
Kenzo cs dan pasangannya sarapan di ruang rawat inap Anggun. Sedangkan Anggun membersihkan dirinya, dibantu sama suami tercintanya.
Tak berselang lama Aldi dan yang lain juga datang. Mereka ikut bergabung bersama Kenzo cs dan pasangannya untuk sarapan bersama.
" Princess" panggil Daffin.
" Hhmm"
" Sini duduk dekat Affin"
" Tidak bisa, kamu nggak liat princess lagi duduk dekat Abang" kata Tristan.
" Princess itu pacar Affin, jadi duduknya harus dekat Affin"
" Eh bocah, sekolah yang benar dulu baru ngomong pacaran" kata Tristan.
" Mama, coba liat Abang Tian" adu Daffin.
" Kenapa dengan Abang Tian?" tanya Sinta.
" Dia tidak sama umurnya yang sudah tua, masa pacar Affin mau dia ambil juga"
" Enak aja kamu bilang tua. Kamu nggak liat Abang masih imut begini?" kata Tristan.
" Imut, amit kali" kata Daffin.
" Kalau Abang amit, mana mau princess sama kak Dira dekat sama Abang" kata Tristan.
" Itu karena Kak Dira terpaksa pacaran sama Abang, daripada Abang nangis ntar" kata Daffin.
" Ck.. emangnya Abang kamu, dikit-dikit nangis dan merajuk. Masa laki suka merajuk" ledek Tristan.
" Daripada Abang mulutnya lemes kek petasan" kata Daffin.
" Kamu..!" geram Tristan.
Semua orang di sana hanya tersenyum sambil menggeleng kepala melihat perdebatan Tristan dan Daffin. Antara mereka memang tidak akan pernah mau mengalah satu sama lainnya.
" Oh ya, mommy sama daddy kamu kemana Ken?" tanya Aldi.
" Mommy sama daddy di kamar mandi Om" jawab Kenzo.
Tak berapa lama pintu kamar mandi terbuka. Sontak semua orang menoleh kearah pintu kamar mandi. Tampaklah sepasang pasutri keluar dari dalam kamar mandi.
" Kalian kapan datang?" tanya Vandy.
" Baru aja" jawab Aldi.
Vandy dan sang istri duduk bergabung bersama yang lain.
" Lo udah siap untuk beri pelajaran dua orang itu?" bisik Aldi pada Vandy.
" Tentu saja sudah siap, bahkan sangat siap"
" Luka yang di sebabkan putri kecil lo pada wanita itu cukup dalam" kata Aldi.
Vandy melirik putri kesayangannya itu. " Bagus dong, gue suka cara Kiran membalas apa yang dirasakan mommy-nya"
" Untung putri lo, nggak menancapkan pisau itu di kepala wanita itu"
__ADS_1
Vandy hanya tersenyum mendengar ucapan sahabatnya itu.
" Kapan kita pulang?" tanya Aldi.
" Ntar malam" jawab Vandy.
" Tapi kita belum pesan tiket"
" Kita balik pake pesawat jet"
" Emang lo udah kasih tau keluarga lo kalau istri masuk rumah sakit?"
" Ntar aja kalau kita udah nyampe di Indo. Lagi pula ini kemauan istri gue"
" Berarti lo udah siap kena amukan duo macan Asia itu"
" Hhmm"
Ya Vandy akan terima konsekuensi apapun yang akan diberikan orang tuanya nanti. Sekarang dia hanya ingin fokus pada kedua orang yang sudah mencelakai istrinya.
Jam 10 Pagi, Anggun sudah boleh keluar dari rumah sakit. Vandy juga sudah membayar administrasi Anggun selama ada di rumah sakit itu. Vandy membantu mendorong kursi roda istrinya.
Didepan dua unit mobil mewah sudah menunggu mereka. Vandy membantu istrinya masuk kedalam mobil, setelah itu barulah dia membantu putri kecilnya.
Mereka berangkat dengan dua mobil. Di mobil pertama diisi sama Anggun Vandy, istri dan putri kecilnya. Aldi dan Gio juga ikut mobil pertama. Karena mereka akan menemui kedua orang jahat itu. Selebihnya naik mobil kedua, kembali ke hotel.
" Mama Affin mau ikut sama papa" kata Daffin.
" Alasan, bilang aja kamu mau dekat sama princess" kata Tristan.
" Biarin, wleek" kata Daffin sambil menjulurkan lidahnya pada Tristan.
Kedua mobil itu melaju meninggalkan rumah sakit tempat Anggun di rawat. Sampai di persimpangan, kedua mobil itu berpisah, karena mobil pertama pergi menuju tempat Jennifer disekap.
Sepanjang jalan Kiran hanya diam, gadis kecil itu asik melihat gedung tinggi yang mereka lewati. Tidak berapa lama, mereka memasuki kawasan yang sepi. Bahkan tidak ada kendaraan yang lewat.
Setelah menempuh perjalanan selama 20 menit. Rombongan Vandy sampai ditempat Jennifer disekap. Anggun turun dari mobil di bantu sama suaminya.
Mereka semua masuk kedalam gudang tua itu. Vandy berjalan dengan menggandeng tangan putri kecilnya. Sampai di depan pintu gerbang, mereka sudah di sambut oleh dua orang lelaki bertubuh kekar. Mereka berdua memberi hormat pada bos mereka.
" Buka pintunya?!" titah Vandy.
Dua orang lelaki itu membukakan pintu untuk bosnya. Vandy dan rombongannya masuk kedalam gudang tua itu. Vandy tersenyum melihat keadaan wanita yang sudah berani melukai istrinya.
" Bangunkan mereka" titah Vandy.
Salah satu lelaki berbadan kekar menyiramkan air seember ke wajah Jennifer dan ayahnya.
" Uhuk..uhuk" Jennifer tersedak karena air yang masuk ke dalam hidungnya.
" Akhirnya kau bangun juga, nona" kata Anggun.
Jennifer mendongakkan kepalanya. Dia kaget melihat Anggun berdiri di hadapannya.
" Kenapa anda kaget begitu nona?, apa jangan-jangan kau berharap aku mati?"
" Iya, dan dengan begitu aku bisa menikah dengan suamimu!"
Vandy dan kedua sahabatnya kaget mendengar jawaban Jennifer. Ketiga lelaki tampan itu tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Jennifer, karena dia sudah berani memancing amarah singa betina.
__ADS_1
" Wah..wah.. percaya diri sekali anda nona"
" Tentu saja. Coba lihat, sekarang kau duduk di kursi roda tidak bisa melakukan apa-apa"
" Wanita ini benar-benar cari mati" bisik Gio.
" Iya, nyawa sudah di ujung tanduk masih aja sombong" kata Gian.
" Kau yakin aku tidak bisa melakukan apa-apa?" tanya Anggun.
" Tentu saja" jawab Jennifer dengan sombongnya.
Anggun berjalan berdiri dari duduknya, kemudian dia berjalan menghampiri Jennifer.
" Bisa kau ulangi ucapan mu tadi?"
" Kau wanita lemah!"
Anggun menarik rambut Jennifer dengan sangat kuat.
" Aawww" rintih Jennifer.
" Nyawa kau sudah di ujung tanduk, tapi kau masih saja sombong"
" Lepaskan tangan kotormu dari rambutku!"
Plak.
Seketika sudut bibir Jennifer mengeluarkan darah, karena tamparan yang diberikan Anggun padanya. Vandy dan yang lain hanya jadi penonton. Sedangkan Kiran sedang asik bermain game di ponsel Daddy-nya.
" Kenapa wajah mu kasar seperti tembok nona?"
Vandy dan kedua sahabatnya menahan tawa mereka karena mendengar ucapan Anggun tadi. Sedangkan Jennifer wajahnya sudah memerah karena mendengar ucapan Anggun tadi.
" Baiklah, berhubung hari ini suasana hati saya sedang baik. Jadi kita bermainnya sebentar saja" kata Anggun.
Wajah Jennifer sudah berubah pucat. Dia tidak tau permainan apa yang di maksud oleh Anggun. Apakah permainan itu berbahaya atau tidak.
Anggun masih ingat ucapan dokter di rumah sakit tadi, kalau luka jahitan yang ada di perutnya belum kering sempurna, jadi Anggun tidak akan mengambil resiko yang akan membuat lukanya terbuka.
Anggun melirik tangan Jennifer yang terluka, akibat permainan yang dilakukan putri kecilnya. Jennifer juga melihat kearah mata Anggun.
" Apa luka ini sangat sakit nona?"
" Aaaaa, sa-sakit" rintih Jennifer, karena Anggun mer*m*s tepat di lengan Jennifer yang terluka.
" Dasar wanita iblis!, saat aku lepas nanti. Aku akan memb--"
Belum sempat Fulton melanjutkan ucapannya, tiba-tiba pisau sudah menancap di atas kepalanya.
" Jangan coba-coba mengancam mommy ku!" kata Kiran dengan tatapan membunuh.
Vandy dan kedua sahabatnya kaget melihat pisau sudah menancap di atas kepala Fulton. Vandy tidak menyangka putri kecilnya sangat cepat dalam bertindak.
Setelah mengatakan itu, Kiran kembali fokus pada game yang ada di ponsel Daddy-nya. Dia berubah menjadi gadis kecil yang manja lagi. Gio yang melihat langsung aksi Kiran tadi masih shock.
Ternyata dia lebih seram daripada Daddy-nya.
To be continue..
__ADS_1
Happy Reading 😚😚