
Pagi hari.
"Hoeek.. hoeeek."
Vandy bangun dari tidurnya karena mendengar suara istrinya muntah-muntah. Vandy bergegas menghampiri istrinya kekamar mandy.
" Sayang" ikut berjongkok disamping istrinya.
Vandy membantu istrinya dengan menggosok tekuk leher istrinya.
" Sayang apa kita pergi kedokter aja?."
Anggun menggelengkan kepalanya.
" Mas nggak tega liat kamu kek gini sayang?."
" Aku nggak apa-apa Mas ini udah biasa bagi wanita yang sedang hamil. Mas gendong aku ketempat tidur."
Vandy menggendong tubuh istrinya ketempat tidur dan membaringkan tubuh istrinya dengan sangat hati-hati.
" Sayang. Mas tinggal kebawah dulu ya."
" Jangan lama-lama."
" Mas nggak akan lama."
Sebelum pergi Vandy mencium kening istrinya. Setelah itu Vandy keluar dari kamarnya dan berjalan menuruni anak tangga. Vandy berjalan menuju dapur. Sampai didapur Vandy mengambil tiga gelas dan mengisi gelas tersebut dengan susu. Ya Vandy akan membuatkan susu untuk istrinya.
Vandy kembali kekamarnya dengan membawa tiga gelas susu dan sarapan buat istrinya itu. Sampai didepan pintu kamarnya Vandy kesusahan membuka pintu kamarnya. Susah payah Vandy membuka pintunya kamarnya. Vandy menendang pintu kamarnya dan akhirnya pintu itu pun bisa terbuka.
Vandy berjalan menghampiri istrinya. Vandy meletakan susu dan sarapan buat istrinya di atas nakas.
" Banyak banget bikin susunya Mas?."
" Iya sayang tadi Mas lupa nanya sama kamu mau dibikinin susu rasa apa, jadi Mas bikin aja tiga."
" Aku mau yang rasa coklat aja Mas."
Vandy mengambil susu yang rasa coklat dan memberikan kepada istrinya itu. Anggun meneguk susu itu sampai habis. Setelah susu itu habis Anggun memberikan kembali gelasnya pada suaminya.
" Sarapan dulu sayang habis itu baru minum vitamin sama obat buat ngurangin rasa mualnya."
Vandy menyuapi istrinya dengan telaten. Suapan demi suapan masuk kedalam mulut istrinya. Vandy merasa senang karena Anggun udah mau makan nasi walaupun tidak banyak. Selesai menyuapi istrinya makan Vandy memberikan obat dan Vitamin buat istrinya.
" Mas nggak kekantor?."
" Nggak sayang kerjaan Mas cuma sedikit. Jadi Mas ngerjainnya dirumah saja. Lagi pula Mas nggak bisa ninggalin kamu."
" Maaf ya Mas karena aku kerjaan Mas jadi terbengkalai."
" Kamu ngomong apa si sayang? tentu saja Mas lebih mementingkan kamu dan anak kita dari pada kerjaan Mas. Jadi jangan bicara seperti itu lagi."
Anggun memeluk suaminya itu. Vandy membalas pelukan istrinya itu. Vandy membelai rambut panjang istrinya dan sesekali mencium pucuk kepala istrinya.
" Mas."
" Hhhmmm."
" Aku mau kepasar."
" Emang mau beli apa disana?."
" Mau beli ikan, sayur dan banyak lagi."
" Kalau cuma mau beli itu kita bisa minta tolong sama Bik Mirna."
" Nggak mau."
" Terus gimana?."
" Aku mau perginya sama Mas" bicara dengan nada manja.
" Tapi pasar itu becek sayang."
" Nggak kok. Mau ya ya" bergelayut manja ditangan suaminya.
" Kalau ada maunya baru manja-manja kek gini?."
" Jadi Mas nggak mau nemenin aku" memasang wajah sedih.
" Jangan pasang wajah kek gitu sayang. Iya Mas mau nemenin kamu."
" Tapi Mas harus pakai daster."
__ADS_1
" Apaaa!! nggak mau."
" Mas bilang sayang sama aku dan Dedek bayi tapi pas disuruh pakai daster nggak mau? lagian ini kemauan baby kita. Apa Mas mau liat anak kita ngeces pas lahir."
" Nggak mau lah."
" Makanya penuhi permintaan Dedek bayinya."
" Baiklah demi kamu dan Dedek bayi" pasrah.
Anggun sangat senang karena suaminya itu mau pakai daster. Anggun mencari daster yang bagus buat suaminya itu. Pilihan Anggun jatuh pada daster berwarna pink dengan motif bunga-bunga. Anggun menyerahkan baju daster itu kepada suaminya. Dengan berat hati Vandy menerima baju daster itu.
Vandy melangkahkan kakinya dengan malas keara walk in closet. Tak perlu waktu lama Vandy keluar dengan memakai baju daster warna pink dengan motif bunga-bunga.
Anggun melihat suaminya keluar dengan baju daster. Anggun terpesona melihat suaminya itu.
" Kamu cantik banget Mas pakek baju daster."
" Kamu ngeledek Mas sayang."
" Siapa bilang ngeledek justru aku memuji Mas. Kalau aku jadi laki-laki sudah pasti aku tergoda sama kamu Mas."
" Kamu pinter sekali mujinya" mulai mendekati istrinya.
" Ma-mas mau ngapain."
" Tentu saja mau menggoda kamu."
Kini jarak wajah mereka hanya lima senti. Vandy menatap manik mata istrinya itu. Anggun yang ditatap begitu intens sama suaminya merasa gugup dan jantungnya berdetak tak karuan. Walaupun itu bukan kali pertamanya bagi Anggun ditatap dengan intens tapi tetap saja membuat jantung Anggun berdetak tak karuan.
Vandy mengusap bibir istrinya yang merah ranum itu dengan jarinya. Vandy mengecup bibir istrinya dan perlahan melum*t bibir yang mungil serta keny*l itu. Vandy menyudahi ciumannya itu sebelum juniornya bangun dengan sempurna. Anggun tau suaminya itu sedang berusaha menahan hasratnya.
" Yuk Mas kita berangkat."
Vandy menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah istrinya keluar kamar. Pasutri itu berjalan menuruni anak tangga. Saat melewati ruang tamu mereka berpapasan dengan Bik Mirna.
Bik Mirna kaget melihat dandanan tuan muda mudanya. Mau ketawa takut dipecat jadi Bik Mirna pun berusaha menahan tawanya.
" Hancur sudah harga diriku sebagai laki-laki dan juga sebagai seorang CEO dimata Bik Mirna."
" Bik kita pergi kepasar dulu ya."
" Baik nona. Hati-hati dijalan nona."
Mobil Vandy melaju pergi meninggalkan kediamannya. Vandy mengendarai mobilnya menuju pasar tradisional. Tak butuh waktu lama mobil Vandy pun sampai dipasar tradisional. Vandy memakirkan mobilnya dengan baik.
Anggun turun duluan dari mobil tanpa menunggu suaminya membukakan pintu untuk dirinya. Sedangkan Vandy masih ragu-ragu untuk turun dari mobilnya. Demi istri dan anaknya akhirnya Vandy turun dari dalam mobil.
Vandy dan istrinya berjalan memasuki pasar tradisional itu. Mata Vandy dibuat kagum sama pasar tradisional yang mereka datangi itu. Pasar itu terlihat rapi dan juga bersih. Tidak becek seperti yang ada dalam pikiran Vandy tadi.
Semua orang yang berada disana menatap kagum Anggun dan Vandy. Karena kebanyakan orang kaya tidak mau belanja dipasar tradisional. Malahan mereka lebih suka belanja dimall.
" Waah coba liat orang kaya itu mereka sangat cantik" kata penjual A.
" Apa mereka bilang cantik. Ck aku maco kek gini masa dibilang cantik."
" Sepertinya mereka Kakak beradik" kata penjual B.
Masih banyak lagi omongan para pedangang yang didengar oleh Vandy dan Anggun. Tapi mereka tak menghiraukan. Mereka terus berjalan dan berhenti ditempat orang menjual ikan.
" Mau beli ikan apa Neng?" tanya Bapak penjual ikan.
" Mau beli ikan kakap Pak."
" Mau kakap putih atau merah Neng."
" Yang putih aja Pak."
" Berapa kilo?."
" Dua kilo aja Pak."
Bapak penjual ikan itu mengambil kakap putih dan menimbangnya. Selesai meninimbang ikan kakapnya Bapak itu memberikan kepada Anggun.
" Berapa Pak."
" 95 ribu aja Neng."
Vandy kaget mendengar ucapan Bapak penjual itu. Masa ikan kakap 2 kg harganya 95 ribu.
" Sayang apa Bapaknya nggak salah hitung?" tanya Vandy.
Anggun tersenyum mendengar pertanyaan suaminya itu.
__ADS_1
" Nggak Mas. Harga dipasar memang lebih murah di bandingkan harga disupermarket Mas."
Vandy memberikan dua lembar uang 100 ribu pada Bapak pejual ikan.
" Ini kebanyakan Neng."
" Nggak apa-apa Pak ambil aja saya ikhlas ngasihya."
" Terimakasih Den. Semoga Aden dan Eneng diberikan selalu nikmat kesehatan sama gusti Allah."
" Aamiin. Terimakasih Pak doanya."
Anggun dan suaminya pergi meninggalkan tempat penjual ikan dan pergi ketempat orang menjual cabe dan bumbu rempah.
" Mau beli apa Neng?" tanya Ibuk penjual.
" Mau beli cabe, bawang merah sama bawang putih Buk."
" Cabe berapa kilo Neng?."
" 1 kg aja Buk."
" Terus bawangnya Neng."
" Sama Buk 1 kg juga."
Ibuk itu menyuruh anaknya mengambilkan pesanan yang dibilang Anggun tadi.
" Kakaknya cantik pisan Neng."
" Bukan Buk ini teh suami saya."
" Maaf. Ibuk kirain teh cewek tadi habis pakai daster."
" Iya ini kemauan calon anak kita Buk."
" Maksud Eneng ngidam gitu."
" Iya Buk."
Ibuk itu pun memberikan belanjaan yang dibeli anggun tadi.
" Berapa Buk."
" Semuanya 75 ribu Neng."
Vandy memberikan uang 200 ribu pada Ibuk penjual itu.
" Ini kebanyakan Den."
" Nggak apa-apa Buk ambil saja saya ikhlas ngasihnya."
" Makasih Den semoga rezeki Aden lancar, Bayinya Eneng sehat dan semoga selamat sampai lahiran."
" Aamiin makasih Buk doanya."
Anggun pergi meninggalkan pedagang bumbu dan rempah.
" Sayang ada lagi yang mau dibeli?."
" Segini aja dulu Mas Aku udah capek."
Ya karena hamil muda akhir-akhir ini Anggun memang sering merasa capek.Vandy membawa istrinya keluar dari pasar.
" Sayang tunggu disini dulu ya Mas mau ngambil mobil dulu."
Anggun menganggukan kepalanya. Vandy pergi mengambil mobilnya diparkiran. Tak berapa lama Vandy pun datang dengan mobilnya. Vandy membukakan pintu mobil buat istrinya. Setelah istrinya naik Vandy memasang seatbelt untuk istrinya.
Mobil Vandy melaju meninggalkan pasar tradisional dan kembali menuju rumahnya. Anggun yang memang sudah merasa lelah akhirnya tertidur didalam mobil. Sampai dirumah Vandy mengendong tubuh istrinya kedalam rumah. Vandy menggendong istrinya sangat hati-hati. Sebelum kekamarnya Vandy minta tolong sama Bik Mirna untuk mengambil belanjaannya dimobil.
Vandy membaringkan tubuh istrinya diatas kasur. Vandy mengecup kening istrinya kemudia mengelus perut istrinya yang masih terlihat rata.
" Ingat perjuangan Daddy ya Nak demi memenuhi keinginan kamu Daddy rela pakai daster kepasar."
Setelah mengobrol dengan calon anaknya Vandy berjalan kekamar mandi untuk membersihkan dirinya.
To be continue...
Hy Readers ku tersayang apa kabar kalian hari ini?
Jangan lupa tinggalkan jejak sayang kalian buat Author ya. Kalau bisa Vote nya juga... 😉😉😉
Happy Reading Guys.😉😉
__ADS_1