
Vandy dan Anggun sampai dirumah. Asep membantu memapah tuanya kekamar. Sampai dikamar Asep mendudukkan tuanya disofa yang ada dikamar itu.
" Makasih ya Kang bantuannya" ucap Vandy.
" Sama-sama Aden ini sudah menjadi tugas saya. Ada lagi yang Aden butuhkan? tanya Asep.
" Untuk sekarang nggak ada Kang" jawab Vandy.
" Kalau gitu saya permisi dulu Den?."
Vandy menganggukkan kepalanya.
Asep berjalan meninggalkan kamar tuan mudanya. Selepas Kang Asep pergi, Anggun baru masuk kekamarnya. Anggun berjalan menghampiri suaminya. Anggun duduk agak jauh dari suaminya.
" Sayang sini dekat-dekat sama Mas"
Anggun menggelengkan kepalanya.
" Kenapa nggak mau?."
" Nanti kaki Mas tambah sakit."
" Nggak sayang, sini?."
Anggun perlahan mendekat.
" Itu masih kejauhan, lebih dekat lagi?."
Anggun menggeser lagi duduknya hingga tak ada jarak lagi antara dia dengan sang suami. Vandy memeluk istrinya berharap dengan memberikan pelukan akan membuat istrinya tenang.
" Sayang jangan dipikirkan lagi ya."
" Tapi Mas jatuh gara-gara aku" mulai nangis.
" Sayang dengerin. Mas jatuh karena nggak hati-hati bukan karena kamu, jadi tolong jangan menangis lagi?."
Anggun mulai menghentikan tangisnya.
" Mas sangat sayang dan cinta sama kamu. Jadi apapun yang kamu dan Baby kita inginkan pasti akan Mas lakukan sayang."
" Makasih sudah memberikan cinta dan kasih sayang buat aku dan Baby."
Vandy membelai rambut istrinya dan sesekali mencium pucuk kepala istrinya. Anggun merasa beruntung dicintai sama suaminya yang bersikap dingin dan acuh kepada orang lain. Tapi begitu hangat dan lembut kepada keluarga dan sahabatnya.
" Mas."
" Hhmmm" masih membelai rambut sang istri.
" Mereka kapan sampainya Mas?."
" Mereka siapa sayang?."
" Sinta, Sisil dan para suami mareka."
" Ntar Sore sayang. Kenapa?."
" Nggak apa-apa."
" Mau jemput mereka?."
" Nggak. Lagian kaki Mas masih sakit."
" Yakin ni nggak mau jemput mereka?."
" Hhhmm."
" Sekarang kita istirahat ya" kata Vandy.
Anggun menganggukkan kepalanya. Vandy dan istrinya tidur diatas sofa. Vandy tidur dengan posisi memeluk istrinya.
Kediaman Wiguna.
Kiara sedang menyiapkan makanan serta buah-buahan untuk dia bawa kerumah putri tercintanya itu. Selesai menyiapkan semuanya Kiara memanggil pangeran kecilnya untuk segera berangkat.
" Adek udah siap pergi."
" Siap dong Ma."
" Bik Ijah kita berangkat dulu ya. Tolong jaga rumah."
" Baik Nyah. Hati-hati dijalan."
Wiguna sudah menunggu Istri dan putranya didalam mobilnya. Kiara dan Aska masuk kedalam mobil. Mobil pun melaju meninggalkan kediaman Wiguna.
Sepanjang jalan kerumah Anggun, Aska tidak henti-hentinya berbicara. Ada-ada saja yang dibicarakan oleh bocah kecil itu.
" Papa kapan anak Kakak akan lahir?" tanya Aska.
" Masih lama sayang? kenapa?."
__ADS_1
" Aska pengen ngajak dia bermain."
" Kalau anak kakak sudah lahir adek harus sayang sama dia ya" kata Kiara.
" Pasti dong Ma adek akan menjaga dia dan akan menjadi paman paling tampan buat dia."
Kiara dan Wiguna tersenyum mendengar ucapan putra kecil mereka. Tak terasa mobil Wiguna sampai juga dikediaman putrinya. Wiguna membunyikan klakson mobilnya. Satpam yang mendengar punyi klakson mobil langsung membukakan pintu gerbang. Mobil Wiguna masuk kedalaman menuju rumah utama.
Mobil Wiguna pun sampai dirumah utama. Kiara dan putranya turun dari mobil. Aska berlari kedepan pintu rumah kakaknya. Aska berusaha menggapai tombol bel yang ada disana. Bel itu cukup tinggi jadi Aska agak kesusahan menggapainya. Aska melompat untuk bisa menggapai tombol itu.
Wiguna menggelengkan kepalanya melihat tingkah putra nya itu. Wiguna berjalan menghampiri putranya. Wiguna menggendong putranya itu.
" Sekarang pencet tombol belnya" ucap Wiguna.
Aska mulai memencet tombol bel. Aska memencet tombolnya beberapa kali. Akhirnya pintu pun terbuka.
" Assalamualaikum" ucap mereka bertiga.
" Wa'alaikum salam. Silakan masuk Tuan, Nyonya dan Tuan muda" ucap Bik Mirna.
Mereka pun masuk dan duduk sofa ruang tamu.
" Bibik permisi bangunin non Anggun dulu ya Nyah."
" Oh iya silakan Bik."
Bik Mirna pamit undur diri dan pergi kekamar atas untuk membangunkan nona mudanya.
Tok
Tok
Tok
Anggun terbangun karena mendengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya. Anggun bangun dari tidurnya dan membuka pintu.
Ceklek.
" Nona maaf mengganggu dibawah ada orangtua nona."
" Benarkah Bik."
" Iya nona."
" Bilang sama mereka 5 menit lagi Anggun turun."
" Baik nona."
" Non Anggun bilang 5 menit lagi dia akan turun" kata Bik Mirna.
" Iya Bik. Oh iya tolong bawa makanan ini kedapur. Ini masakan kesukaan Anggun. terimakasih sebelumnya."
" Sama-sama Nyah. Saya permisi kedapur dulu?."
" Bik Mirna pun pamit pergi kedapur dan membawa paper bag yang diberikan nyonya.
Sepeninggalan Bik Mirna Anggun masuk kembali kekamarnya dan menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya.
Selesai mencuci muka Anggun menghampiri suaminya. Anggun memberikan kecupan untuk sang suami yang masih terlelap. Anggun berjalan keluar kamar dan turun kebawah untuk menemui keluarganya.
Aska yang melihat kakaknya turun dari tangga langsung berlari menghampiri Anggun.
" Kakak."
" Hai Boy kebiasaan kamu ya suka lari-lari."
Aska hanya tersenyum menampilkan giginya yang putih dan rapih.
Anggun berjalan menghampiri kedua orangtuanya. Anggun mencium punggung tangan kedua orangtuanya.
" Maaf ya Ma, Pa udah membuat kalian menunggu."
" Nggak apa-apa kok sayang Mama juga baru nyampe" kata Kiara.
" Vandy mana?" tanya Wiguna.
" Mas Vandy lagi tidur Pa. Tadi Mas Vandy habis jatuh" tutur Anggun.
" Jatuh gimana maksud kamu sayang?" tanya Kiara.
" Tadi Anggun kepengen makan mangga muda Ma, terus Anggun suruh Mas Vandy manjat pohon mangga, pas mau turun kaki Mas Vandy mengijak dahan yang lapuk dan Mas Vandy jatuh kakinya terkilir Ma?" ucap Anggun sedih.
" Terus kamu udah panggil tukang urut."
" Belum Ma."
" Tunggu apalagi sayang cepat panggil tukang urutnya."
" Anggun nggak tau tukang urut dimana?."
__ADS_1
" Ya udah suruh Kang Asep aja jemput Mbah Surti tukang urut yang dulu pernah ngurut Papa" kata Wiguna.
Anggun pun menyuruh Kang Asep buat menjemput Mbah Surti.
" Kita liat keadaan mantu kita yuk Ma."
Mereka pun pergi kekamar Anggun untuk melihat keadaan menantu mereka. Sampai dikamarnya Anggun membangunkan suaminya.
" Mas bangun."
" Mmmm bentar lagi sayang" memeluk pinggang istrinya.
" Ehem."
" Sayang kok suara kamu berubah jadi besar."
" Bangun tukang tidur" kata Wiguna.
" Sayang Mas seperti mendengar suara Papa Wiguna. Tapi nggak mungkin kan dia ada disini?" masih dengan mata terpejam.
" Hei!! sampai kapan kamu mau memeluk anak saya."
" Tu kan Mas mendengar suara Papa lagi. Kenapa ya Papa kamu itu selalu saja mengganggu Mas."
" Ck.. bocah ini. Buka mata kamu" kata Wiguna.
Vandy mencoba membuka matanya. Alangkah kagetnya Vandy melihat Papa mertuanya ada dikamarnya.
" Papa!" kaget Vandy
Vandy bergegas bangun dari tidurnya dan saat mau berjalan menghampiri mertuanya Vandy merasakan sakit dikakinya.
" Awww."
" Mas kaki kamu masih sakit."
" Itu akibat durhaka sama Papa kualat kan jadinya."
Kiara memukul tangan suaminya itu.
" Kamu itu ya Pa. Sekali lagi Papa bilang menantu Mama kualat tidur diluar nanti malam."
" Mama kok malah belain bocah tengil itu sih."
" Jelaslah dia kan menantu kesayangan ku."
" Tapi Papa kan suami Mama."
" Berani protes lagi puasa satu bulan."
Wiguna menutup rapat mulutnya. Vandy tersenyum kearah Papa mertuanya. Senyum yang penuh kemenangan karena Mama mertua nya sudah membelanya.
" Nanti tukang urut akan kesini buat ngurut kaki kamu yang terkilir" kata Kiara.
" Sakit nggak Ma."
" Nggak kok."
Mereka pun mengobrol ringan dan sesekali diselingi dengan candaan. Tak berapa lama pintu kamar Anggun pun diketuk.
Tok
Tok
Tok
" Non tukang urutnya udah datang."
" Bawa masuk Bik."
Bik Mirna pun mempersilakan Mbah Surti masuk. Kiara membawa Mbah Surti kedekat menantunya.
" Tolong urut kaki menantu saya ya Mbah" kata Kiara.
" Nje Nyonya."
Mbah Surti pun mulai mengurut kaki Vandy. Saat tangan Mbah Surti mulai mengurut kaki Vandy yang terkilir. Vandy merasakan sakit yang teramat.
" Aaaaww Sa-sakit banget sayang."
" Tahan yan Mas."
Vandy berusaha menahan sakit dikakinya. Saat Mbah Surti memutar kaki Vandy dan terdengar bunyi tulangnya seperti bergeser.
" Sakiiiiit !!" teriak Vandy sambil menangis.
Semua orang disana menahan tawa mereka melihat tingkah Vandy yang sangat lucu itu.
To be continue..
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak sayangnya buat Author dengan cara Like, Komen dan Vote nya ya Guys.. 😉😉
Happy Reading Guys.. 😉😉