
Waktu cepat berlalu, sekarang pernikahan Anggun dan Vandy sudah mau jalan 2 bulan, tapi belum ada tanda-tanda akan hadirnya buah hati ditengah-tengah mereka. Padahal mereka melakukannya hampir tiap malam dan berhenti saat Anggun kedatangan tamu bulanannya.
" Sayang, sudah jangan difikirkan lagi, semua kita serahin sama Allah ya sayang."
" Mas, apa kamu akan meninggalkan aku kalau ternyata aku tidak bisa memberi kamu anak" sedih.
Jujur Vandy memang sangat menginginkan seorang anak, tapi dia tau satu hal jika tuhan sudah memberikan kepercayaan untuk mereka, buah cinta itu pasti akan hadir diantara mereka, yang perlu mereka lakukan sekarang hanyalah berusaha dan berdoa.
" Kamu ngomong apa, hhhmmm?, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu sayang, apa kamu ingat kata Dokter waktu itu, Dokter bilang kita ini sehat dan tidak ada masalah."
Ya Vandy dan Anggun melakukan pemeriksaan satu bulan yang lalu.
" Tapi..."
" Ssstttt, jangan ngomong yang aneh-aneh lagi. Sekarang Mas tanya sama kamu, apa kamu meragukan kekuasaan Allah?."
" Tidak, tentu saja tidak Mas."
" Jadi jangan dipikirkan lagi, yang harus kita lakukan sekarang hanya berusaha dan berdoa, selebihnya kita serahkan pada Allah."
Anggun menganggukkan kepalanya.
" Sekarang kita istirahat ya, besok kitakan mau temanin Aldi kerumah Sinta."
Vandy membawa istrinya kedalam pelukannya dan memberikan kenyamanan buat istrinya itu.
🍃🍃🍃
Pagi hari Vandy lebih dulu bangun dari istrinya. Ya selama beberapa hari ini Vandy memang lebih sering bangun pagi. Vandy berjalan menuju kamar mandi. Selesai mencuci wajahnya, Vandy turun kebawah untuk membuatkan sarapan buat istrinya. Walaupun mereka mempunyai pelayan untuk menyiapkan keperluan mereka.
Vandy melangkahkan kakinya menuju dapur. Pagi ini Vandy ingin membuatkan sandwich untuk sarapan istrinya. Vandy cukup lihai membuat sandwichnya.
Para pelayan kaget melihat tuan mereka sedang berada didapur.
" Ada yang bisa Bibik bantu tuan."
" Makasih ya Bik, ini tinggal dikit lagi kok, jadi Bibik kerjakan yang lain aja ya."
Akhirnya sandwich buatan Vandy sudah siap. Dari tampilan sangat menggoda sekali.
" Bik, itu ada beberapa potong sandwich buat Bibik dan yang lain juga."
" Baik tuan."
Vandy kembali kekamarnya dengan membawa beberapa sandwich dan susu buat sarapan istrinya. Sampai dikamar Vandy melihat istrinya masih tidur. Vandy meletakkan sandwich dan susu yang dia bawa tadi diatas meja.
" Sayang, bangun yuk" sambil membelai rambut istrinya.
Tidak ada pergerakan apapun dari istrinya, tapi Vandy tidak kehabisan akal. Vandy mulai mencium wajah istrinya, mulai dari kening, mata, hidung, pipi, dan terakhir dibibir cerry istrinya. Anggun membuka matanya dan melihat suaminya sedang tersenyum kepadanya. Anggun membalas senyuman suaminya. Setelah itu Anggun memejamkan matanya kembali.
" Kok ditutup lagi matanya" mulai menggelitiki istrinya.
Anggun berusaha menahan rasa geli dan tawanya. Vandy yang tau istrinya sedang menahan tawa menggelitik kembali dan benar saja Anggun tidak dapat lagi menahan rasa geli dan tawanya. Akhirnya tawa Anggun pun pecah.
" Mas udah dong, geli."
" Makanya jangan pura-pura tidur."
" Iya, aku bangun nih."
Anggun duduk dipinggir kasur dengan selimut yang masih menempel ditubuhnya. Susah payah Anggun berdiri karena selimut tebal yang berada ditubuhnya. Vandy yang melihat istrinya kesusahan pun membantu istrinya berdiri.
" Mas bantu kekamar mandi ya."
" Hhhmmm."
__ADS_1
Anggun berjalan kekamar mandi, sampai didepan pintu kamar mandi Anggun melirik kearah suaminya.
" Sampai sini aja Mas."
" Loh kenapa?."
" Kalau Mas ikut kedalam, acara mandi aku pasti akan lama, lagian aku masih capek karena ulah Mas semalam."
" Iya sayang, Mas nggak bakal ikut masuk."
Anggun masuk kedalam kamar mandi dan mengunci pintu kamar mandi. Karena kalau nggak dikunci suami mesumnya itu pasti akan masuk. Setelah dirasa aman Anggun baru melepaskan selimut yang ada ditubuhnya.
Anggun masuk kedalam bathtub dan merendamkan tubuhnya disana. Sangat nyaman badan yang semalam mau remuk karena ulah singa jantannya itu sekarang sudah kembali normal.
Setelah 20 menit Anggun pun keluar dari kamar mandi, dengan memakai handuk ditubuhnya. Vandy yang melihat tubuh istrinya hanya terbalut sama handuk pun menahan salivanya.
Anggun berjalan kearah walk in closet. Selesai memakai baju santainya Anggun keluar dan menemui suaminya. Anggun duduk disamping suaminya itu.
" Ini kamu yang bikin Mas" sambil mengunyah sandwich.
" Iya, gimana enak nggak?."
" Rasa nya sama kayak sandwich yang biasa aku makan, tapi karena Mas yang bikin jadi rasanya lebih enak."
Vandy tersenyum sambil mencubit hidung istrinya.
" Kamu udah pintar ngegombal ya sayang."
" Bukan gombal tapi aku lagi muji suami aku."
" Sayang nanti kita kerumah Mama dulu ya."
" Iya, bearti Mama sama Papa ya Mas yang bakal jadi wali Aldi."
" Iya sayang, karena orang tua Aldi sudah meninggal jadi Mama sama Papa yang jagain Aldi."
" Kecelakaan tunggal sayang."
" Waktu kejadian itu Aldi dimana?."
" Sekolah, dan semenjak itu Mama sama Papa yang merawat Aldi."
" Tapi kenapa Aldi nggak pernah tinggal dikediaman Dwipangga?."
" Pernah, tapi pas kuliah dia memilih tinggal di apartemen, karena itu Mas mau kasih mereka hadiah rumah."
" Ide bagus Mas, tapi rumahnya didaerah mana?, jangan jauh-jauh ya?."
" Nggak, malahan dekat banget."
" Deket, jangan-jangan rumahnya berseberangan dengan rumah kita."
Vandy menganggukkan kepalanya.
Saking senangnya Anggun memeluk suaminya dan memberikan kecupan dikening suaminya itu.
" Makasih Mas."
" Sekarang kita bersiap kerumah Mama."
" Ok my Hubby."
Mereka pun bersiap pergi kekediaman Dwipangga.
🍃🍃🍃
Sementara itu dikediaman Dwipangga semua orang sedang sibuk mempersiapkan hantaran pernikahan yang akan dibawa kerumah Sinta atau lebih tepatnya kekediaman Adijaya.
__ADS_1
" Ma" teriak Vanya dari kamarnya.
" Anak ini suka banget teriak-triak dia fikir ini dihutan, ngidam apa aku dulu waktu hamil anak ini."
Diana pun berjalan menaiki tangga, sampai dikamar putrinya Diana mengetuk pintu.
Tok tok
" Siapa."
" Mama."
" Buka aja Ma, pintunya nggak dikunci."
Diana membuka pintu kamar putrinya itu.
" Kamu kenapa sih teriak-triak bikin kuping Mama sakit tau nggak."
" Habis aku nggak nemuin novel aku Ma."
" Kamu itu selalu ceroboh. Apa kamu udah coba cari?."
" Udah Ma, tapi tetap aja nggak nemu."
Diana mencoba cari buku novel anaknya itu. Tak butuh waktu lama Diana pun menemukan buku novel anaknya itu.
" Ini apa?" tanya Diana.
" Waah Mama emang best banget."
" Gimana kamu mau punya pacar kalau kamu seperti ini terus Nak."
" Vanya udah punya pacar kok Ma."
" Benarkah?" senang.
" Benar dong Ma."
" Kalau benar kenalin dong sama Mama."
" Kalau kita udah resmi baru Vanya kenalin sama Mama."
" Maksud kamu."
" Gini Ma, untuk sekarang ini cowok itu belum cinta sama Vanya."
" Jadi maksudnya cinta kamu bertepuk sebelah tangan begitu."
" Iya Ma" sedih.
Diana yang melihat ekspresi sedih anaknya pun tidak dapat menahan tawanya.
" Senang banget Ma."
" Banget sayang, ternyata ada juga yang nolak putri Mama" masih tertawa.
" Mama?!."
" Anak ini benar-benar payah dalam menaklukkan hati para lelaki."
" Mendingan Mama keluar sekarang dari kamar aku, daripada mama disini cuma ngeledikin aku."
Diana keluar dari kamar putri cantiknya itu dengan tawanya yang masih belum usai.
To be continue..
HAPPY READING GUYS.. 😉😉
__ADS_1