
Hari ini adalah hari yang bersejarah buat kedua sahabat Anggun. Kenapa karena hari ini kedua sahabatnya itu akan melangsungkan pernikahan.
Sinta dan Sisil terlihat cantik dengan kebaya putih. Anggun menatap kedua sahabatnya itu. Anggun merasa bahagia karena sebentar lagi sahabatnya akan merubah status mereka menjadi seorang istri.
Sedangkan diballroom hotel dua lelaki tampan sedang mempersiapkan diri untuk melakukan ijab kabul. Vandy tersenyum melihat kedua temannya itu. Vandy terbayang akan waktu dia melakukan ijab kabul. Jadi Vandy tau apa yang kedua sahabatnya itu rasakan.
Penghulu sudah datang. Acara ijab kabul pun segera dimulai. semua keluarga sudah berkumpul.Aldi menjabat tangan Ayahnya Sinta.
"Saudara Aldi Hermansyah bin Almarhum Herman. Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya Sinta Juliana Rahman binti Rahman dengan Mas kawin seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Sinta Juliana Rahman binti Rahman dengan Mas kawin tersebut dibayar tunai."
" Bagaimana para saksi Sah" Penghulu.
" Saaaah" para saksi.
" Alhamdulillah Hirobbil Alamin."
Sinta yang menyaksikan proses ijab kabul lewat layar LED yang ada dikamar hotel itu. Sinta sangat terharu mendengarkan Aldi membaca hanya dengan satu tarikan nafas. Sekarang giliran Gio yang akan melakukan proses ijab kabul. Gio dan Papa Sisil sedang berjabat tangan.
" Saudara Gio Arnando bin Arnando. Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya Sisil Putri Revanof binti Revanof dengan Mas kawin seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan dibayar tunai."
" Saya terima nikah dan kawinnya Sisil Putri Revanof binti Revanof dengan Mas kawin tersebut dibayar tunai."
" Bagaimana para saksi sah" Penghulu.
" Saah" para saksi.
" Alhamdulillah Hirobbil Alamin."
Setelah proses ijab kabul Sinta dan Sisil dibawa keluar kamar untuk menemui suami mereka. Anggun membawa kedua sahabatnya itu keballroom hotel. Sinta dan Sisil terlihat cantik dengan memakai kebaya putih.
Sampai didepan para suami mereka Anggun melepaskan kedua tangan sahabatnya itu dan duduk disamping suaminya.
Sinta dan Sisil menerima mahar dari suami mereka masing-masing. Setelah itu Sinta dan Sisil mencium tangan suami mereka. Aldi dan Gio mengecup kening istri mereka. Setelah serangkaian acara inti selesai para tamu pun mencicipi makanan yang sudah disediakan disana. Begitu pun dengan Anggun yang sudah lapar dari tadi.
" Van istri kamu mana?" tanya Diana.
" Tuh lagi ngambil makanan Ma" jawab Vandy.
Anggun datang dengan membawa dua piring makanan. Vandy melihat istrinya susah membawa pun membantu istrinya itu.
" Sayang kamu banyak banget ngambil makanannya. Apa itu untuk Papa?" tanya Wiguna.
" Hehehe ini buat Anggun semua Pa" jawab Anggun.
" Emang habis sebanyak itu sayang?" tanya Kiara.
" Habis dong Ma, malahan kurang" jawab Anggun sambil mengunyah makanan yang ada dimulutnya.
Semua keluarga menggelengkan kepala mendengar jawab dari Anggun.
" Mama, Papa dan semuanya aku dan Anggun ingin memberitahukan pada kalian kalau sekarang istri aku sedang mengandung."
" Apa!!" kaget Dwipangga dan Wiguna.
" Maksud kamu kami akan jadi Kakek dan Nenek begitu?" tanya Wiguna.
Vandy menjawab dengan menganggukan kepalanya.
" Mama dengarkan Papa akan jadi seorang Kakek Ma" ucap Wiguna senang."
" Iya Pa. Mama dengar" kata Kiara.
Sedangkan orang yang dibicarakan masih asik dengan makanannya. Tanpa mempedulikan orang-orang yang ada disana.
" Coba lihat orang yang kita bicarakan malah sibuk dengan makanannya tanpa mempedulikan kita" ucap Kiara.
Sontak semuanya melihat kearah Anggun dan benar saja. Anggun lagi asik makan cake yang dia ambil tadi.
" Sayang" panggil Vandy.
" Hhmmm" tanpa menoleh kearah suaminya.
__ADS_1
" Kalau dipanggil itu liat orangnya dong."
" Apa sih Mas aku tuh lagi makan. Ganggu aja" kesal Anggun.
Semua orang disana tertawa melihat Vandy yang dimarahin sama istrinya.
" Sabar orang hamil itu moodnya kadang emang naik turun jadi kamu harus sabar menghadapinya" kata Kiara.
" Pasti Ma aku udah stok banyak kok rasa sabar aku."
" Mas."
" Hhmmm."
" Kok cuma hhhmmm sih jawabnya."
" Iya sayang."
" Nah gitu baru benar jangan cuma hhhmmm doang. Cakenya habis Mas."
" Emang mau lagi?" tanya Vandy.
" Enggak udah kenyang."
Anggun berjalan menghampiri keluarga dan para sahabatnya.
" Selamat atas kehamilannya sayang" kata Wiguna.
" Terimakasih Papa" ucap Anggun.
" Berapa usia kandungan anak Mama" tanya Kiara.
" Udah jalan 4 minggu Ma" jawab Anggun.
Semua orang disana larut dalam kebahagiaan. Mereka pun mengobrol dan sesekali bercanda.
Malam Hari
Semua para tamu undangan sudah pada berdatangan keacara resepsi pernikahan Sisil dan Sinta. Semua kolega bisnis juga sudah pada datang untuk memberikan selamat buat para pengantin itu.
" Vanya dan Marko" ucap Vandy.
" Kenapa Mas."
" Itu Vanya dan Marko kan sayang."
" Iya. Jangan buat keributan ya Mas."
Vanya dan Marko naik keatas pelaminan untuk memberikan selamat pada para pengantin. Vandy menatap tajam kearah mereka berdua. Marko yang ditatap tajam sama Vandy merangkul pinggang Vanya. Vandy tambah kesal melihat Marko merangkul pinggang Adeknya.
" Cie-cie udah berani rangkul Vanya ni Kak Marko" ucap Anggun.
" Biar dia nggak lari Nggun" kata Marko.
" Jadi kalian sudah jadian Kak" bisik Anggun.
Vandy yang melihat istrinya berbisik dengan Marko tambah kesal.
" Sayang ngobrolnya nanti aja kasian tamu undangan yang lain udah nunggu dari tadi."
" Kita lanjut ngobrol nanti ya Kak Marko dan Vanya" ucap Anggun.
Marko dan Vanya pun turun dari pelaminan. Vanya menghampiri kedua orangtua nya dan memperkenalkan Marko kepada orangtua nya.
" Ma, Pa kenalin ini Marko temannya Vanya" kata Vanya.
" Hallo om tante" kata Marko sambil bersalaman dengan kedua orangtua Vanya.
" Kalian sudah lama saling mengenal?" tanya Dwipangga.
" Baru satu bulan yang lalu Om" jawab Marko.
Mereka pun saling mengobrol. Marko merasa senang karena orangtua Vanya bersikap baik padanya jadi rasa khawatir yang dia rasakan tadi sedikit menghilang. Marko sudah memantapkan hatinya untuk Vanya.
__ADS_1
Anggun dan Vandy turun dari pelaminan dan menghampiri Vanya dan Marko.
" Sayang jalannya jangan cepat-cepat gitu kasian Dedek bayinya."
Anggun memelankan langkahnya karena takut terjadi sesuatu dengan Bayinya.
" Maafkan Mommy sayang" ucap Anggun sambil mengelus perutnya.
Vandy merangkul pinggang istrinya itu supaya nggak bisa jalan cepat-cepat lagi. Anggun tersenyum kearah suaminya itu.
" Kakak ipar" panggil Vanya.
" Apa kalian udah jadian?" tanya Anggun.
" Belum Kak" jawab Vanya.
" Tunggu apalagi kalian itu sudah sama-sama cocok" kata Anggun.
" Sayang Vanya itu masih kecil jadi nggak boleh pacaran dulu" ucap Vandy.
Vanya tertunduk sedih mendengar ucapan Kakaknya itu. Entah sampai kapan Kakaknya itu berhenti bilang dia anak kecil.
" Vanya itu sudah gede Mas. Jadi biarkan saja dia pacaran" ucap Anggun.
" Tapi Mas nggak percaya sama Marko sayang."
" Kenapa? Kak Marko itu cowok baik-baik kok" kata Anggun.
Marko yang dari tadi cuma diam akhirnya bersuara.
" Gue bakal buktiin sama lo kalau gue mampu bahagiain Vanya" ucap Marko.
" Tu kamu dengar sendirikan Mas. Kak Marko itu cocok untuk pendamping hidup Vanya."
" Ok buktikan kata-kata lo itu."
" Jadi Mas merestui hubungan mereka?."
" Hhhmmm."
" Makasih Mas" kata Anggun sambil mencium bibir suaminya sekilas.
Vandy yang mendapatkan ciuman dari istrinya itu bahagia. Karena istrinya itu berani mencium dia ditempat umum.
Kini tiba saatnya bagi para pengantin untuk melempar buket bunga. Para tamu undangan sudah bersiap menangkap buket bunga tak terkecuali Vanya dan Marko.
" Mas kamu ikut rebutan sama mereka juga dong."
" Mas kan sudah menikah sayang."
" Iya tapi Dedek bayi pengen Daddynya ikut menangkap bunga itu."
" Ck.. selalu saja menggunakan Baby buat alasan."
" Jadi Mas nggak mau ngabulin permintaan Dedek bayi" sedih.
" Ok ok Mas akan ikut jangan sedih lagi ya."
Anggun langsung menampilkan senyum terbaiknya kepada sang suami.
" Untung kamu itu istri aku sayang kalau nggak udah aku kirim kekutub kamu."
Vandy ikut bergabung dengan para tamu undangan yang lain. Vandy mengambil barisan didepan dan siap menangkap buket bunga.
Sinta dan Sisil mulai melempar buket bunganya. Buket bunga yang dilempar Sisil didapat oleh Marko. Vanya tersenyum karena Marko berhasil mendapatkan buket bunga yang dilempar Sisil.
Vandy berhasil menangkap buket bunga yang dilempar oleh Sinta. Anggun pun tersenyum kepada suaminya itu. Tapi Anggun tersenyum bukan karena Vandy berhasil menangkap buket bunga itu melainkan karena seseorang yang ada disamping Vandy yang berhasil menangkap buket bunga dari Sinta juga.
Vandy menoleh kearah orang tersebut bencong itu tersenyum sambil mengedipkan matanya kepada Vandy.
" Tidaaaak!!."
Vandy berlari kearah istrinya. Bencong itu pun mengejar Vandy. Semua tamu undangan tertawa melihat Vandy main kejar-kejaran sama bencong.
__ADS_1
To be continue..
Happy Reading Guys.. 😉😉