Kisah Dewa Pedang Utara

Kisah Dewa Pedang Utara
Hari pertama Turnament Jenius Tujuh Sekte Bagian IV


__ADS_3

Lin Hong mendaratkan kakinya di panggung Arena 1. Lawannya sesuai dengan prediksinya, adalah seseorang yang memiliki kemampuan mental atau setidaknya orang itu adalah murid Sekte Kuil Keabadian. Sekte yang terkenal mampu melakukan Teknik-teknik seni pedang yang dicampur ilusi didalamnya.


Sebagai praktisi yang bukan berjalan didalam Dao mental, Gong Qiang sebagai murid Sekte Kuil Keabadian, dia mampu mengeksekusi Teknik pedang yang membuat ilusi.


Teknik Pedang ilusi seperti itu umumnya adalah teknik kelas Bumi Demi. Teknik andalan Gong Qiang sendiri bernama Teknik Bayangan Neraka Pedang yang diturunkan langsung oleh Master Sekte Ding Huising.


“Dan… pertarungan telah dapat dimulai…”


Hakim memberi aba-aba untuk memulai pertarungan diantar Ling Hong Alam Kondensasi Puncak Pertama sementara Gong Qiang Alam Kondensasi Roh Awal Dua.


Teknik pedang dilancarkan untuk membuka perdebatan dua orang jenius itu.


Gong Qiang mengangkat tangannya seketika itu Pedang berwarna kebiruan muncul ditangannya, lalu dia melambaikan tangan. Pedang itu menimbulkan suara seperti siulan yang sangat keras seakan-akan mampu merobek langit, dan kemudian ditembakkan bagaikan ketir kearah Lin Hong.


Lin Hong melihat Pedang Biru bergerak bergetar kearahnya dan tidak mau kalah, dia menghunus pedangnya dan mengiris keudara dengan penuh kekuatan ..!!


“Duaar….!!”


Dua tabrakan logam menimbulkan gemuruh di arena turnamen, sementara itu.


Tidak berhasil memenangkan adu senjata, Gong Qiang melakukan gerakan tangan. Pedang biru terlihat seakan ditarik mundur kearah Gong Qiang bahkan dengan kecepatan yang lebih cepat lagi dibanding sebelumnya.


Gong Qiang mengulurkan tangannya dan dengan gerakan tangan yang akan menggenggam pedang, kecepatan pedang biru itu melambat lalu kemudian berhenti dalam genggaman tangannya.


“Kamu hanyalah seorang gadis yang cantik, lebih cocok untuk berdiam diri dirumah. Dan kamu bukanlah lawanku. Perbedaan ranah kultivasi diantara kita berdua terdapat celah yang cukup besar"


"Lebih baik kamu menyerah dan aku tidak akan melakukan tindakan menyakitimu” Gong Qiang lalu memprovokasi Lin Hong.


“Hentikan omong kosong mu dan mari kita lanjutkan duel ini"


"Lalu lihat nanti, siapa yang kemudian akan tertawa diakhir pertandingan” Dengan dingin Lin Hong menjawab, dia terlihat sama sekali tidak menjadi terprovokasi oleh Gong Qiang, bahkan dia balik memprovokasi.


“Baiklah, sesuai keinginanmu…!!”


Setelah selesai berbicara, Gong Qiang lalu menjentikkan jarinya, pedang biru itu langsung terbang dengan kecepatan bagaikan petir, yang kemudian berubah menjadi besar seukuran sebuah pintu rumah berputar diudara menunggu perintah.


Pada saat berikutnya Gong Qiang Kembali menjentikkan jarinya dan dia menunjuk kearah Lin Hong sambil berteriak tetapi tidak terlalu keras,


“Pergilah…..!”


Begitu suara Gong Qiang terdengar memerintah, maka pedang yang sementara berputar di udara itu menerjang dengan kecepatan tinggi kearah Lin Hong.


Lin Hong menunjukkan ekspresi yang sangat serius Ketika melihat pedang biru itu melaju dengan kecepatan tinggi kearahnya. Mustahil jika dirinya melompat lalu melarikan diri pada keadaan seperti itu.


Tembakan pedang biru itu harus dia lawan dengan paksa. Kekerasan melawan kekerasan!.


Ketika Lin Hong memikirkan untuk melawan tembakan pedang biru, energi Qi didalam tubuhnya seketika melonjak kearah pedang ditangannya dan seuntai cahaya kemerahan yang menyilaukan mata meletus keluar dari pedang.


Saat itu pedang biru telah dekat ke dirinya sekitar 30 cm, Lin Hong lalu menebas kearah pedang biru dan seketika tubuhnya melakukan gerakan seperti menari,


“Tarian dewi Perang”


Segumpal ekspresi yang jahat melintas dimata Lin Hong. Sinar cahaya pedang berwarna merah menyelimuti tubuhnya dimana dia melakukan Teknik Pedang Tarian Dewi Perang. Kekuatan yang dibawa Teknik pedang Lin Hong itu menebas dengan cepat sehingga tidak terdapat celah sedikitpun dari cahaya kemerahan yang menyelimuti tubuhnya.

__ADS_1


“Trangggg…!”


Terdengar bunyi keras akibat benturan dua pedang di arena satu Padang Es Abadi. Lin Hong terguncang lalu mundur hingga beberapa Langkah hingga akhirnya berhenti pada Langkah ke sepuluh. Lin Hong melirik tangannya. Merah, terasa perih dan menjadi kemerahan. Hampir mengeluarkan darah.


Meski dia merasa bahwa dirinya ditekan dengan keras oleh Gong Qiang, Lin Hong berkata “Hanya sebegitu saja?”


Setelah mengatakan hal tadi, seketika itu aura mengerikan melonjak keluar dari tubuhnya. Dalam Gerakan Tarian Dewi Perang, dengan sangat pintar dimainkannya sehingga terlihat ratusan pedang merah muncul keudara dan menerkam aura pedang besar yang milik Gong Qiang.


Tabrakan sejumlah besar cahaya merah dengan aura pedang besar biru seukuran pintu rumah itu menimbulkan ledakan berulang kali sehingga seakan-akan arena satu itu akan dihancurkan oleh tabrakan dua senjata itu.


Penonton yang duduk dekat dengan arena satu buru-buru berpindah. Tidak ada yang mau terkena sambaran dua pedang yang sedang bertarung di udara itu.


“Duaarrr…!!”


Ledakan besar seakan mengguncang arena, bahkan membuat arena satu bergetar.


Gong Qiang melihat bahwa pertempuran antara keduanya jika diteruskan akan terasa lama dan akan memakan energi. Maka dia mengubah Teknik pertempurannya. Tangannya membentuk segel dimana seluruh tubuhnya bergetar hebat, lalu kemudian dengan suara mencicit aura pedang besar itu menuju kearah Lin Hong lalu berhenti diatas Lin Hong.


Aura pedang itu kemudian mengeluarkan cahaya seperti nyala api lalu membungkus Lin Hong dengan cahaya tersebut.


Bibirnya mengucapkan kata-kata dengan lembut,


“Bayangan Neraka Pedang ….!”


Sebuah ilusi segera tercipta di bawah pandangan Lin Hong. Seketika itu juga Lin Hong melihat bahwa saat ini dia berada di rumahnya yang nyaman. Lalu kemudian terlihat ayah dan ibunya sedang berduaan di ruangan itu duduk dalam suasana yang hangat. Ilusi itu betul-betul terasa sangat nyata bagi dirinya.


Meskipun dalam hati kecilnya berkata bahwa ini hanya sekedar ilusi, namun dia seakan ingin membenamkan dirinya didalam kenangan itu.


Lalu kemudian ilusi itu mulai membongkar kisah pahit didalam hidupnya. Bayangan terbentuk Ketika pasukan tentara kerajaan datang lalu menahan kedua orang tuanya. Lin Hong tidak dapat menahan diri lagi ketika bayangan kisah belasan tahun itu kembali muncul didepan matanya.


Sejak saat itu demi menjaga keselamatan, Lin Hong mengganti Namanya seperti sekarang untuk menghindari kejaran dan perburuan dari Kekaisaran Xue Chang.


Kembali ke Lin Hong, gadis itu menangis tersedu-sedu Ketika ilusi yang yang Kembali membuka kisah lama yang dia pendam dan ingin dilupakan terjadi lagi didepan mata.


Ilusi ini bahkan membuat dia merasa tidak ingin Kembali ke keadaan waras lagi... dunia nyata. Memilih untuk terbenam di dalam ilusi dengan hati yang pedih melihat kedua orang tua nya.


Wang Yong disisi lain merasa sangat kesal dan marah, ketika melihat Lin Hong bukannya melawan ilusi itu dengan Teknik yang dia ajarkan, malahan memilih untuk membenamkan diri didalam kesedihan.


“Ayolah.. kamu harus melawan ilusi itu. Jika tidak kamu tidak akan pernah sadar lagi dari ilusi itu. Terbenam selamanya” Wang Yong berdoa terus didalam hatinya.


Semua penonton juga terdiam Ketika melihat Lin Hong didalam kabut asap pedang biru itu, dia yerlihat hanya terduduk dan menangis tersedu-sedu.


Master Niu Juan Guru Lin Hong berulang kali mendesah. Dia sangat meresahkan keadaan muridnya. Dia tahu kisah hidup Lin Hong sehingga dia dapat menduga bahwa ilusi itu pastilah perangkap dari luka lama yang kembali terkuak.


“Ayolah.. kamu harus bangkit. Jangan biarkan dirimu tenggelam didalam ilusi itu”


Sementara itu Peng Fai bertanya kepada Fenying,


“Sebagai seorang simbol master, menurutmu ketika Lin Hong terbenam terus didalam ilusi itu, apa yang akan terjadi selanjutnya bagi dirinya”


“Dia kemungkinan besar akan mengalami gangguan kejiwaan… tidak akan pernah kembali sadar ke alam nyata. Dia memilih untuk terus menerus hidup didalam ilusi itu” Fenying berbicara sangat pelan.


Peng Fai memelototkan matanya dan berkata,

__ADS_1


“Itu .... sebuah Teknik yang keji untuk membunuh secara perlahan….” Kata-kata pahit yang keluar dari mulutnya yang bergetar.


Fenying menganggukkan kepala dan menjawab perlahan,


“iya benar, oleh karena itu teknik ilusi seperti ini akan jarang sekali kami gunakan. Kecuali dalam  keadaan terjepit. Karena ini sama seperti merenggut nyawa seseorang secara perlahan dengan membuatnya menderita hingga kematian menjemput”


Gadis itu kemudian meneteskan air mata.


**********


Sementara itu, Lin Hong didalam ilusinya yang penuh nostalgia itu kembali melihat keadaan Ketika ayahnya akan dipancung.


Masih terasa benar di ingatannya Ketika kata-kata ayahnya terbaca olehnya dengan memahami Gerakan bibir,


“pergilah… larilah sejauh mungkin ikuti Guru Wanita itu lalu balaslah dendam kepada siapa yang mencelakai kami”


Kembali Ling Hong menangis sejadi-jadinya......... Ditengah kesedihannya, samar-samar dia mendengar suara hakim berteriak,


“Dalam hitungan ke dua puluh jika Lin Hong tidak mampu melawan ilusi, maka dia dinyatakan kalah……”


“Dua puluh…. Sembilan belas…….”


Kembali kedalam ilusi itu, Lin Hong menatap mata ayahnya yang kini bersinar seakan marah. Kilatan kemarahan itu seakan-akan berkata “Jika kamu mati, siapa yang akan membersihkan nama kami. Siapa yang akan membalaskan dendam ini. Kamu harus terus hidup……”


Lin Hong seakan tersadar.


Kekuatan mata penuh kemarahan dari bayangan ayahnya itu membuat dia teringat, ada dendam yang masih harus diamtuntaskan.


Perlahan-lahan dia meyakinkan dirinya bahwa ini ilusi, ini bukan kenyataan.


Dengan pikiran yang mulai jernih, Lin Hong mencoba membentuk perisai dibenaknya sesuai pelajaran yang sudah diajarkan oleh Wang Yong. Beberapa detik kemudian Ketika dia benar-benar telah membentuk tameng, sebuah energi yang sangat besar berputar di dantian nya.


Energi itu kemudian berjalan cepat keseluruh saraf-saraf di tubuhnya. Lalu energy yang sangat besar itu membobol sebuah tembok penghalang di meridiannya yang tertutup selama ini.


Luapan energi itu langsung menerobos tembok dan Lin Hong yang tadinya berada pada Alam Kondensasi Roh satu puncak, kini berada pada Alam Kondensasi Roh Dua awal.


Dengan jeritan melengking yang sangat keras terdengar ketika terobosan terjadi,


“Tarian Kemurkaan Dewi Perang”


Tubuhnya melompat tinggi menyongsong pedang biru yang menggantung di udara sambil menebar kabut ilusi ke dirinya. Tebasan demi tebasan Dewi Perang dengan Qi seorang ranah Alam Kondensasi Roh Dua itu mengkoyak-koyakkan energi pedang biru didepannya.


Seiring dengan tebasan berulang kali oleh Lin Hong kearah pedang biru, penampilan Gong Qiang terlihat sama seperti pedang biru itu.


Sekujur tubuhnya Dia terlihat penuh sabetan pedang. Gong Qiang memuntahkan darah. Nyawanya telah pergi meninggalkan tubuhnya dengan kondisi tubuh terkoyak-koyak sabetan pedang merah.


Penonton heboh seketika. Jarang sekali terjadi seorang praktisi mampu untuk melakukan terobosan ketika berada didalam sebuah pertempuran.


Namun Lin Hong menunjukkan bahwa dirinya layak untuk disebut jenius dengan melakukan terobosan saat bertempur.


Wajah Master Niu Juan dari Puncak Merah dan Master Dugu Taoran tersenyum penuh cahaya kegembiraan. Sedangkan Master Zhang Yuan dari Kuil Keabadian terlihat sangat pucat.


Penonton….,

__ADS_1


“Satu lagi korban nyawa melayang didalam arena turnamen jenius tujuh sekte besar”……..


*Bersambung*


__ADS_2