
Sima Yong bergegas meninggalkan meditasinya lalu melangkah cepat ke anjungan perahu besar itu.
Seseorang dalam balutan jubah berwarna biru gelap, berdiri diatas hewan roh ajaib kuda bersayap. Pakaiannya melambai di terpa angin malam, yang saat itu terasa mulai dingin dengan butiran-butiran es kecil, sehingga memberi kesan bahwa dia seperti dewa malam. Pedang teracung di tangan kanan pria itu.
"Apakah gerangan yang membuat udara malam seketika turun salju ini" Sima Yong membatin. Dia tidak memperhatikan pria berjubah biru itu. Dia konsentrasi pada udara dingin bertitik-es itu. Sesuatu yang akrab dia rasakah dengan fenomena itu.
Lamunannya buyar ketika suara angker dari pria berjubah biru itu,
"Mundur dan ambil jalan melingkar. Anda tidak diperkenankan melewati jalur ini. Sekte Pedang Beracun sedang menyelesaikan misi didepan sana" suara dingin dari pria berjubah biru.
"Perkenalkan namaku adalah Pengelana Yong, aku bersama muridku Jiang Fai meminta ijin untuk melintas wilayah udara anda. Kami adalah alkemis yang yang akan menuju ke Barat Laut. Mohon di beri ijin melintas wilayah ini" Sima Yong memberi salam sekaligus meminta ijin melewati wilayah udara itu.
Mendengar bahwa dua orang dihadapannya adalah Alkemis, pria berjubah biru itu tidak merubah nada suaranya. Dia tetap bersuara dengan angkuh. (Padahal biasanya profesi alkemis akan membuat orang memberi muka karena itu adalah profesi langka dan berwibawa).
"Tidak seorangpun diperkenankan melewati wilayah udara ini. Jika anda memaksa, jangan salahkan Teng Jun Wakil Ketua Sekte Pedang Beracun akan bertindak kasar" Teng Jun, si pria berjubah biru itu langsung mengeluarkan auranya, menyentuh perahu roh. Aura Praktisi di ranah SAINT bumi Level 1 terkuak. Sima Yong tidak terkejut. Sementara Jiang Fai memasang wajah malas.
"Sombong.." desis Jiang Fai. Alkemis muda itu seketika naik pitam. Dia hendak mencabut pedang di pinggangnya, namun tangan Masternya menghentikan gerakan itu.
"Kamu bukan lawan Teng Jun itu" bisik Sima Yong. Memang, kultivasi Jiang Fai hanyalah Alam Pencerahan Suci bintang 4. Dia sama sekali bukanlah tandingan seorang SAINT.
"Mari kita mengambil jalan memutar" kata Sima Yong. Dia tidak hendak untuk bertikai, tatkala baru menginjakkan kaki di suatu daerah baru.
Sima Yong merangkup dua telapak tangannya, lalu memberi hormat kearah Teng Jun yang masih siaga diatas kuda terbang itu,
"Jikalau demikian adanya, kami dua alkemis pengelana iniakan mengambil jalan memutar. Jika Tuan Teng Jun berkenan, dapatlah memberi informasi, siapakah yang sedang bertempur didepan sana sampai-sampai Wakil Ketua Sekte harus turun tangan seperti ini?"
Dengan dingin Teng Jun menjawab,
"Bukan siapa-siapa sama sekali. Itu hanyalah pertempuran antara tiga ahli Sekte Pedang Beracun melawan seorang perempuan ahli sihir"
Sementara itu, udara terasa semakin dingin. Salju mulai berguguran dari langit. Suara seruling bernada tidak beraturan terdengar dari kejauhan. Suara itu begitu kacau seperti alunan gelombang yang mengaduk lautan. Suara bentakan pertempuran terdengar semakin intens dari depan.
"irama seruling itu... salju yang berguguran ini...." Sima Yong mengerutkan aku merasa akrab dengan semua ini.
Lalu matanya terbuka semakin menyala dan dia mendesis,
__ADS_1
"Ilusi Badai Es Penggetar Sukma! Aku harus melihat siapa yang bertempur didepan"
Sima Yong melesat menghilang dari anjungan perahu roh menuju ke kegelapan malam di mana suara pertempuran itu berasal.
Teng Jun dari Sekte Pedang Beracun itu amat terperanjat, ketika dia hanya merasakan angin tipis bersliweran melewatinya, dan alkemis berpakaian sederhana itu telah jauh didepan sana tanpa dapat dia halangi.
"Lancang..." Teng Jun seketika menerjang kearah mana Sima Yong berada.
"Crritttt" suara pedang mencicit ketika Teng Jun mengerahkan tenaga beracun kedalam teknik pedang beracun itu. Siapapun yang terkena sabetan pedang itu bukan hanya akan terluka. Nyawa sudah pasti akan melayang karena racun yang terkandung dalam serangan itu.
Namun alangkah terkejutnya Teng Jun ketika dari arah Sima Yong sesosok bayangan mencelat keluar dan menghalangi dia dalm gerakan pertahanan.
"Trang..." bunyi benturan pedang beracun miliknya ketika membentur tangan bayangan itu. Tangan Teng Jun bergetar hebat. Tulang-tulang tangannya ngilu dan dia hampir melepaskan pedang ditangannya.
Tampak seorang pria berpakaian seperti kaum bangsawan berdiri angker di hadapannya. Dan yang membuatnya lebih terkejut lagi adalah, pria itu memiliki kultivasi SAINT Level 8..
"SAINT Surgawi level 8?" hati Teng Jun terasa ngilu. Bahkan Master Sekte mereka saja hanya memiliki kultivasi di SAINT Bumi Level 5. Kemampuan pria ini jauh melampaui pemikirannya.
"Siapa anda? Mohon untuk tidak mencampuri urusan Sekte Pedang Beracun. Biarkan aku menghalangi tindakan alkemis itu" Kata Teng Jun mencoba bersikap merendah.
"Kamu hanya seorang praktisi lemah seperti ini berani-beraninya hendak mempersulit masterku si alkemis itu? Jangankan kamu dengan kemampuan kecilmu itu. Bahkan sekelas SAINT 8 Fei Ma seperti ini sama sekali tidak ada artinya dihadapan masterku itu" Fei Ma tertawa mengkikik. Sampai-sampai Teng Jun menjadi pucat.
"Pria bangsawan ini saja telah memiliki kultivasi sedemikian tinggi, bagaimana dengan kemampuan alkemis yang menurut dia adalah masternya?" Teng Jun menjadi goyah. Kepercayaan dirinya sebagai salah satu ahli yang di takuti di Kerajaan Sembrani Besi ini mendadak pudar di hadapan orang-orang aneh itu.
"Jika anda berkeras menghalangi ku, jangan salahkan jika anda akan menjadi buronan Sekte kami Pedang Beracun" Teng Jun mencoba untuk menggertak Fei Ma.
"Hahahaha..." Fei Ma tergelak mendengar ancaman Teng Jun. Dia merasa geli karena seumur hidupnya selama ribuan tahun ini, baru saja seseorang melemparkan ancaman kepada dia.
Dengan wajah yang terlihat dibuat-buat, Fei Ma mencoba bersandiwara ketakutan..
"Benarkah? Aku demikian takutnya dengan Sekte yang kamu sebutkan itu. 'Sekte Pedang Beracun'' ejek Fei Ma.
"Pasti sekte kalian itu adalah sekte kuno yang jarang terlihat, minimal kalian adalah sekte suci" wajah yang dibuat-buat menyerupai ketakutan dari Fei Ma betul-betul terlihat buruk. Itu bukanlah akting seseorang ketakutan, melainkan akting seseorang yang tengah membuat lelucon.
Wajah Teng Jun berubah merah padam. Sekte Pedang Beracun adalah Sekte Bintang delapan yang amat di takuti di kalangan praktisi Kerajaan Sembrani Besi. Namun pria yang tidak dapat ditebak usianya ini, membuat sekte itu seperti bahan lawakan.
__ADS_1
"Hadapi pedang !" suara mencicit disertai kilau pedang yang mengiriskan hati melesat dari tangan Teng Jun. Dia bertekad untuk mati bersama pria bernama Fei Ma yangberpakaian bangsawan itu.
Tangan kirinya memecahkan sebuah benda yang kemudian membentuk gulungan asap gelap yang melingkupi sekujur tubuhnya. Itu adalah kabut beracun yang akan men-stimulasi energi Qi dalam tubuhnya untuk meningkat beberapa kali lipat.
"Suiit.." Pedang di tangannya memancarkan cahaya keperakkan ketika mecoba membelah tubuh Fei Ma.
"Mati!"
Fei Ma menjentikan jarinya dan bunyi seperti benturan dua logam terdengar,
"Trang !"
Teng Jun tidak puas sampai disitu setelah tebasan pedangnya di tepis Fei Ma. Pedangnya kembali bergulung, membentuk serangan mematikan yang mengincar leher Fei Ma.
"Wush.." Fei Ma bergerak dengan cepat, menekuk badannya sehingga serangan pedang Teng Jun sekali lagi tidak tepat sasaran.
Teng Jun putus asa. Semua teknik paling aneh dan merupakan teknik pamungkasnya telah di keluarkan. Namun semua hanya dianggap mainan oleh pria bangsawan bernama Fei Ma ini. Dia mulai ketakutan.
"Aku rasa cukup sudah main-main tadi. Kamu sama sekali bukan seseorang yang dapat diajak kerja sama" Fei Ma mengakhiri kata-katanya dengan membentangkan tangan dengan dua telapak mengarah ke Teng Jun.
"Mati !" Teng Jun dengan mata terbelalak melihat kilatan dua cakar raksasa yang dengan cepat menuju ke tubuhnya.
"Slash.." tubuh Teng Jun termutilasi menjadi empat potongan, yang lalu dengan cepat melayang terjatuh ke tanah.
Fei Ma menatap dingin ke arah potongan tubuh yang tengah meluncur itu. Dengan dingin dia mengalihkan tatapan jauh kedepan, dari mana suara bentakan pertempuran terdengar.
Sementara itu udara terasa semakin dingin manakala buti-butir salju berguguran dari langit. Di tengah-tengah suara nada seruling yang tumpanh tindih, samar-sama Fei Ma mendengar suara Masternya berteriak,
"Ye Bing Qing..."
*Bersambung*
Untuk membuat author lebih semangat dan tetap berkreasi melanjutkan novel ini, jangan lupa di-like, sekedar komen dan vote.
Terlebih tolong favoritkan novel ini karena Noveltoon akan menilai untuk menjadi pemasukan Author berdasarkan jumlah Favorit, komen dan like … yang tentunya juga menyemangati author. Apresiasi yang readers berikan akan menyemangati autor untuk terus berkarya di Noveltoon ini.
__ADS_1