dari Sekte Malaikat Kelabu itu akan mengadakan ritual khusus memanggil mahluk sihir, yang akan menemani Kaum Elf ketika perang dimulai" jelas Tuan Yong.


"Ada yang mau bertanya?"


Semua diam. Tidak ada diantara seratus tentara itu yang berani mengajukan pertanyaan lebih kepada Tuan Yong. Namun dengan takut-takut, seorang tentara muda usia-sepertinya dia baru berusia 18 tahun bertanya,


"A-aku ingin bertanya"


"Silahkan !"


"M-mengapa harus mahluk sihir? Dan m-mengapa semua orang harus menjaga jarak minimal seperempat Lie dari tempat acara? M-mengapa harus berjarak jauh" Setelah bertanya, wajah tentara muda itu langsung memerah. Dia agak malu karena merasa dirinya lancang kepingin tahu lebih jauh. Akan tetapi dia merasa mereka perlu tahu alasan tepat mengapa semua di larang mendekati tempat ritual Sekte Malaikat Kelabu.


"Pertanyaan bagus. Aku akan menjawab dua pertanyaanmu, dan kalian semua wajib memberi tahu sesuai jawabanku, ketika seseorang bertanya dan kepingin mendekati Pohon Ek itu" kata Sima Yong. Lanjutnya,


"Mengapa mahluk sihir yang akan digunakan dalam peperangan? Jawabanya adalah karena dalam satu pertempuran, mahluk-mahluk sihir tidak mati atau tepatnya tidak gampang mati dengan senjata-senjata dunia. Mahluk sihir hanya akan melemah atau mati jika diserang menggunakan sihir atau senjata sihir"


"Sedangkan mengapa kalian harus menjauh di jarak tertentu dari tempat ritual Kaum Elf itu? Jawabannya adalah karena upacara itu akan menggunakan efek sihir untuk mengundang kehadiran mahluk-mahluk sihir yang mereka maksud.


Pernahkah kamu mendengar suatu sihir yang membius kepunyaan Kaum Elf?" tanya Tuan Yong. Tentara-tentara itu menggeleng kepala, memperlihatkan tanda ketidak tahuan.


Lalu semua tentara itu menyahut bersama "Kami belum pernah melihat sihir semacam itu"


"Baik akan kutunjukkan betapa berbahayanya ritual, untuk orang-orang yang tidak memiliki pemahaman kekuatan jiwa" Tuan Yong lantas mulai bernyanyi satu bait lagu,


Ketika malam yang membius,


Ketika hanya bintang-bintang yang menjadi sumber penerangan dunia,


Ketika Kaum Elf dibangunkan dari tidurnya dan diakui sebagai anak pertama,


Pohon-pohon itu telah ada sejak lama sebelum anak pertama terbangun..

__ADS_1


(ini murni kata-kata karangan Author, bukan di kutip dari lirik lagu atau puisi manapun)


Tuan Yong (mereke menyebut nya Tuan Yong) bernyanyi dengan suara yang terdengar seperti seruling. Dia bernyanyi dengan lambat. Sementara lantunan lagu itu mempertegas betapa jernih suaranya, terdengar membius mengandung sihir. Dalam sekejab mata seratus tentaratelah kehilangan kesadarannya, memasuki kondisi kesurupan.


Plok - plok - plok, Tuan Yong bertepuk tangan tiga kali banyaknya. Dia menyadarkan orang-orang kesurupan tadi.


Pada tepukan tangan yang ketiga,


Bam ! Seratus tentara itu terbangun dari keadaan trance secara mendadak tadi.


"A-apa yang terjadi?" tanya tentara muda itu.


"Kalian telah kehilangan kesadaran. Padahal itu baru sepenggal lirik lagu yang aku lantunkan. Bagaimana jika kalian dekat-dekat dan mendengar seratus Elf bernyanyi bersama-sama, yang memancarkan kekuatan sihir yang membius seperti tadi?


Apa kamu pikir kamu masih akan hidup? Ya mungkin kamu masih akan hidup. Akan tetapi kamu hanya akan menjadi seonggok daging tanpa nyawa. Karena kesadaran kamu telah terperangkap didalam kesurupan yang tiada akhir" jelas Tuan Yong.


Mendengar penjelasan itu, seratus tentara itu menggidik dalam rasa ngeri.


"Kami mengerti ! Terima kasih kebaikan Tuan Yong yang telah mengembalikan kesadaran kami" Seratus tentara itu bergidik ngeri, membayangkan ketika mereka akan terperangkap selamanya dalam halusinasi selamanya. Diam-diam mereka berjanji akan menghalangi saiap saja yang berniat untuk menerobos dan menyaksikan dari dekat ritual itu.


******


Kentongan pertama baru saja dibunyikan, ketika itu di kaki Pohon Ek telah lengkap Kaum Elf dari Sekte Malaikat Kelabu, ditambah dua keturunan Elf lainnya yaitu Sima Yong dan Ye Bing Qing.


Sima Yong terlihat mengusir Atid Ananada, ketika anak muda itu berkeras akan mengikuti ritual Kaum Elf itu dari dekat. Atid langsung di suruh pergi oleh Sima Yong.


Dengan wajah bersungut-sungut Atid mengeluh,


Aku heran, mengapa aku tidak diijinkan bergabung dalam prosesi ritual kaum keturunanku?" keluh Atid dengan wajah tidak puas.


"Pergi sana! Meskipun kamu keturunan Dark elf.. Akan tetapi kamu sama sekali buta tentang sihir. Bahkan tentara-tentara ahli sihir itu tak kuijinkan untuk bergabung. Sihir Kaum elf terlalu kuat.


Dengar Atid.. Kamu di butuhkan dalam peperangan nanti ! Tempatmu bukan di sini, disekelompok penyihir ini. Aku tak ingin kamu menjadi gila sebelum peperangan dimulai" hardik Sima Yong.


Atid langsung ngeloyor pergi dengan cemberut, dan dia bergabung di suatu tenda yang telah di pasang Array pelindung oleh Sima Yong tempat Pangeran Ju Qin dan ahli-ahli lainnya yang memiliki kultivasi minimal SAINT.


"Sebaiknya anda menggunakan penutup telinga, meskipun suara sihir itu telah ku blokir dari tenda ini" kata Sima Yong kepada Pageran Ju Qin.


"Aku akan mengenakan penutup telinga, ketika mulai merasa akan kesurupan" tolak Pangeran Ju Qin keras kepala.


"Baiklah..."


******


Malam itu, ketika Sima Yong berjalan melewati terowongan beratapkan tanaman merambat yang berhiaskan lentera-lentara putih.. Dia merasa seolah-olah mereka berada di suatu tempat yang sangat berbeda. Begitu asing, begitu indah namun begitu membius.


Sima Yong merasa sebuah surprise ketika dia keluar dari terowongan tanaman merambat itu. Terlihat satu pemandangan menakjubkan yang terpapar memanjakan mata.


Pohon Ek itu terlihat sangat indah dalam cahaya putih lentera yang bergelantungan dari puncak hingga kebawah.


"Indah sekali..." batin Sima Yong. Mata nya melihat-lihat ke segala arah, mengagumi dekorasi itu.


Lentera-lentera itu terlihat begitu menakjubkan, seolah-olah air mata dewa yang menjuntai dalam pancaran warna putih yang membius. Ketika dia mendongak dan menatap ke langit, sejauh mata memandang hanya terlihat bintang-bintang menghiasi langit kelam yang nampak seperti hamparan permadani beludru berwarna gelap.

__ADS_1


Di cabang-cabang pohon Ek itu, duduk dengan gembira dua gadis Elf yang memegang Harpa yang terbuat dari emas. Warna rambut kedua gadis Elf itu begitu kontras satu sama lain. Yang satu berwarna hitam kelam seperti jelaga, sedangkan yang satu rambutnya berwarna terang seperti perak di bakar di perapian ahli perhiasan.


Dua pria muda Elf lainnya berdiri di cabang-cabang dengan seruling yang menempel di bibir, menimbulkan suara yang begitu jernih nan indah. Satu Elf pria lainnya duduk dipanggug menabuh tambur mengiringi musik empat Elf yang lain. Mereka Semua mengenakan pakaian tunik berwarna putih.


Sima Yong saat itu juga mengenakan tunik panjang berwarna putih, dengan hiasan kepala serupa bunga-bunga hutan yang membentuk mahkota, melingkar disekeliling kepala. Dia mendekati Ye Bing Qing dan Master Huang yang terlebih dahulu telah berada di kaki Pohon Ek.


"Halo anak muda..." sapa Master Huang dengan gembira..


Dia melihat kalau Patriak Huang dan Ye Bing Qing juga mengenakan tunik putih panjang, dengan hiasan mahkota bunga. Sepertinya itu adalah warna pakaian yang telah ditentukan untuk acara khusus ini.


"Mari kita mulai" teriak Patriak Huang gembira.


"Mari mulai" sambut yang lainnya dengan sorak sorai gembira. Teriakan itu bergema kemana-mana, mengandung sihir yang membius dan membuat tentara-tentara penjaga merasa kepalanya pusing dan mabuk.


Dengan gugup tentara-tentara itu berteriak,


"Gunakan penutup telinga !" instruksi mereka satu sama lain.


Saat itu jauh di pinggir-pinggir lapangan.


Tentara-tentara yang tidak bertugas sedemikian penasaran dengan apa yang terjadi di tempat Kaum Elf itu. Ketika suara riuh para Elf yang menganudng sihir terdengar, banyak diantara mereka yang terjatuh pingsan.


"Sudah kukatakan,.. Jangan dekat-dekat. Masih saja kalian bandel kepingin lebih dekat lagi melihat upacara itu" maki seorang tentara penjaga khusus.


Di kaki Pohon Ek tua...


Tanpa di minta, tahu-tahu satu orang gadis Elf berdiri meaiki panggung, lalu terdengar membacakan puisi keras-keras. Suaranya demikian indah terdengar seperti tiupan seruling.


Menyambut puisi yang terdengar indah dan puitis seperti itu, Kelompok Elf itu lantas bertepuk tangan keras-keras, memuji-muji kepandaian gadis elf menulis puisinya.


Sementara itu di panggung Pohon Ek, musik terus bebrunyi dalam nada riang. Patriak Huang melompat maju kedepan panggung kecil dan mengajukan permainan pantun tebak-tebakan.


Tentu saja pertanyaan-pertanyaan misteri seperti itu di sambut gembira oleh semua Kaum elf yang saling menjawab dengan riang. Teriakan-teriakan kecil mereka terdengar membius penonton karena kental mengandung aura sihir.


Lalu sambil tertawa-tawa, Sima Yong mengeluarkan berguci-guci minuman Fion yang resepnya dia dapat dari Kaum Elf di Benua Silver. Lalu cawan demi cawan mengalir melalui tenggorokan masing-masing Elf yang semakin bertambah kegilaannya.


Suara paduan suara Elf-Elf mabuk itu, berganti-ganti bernyanyi dengan keras-keras lagu demi lagu semuanya susul menyusul. Kekuatan sihir semakin tebal, semakin melebar kemana-mana. Merayap dari Puncak Pelahap, memasuki kegelapan Hutan.


Dalam hawa penuh aura memabukkanseperti itu, Sima Yong melihat satu demi satu mahluk-mahluk gelap yang aneh, bersliweran beterbangan di langit Puncak Pelahap. Semua mahluk-mahluk sihir itu mencari-cari perhatian dari Kelompok Penyihir Elf, dimana mereka muncul dari kedalaman dan gelapnya Hutan Pelahap.


Mahluk-mahluk itu sebagian besar adalah hewan-hewan sihir, yang begitu terbius dengan aura sihir kental yang terpancar dari nyanyian-nyanyian sihir kelompok Elf yang tengah bergembira itu.


Mahluk-mahluk sihir itu memang selalu terlihat kelaparan akan aura-aura sihir. Mereka bertingkah seperti orang yang telah tidak makan berhari-hari. Kenyataannya bahwa Aura sihir adalah santapan yang paling bergizi bagi mahluk-mahluk sihir seperti itu.


Sebagian mahluk-mahluk gelap nan aneh itu tidak berani menampakkan diri, hanya bersembunyi di gelapnya malam. Namun ada juga satu dua yang cukup berani,menampakkan diri dan berdiri tidak terlalu jauh sambil menonton dan menghirup dalam-dalam semua aura sihir. Mata-mata menyala terlihat dari jauh, membuat tengkuk tentara-tentara menjadi meremang.


Sima Yong mencatat dalam hati, masing-masing mahluk sihir yang menamakkan diri itu adalah satu mahluk Siluman Ular yang menjelma menjadi sosok perempuan berpakaian hijau, terlihat duduk di tepi panggung dan menantap penuh pemujaan ritual itu.


Selain itu ada terlihat penampakan satu perempuan cantik berpakaian putih, yang Sima Yong tahu tahu kalau itu adalah jelmaan Siluman Rubah Putih berekor sembilan. Perempuan berpakaian putih itu berdiri agak jauh bersama satu laki-laki berpakaian bulu-bulu yang adalah jelmaan siluman Singa berkepala tiga.


*Bersambung*


   Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini.  Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca...

__ADS_1


__ADS_2