
Sore hari.
Vandy dan keluarga kecilnya sedang bersantai di gazebo. Vandy membaringkan tubuhnya dengan paha sang istri sebagai bantalnya.
" Daddy manja banget sih" ledek Kenzo.
" Biarin, daddy manja sama istri daddy kok"
" Ck.. seharusnya yang bermanja-manja dengan mommy itu abang sama adek, karena kami berdua masih kecil" kata Kenzo.
" Daddy juga butuh waktu bermanja dengan mommy kalian. Karena kalian berdua mommy sudah jarang memanjakan daddy" kata Vandy.
" Aku sering memanjakan kamu loh Dad " kata Anggun.
" Kapan?, kamu setiap hari sibuk sama anak-anak" kata Vandy.
" Mana ada seperti itu. Aku memanjakan kamu tiap malam Dad"
" Itu dulu sayang, bahkan udah satu minggu aku puasa" kata Vandy.
" Emang udah selama itu ya" kata Anggun.
" Iya sayang, dan kamu nggak tau betapa tersiksanya Mas"
" Daddy " panggil Kiran.
" Iya sayang"
" Kalau daddy udah nggak sibuk kerja, adek mau jalan-jalan kekorea"
Vandy melirik istrinya, Anggun dengan cepat memalingkan wajahnya.
Beraninya kamu ya sayang, meracuni pikiran putri kita. Awas kamu nanti aku kasih hukuman.
" Kenapa daddy diam saja " kata Kiran.
" Iya sayang, nanti kita liburan kekorea" kata Vandy.
" Yeeeyy" sorak Anggun kegirangan.
Akhirnya rencana Anggun berhasil juga, Anggun tau kalau suaminya itu tidak akan menolak permintaan Kiran, maka dari itu Anggun memanfaatkan putri kecilnya itu.
" Kok kamu yang senang sayang, jangan bilang ini ide kamu" bisik Vandy di telinga sang istri.
" Ng-nggak, itu kemauan Kiran sendiri " kata Anggun gugup.
" Nggak usah ngeles, tunggu hukuman kamu nanti malam" kata Vandy.
Gleg
Anggun menelan salivanya, dia tau hukuman yang dimaksud suaminya itu. Vandy tersenyum melihat tingkah istrinya itu, andai tidak ada anak-anaknya, sudah habis dia lahap bibir istrinya itu.
" Tuan" panggil Pak Asep.
" Iya Pak"
" Karto bilang ada orang yang mau menemui tuan"
" Oh ya, siapa?"
" Dia bilang namanya Sigit "
Mau apalagi dia.
__ADS_1
" Suruh dia masuk Pak"
Pak Asep pun menelpon Karto untuk membukakan pintu gerbang, dan menyuruh tamu itu masuk kerumah utama. Setelah itu Asep pun pamit undur diri.
Sigit melajukan mobilnya menuju rumah utama. Sepanjang jalan menuju rumah utama Istri dan anak Sigit di buat takjub sama halaman rumah Vandy. Tak berapa lama tampaklah rumah utama Vandy.
Sigit, istri dan anaknya terpesona melihat bangunan yang ada di depan mata mereka. Rumah itu bak istana, sangat megah. Mereka bertiga pun turun dari mobil.
Mereka di sambut sama Asep. Asep mengantarkan Sigit dan keluarganya ketempat tuannya. Istri Sigit terpesona melihat bunga-bunga yang ada di taman itu.
" Selamat sore tuan" sapa Sigit
" Sore, silakan duduk"
Sigit dan keluarganya duduk di sofa yang ada di sana.
" Pak Asep tolong suruh antarkan minuman sama camilan sama Bik Mirna ya" titah Anggun.
" Baik nona"
Istri Sigit sangat takjub melihat sikap Anggun pada pelayannya. Anggun memperlakukan mereka seperti keluarga.
" Adek ikut sama Pak Asep dulu ya sayang" kata Anggun.
" Baik mommy"
Asep pergi membawa nona kecilnya kedalam rumah. Dia tau kalau tuannya akan membicarakan hal penting.
" Untuk apa kalian datang kerumah ku?" tanya Vandy tanpa basa-basi.
" Sa-saya ingin meminta maaf tuan dan juga keluarga tuan. Saya tau kesalahan putra saya sangat besar" ucap Sigit.
" Kau tau kenapa anakku bisa memukul anak mu?" tanya Vandy.
" Seharusnya sebelum kau menghakimi putraku, kau tanya dulu anakmu itu, kenapa putraku bisa memukul dia" tutur Vandy.
Sigit pun melirik putranya. " Katakan pada papa apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Sigit pada putranya.
Gilang pun menceritakan semuanya pada papanya, bahkan kejadian waktu di gudang sekolah pun juga di ceritakan Gilang. Tidak ada yang di tutupinya lagi.
Sigit tertunduk malu, dia tidak menyangka putranya akan berbuat sejauh itu. Sampai merencanakan pengeroyokan.
" Maafkan saya tuan, saya tau saya tidak pantas di maafkan, tapi saya mohon kembalikan perusahaan papa saya seperti semula. Karena perusahaan papa saya tidak ada sangkut pautnya sama masalah ini tuan" ucap Gilang.
" Bukankah putraku sudah memperingatkan kamu untuk tidak membuat masalah lagi dengannya. Kenapa kau tidak mendengarkannya" kata Vandy.
Gilang terdiam, dia tidak tau harus berkata apa lagi, apa yang dibilang Vandy memang benar. Kenzo sudah memperingati dia, tapi dia mengacuhkannya.
" Saat kau menghina ku di depan orang banyak aku hanya diam saja dan tidak membalas mu. Tapi kau berani menghina mommyku, makanya aku tidak bisa diam" kata Kenzo.
" Sekarang kalian pulang, dari pada emosi saya tambah naik melihat kalian" kata Vandy.
Gilang bangkit dari duduknya dan bersujud di depan Vandy.
" Tuan saya mohon, tolong selamatkan perusahaan papa saya"
" Bangun!, jangan bersujud di kaki ku, karena aku bukan tuhan" kata Vandy.
" Saya tidak akan bangun sebelum tuan mau membantu perusahaan saya"
" Ck.. bocah ini"
Anggun yang dari tadi hanya diam dan jadi pendengar, kemudian bersuara.
__ADS_1
" Bangun, kalau tidak aku tidak akan membantu papamu" kata Anggun.
Vandy kaget mendengar ucapan istrinya itu. Anggun tersenyum pada suaminya.
" Kamu belum mau bangun" kata Anggun.
Gilang pun segera bangun dan berlutut di depan Anggun. " Terima kasih nyonya" ucap Gilang dengan tulus.
" Aku belum setuju, kenapa kau sudah minta terima kasih" kata Vandy.
Gilang pun menunduk sedih.
" Mas, tenang dulu" kata Anggun.
" Kenapa kamu mau membantu dia, apa kamu nggak marah melihat dia merendahkan putra kita" kata Vandy.
" Tentu saja aku marah, ibu mana yang tidak sedih dan marah melihat anaknya direndahkan. Tapi aku memikirkan karyawan yang bekerja di perusahaan mereka" kata Anggun.
Beginilah susahnya punya istri yang kelewatan baik, untung cinta.
" Apa abang mau memaafkan dia?" tanya Anggun pada putranya.
" Asalkan dia mau berubah" jawab Kenzo.
" Kamu dengar apa yang di katakan putra saya" kata Anggun pada Gilang.
" Dengar nyonya"
" Kamu masih muda, perjalanan kamu masih panjang. Jika kamu masih bersikap seperti itu, saya yakin hidup kamu tidak akan berjalan dengan baik. Walaupun hidup kita lebih baik dari orang lain, tidak seharusnya kita merendahkan orang itu. Karena roda kehidupan itu terus berjalan, dan di atas langit masih ada langit. Kalau kamu merasa lebih, maka bantu orang yang tidak mampu" ucap Anggun.
" Saya mengerti nyonya"
" Alangkah baiknya kalau kita merasa lebih, berbagilah sama orang yang kurang mampu. Saya yakin hidup kamu akan jadi lebih indah" kata Anggun lagi.
" Tapi Mas tetap tidak setuju membantu dia" kata Vandy.
Anggun menatap tajam suaminya itu. Vandy langsung terdiam melihat tatapan sang istri. Vandy langsung tidak berdaya melihat tatapan seperti itu.
" Kamu harus membayarnya nanti malam" bisik Vandy di telinga istrinya.
" Baiklah suami saya akan membantu perusahaan kalian" kata Anggun.
" A-apa benar nyonya?" tanya Sigit.
" Tentu saja, benarkan sayang?" tanya Anggun pada suaminya.
" Iya, tapi saya akan terus memantau kalian. Jika kau dan keluarga mu masih bersikap senaknya, maka tiada ampun lagi bagi kalian" kata Vandy.
" Terima kasih tuan" ucap Sigit sambil berlutut di kaki Vandy.
" Berdirilah, sebelum saya berubah pikiran"
Sigit pun segera berdiri dan kembali duduk. Begitu juga dengan Gilang.
" Dan untuk kamu" tunjuk Anggun pada istri Sigit.
" I-iya nyonya"
" Bukankah tangan mu itu sudah berani menampar putra ku"
Deg..
To be continue..
__ADS_1
Happy Reading 😚😚