
Siang hari.
Setelah kedua orang tuanya pergi, Anggun dan putri kesayangannya bersiap pergi ke kantor sang suami. Dia akan mengantarkan makan siang untuk suaminya, sekaligus meminta maaf soal tadi pagi.
" Adek sudah siap?"
" Sudah mommy"
" Sekarang kita berangkat"
" Let's go "
Ibu dan anak itu masuk kedalam mobil. Setelah memastikan nona muda dan putrinya duduk dengan aman, barulah Tito melajukan mobilnya menuju perusahaan tuan mudanya.
Suasana jalan raya siang itu cukup sepi, mungkin karena masih jam kantor. Setelah menempuh perjalanan selama 15 menit mereka pun sampai di perusahaan Dwipangga Group.
Anggun dan putrinya turun dari mobil. Kiran memandang gedung yang ada di hadapannya itu, gedung yang menjulang tinggi berdiri dengan kokohnya.
Jika besar nanti aku ingin punya perusahaan sebesar ini juga.
" Ayo kita masuk sayang"
Kiran menganggukkan kepalanya. Ibu dan anak itu berjalan bergandengan tangan. Sampai di depan pintu masuk mereka sudah di sambut sama security.
" Pagi nyonya dan nona muda"
" Pagi Pak"
Sampai di lobi semua mata terpesona melihat kecantikan dua wanita beda usia itu. Ya walaupun Anggun sudah memiliki dua anak, tapi kecantikannya tetap sama seperti dulu.
Para karyawan membungkukkan badan memberi hormat pada istri CEO mereka. Anggun terus berjalan menuju meja resepsionis.
" Selamat siang, apa CEO nya ada?"
" Ada Buk, silakan Ibuk langsung saja naik ke lantai 30"
" Terima kasih" ucap Anggun.
" Sama-sama Buk"
Anggun dan Kiran berjalan menuju lift khusus CEO. Para karyawan banyak yang berbisik-bisik memuji kecantikan putri bos mereka itu.
" Putri bos benar-benar cantik ya?"
" Iya, rasanya ingin gue culik aja tu bocah"
" Tatapan putri si bos sama dengan Daddy-nya, tajam banget"
Anggun tersenyum mendengar ucapan para karyawan suaminya itu. Dia tidak menyangka, kalau mereka dapat melihat tatapan mata Kira yang tajam seperti elang.
Ibu dan anak itu masuk kedalam lift. Lift bergerak naik ke atas, meninggalkan para karyawan yang masih memuji kecantikan kedua wanita beda usia itu.
Ting.
Pintu lift terbuka. Anggun dan putrinya berjalan menuju ruangan Vandy.
" Misi Mbak, CEO nya ada?" tanya Anggun.
" Bapak masih di ruang meeting, nona"
" Baiklah, saya pamit kedalam dulu"
" Silakan nona"
Anggun berlalu meninggalkan meja Sekretaris suaminya.
" Pantas CEO tidak minat cari yang lain lagi, istrinya cantik banget. Apalagi putrinya, sangat cantik dan menggemaskan"
Anggun dan putrinya sekarang berada di dalam ruangan suaminya. Kiran duduk di sofa, sedangkan Anggun pergi ke pantry untuk menyiapkan makan siang yang dia bawa dari rumah tadi.
Vandy dan Aldi baru selesai meeting. Kedua cowok tampan itu langsung masuk ke dalam ruangannya. Sesampai di ruangannya, Vandy kaget melihat putrinya sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
__ADS_1
" Adek"
Kiran mendengar ada yang memanggil namanya langsung menoleh ke arah sang pemilik suara.
" Daddy"
" Adek nggak sekolah? terus sama siapa kesini?" tanya Vandy sambil duduk di samping putri kecilnya itu. Kemudian diikuti oleh Aldi.
" Daddy tanyanya satu-satu dong?"
" Adek sama siapa ke sini?"
" Sama mommy"
" Terus mommy-nya kemana?"
" Di pantry"
" Bentar ya Al, gue temuin istri gue dulu"
" Siap bro"
Vandy berjalan menuju pantry. Benar saja apa yang di bilang putrinya itu, kalau mommy-nya sedang ada di pantry. Vandy berjalan menghampiri sang istri.
" Lagi apa sih? serius amat?" tanya Vandy sambil memeluk istrinya dari belakang.
" Mas, udah selesai meeting nya?"
" Hhmm"
" Mas lepas dulu, aku lagi siapin makan siang untuk kita"
" Biarkan seperti ini sebentar saja sayang" kata Vandy sambil menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang istri.
" Kenapa? apa ada masalah?"
" Sedikit"
Setelah merasa tenang, Vandy mengecup lembut leher sang istri. Setelah itu dia kembali ke tempat putri dan sahabatnya. Karena dia tidak ingin khilaf melakukan ninaena di pantry.
Tak berselang lama Anggun juga datang dengan membawa makan siang untuk mereka.
" Eh, ada Aldi"
" Iya Nggun, maaf ganggu sebentar"
" Lama juga nggak apa-apa Al. Yuk kita makan siang dulu, ntar baru lanjut lagi kerjanya"
" Gue boleh ikutan makan ni Nggun"
" Iya Al, kebetulan aku bawa makanannya banyak"
" Nggak usah sayang, biar Aldi makan di luar saja"
" Anggun aja nggak keberatan"
" Istri gue emang nggak keberatan, tapi gue iya"
" Gue nggak peduli lo keberatan atau nggak, yang penting Anggun kasih izin gue untuk makan masakannya"
" Sudah-sudah sekarang kita makan, ntar keburu makanannya dingin"
Kedua pria tampan itu langsung menutup mulut mereka. Karena kalau nanti mereka bersuara lagi, bisa-bisa singa betina itu ngamuk.
Anggun mengambilkan nasi untuk suami dan juga putrinya.
"Makasih sayang" ucap Vandy.
" Sama-sama Mas"
" Gue nggak diambilin juga Nggun"
__ADS_1
" Kagak, lo ambil sendiri. Sudah di kasih makan gratis, minta diambilkan pula"
" Gue kan juga pengen ngerasain diambilkan sama istrinya bos"
" Nggak bisa! kalau lo nggak mau ambil sendiri, nggak usah makan"
" Tega banget sih lo ama gue"
" Bodo"
Akhirnya Aldi mengambil nasi dan juga lauk sendiri. Padahal dia udah bayangin gimana rasanya dilayani sama Anggun, tapi bayangan itu langsung lenyap gegara raja singa nggak ada akhlak itu.
Mereka mulai menyantap makanan yang sudah ada di hadapan mereka. Vandy sangat lahap memakan makanannya, begitu juga dengan Aldi.
Tanpa terasa semua masakan yang di masak Anggun habis tak bersisa. Anggun senang melihat masakan yang dia masak habis tak bersisa.
Selesai makan, Anggun membawa piring kotor ke pantry. Anggun mencuci bersih pada dan peralatan dapur yang kotor tadi. Setelah semuanya selesai, Anggun kembali bergabung bersama suaminya dan Aldi.
" Adek nggak pergi ke sekolah, sayang?"
" Nggak Mas"
" Kenapa?"
" Karena tadi putri kita keceplosan ngomong soal kejadian di Korea kemarin"
" Terus gimana reaksi mama sama papa"
" Papa awal nya marah, dan minta wanita itu di tembak mati. Tapi aku udah ceritakan semuanya sama papa, termasuk tentang Kiran"
" Apa reaksi papa sama mama setelah tau tentang Kiran"
" Mereka kaget. Tapi yang paling bikin kagetnya itu, mas tau?"
" Nggak sayang"
" Putri kita pemegang sabuk hitam"
" Apa!" kaget Vandy dan Aldi.
" Sa-sabuk hitam?"
" Hhmm"
" Kamu jangan becanda dong sayang?"
" Siapa yang becanda Mas"
" Adek, apa bener yang di bilang sama mommy"
" Iya Daddy, apa yang dibilang mommy benar"
" Kenapa bisa? Abang saja di usia 9 tahun baru bisa mendapatkan sabuk hitam"
" Adek kan lebih jago dan pintar dari Abang" kata Kiran.
Pantas saja aura Kiran lebih menyeramkan dari pada Kenzo. Batin Aldi.
" Terus adek belajar beladirinya dimana?"
" Sama di tempat Abang latihan dulu"
" Bagaimana bisa, daddy kan nggak pernah daftarkan adek di sana?"
" Adek daftar sendiri"
Vandy dan Aldi benar-benar shock. Dia tidak menyangka putrinya sangat pintar menyembunyikan semua itu dari dirinya dan juga sang istri. Tapi dia juga senang dan bangga, karena kecerdasan putri kecilnya itu.
To be continue.
Happy Reading 😚😚
__ADS_1