
Waktupun berlalu dengan cepat. Matahari terang benderang dengan cahaya keemasan yang membakar Gurun Tak Bertepi, kini berubah redup dalam warna lembayung - perpaduan antara warna oren jeruk mandari dengan gelapnya birunya laut yang dalam. Tampak kemilau sedikit redup namun meredup seiring makin condong ke barat. "Warna yang Indah di pandang mata" lamun Sima Yong.
Labirin itu - area arena pertandingan yang didalamnya berisi para jago-jago Master-master Magus sihir dan Roh Heroik mereka, terputar dalam lingkaran acak yang melempar masing-masing master bersama Roh heroiknya kembali ke sudut-sudut yang berjauhan.
"Labirin ini melakukan reset ulang posisi semua master dan roh heroiknya" gumam Sima Yong.
Kini cara untuk menemui kembali pihak lawan - tersisa tiga master, dan bertempur untuk menjadi seorang pemenang,
Maka para master dan roh heroiknya harus kembali menyusuri lorong-lorong di labirin - bersikap penuh kehati-hatian dan tidak menimbulkan keributan, lalu menerkam lawan dalam diam atau menantang dengan terang-terangan.
Sima Yong bersama Nevertary kini telah terpindah oleh system Relikui ke sudut paling utara labirin itu.
Dia tidak dapat menduga-duga di sudut mana Selena Hui, penyihir dark Elf dengan Roh Ridernya, atau di sudut mana Xing Tian, penyihir Ras Fey dengan roh heroik Berserkernya... Cara paling simpel adalah menyusuri labirin dan menemukan keberadaan lawan.
"Ayo Nevertary.. Ikuti aku. Aku ingin menyelesaikan Perang Suci ini secepatnya"
Bukankah saat ini tenaga kita berdua masih dalam kondisi yang terbaik?. Mari kita cari kemenangan malam ini" ajak Sima Yong bersemangat kepada roh heroiknya.
Nevertary mengikuti masternya Sima Yong dalam diam. Sebenarnya dia kepingin membantah kata-kata masternya. Malam adalah saat di mana banyak hal tidak terduga dapat terjadi. Sesuatu yang mengerikan, lebih banyak bersembunyi di balik kegelapan malam, berupa bayangan yang kemudian bayangan itu akan menelan kamu diam-diam, ketika malam menjelang.
Mereka berdua berjalan cepat dalam sunyinya malam, menggunakan kemampuan sihir menyembunyikan aura dan membuang jauh-jauh bunyi suara langkah kaki - karena meskipun jelas-jelas teknik meringankan tubuh dapat di terapkan di arena labirin ini, namun dengan kondisi malam yang demikian hening ditambah sepoi nya angin yang dirasa ketika menyentuh pipi, jejak langkah seringan apapun akan tetap terdengar meski itu amat sangat pelan sekali.
Sihir dapat membuat suara yang di timbulkan berpindah tempat hingga puluhan lie jauhnya - sama seperti ahli-ahli sihir membuang jauh-jauh bau-bau yang menyengat seperti bau mayat misalnya, sejauh mungkin kedalam hutan sehingga memberi kesan sebuah mayat bangsawan raja-raja misalnya, tidak memiliki bau (ini hanya contoh saja).
Dengan cepat anak muda itu melangkah ringan - seperti melayang diatas tanah bebatuan dan di belakangnya mengikuti dengan penuh kewaspadaan, Nevertary.
Dua sosok itu tetap memegang erat senjata sihir mereka, berjaga-jaga kalau-kalau sesuatu mahluk sihir datang menyergap mereka berdua.
"Tempat apa ini?" tanya Nevertary melalui benak.
Ketika itu mereka telah tiba di pertigaan lorong labirin, setelah menyusuri labirin-labirin sepi itu lebih kurang dua kali hio terbakar.
"Pertigaan lorong yang aneh" gumam Sima Yong
Keduanya melirik kekiri dan ke kanan. Arah lorong labirin sebelah kanannya adalah jalan lebar penuh batu yang terlihat tidak terlalu menyulitkan untuk di lewati.
Sementara jalan sebelah kiri yang cukup sempit - hanya dapat di lewati dua orang, terlihat berupa jalan basah penuh genangan air, yang bisa saja merupakan jebakan air yang dapat menenggelamkan sesuatu seperti keadaan tenggelam kedalam lautan tak berbatas.
"Kanan. Kita menuju arah kanan" kata Sima Yong. Firasat nya mengatakan dia harus melewati jalanan yang kering meski berbatu.
Wush ! Dunia berputar.
Malam yang sura di labirin dengan lorong-lorong penuh batu jalanan seketika berubah penampakan nya.
Sima Yong dan Nevertary kini berada di dalam sebuah lapangan luas, penuh gunung-gunung berbatu. Tanah di situ terlihat begiu kering, seperti tanah yang amat tua dan telah kehilangan energi - ibarat telah di serap oleh sesuatu kekuatan magis menyisakan aura hampa dan meninggalkan perasaan tidak menjadi bahagia.
__ADS_1
"Kita terjebak di dalam domain tertentu - namun bentuk dan keberadaan domain seperti ini wajar terjadi dan selalu terjadi di dalam arena Perang suci seperti ini" sekali lagi Suara Nevertary memenuhi benak Sima Yong..
"Dahulu sekali... aku pernah mengikuti Perang Suci seperti ini. Kala itu kami berperang memperebutkan sebuah Relikui ajaib Peninggalan Orang suci dari ras Fey. Diriku serta masterku kala itu, terjebak di dalam domain seperti ini.
Sayang sekali - Magus itu tewas sebelum dia memanen hadiah misterius yang terkandung domain itu. Kontrak ku dianggap telah selesai ketika masterku tewas"
Suara Nevertary terdengar agak muram ketika menyentuh benak Sima Yong menjelaskan hal tadi. Dia menatap lurus ke bebatuan didepan - menerawang ke kegelapan di domain berbukit-bukit cadas itu.
Sima Yong melirik sekilas ke arah Nevertary, katanya..
"Hanya satu jawaban jika ingin lolos dari domain ini dan bertemu dengan Roh heroik lain dan masternya...
Kita harus menyelesaikan tantangan - apapun itu di domain yang di buat relikui itu" Sima Yong melompat melewati timbunan batu dan berdiri di satu lembah kering yang di sudut selatan terkunci pagar bergembok.
Tulisan di pagar itu tertulis "Membunuh atau terbunuh"
"Hm.. " sekonyong-konyong Nevertary melepaskan satu irisan kuat menggunakan hidden blade kearah pagar bergembok itu.
Trang ! Trang ! Trang disusul percikan api memercik.
Mustahil !
"Hidden Blade ini bahkan tidak dapat membuat satu goresan pun di gembok dan pagar tinggi ini" pekiknya.
******
Itulah Selena Hui - penyihir dark elf dengan heroiknya Sang Rider Galbatorix bersama Shruikan naga hitamnya.
"Jalan lurus atau ke kiri?" tanya Selena kepada Galbotorix.
Selena Hui melihat, jika mereka jalan lurus, maka jalan yang harus mereka lewati adalah jalanan penuh genangan air. Sedangkan jika mereka menuju kekiri, jalanan ke kiri itu terlihat hampa. Akan tetapi jika di perhatikan dengan teliti, jalan itu seperti menyembunyikan bara api di bawahnya.
"Aku memilih kiri" kata Galbatorix.
"Jika lorong itu adalah satu perangkap yang mengandung unsur api, setidaknya aku dan Shruikan adalah mahluk sihir yang akrab dengan unsur api"
Namun jika kamu memaksa untuk jalan terus - aku yakin perangkap di depan adalah sesuatu yang mengandung air. Air dan api adalah sesuatu yang saling berlawanan. Dan tidak menunggu terlalu lama bagi aku dan Shruikan untuk menerima ajal di dalam labirin ini" jawan Galbatorix.
"Kalau begitu kiri. Kita akan menerobos perangkap berunsur api !" kata Selena Hui tegas.
Tiga sosok itu lantas menghilang ketika mereka memasuki jalan yang terlihat memunculkan warna merah membara, tersembunyi di balik gelapnya jalan di lorong labrin itu.
Sepeninggal nya Selena Hui dengan roh heroiknya... Dari arah di seberang lorong yang berisi genang air terdengar umpatan,
"Kurang ajar !.. Aku terperosok kedalam air !
__ADS_1
Ulurkan tangan mu Odin ! dan tolong keluarkan aku dari jebakan air ini" suara Xing Tian - penyihir Fey - terdengar panik. Dia memerintahkan servantnya Odin untuk membantu dia.
******
Trang !
Sekali lagi Nevertary menghujam Hidden Blade, mencoba merusak pagar dan gembok sihir itu, namun dia tahu bahwa tindakan nya adalah satu ke sia-siaan belaka.
Sima Yong memecah keheningan dan kebencian Nevertary dan berkata,
"Dari pada kamu memaksa menghancurkan pagar dan gembok sihir itu, lebih baik kamu menghadapi gerombolan ini"
Sima Yong memonyongkan mulutnya ke arah undak-undakan berbatu yang terdengar dengan langkah-langkah kaki, membawa sekitar 100 sosok terbungkuk-bungkuk berlarian menuju mereka.
"Foliot !" desis Nevertary.
"Bagus ! Setidak nya kalian akan menjadi pelampiasanku" teriak Nevertary. Sosok nya menerkam ganas kearah Foliot yang berlari-lari menuruni undak-undakan berbatu itu.
Nevertary menari dalam gerakan ganas khas Hidden Blade nya. Gerakan cepat Nevertary dalam sekejab mata telah membuat sepuluh Foliot itu meregang nyawa..
"Kamu akan cepat kehabisan energi sihir. Biarkan aku membantu mu !"
Pedang di tangan Sima Yong ikut mengejar bayanga Foliot itu - melayang cepat - itu adalah teknik kecepatan cahaya sangat membantunya disini.
Anak muda itu bergerak seperti bayangan hantu dan tidak terlihat, tahu-tahu puluhan Foliot tergeletak di tanah, tanpa nyawa.
"Terlalu mudah !" kata Nevertary di benak Sima Yong, ketika Hidden blade di tangannya menghabisi Foliot terakhir. Dia menjilat darah aneh di ujung Hidden Blade nya.
Sesuatu seperti anak kunci terlihat melayang dari kehampaan, setelah Nevertary menghabisi Foliot yang terakhir.
Anak Kunci itu melayang dengan kendali sihir lalu masuk kedalam lobang gembok, membuka gembok, juga secara sihir.
Krak ! Bunyi keras terdengar ketika gembok yang mengunci pagar sihir itu terbuka. Bibir Nevertary melengkung dalam senyuman tipis.
Melihat gembok telah terbuka, secara refleks Sima Yong mengayunkan Pedang Emas Suci di tangannya kearah pagar sihir yang membatasi mereka dengan satu ruang spasial di depan mereka.
Duar !
Pagar sihir itu runtuh seketika kena tebasa Pedang Emas Suci - debu beterbangan sehingga menjelaskan bahwa pagar sihir itu tidak pernah tersentuh atau di buka selama ratusan bahkan mungkin ribuan tahun lamanya.
"Mari kita masuk ruang spasial itu" Sima Yong sekali melangkah - tubuhnya melayang indah melewati batas antara ruang spasial berbatu dan berada di ruang spasial berikutnya.
Kini pemandangan di hadapan mereka berubah. Suatu padang berwa-rawa penuh rumput dan ilalang tinggi, menghiasi hamparan tanah berair di depan mereka.
"Hati-hati... Monster atau demon mengerikan sepertinya bersembunyi di ruang ini !" teriak Nevertary mengingatkan...
__ADS_1
*Bersambung*
Halo semua. Terima kasih sudah membaca dan menyukai Novel ini. Dan untuk membuat author lebih semangat lagi, selalu berikan like ya. Jangan lupa favoritkan dan rekomendasikan novel ini kepada yang lain... Terima kasih dan semangat membaca...