
Pagi hari
Setelah sarapan, Vandy, Anggun menunggu para sahabatnya. Anggun duduk disofa sambil memakan buah yang sudah dipotong-potong oleh suaminya tadi.
" Aaaa.. buka mulutnya Mas"
Vandy pun membuka mulutnya mengikuti titah sang istri. Anggun menyuapi buah apel kedalam mulut suaminya.
" Mommy, abang juga mau" kata Kenzo.
" Kalau mau, ambil aja sendiri " kata Vandy
" Abang mau buah yang ada dipiring mommy" kata Kenzo.
" Nggak boleh, itu punya mommy sama daddy" kata Vandy.
" Mommy" rengek Kenzo.
" Mas"
" Iya sayang"
" Jangan ganggu abang"
" Mas nggak ada ganggu abang sayang. Kamu nggak lihat Mas potong buah dari tadi" kata Vandy.
" Abang mau buah?" tanya Vandy.
" Mau " jawab Kenzo.
" Karena daddy baik, ni daddy kasih abang buahnya" kata Vandy sambil menyerahkan buah apel yang sudah dia potong tadi.
" Thank's daddy " ucap Kenzo.
" Sama-sama sayang"
Sinta dan yang lain pun sudah nyampe dirumah Anggun.
" Assalamualaikum " ucap Sinta dan yang lain.
" Wa'alaikum salam, yuk masuk "
Sinta dan yang lain pun masuk kedalam rumah dan duduk disofa yang ada diruang tamu.
" Kalian semua sudah siap berangkat?" tanya Vandy.
__ADS_1
" Udah dari tadi kali" jawab Aldi.
" Tunggu apalagi, yuk berangkat " ajak Vandy.
Mereka semua pun berjalan menuju mobil. Para suami membukakan pintu untuk para istri mereka. Karena kursi penumpang sudah terisi semua, jadilah Aldi duduk dikursi kemudi.
" Van gantiin gue dong, tangan gue lagi sakit nih" kata Aldi.
" Alasan aja kamu, buruan jalan" kata Vandy.
" Kalau loe belum juga jalankan ni mobil, gaji loe gue potong 70%" kata Vandy.
" Iya, ni gue jalan " kata Aldi.
Mobil pun melaju meninggalkan kediaman Anggun. Pagi ini suasana jalan lumayan rame oleh kendaraan yang berlalu lalang. Tapi tidak menimbulkan macet.
Mereka pun sampai disebuah sekolah beladiri Taekwondo yang terkenal di kota itu. Aldi memarkirkan mobilnya ditempat yang sudah disediakan disana.
Mereka semua turun dari mobil. Kenzo, Gian dan Tristan sangat menyukai tempat itu. Sekolahnya sangat sejuk dengan pemandangan yang indah.
Mereka semua masuk kedalam sekolah, dengan ditemani asisten sang master, mereka pergi bertemu dengan master, sekaligus pemilik sekolah itu.
Saat mereka berjalan menuju ruangan master itu, mereka disugukan dengan pemandangan anak-anak yang sedang latihan dengan guru mereka masing-masing.
" Daddy"
" Hhmm"
" Kenapa ikat pinggang mereka warna berbeda-beda?" tanya Kenzo.
Vandy menghentikan langkahnya dan melihat kearah anak-anak yang sedang latihan.
" Yang warna warni itu namanya sabuk. Warna sabuk menentukan tingkatan mereka. Warna putih untuk pemula, kuning untuk kehidupan baru, hijau untuk tunas yang baru tumbuh, biru untuk naik ketingkat yang lebih tinggi, merah untuk mencoba tantangan baru, hitam menandai pertumbuhan. Hitam itu adalah tingkatan paling tinggi" jelas Vandy.
" Daddy tau semuanya tentang taekwondo" kata Kenzo.
" Tentu, karena daddy pemegang sabuk hitam" kata Vandy.
" Kenapa tidak daddy saja yang mengajarkan abang"
" Karena daddy pengen abang mencari teman yang banyak disini, jadi abang bisa lebih berkembang"
Kenzo pun menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
" Yuk kita masuk, nanti master yang menjelaskan semua yang daddy bilang tadi sama abang"
__ADS_1
Kedatangan mereka disambut baik oleh master. Vandy pun mengutarakan maksud kedatangannya kesana.
Setelah serah terima, dan Master itupun sudah menjelaskan semua mengenai seni beladiri taekwondo. Kenzo, Gian dan Tristan pun juga sudah mengerti, jadi mereka resmi menjadi murid disana.
Kenzo, Gian dan Tristan, akan latihan dua kali seminggu, yaitu sabtu dan minggu. Kerena jadwal kosong mereka bertiga cuma sabtu dan minggu.
Setelah urusan mereka selesai, mereka pun pergi melihat anak-anak yang sedang latihan, karena Kenzo belum puas melihat mereka latihan.
Mereka semua duduk dikursi panjang dibawah pohon besar yang letaknya tidak jauh ditempat latihan. Ketiga anak kecil itu sangat antusias melihat anak-anak yang seumuran sama mereka.
Salah satu guru melihat Kenzo, Gian dan Tristan. Guru itupun meminta mereka bertiga untuk bergabung. Tentu saja Kenzo, Gian, dan Tristan mau.
Sekarang mereka bertiga ikut berbaris dikelas dasar. Kenzo, Gian dan Tristan fokus melihat gerakan-gerakan yang diajarkan guru mereka.
Vandy dan yang lainnya sangat senang, karena melihat anak-anak mereka sangat antusias mengikuti latihannya. Jadi tidak sia-sia Vandy membawa mereka ke sekolah beladiri.
Setelah menghabiskan waktu selama satu jam mereka pun pamit pada semua yang ada disana. Seragam Kenzo, Gian dan Tristan akan diberikan saat mereka akan latihan nanti.
Mobil pun melaju meninggalkan sekolah itu. Sepanjang jalan pulang, ketiga anak kecil itu tidak hentinya bercerita tentang latihan tadi. Vandy dan yang lain hanya jadi pendengar yang baik.
Mobil pun sampai dikediaman Anggun. Mereka tidak masuk kedalam rumah, mereka pergi menuju gazebo yang ada ditaman depan.
Para istri mengambil camilan dan juga minum untuk mereka semua. Sedangkan para suami dan anak-anak duduk santai digazebo.
" Kalian senang ikut latihan tadi?" tanya Vandy kepada ketiga anak kecil itu.
" Sangat senang" jawab mereka bertiga.
" Abang tidak sabar mau mendapatkan sabuk hitam" kata Kenzo.
" Tian juga" kata Tristan.
" Ian juga" kata Gian tidak mau kalah.
" Kalau kalian bertiga latihan dengan sungguh-sungguh dan mendengarkan apa yang guru kalian ajarkan, daddy percaya kalian akan cepat mendapatkan sabuk hitam itu"
Para istri pun kembali dengan membawa camilan dan juga minuman untuk suami dan anak-anak mereka. Mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol tentang taekwondo.
Para istri hanya menjadi pendengar yang baik untuk mereka.
To be continue..
Jangan lupa tinggalkan jejak sayang kalian untuk Author..
Happy Reading Guys.. 😉😉
__ADS_1