
Tidak lama setelah minum obat, Vandy merasakan kantuk yang teramat, tak berapa lama Vandy pun tertidur. Aldi menarik selimut hingga dada Vandy, setelah itu Aldi duduk kembali disofa dan mulai mengerjakan pekerjaannya.
Aldi sudah mulai memainkan jari-jari nya diatas keyboard laptop nya. Aldi memeriksa email yang dikirimkan sekretaris Vandy. Mata Aldi begitu jeli membaca file yang dikirim sekretaris Vandy, dia tidak mau ada kesalahan sedikit pun.
Vandy memang mempercayakan semuanya pada Aldi. Karena itulah Aldi harus bekerja dengan baik dan juga teliti. Dia tidak mau membuat sahabat sekaligus bosnya itu kecewa.
Saat mata dan jari-jari Aldi sedang bekerja, tiba-tiba bunyi HP menghentikan kerjaannya. Aldi melihat nama yang tertera dilayar HPnya, seketika senyuman tipis muncul dari sudut bibirnya.
" Hallo, Assalamualaikum Bee" terdengar suara lembut sang istri.
" Wa'alaikum salam honey"
" Lagi sibuk ya?, apa aku ganggu?"
" Sesibuk apapun aku, kamu dan Gian tetap prioritas utamaku, jadi jangan pernah bicara seperti itu lagi"
" Ah suami aku habis makan apa sih, kenapa akhir-akhir ini bicaranya sangat manis sekali"
" Banyakkan makan kamu, makanya manis ngalahin gula "
" Ck.. mesum kamu makin meningkat juga ya Bee"
" Mesum sama istri sendiri nggak masalah"
" Kamu udah sarapan Bee?"
" Baru aja selesai honey, kamu sendiri udah sarapan belum?"
" Sarapan apa?, disini masih jam 2 malam Bee"
" O iya aku lupa honey. Kenapa belum tidur?"
" Belum ngantuk, aku kangen kamu Bee"
Aldi tersenyum mendengar ucapan istrinya. Karena istrinya itu sangat jarang bilang kangen dan cinta. Mungkin karena gengsi atau apalah, tapi Aldi tidak mempersalahkan itu.
" Bee, kamu masih mendengarkan aku ngomong kan"
" Masih honey, aku masih mendengarkan kamu kok"
" Kalau dengar, kenapa kamu diam aja. Kamu nggak lagi selingkuhkan Bee"
" Nggak honey. Aku sudah punya istri yang cantik dan juga sedang mengandung anak aku lagi, jadi mana mungkin aku selingkuh"
" Awas aja kalau kamu bohong, aku potong nanti aset kamu itu"
Gleg
Susah payah Aldi menelan salivanya.
" Kalau kamu potong, ntar siapa yang manjain punya kamu itu?"
" Aku bisa cari suami baru"
" Wah, benar-benar istri durhaka kamu honey. Coba aja kalau kamu berani cari suami yang baru, aku bunuh semua laki-laki yang dekat sama kamu "
" Ck.. emang kamu mau jadi pembunuh"
__ADS_1
" Demi memperjuangkan kamu, aku rela jadi apa aja honey, bahkan jadi budak kamu sekalipun aku mau"
" Sudah-sudah, nanti aku diabetes mendengarkan kata-kata manis dari kamu terus"
Tut..
Sinta menutup panggilan teleponnya. Aldi tau sekarang wajah istrinya itu sudah memerah, makanya dia mematikan teleponnya begitu saja. Aldi meletakkan HP nya kembali, kemudian melanjutkan kerjaannya yang tertunda tadi.
***
Sinta merasa wajahnya begitu panas, dia tidak menyangka suaminya itu sangat pintar berkata-kat manis. Sinta memejamkan matanya, setelah mendengar suara suaminya tadi, rasa kangennya sedikit terobati. Tak berapa lama Sinta pun terlelap.
Waktu terasa begitu cepat berjalan, tak terasa hari pun sudah Pagi. Sinta belum juga bangun dari tidurnya, mungkin karena dia tidur sudah jam 3 pagi, jadi matanya masih susah untuk dibuka.
Gian sudah menunggu mamanya dimeja makan. Tapi sudah lama menunggu, mamanya belum juga turun untuk sarapan bersama dengannya.
Gian memutuskan untuk sarapan sendiri, karena kalau menunggu mamanya turun, dia akan telat pergi kesekolah nya. Gian mulai memakan nasi goreng yang sudah dibuatkan bibik tadi.
Selesai sarapan, Gian pergi kerumah Tristan. Karena rumah Gian dan Tristan memang bersebelahan. Pagi ini Gian akan berangkat bareng sama Tristan.
" Aden mau kemana?" tanya Pak satpam.
" Kerumah Gian Pak"
Pak satpam membukakan pintu gerbang untuk Gian. Setelah pintu terbuka Gian langsung pergi kerumah Tristan, tentu saja diantarkan Pak satpam sampai kepintu gerbang rumah Tristan.
Pak satpam yang menjaga dirumah Sisil pun membukakan pintu gerbang untuk Gian. Gian pun masuk kedalam, setelah memastikan Gian masuk, barulah Pak satpam kembali ke posnya.
Gian berjalan menuju pintu utama rumah Sisil. Sampai didepan pintu Gian mencari tombol bel. Setelah ketemu Gian mengambil kursi kecil, Gian naik keatas kursi dan memencet tombol bel.
Ceklek..
" Assalamualaikum Bik"
" Wa'alaikum salam Den, mari masuk" ajak Bik Yum.
Gian masuk kedalam rumah Tristan. Gian duduk disofa yang ada diruang tamu. Belum lama Gian duduk Sisil dan Tristan sudah ada disana.
" Eh! ada Gian, udah lama ya"
" Ian baru nyampe kok tante"
" Gian udah sarapan?" tanya Sisil.
" Sudah tante"
" Yuk Mih kita berangkat, nanti aku dan Gian bisa telat" ajak Tristan.
Mereka pun berjalan menuju mobil. Sisil membukakan pintu untuk Gian dan juga Tristan. Sisil memasangkan seatbelt pada Gian dan Tristan.
Mobil pun melaju meninggalkan kediamannya. Mobil Sisil melaju dengan mulus dijalan raya, karena pagi itu belum begitu banyak kendaraan yang berlalu lalang.
Mobil yang dikendarai Sisil pun sampai disekolah anaknya. Sisil membuka seatbelt Tristan dan Gian, setelah itu Gian dan Tristan berpamitan kepada Sisil. Mereka berdua pun turun dari mobil.
Sisil melajukan mobilnya meninggalkan sekolah anaknya. Setelah mobil mami nya sudah tak terlihat, barulah Gian dan Tristan pergi dari parkiran.
Mereka berdua menunggu Kenzo ditaman. Tak berapa lama Kenzo pun datang. Kenzo berjalan dengan gaya cool nya. Dia menghampiri kedua sahabatnya itu.
__ADS_1
" Wah sepertinya ada yang lagi bahagia ni" kata Gian.
" Siapa?" tanya Tristan.
" Kenzo" jawab Gian.
" Aku kan setiap hari emang bahagia" kata Kenzo.
" Iya, tapi ini agak beda dari biasanya. Coba cerita sama kami" kata Gian.
" Kemarin aku melihat calon adek yang ada didalam perut mommy aku " kata Kenzo.
" Benarkah?" kata Tristan.
" Apa kamu juga bisa melihat wajahnya?" tanya Gian.
" Wajahnya belum terlalu jelas, tapi itu nggak masalah. Kalian tau apa yang membuat aku paling senang" kata Kenzo.
" Apa?" tanya Gian dan Tristan serentak.
" Aku bisa mendengar detak jantungnya " kata Kenzo.
" Wah, senang banget. Nanti aku mau tanya mama jugalah. Apa aku juga bisa lihat dan dengar detak jantung calon adek aku" kata Gian.
" Kamu tanya aja nanti" kata Kenzo.
Tristan ikut senang mendengar cerita Kenzo tadi, tapi disisi lain dia juga sedih. Karena cuma dia seorang yang tidak mempunyai calon adik.
Kenzo dan Gian yang melihat Tristan bersedih pun, langsung memeluk Tristan.
" Jika adek aku lahir nanti, dia akan menjadi adek kamu juga" kata Kenzo.
" Benar apa yang dibilang Kenzo" kata Gian.
" Terima kasih teman-teman" kata Tristan.
" Sama-sama. Daddy aku bilang, kita ini keluarga" kata Kenzo.
" Tentu saja" kata Gian.
" Jadi kamu jangan sedih lagi Tian" kata Kenzo menghibur Tristan.
" Iya, karena aku dan Kenzo akan selalu bersama kamu" kata Gian.
" Makasih" kata Tristan menangis haru.
" Udah jangan nangis, kamu jelek kalau nangis" goda Kenzo.
" Iya, jadi cowok jangan cengeng gitu" kata Gian.
Karena tidak mau dibilang cengeng Tristan pun tersenyum. Kenzo dan Gian juga tersenyum melihat tingkah lucu Tristan. Diantara mereka bertiga Tristan lah yang paling bontot.
Jadi Kenzo dan Gian sangat menyayangi Tristan. Mereka pun memutuskan untuk masuk kedalam kelas. Karena bel sekolah juga sudah berbunyi.
To be continue...
Happy Reading Guys. 😉😉
__ADS_1