
Suasana di ruangan itu berubah menjadi panas. Gian tidak pernah mengalami hal seperti ini. Lebih baik dia berhadapan dengan preman pasar, daripada harus berhadapan dengan papa kekasihnya itu.
" Apa kalian berdua berpacaran?" tanya ayah Keyra.
" I-iya Om"
" Jangan bikin takut Nak Gian Yah" kata Bunda Keyra yang kembali dari dapur dengan membawa nampan berisi teh dan juga camilan.
" Ayah nggak nakut-nakutin dia kok Bun"
" Nggak nakut-nakutin gimana, coba liat nak Gian sampai berkeringat dingin gitu"
Ayah Keyra melirik Gian. Benar apa yang dibilang istrinya, Gian seperti habis lomba lari.
" Apa Om bikin kamu takut?" tanya ayah Keyra.
" Se-sedikit Om"
Tawa ayah Key pun pecah. Gian menghela nafasnya, dia tidak menyangka ayah kekasihnya itu sedang mengujinya.
Untung calon mertua, kalau nggak udah gue karungin, terus gue lempar ke laut.
" Maaf ya nak Gian, ayah Key memang seperti itu" kata bunda Keyra.
" Nggak apa-apa kok Tante"
" Oh iya, ada perlu apa tuan Aldi datang ke rumah saya?" tanya Aldo ayah Keyra.
" Panggil Aldi saja"
" Kalau begitu panggil Aldo juga"
" Baiklah, kami cuma mengantarkan putri kamu sampai di rumah dengan selamat" kata Aldi.
" Maksud kamu, Al?" tanya balik Ayah Keyra.
" Putri anda kan semalam baru balik dari luar negeri, kami pun sama. Karena sudah larut malam, jadi istri saya mengajak Keyra nginap di rumah kami" jelas Aldi.
" Begitu rupanya, maaf sudah merepotkan anda dan keluarga" ucap Ayah Keyra.
" Kami tidak merasa direpotkan kok Aldo, justru sayang senang Keyra nginap di rumah kami" kata Sinta.
" Terima kasih Sinta, sudah mau menjaga putri kami" ucap Maya.
" Sama-sama May. Oh iya, ini ada sedikit oleh-oleh dari saya" kata Sinta sambil menyerahkan beberapa paper bag pada Maya.
" Kenapa harus repot-repot segala" kata Maya.
" Nggak apa-apa, kita nggak repot kok" kata Sinta.
" Terima kasih" ucap Maya.
" Sama-sama"
Mereka pun mengobrol ringan. Kedua orang tua Gian dan Keyra sedang asik mengobrol. Mereka juga sudah terlihat akrab. Mungkin karena orang tua Keyra juga supel dalam bergaul.
Maya dan Aldo tidak menyangka kedua orang tua Gian mau menerima putri mereka. Tidak berapa lama Keyra keluar dari kamarnya dengan memakai seragam sekolahnya.
" Key udah siap ya?" tanya Sinta.
" Sudah Tante"
" Apa udah mau berangkat?" tanya Aldi.
" Iya Pa, ntar kita telat " jawab Gian.
" Kalau begitu kami permisi dulu Diki, Maya" kata Aldi.
" Iya Al, sering-sering lah berkunjung ke gubuk kami" kata Diki.
" Rumah bagus begini di bilang gubuk. O iya halaman rumah kaliankan luas, kenapa nggak buka warung aja" usul Aldi setelah mereka sampai di luar.
__ADS_1
" Rencananya sih gitu Al"
" Bagus tu, apalagi disini jarak supermarket atau minimarketnya agak jauh" kata Sinta.
" Kalau ada yang kalian butuhkan bilang saja, insyaallah saya akan bantu" kata Aldi.
" Terima kasih Al, nanti kalau kami butuh bantuan, akan kami beritahu"
" Kalian jangan sungkan, karena kita juga akan menjadi keluarga"
" Iya Al, terima kasih"
" Kalau gitu, kami pamit dulu"
" Baik, titip putri kami sampai ke sekolah"
" Siap. Kami jalan dulu, assalamualaikum"
" Wa'alaikum salam "
Mobil Aldi melaju meninggalkan rumah Keyra. Setelah mobil Aldi menjauh, kedua orang tua Keyra masuk kembali kedalam rumah.
Maya membuka satu persatu isi paper bag yang di berikan Sinta tadi. " Masya Allah Yah, bajunya bagus sekali"
" Iya Bun"
Alangkah kagetnya Maya melihat harga yang tertera di baju itu. " Yah, ini nggak salah nih harga bajunya segini?"
" Mana, coba ayah liat"
Maya memberikan baju yang dia pegang itu pada sang suami. Sama seperti sang istri, Diki juga kaget melihat harga yang tertera di baju itu.
" Apa mereka nggak sayang ya Yah beli baju mahal begini?"
" Bagi orang kaya, belanja baju seharga itu tidaklah mahal Bun"
" Iya juga sih Yah. Bunda bersyukur karena mereka mau menerima putri kita, walaupun mereka tau keadaan kita seperti ini"
" Benar Buk"
🍃🍃🍃
Mobil yang di kendarai Gio baru sampai di depan pintu gerbang rumah Dira. Gio seperti mengenal rumah yang ada di hadapannya itu.
" Apa kita nggak salah rumah Tian?" tanya Gio.
" Nggak Pih" kata Tristan.
" Ini rumah walikota kan?"
" Hhhm"
" Bukannya kita mau ke rumah Dira, terus kenapa kita malah ke rumah walikota?"
" Karena disini rumah Dira, Pih" kata Tristan.
" Apa!" kaget Gio dan Sisil.
" Haiiss.. kenapa mami dan papi berteriak gitu"
" Kamu nggak salah ngomong kan?" tanya Sisil.
" Nggak, tanya aja sama sama Dira" kata Tristan.
" Dira ini beneran rumah kamu, sayang?" tanya Sisil.
" Benar Tante"
" Jadi kamu anak walikota?"
Dira menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
" Wah Pih, ternyata calon besan kita Pak walikota" kata Sisil.
" Hhmm"
" Terus sampai kapan kita mau di dalam mobil?" tanya Tristan.
" Oh iya, saking kagetnya kita ya Pih, jadi sampe lupa kalau masih dalam mobil" kata Sinta.
Tristan hanya menepuk jidatnya, dia tidak habis pikir dengan kedua orang tuanya. Padahal kalau di bandingkan walikota, harta kedua orang tuanya masih jauh di atas keluarga Dira.
Gio mengambil koper Dira di dalam bagasi. Setelah itu, mereka langsung menuju pintu utama rumah Dira, atau lebih tepatnya rumah walikota. Dira memencet bel yang ada di dinding.
Ting nong.
Tak berselang lama pintu pun terbuka.
" Assalamualaikum" ucap Sisil dan yang lain.
" Wa'alaikum salam, non Dira"
" Kita nggak di suruh masuk dulu Bik"
" Eh, mari silakan masuk"
Dira masuk kedalam rumahnya, diikuti sama Sisil, suami dan juga putranya. Mereka duduk di sofa ruang tamu.
" Bik, mama mana?"
" Di kamar Non, bibik permisi ke dapur dulu ya, mau bikin minum"
" Iya Bik, makasih ya"
Setelah berpamitan, bibik pun pamit undur diri pada nona dan tamunya. Bibik langsung pergi menuju dapur.
" Om, Tante tunggu sebentar ya. Dira mau panggil mama dulu"
Sisil menganggukkan kepalanya. Setelah berpamitan Dira pergi ke kamar sang mama. Sepeninggal Dira, Tristan langsung diberondong pertanyaan sama maminya.
" Kenapa kamu nggak kasih tau mami kalau Dira anak walikota?"
" Kan mami nggak pernah nanya"
" Walaupun mami nggak nanya, seharusnya kamu kasih tau dong?"
" Ya kan nggak lucu juga kalau aku bilang. 'Mih, Dira anak walikota lho"
" Iya juga sih"
Tak berselang lama Dira kembali dengan membawa sang mama. Sinta dan suaminya berdiri menyambut orang yang paling disegani oleh masyarakat itu.
" Wah mimpi apa saya bisa kedatangan model tampan" kata mama Dira.
Ya mama Dira salah satu penggemar ketiga model tampan itu. Dira hanya tersenyum melihat mamanya yang sangat antusias melihat Tristan.
" Mama kenalkan ini maminya Tristan. Tante kenalkan ini mama aku"
" Saya Sisil, ini Gio suami saya dan itu Tristan putra kami"
" Saya Indah mamanya Dira"
Mereka semua duduk di sofa ruang tamu. Bibik datang dengan membawa nampan yang berisi teh dan juga camilan. Setelah meletakkan teh dan juga camilan, bibik pun pamit undur diri ke dapur.
" Jadi semalam Dira tidur di rumah Tristan?"
" Iya Tante"
" Maaf ya nona Sisil, sudah merepotkan anda dan keluarga"
" Nggak apa-apa kok, saya tidak merasa di repotkan. Malahan kami senang Dira menginap di rumah kami.
Mereka pun mengobrol santai. Sedangkan Dira dan Tristan pamit ke sekolah, karena sebentar lagi jam pelajaran sekolah akan di mulai. Dira dan Tristan pergi diantarkan sama sopir pribadi walikota.
__ADS_1
To be continue.
Happy Reading 😚😚