
Hari ini Aldi, Gio dan para istri mereka akan kembali ketanah air. Semua barang-barang mereka sudah dimasukkan kedalam bagasi. Mereka pun masuk kedalam mobil dan berangkat menuju bandara.
Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan. Mereka larut dalam pikiran mereka masing-masing. Setelah menempuh perjalanan selama 15 menit mobil yang membawa pengantin baru itu pun sampai dibandara.
Vandy dan Gio membawa koper milik istri mereka. Sinta dan Sisil berjalan lebih dulu dan diikuti para suami dari belakang. Mereka hari ini akan pulang dengan jet pribadi nya keluarga Wiguna jadi mereka tidak perlu susah payah menunggu waktu keberangkatan.
" Good bye Maldives" ucap mereka kompak.
Mereka masuk kedalam pesawat jet. Sinta dan Sisil takjub melihat interior pesawat jet milik keluarga Wiguna. Walaupun Sinta dan Sisil sama-sama berasal dari keluarga kaya tapi mereka tidak memiliki pesawat jet seperti keluarga Dwipangga dan Wiguna.
" Waah interior pesawat jet ini lebah mewah dari pada milik keluarga gue" kata Gio.
" Ya iyalah beda ini kan pesawat jet milik orang terkaya seasia" ucap Aldi.
" Habis berapa duit ya buat merawat pesawat jet ini?" tanya Sisil.
" Pastinya nggak sedikitlah " jawab Sinta.
" Kalian beruntung memiliki teman sebaik Anggun" kata Aldi.
" Kalian juga beruntung memiliki teman sebaik Vandy" kata Sisil.
" Walau kadang Vandy nyebelin" ucap Aldi.
Mereka pun tertawa bersama dan pesawat pun lepas landas meninggalkan kota Maldives dan entah kapan lagi mereka akan bisa berkunjung kekota yang indah ini.
Ditempat lain.
Vandy sedang menemani istrinya nonton tiba-tiba bersin.
" Achiuuuuu" (Anggap bunyi bersin ya guys)
" Kamu kenapa Mas."
" Nggak apa-apa sayang? mungkin ada orang yang ngomong jelek tentang Mas."
" Siapa?."
" Siapa lagi kalau bukan Aldi. Awas aja kalau dia pulang nanti Mas kasih pelajaran dia."
" Emang mereka udah berangkat ya?."
" Udah sayang" mencium bibir istrinya sekilas.
" Mas."
" Hhhmm" sambil membelai rambut panjang istrinya.
" Aku mau mangga."
" Mas suruh Kang Asep ngambilin ya."
" Nggak mau. Aku pengen Mas yang ngambil sendiri."
" Ok Mas ambilin."
Vandy mau karena pohon mangga dikebun belakang sangat rendah jadi nggak perlu manjat buat ngambil buahnya.
" Aku nggak mau mangga dibelakang rumah."
" Terus."
" Aku mau mangga punya tetangga kita."
" Kenapa harus punya tetangga sayang?."
" Karena lebih enak dan dedek bayi maunya punya tetangga."
" Kata siapa lebih enak punya tetangga? lebih enak mangga punya kita lagi."
" Kata aku dan sekarang aku maunya mangga punya tetangga."
__ADS_1
" Aduh Nak sebenarnya kamu anak Daddy atau anak tetangga sih?."
" Mas."
" Iya sayang."
" Kenapa bengong buruan ambil mangganya. Kamu nggak mau anak kita ngeces kan pas lahir."
" Ck.. selalu saja menggunakan kata-kata itu buat alasannya."
" Baiklah Mas akan ambilin mangga tetangga buat kamu dan dedek bayi."
" Asik."
" Kamu tunggu disini ya."
" Nggak mau? ntar Mas ambil mangga dikebun belakang dan bilang sama aku mangga tetangga."
" Kok dia bisa tau sih? apa ini efek dari ngidam juga jadi istriku bisa tau isi pikiran ku."
" Yuk Mas."
Vandy dan Anggun keluar dari kamarnya. Mereka berjalan menuruni tangga. Sampai diluar rumah Vandy menghentikan langkahnya.
" Kenapa berhenti Mas."
" Apa kamu yakin mau ikut."
" Hhhmmm."
" Ntar kamu capek loh sayang."
" Nggak akan. Ayo buruan."
Jarak rumah utama dengan pintu gerbang lumayan jauh. Anggun tidak mau memakai mobil dan maunya jalan kaki. Cukup lama mereka berjalan akhirnya Vandy dan istrinya pun sampai didepan rumah tetangganya.
Vandy kaget melihat pohon mangga milik tetangganya itu. Gimana nggak kaget pohon itu sangat tinggi dibandingkan pohon mangga dikebun belakang rumahnya. Kalau jatuh lumayan bikin badan encok.
" Dia nggak akan nyuruh aku buat manjat ni pohon kan?."
" Mas."
" Buruan manjat."
" Apa!! kamu nggak seriuskan sayang nyuruh Mas manjat."
" Dua rius malah. Buruan?!."
" Tega banget ni bini suruh suaminya manjat. Kalau jatuh lumayan sakit juga nih."
" Sayang masa kamu tega liat Mas manjat. Pohon mangganya tinggi sayang ntar kalau Mas jatuh gimana?."
" Ya tinggal bangun."
" Nanti apa kata orang liat CEO tampan manjat pohon mangga."
" Udah jangan banyak omong cepat manjat dan ambil buat mangganya."
" Kita minta sama yang punya mangga dulu sayang?."
Vandy memanggil orang yang punya mangga. Tak berapa lama keluar Bapak-bapak dengan badan kekar dan kepala botak. Nyali Vandy pun seakan menciut melihat badan Bapak itu.
" Ada perlu apa?" tanya Bapak itu.
" Gini Pak istri sayang sedang hamil."
" Terus hubungannya istri kamu hamil dengan saya apa? kamu nggak minta saya bertanggung jawabkan."
" Nggak lah Pak. Saya mau minta mangga muda soalnya istri saya lagi ngidam."
" Boleh. Satu buah 500 ribu."
__ADS_1
" Aapa!! mahal banget Pak."
" Kalau kamu nggak mau ya sudah silakan pergi dari rumah saya."
Saat Vandy dan Bapak itu masih memperdebatkan soal harga mangga. Tiba-tiba istri Bapak itu muncul.
" Ada ribut-ribut apa ini?" tanya Ibuk itu.
" Ini Buk istri saya sedang ngidam ingin makan mangga muda tapi Bapak bilang saya harus membayar 1 buah mangga 500 ribu."
" Benar itu Pak."
" I-iya Buk."
" Kamu itu ya Pak masih saja nggak berubah" kata sih Ibuk sambil menjewer kuping sang Bapak.
" A-ampun Buk."
Ibuk itu pun melepaskan tangannya dari telinga sang suami.
" Silakan ambil buah mangganya Nak. Ambil sebanyak yang kamu mau dan kamu nggak perlu membayarnya."
" Terimakasih Buk."
Vandy berjalan menghampiri pohon mangga itu. Sesaat Vandy melihat keatas pohon mangga. Ada sedikit keraguan dalam diri Vandy untuk naik keatas pohon mangga itu. Karena disana cukup banyak dahan yang lapuk.Tapi demi keinginan anaknya Vandy pun menghilangkan keraguannya dan mulai memanjat pohon itu.
" Hati-hati Mas."
Ada rasa cemas dihati Anggun melihat suaminya memanjat pohon mangga itu.Tapi mau gimana lagi itu keinginan bayi mereka.
Vandy menginjak dahan demi dahan dan akhirnya Vandy sampai didahan yang cukup tinggi. Vandy mulai mengambil buah mangga yang ada didepannya. Vandy berhasil mengambil buah mangga itu.
Vandy turun kebawah dengan menginjak dahan-dahan yang dia lewati tadi. Tapi Vandy lengah dan menginjak dahan yang lapuk.
" Mas!!" teriak Anggun berlari menghampiri suaminya.
Ibuk dan Bapak pemilik mangga kaget mendengar teriakan Anggun. Mereka pun keluar melihat apa yang terjadi disana.
" Astagfirullah" ucap Ibuk itu.
Bapak itu mengangkat tubuh Vandy dan membawa kedalam rumah mereka. Tubuh Vandy dibaringkan diatas sofa ruang tamu.
" Mas bangun jangan tinggalkan aku sama anak kita. Aku belum mau jadi janda Mas" ucap Anggun sambil menangis.
" Tenang Nak" ucap Ibuk itu sambil menenangkan Anggun.
" Gimana bisa tenang Buk suami saya belum bangun juga."
Bapak pemilik mangga datang dengan membawa minyak angin. Bapak itu memberikan minyak angin itu pada istrinya. Ibuk itu mengoleskan minyak angin itu kehidung Vandy. Tak berapa lama Vandy pun siuman.
" Sayang."
Anggun mendongakkan kepalanya mendengar suara suaminya. Tangis Anggun makin pecah melihat sang suami membuka matanya.
" Sayang jangan menangis lagi. Mas nggak apa-apa kok" menenangkan sang istri.
Anggun makin merasa bersalah mendengar ucapan suaminya itu. Andai saja dia tidak menyuruh suaminya manjat pasti suaminya itu akan baik-baik aja. Vandy bangun dari tidurnya dan memeluk istrinya.
" Sayang jangan menangis lagi. Nanti dedeknya juga ikutan sedih?.
Anggun pun menghentikan tangisnya.
Ibuk dan Bapak pemilik mangga itu ikut bahagia melihat Vandy baik-baik saja.
" Makasih ya Buk, Pak sudah bantu saya" ucap Vandy.
" Sama-sama Nak."
Vandy sudah merasa baikan dan menelpon Kang Asep menjemput mereka. Karena kaki Vandy terkilir jadi nggak bisa berjalan. Anggun dan Vandy pun pamit pulang sama Ibuk dan Bapak pemilik mangga.
To be continue...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak sayang kalian buat Author biar Author semangat untuk UP nya... 🙏🙏🙏
Happy Reading Guys.. 😉😉😉